
#maaf kak masih sibuk. Jujur saja ni novel kagak niat mau lanjutin😌 udah males kak.
"Sayang."
cup
Kaisar Cristoffer mencium kening Ava yang membantu memakaikan bajunya. Lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Ava. "Jangan seperti ini. Aku belum selesai mengaitkan kancingnya."
"Lelah sayang."
"Manja." ujar Ava terkekeh. Namun ia merasakan Kaisar Cristoffer memang kelelahan. Ava merangkup kedua bahunya agar melihat ke arahnya. "Apa mau istirahat? biar nanti aku yang memberitaukan Kakek."
Kaisar Cristoffer menggeleng, ia kembali menyandarkan kepalanya ke tempat semula.
"Ya sudah ayo kita turun. Tidak enak di tunggu yang lainnya." Ava mengelus pucuk kepala Kaisar Cristoffer dengan lembut.
"Yah, baiklah."
Sesampainya di ruang makan. Kaisar Cristoffer dan Ava telah di tunggu oleh pria paruh baya dengan mata berbinar. Ava melihat ke arah meja itu, hidangan itu tak tanggung-tanggung bahkan meja panjang itu di isi penuh berbagai macam hidangan.
Ava dan Kaisar Cristoffer pun duduk. Tidak ada suara di meja itu. Hanya ada suara dentingan sendok. "Apa kalian akan beristirahat dulu atau kita mengobrol dulu?" tanya pria paruh baya itu.
"Kakek aku hanya ingin menanyakan masalah kutukan itu."
Pria paruh baya itu menghentikan sendoknya, matanya beralih ke arah Kaisar Cristoffer. "Kita akan membahasnya nanti."
__ADS_1
Setelah selesai makan.
Ava dan Kaisar Cristoffer mengikuti langkah kaki pria paruh baya itu. Mereka duduk di sebuah sofa berwarna merah dan saling berhadapan. Pria paruh baya itu pun mulai bercerita tentang kisah Ibu Kaisar Cristoffer sampai kutukan itu datang pada Putranya.
"Apa dia belum hamil?" tanya Raja Petro, ayah dari ibu Ava.
"Belum, dulu aku menjadikan dia simpanan ku untuk melahirkan keturunan ku. Namun lambat laun aku ternyata jatuh ke dalam jebakan ku sendiri. Aku mencintainya Kakek." Sesal Kaisar Cristoffer ia menggenggam erat tangan wanita di sampingnya itu. Sebutir air bening jatuh di pipinya. Ava mengelus punggung Kaisar Cristoffer dengan lembut. Tanpa merasa malu, Kaisar Cristoffer meraih tubuh Ava lalu memeluknya. "Maaf,"
Ava merasa kikuk, ia malu di lihat pria paruh baya di depannya yang tersenyum ke arahnya.
"Lalu Permaisuri memiliki rahasia apa yang di sembunyikan dari suami mu?" tanya Raja Petro.
"Aku, aku tidak mengerti." jawab Ava dengan gugup.
"Jujurlah sayang, aku tidak akan marah. Setiap kebohongan pasti ada alasannya.
Ava menggigit bibir bawahnya, yang ia takutkan Kaisar Cristoffer tidak menerimanya. Dan lagi, hatinya telah terpaut pada sosoknya.
"Sayang," Kaisar Cristoffer mencoba meyakinkan Ava. Sudah lama ia menunggu kejujuran Ava. Mulai saat ini hubungan mereka tidak ada lagi rahasia yang di sembunyikan. Karena sejatinya rumah tangga harus saling terbuka satu sama lainnya.
"Sayang,"
"Baiklah." Ava memejamkan matanya, sejenak ia menenangkan dadanya yang berdetak kencang. "Aku bukanlah Ava yang asli. Asalkan di dunia berbeda. Awalnya aku mengalami sebuah kecelakaan. Dan aku tidak tau, kenapa aku bisa berada di tubuh ini."
"Dan untuk itu lah kamu selalu ingin kabur dari ku." Timpal Kaisar Cristoffer yang di angguki Ava.
__ADS_1
"Ketahuilah, sebenarnya aku juga sudah tau. Kamu Lisa bukan Ava."
"Ka-kapan Baginda mengetahuinya?" tanya Ava yang tak habis pikir. Kaisar Cristoffer menutupi semuanya. Dia berpura-pura tidak tau, seakan tidak terjadi sesuatu.
"Saat kamu berbicara dengan pelayan Auntum."
"Kenapa Baginda tidak membunuh ku? kenapa Baginda ?..." Ava tidak mampu berkata apa pun.
"Karena aku mencintai Ava yang sekarang, yang tak lain adalah Lisa. Aku mencintai mu."
"Tidak mungkin, Baginda hanya mencintai Ava bukan mencintai Lisa." tolak Ava langsung menghindari Kaisar Cristoffer.
Kaisar Cristoffer pun berdiri. Ia berjongkok dan menggenggam tangannya. Berapa kali pun ia menggenggam tangan lembut itu tidak akan pernah ada kata bosan. Justru ia ingin tangannya selalu melekat di tangan Ava.
"Percayalah aku Cristoffer hanya mencintai Lisa."
"Syukurlah kalau kamu sudah tau cucu ku. Apa kamu mau melihat wajah aslinya?" tawar pria paruh baya itu.
Seketika Kaisar Cristoffer mengangguk dan penuh harap.
Pria paruh baya itu pun tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia menuju ke lemari lalu membawa sebuah kotak kecil. Kotak itu pun di buka memperlihatkan sebuah bola kecil bening dan bersinar.
"Kristal ini akan memperlihatkan mu wujud aslimu. Tapi hanya satu jam saja. Setelah itu kamu akan kembali seperti wajah mu yang sekarang. Dan kamu hanya cukup membayangkan wajah mu."
Ava menggerakkan tangan kanannya, lalu menyentuh bola bercahaya itu. Ia memejamkan matanya mengingat wajah aslinya.
__ADS_1