
"Baginda," Leon memperlihatkan sebuah botol itu. Permaisuri Berlia dan Mery gemetar ketakutan. Hidupnya kali ini benar-benar berakhir.
"Berikan pada Dokter istana," ujar Kaisar Cristoffer.
Dokter istana yang di panggil salah satu pelayan yang di perintahkan oleh Kaisar Cristoffer tadi. Ia mengkerutkan dahinya. Obat itu, obat yang di minta oleh Mery beberapa menit yang lalu.
"Baginda, ini adalah obat yang di minta oleh pelayan Mery. Obat ini, obat penggugur kandungan." Jelas Dokter istana, kini dia menaruh curiga pada wanita di depannya.
Apa mungkin Permaisuri yang melakukannya? ia menyingkirkan pikiran itu. Tidak mungkin anak yang belum lahir pun di singkirkan apa lagi anak itu, Anak dari suaminya sendiri.
Kaisar Cristoffer memejamkan matanya, "Keluarlah," Mery dan Leon serta yang lainnya keluar dari kamar Permaisuri Berlia.
Kaisar Cristoffer duduk di tepi ranjang Permaisuri Berlia. Ia mengusap wajahnya frustasi. Wanita di depannya, orang yang pernah dia sayangi. Demi kebahagiaannya, dia melakukan hal gila apa pun. Menuruti semua keinginannya meski di luar akal manusia.
Wanita di depannya, orang yang pernah memberikan dia payung saat dia menangis mengingat kepergian kedua orang tuanya. Apa karna dirinya terlalu lemah atau terlalu memanjakannya hingga wanita di depannya itu hilang kendali, hilang semua akal sehatnya.
"Baginda, obat itu punya Mery tadi dia datang kesini." kilah Permaisuri Berlia, ia bersimpuh di kaki Kaisar Cristoffer.
"Apa lagi? penjelasan apa lagi yang akan kamu gunakan Berlia. Kamu tau, dari dulu aku menginginkan seorang anak. Saat aku melihat keluarga lain yang di penuhi ceria dan tawa seorang anak. Hati ku menginginkan itu Berlia. Demi kamu Berlia, aku membuat Ava menjadi wanita simpanan ku. Wanita yang tidak jelas, setelah melahirkan aku membuangnya. Aku pernah berfikir Berlia. Kamu bisa belajar dari Ava. Bahkan aku tidak akan mempersulit mu saat aku tau keluarga mu melakukan tindakan kejahatan. Aku akan membiarkan mu tinggal di istana, merawat anak ku dengan Ava. Aku membiarkan mu menjadi sosok seorang Ibu Berlia."
"Baginda, hamba bisa melahirkan putra untuk mu, hamba bisa memberikan apa yang Baginda inginkan. Tapi tolong jangan perlakukan hamba seperti ini Baginda. Hamba siap melahirkan penerus untuk Baginda."
"Seharusnya aku tidak menyimpan rahasia itu. Apa kamu ingat? saat itu kamu pernah sakit. Kamu tau sakit mu, Kamu tidak akan pernah bisa memiliki seorang Anak. Berbagai macam obat kamu lakukan agar tidak memiliki keturunan dari ku. Saat itu aku tau, sebesar apa cinta mu pada ku. Sampai-sampai kamu tidak ingin memiliki Anak dengan ku. Sebegitu takutkan kamu kehilangan nyawa mu demi aku."
"Seharusnya kamu tau Permaisuri, saat itu aku juga akan memberikan obat itu untuk mu. Tapi sayang kamu melakukannya duluan. Aku menjaga rahasia ini agar kamu tidak bersedih, karena kamu menjadi wanita mandul. Jika semua orang tau kamu wanita mandul. Aku yakin para Bangsawan akan menyuruh ku memiliki istri lainnya tanpa harus menikah dengan Ava."
