Simpanan Kontrak Kaisar Kejam

Simpanan Kontrak Kaisar Kejam
part 47


__ADS_3

"Baginda." Kaisar Cristoffer menghentikan pemeriksaan keuangan istana. Matanya beralih melihat ke arah kertas yang berada di depannya itu.


"Apa ini?" tanya Kaisar Cristoffer lalu melihat semuanya. Kaisar Cristoffer membaca satu persatu kertas itu. Penjualan senjata secara ilegal, menjual perbudakan dan satu lagi yang membuat Kaisar Cristoffer bertambah marah. Duke Arnof merencanakan pembunuhan Ava.


"Brengsek ! Aku sudah memberikan apa yang dia mau. Selama ini aku menutup mata apa yang di lakukan putrinya."


"Apa lagi yang kamu ketahui?" tanya Kaisar Cristoffer seraya mengeraskan rahangnya.


"Hamba melihat seseorang yang menyelinap masuk ke kamar Permaisuri. Lalu hamba mengikutinya, orang itu berhenti di kediaman Duke Ronaf dan dia menaruh racun di kediaman Duke Ronaf. Sepertinya rencana Permaisuri ingin mengadu domba Baginda dengan Duke Ronaf dan racun itu telah di gunakan untuk meracuni Ayah dari Ratu."


"Sialan ! aku tidak bisa mengabaikan semua ini."


Kaisar Cristoffer bangkit dari duduknya, saat ia hendak membuka pintu kerjanya. Ia melihat Auntum yang menangis tergesa-gesa.


"Baginda, Ratu.." Tenggorokan Auntum tercekat.

__ADS_1


"Ada apa dengan Ratu?" tanya Kaisar Cristoffer khawatir. Ia tak memperdulikan Auntum, ia berlari ke arah kamar Ava dan melihat wajah Ava yang sudah pucat. Lalu ada Dokter istana yang memeriksanya.


"Ada apa?"


"Ratu keracunan Baginda dan untunglah janinnya kuat. Untung saja obat penggugur kandungan itu tidak banyak." Jelas sang Dokter. Kaisar Cristoffer tubuhnya langsung lemas. Ia hampir kehilangan buah hatinya dan juga Ava.


"Sayang."


Kaisar Cristoffer berjongkok disamping Ava. Hatinya sangat hancur dan hancur bagaimana jika ia kehilangan Ava dan juga bayinya sama saja ia kehilangan nyawanya. Kaisar Cristoffer


"Sayang bangun, hey ini aku." Kaisar Cristoffer mengecup singkat pipi Ava. "Bangun," Kaisar Cristoffer menggenggam erat tangannya, ia menangis sambil mencium tangan Ava.


"Permaisuri." Kaisar Cristoffer bangkit, "Geledah kamar Permaisuri. Aku yakin ini ulahnya. Sungguh apik rencana mu Permaisuri." ucapnya mengepalkan tangannya. Api merah mulai keluar dari tubuhnya, ia tidak bisa diam saja. Ia akan membuat siapa pun merasakan apa yang ia rasakan melihat Ava dan buah hatinya kesakitan. Apalagi memikirkan kandungan Ava. Pasti ia merasa kesakitan saat racun itu menyerangnya.


Kaisar Cristoffer menghentikan langkah kakinya, ia hendak membuka pintu itu namun berhenti seketika. Saat mendengarkan Permaisuri Berlia yang tertawa lepas.

__ADS_1


"Aku sangat membencinya, beraninya dia mengandung anak dari Baginda. Seharusnya dia sadar. Aku lah yang berdiri di sampingnya. Semenjak ada dia Baginda berubah." Permaisuri Berlia membuang vas bunga itu. Mendengar Ava hamil dari Baginda membuatnya takut, khawatir akan posisinya. Ia takut Kaisar Cristoffer akan membuangnya. Dan untung saja ia menyuruh Mery meminta pada Dokter istana dengan alasan temannya yang ingin menggugurkan kandungannya. Dokter istana pun memberikan obat itu pada Mery tanpa ada rasa curiga sedikit pun.


"Aku ingin dia merasakan seperti ku."


"Permaisuri tidak seharusnya menyingkirkan bayi itu. Dia tidak bersalah Permaisuri. Lagi pula jika dia lahir, Permaisuri juga memiliki hak penuh dari bayi itu. Permaisuri dengan mudahnya menyingkirkan Ratu." jelas Mery.


"Benar kenapa aku tidak kepikiran seperti itu? cepat cari tau kandungan Ratu. Kini saatnya kita bermain dengannya." ujar Permaisuri Berlia tersenyum sinis.


Brak


Kaisar Cristoffer menendang pintu kamar Permaisuri Berlia secara kasar. Tatapannya tajam membuat Permaisuri Berlia melihat ke arah Mery lalu secepat mungkin ia menetralkan kegugupannya.


"Jadi benar kamu yang melakukannya," Kaisar Cristoffer memberikan tatapan pada Leon untuk menggeledah kamar Permaisuri Berlia.


"Baginda ada apa ini?" tanya Permaisuri Berlia semakin ketakutan melihat Leon dan para Kesatria menggeledah kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2