
"Sudah bangun." Ava melirik ke kanan. Ia beringsut duduk. Padahal tadi malam dia berada di sofa mendekap tubuh kekar yang berada di depannya itu.
"Apa Baginda yang memindahkan tubuh hamba?" tanya Ava.
Kaisar Cristoffer mengangguk, benar tadi malam dirinya lah yang memindahkan tubuh itu. Ia juga merasa malu, tidur di dalam pangkuan Ava layaknya seorang bayi. Kaisar Cristoffer pun memindahkan tubuh Ava ke kasurnya kerena takut Ava merasakan kesakitan di dalam tubuhnya.
"Benar, Ratu tidak perlu seperti itu. Dan maaf tadi malam.."
Ava meraih tangan Kaisar Cristoffer. "Tidak masalah jangan mengingatnya. O, iya tadi malam apa Baginda sudah menemukan petunjuk tentang dunia Baginda maksudnya tempat asal Permaisuri,"
"Iya, aku menyuruh Leon menyelidikinya. Ada beberapa buku yang mengarahkan ke hutan timur." Jantung Kaisar Cristoffer semakin berdetak lebih kencang. Apa dia memiliki keluarga? apa keluarga itu akan menerimanya?
"Kita akan kesana, tunggu sebentar Baginda hamba akan bersiap-siap." ujar Ava yang langsung bergegas pergi ke kamar mandi.
"Aku akan menunggu di luar," ujar Kaisar Cristoffer berlalu pergi menuju ke ruang kerjannya. Lembar demi lembar ia membukanya, membacanya dengan cermat dan teliti. Benar saja di setiap buku itu menceritakan bangsa Werewolf namun dalam buku itu sudah mengatakan bangsa Werewolf telah punah.
"Baginda." sapa Ava.
__ADS_1
Ia meraih pipi itu, melihat sebuah kesedihan di mata itu. "Ayo."
"Apa kita lebih baik sarapan dulu?" tanya Kaisar Cristoffer.
"Auntum sudah menyiapkannya." ujar Ava.
Kaisar Critoffer pun dan Ava berjalan keluar. Mereka menaiki kereta istana. Tanpa lepas dari sepasang mata yang menatap mereka dari kejauhan. "Sial, Ava dan Baginda semakin dekat." ujar Permaisuri Berlia.
"Ava kamu membuat hati ku panas. Maka jangan salahkan aku membuat hati mu panas. Kamu akan merasakannya Ava."
"Mintalah sebuah racun pada Dokter istana, tanpa ada bau dan warna. Jika dia menolak, ancam saja dia." ujar Permaisuri Berlia pada pelayan setianya itu.
"Kamu akan melihat orang yang kamu sayangi mati Ava." ujar Permaisuri Berlia tersenyum licik.
Disisi lain.
Ava telah sampai di hutan itu, pohon rindang yang sangat besar. Suara burung gagak yang saling bersahutan, menambah suasana yang mencengkam dan menyeramkan hutan itu. Ava mengeratkan pegangannya ke lengan Kaisar Cristoffer. "Sayang jangan takut." ujar Kaisar Cristoffer yang tau kekhawatiran Ava.
__ADS_1
Merek terus melangkah kan kakinya, masuk ke dalam hutan itu. Leon dan berjaga di depan. Auntum berada di samping Ava. Kaisar Cristoffer dan Ava di kelilingi pengawal dan lima kesatria. Mereka berjaga-jaga takut seseorang yang berniat mencelakai Kaisar Cristoffer.
Oak
Suara burung itu membuat Ava bergetar, segerombolan burung gagak hitam terbang dari pohon di sampingnya. "Apa aku akan bertemu dengan hantu." Ava membayangkan seorang wanita berbaju putih menggantung di pohon dan rambut menutupi wajahnya. Lalu memperlihatkan wajahnya yang menangis darah.
Akkh
"Ava ada apa?" tanya Kaisar Cristoffer khawatir. Tanpa sengaja Ava langsung menggendong ke tubuh Kaisar Cristoffer, melingkarkan kedua kakinya di pinggang Kaisar Cristoffer. Tangannya seakan mencekik leher Kaisar Cristoffer.
Leon dan Auntum melongo, sama halnya dengan kesatria. Kaisar Cristoffer selalu menjaga imagenya di luar istana.
"Tidak mau, banyak hantu." ucap Ava seraya membenamkan kepalanya di leher Kaisar Cristoffer.
Glek
Wajah Kaisar Cristoffer memerah, Ava tidak sadar jika dia sudah membangunkan sesuatu yang sedang tidur. Dan sekuat tenaga ia menahan hasratnya yang sudah memuncak.
__ADS_1
"Jangan takut sayang." ujar Kaisar Cristoffer menenangkan Ava.
"Apa yang kalian lihat, cepat perhatikan jalan." Bentak Kaisar Cristoffer yang melihat Leon, Auntum dan yang lainnya menatap ke arahnya dan Ava.