"Aku menutup mata dan telinga ku, aku tutup semua rasa kecewa dan sakit hati yang kamu berikan Permaisuri. Hingga saat ini aku menyadari cinta mu tidak setulus dari Ava."
"Baginda," Permaisuri Berlia bersimpuh di kaki Kaisar Cristoffer kini dia sadar. Kaisar Cristoffer masih menaruh perhatian padanya.
"Maafkan hamba Baginda." Lirihnya.
__ADS_1
"Apa maaf mu bisa mengubah segalanya Berlia? bagaimana jika aku kehilangan mereka? kamu hanya memperdulikan dirimu saja Berlia."
"Aku seperti ini karena Baginda tidak pernah menghargai ku lagi." ujar Permaisuri Berlia semakin tersedu-sedu. Ia memeluk erat kaki Kaisar Cristoffer.
"Aku salah Berlia, ternyata dulu aku hanya mengagumimu saja. Ternyata aku tidak pernah merasakan, apa yang aku rasakan saat ini."
Kaisar Cristoffer bangkit, ia melangkahkan kakinya keluar. Namun Permaisuri Berlia masih menahan kaki kirinya. "Lepaskan Berlia dan terimalah hukuman mu dan juga Ayah mu besok pagi."
"Baginda," Auntum membuka secara paksa kamar Permaisuri Berlia. Entahlah, karena panik ia lupa kesopanannya.
"Ratu, Baginda. Ratu kesakitan." ujar Auntum.
Bagaikan di sambar petir, Kaisar Cristoffer menghempaskan Permaisuri Berlia dan lari ke kamar Ava. Ketakutan mulai menyelimuti hatinya, jika terjadi sesuatu pada Ava dan putranya. Ia tidak akan segan memenggal kepala orang itu dengan tangannya sendiri.
Sesampainya di kamar Ava, Kaisar Cristoffer melihat Ava yang meringkuk kesakitan di atas kasurnya seraya memegangi perutnya.
Dokter istana kembali memeriksa tubuh Ava. Ia memberikan sebuah obat untuk menghilangkan kesakitan itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Kaisar Cristoffer menarik kerah baju pria paruh baya itu. "Tadi kamu bilang dia akan baik-baik saj." Bentaknya dengan nada tinggi.
"Leon, hukum dia,"
"Baginda," lirih Ava yang mulai membaik. Perutnya tidak lagi sakit saat meminum obat itu. Ava tidak enak pada pria paruh baya itu.
"Ratu," Kaisar Cristoffer melepaskan cengkramannya. Tangannya menggenggam Ava yang terbaring lemah.
"Dia tidak salah Baginda. Dari tadi dia sudah berusaha memeriksa hamba." Ava tersenyum di bibir pucatnya itu. "Apa bayi kita baik-baik saja?"
Kaisar Cristoffer menangis, ia tidak kuat melihat Ava yang menanggung kesakitan itu. Seharusnya dirinyalah yang mendapatkannya.
"Maaf,"
__ADS_1
Ava beringsut duduk, ia memeluk Kaisar Cristoffer yang berada di sampingnya. Menenggelamkan kepalanya di dadanya. "Baginda tidak salah apa-apa. Aku bersyukur bayi kita baik-baik saja." ujarnya lalu mencium kepala Kaisar Cristoffer.
Silahkan mampir jika berkenan.
#Permaisuri Sang Penguasa
#Selir Yang Terbuang
#Mandadak Selir
#Putri Mahkota Yang Terbuang (Terbit)
#Permainan Sang Permaisuri
#Permaisuri Jahat !
#Oh, Kaisar Ku
#Istri Kontrak Kaisar Kejam
#Paman, Duke
#Istri Pengganti Sang Duke
#Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
#Simpanan Kontrak Kaisar Kejam
#lapak orenz / aplikasi W A T T P A D
#Istri Kedua Sang Duke
__ADS_1
#Istri Kontrak Ke Empat Pangeran.
#Hurt ! Mr Duke