
Pagi itu gadis kecil bernama Rara sedang berjalan menyusuri gedung gedung menjulang di kota kecil namun menyimpan kenangan pahit dalam hidupnya.
Ya Rara seorang gadis yang memiliki nama lengkap Tara Putri Utami namun lebih akarab di panggil Rara adalah anak pertama dari pasangan suami istri yang terlah resmi bercerai sejak Rara duduk di bangku kelas VIII (delapan) Sekolah Menengah Pertama.
Sejak itu kehidupan Rara Berbalik 180°, bagaimana tidak gadis yang semula ceria lepas tanpa beban kini harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya telah berpisah dan memilih hidup masing masing.
Didalam hidupnya haya terasa kepahitan yang didapatkan hidup tanpa sosok orangtua di sampingnya membuat orang orang di sekitarnya berani menhina bahkan tak jarang dia mendapatkan perlakuan kasar dari keluarga ibunya bahkan dihadapanna iya harus melihat adik bungsunya menerima kekerasan dari kaka sepupunya sendiri hanya karna mereka tidak lagi memiliki keluarga yang utuh dan numpang tinggal dirumah neneknya.
Bertahun-tahun ia merasakan sakit dan perihnya hidup yang ia jalani, hari-hari yang penuh dengan hinaan, penuh beban. Namun ia tak pernah putus asa demi membahagiakan keluarganya terutama kedua adiknya.
pagi telah berubah menjadi siang, matahari yang seakan berada diatas kepalanya terasa sangat panas, tenggorokan mulai terasa seret hingga ia memutuskan untuk mencari warung dan membeli minum.
Setelah seharian dia berjalan mencari pekerjaan namun belum ada satupun perusahaan yang menerimanya, dengan alasan tidak ada lowongan dan juga tak sedikit yang menolaknya karna tinggi badan rara yang tidak masuk kriteria dari perusahaan tersebut.
" Aku tak akan menyerah, aku pasti dapat pekerjaan, aku akan berjuang demi adik-adiku agar tidak lagi mendapat hinaan dari keluarga ibuku". Ucap Rara dalam hati.
Hingga tibalah Rara di suatu warung kecil milik perempuan paruh baya, Rara tersenyum karna akhirnya iya menemukan tempat untuk beristirahat sejenak, setelah berkeliling dengan berjalan kaki menyusuri komplek perindustrian di kotanya tinggal, dengan segera rara mengutarakan niatnya untuk membeli sebotol air mineral.
" Permisi.." . Ucap Rara sambil tersenyum kearah wanita paruh baya dihadapannya.
" iya, ada yang bisa saya bantu ?". Tanya wanita tersebut sambil membalas senyuman Rara.
" saya ingin membeli air mineral botol bu, berapa harganya ?". ucap Rara sambil mengambil air mineral tersebut di atas etalase penjualan.
__ADS_1
" ohhh,,, harganya 3000 nak". Ucap sang pemilik warung tersebut.
" ini uangnya bu". ucap Rara sambil memberikan selembar uang pecahan 5000 dari saku kemejanya.
"baiklah, ini kembaliannya nak." ucap sang pemilik warung sambil menyodorkan selembar uang pecahan 2000 kepeda Rara.
"Terimakasih bu". Ucap Rara.
"Sama-Sama". Ucap wanita tersebut
Ketika Rara ingin melangkah pergi ia melihat sebuah bangku kayu di samping warung tersebut, Rara mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih untuk beristirahat sejenak di warung tersebut, ya kaki Rara terasa pegal setelah berkeliling mencari pekerjaan, dengan cepat Rara memutar tubuhnya hingga kebali berhadapan dengan wanita tersebut.
"Maaf bu, apakah kursi itu sengaja ibu sediakan untuk pengunjung yang datang kesini ?". Tanya Rara.
"Iya nak, memangnya ada apa ?". Jawab pemilik warung, dan kembali bertanya kepada Rara.
"Tentu, siapapun boleh menduduki bangku itu, karna sengaja saya sediakan untuk setiap orang yang ingin beristirahat". Jawab pemilik warung tersebut.
"Terimakasih banyak bu". Ucap Rara
"Sama-sama, istirahatlah nak." Ucap pemilik warung.
Dengan cepat Rara duduk di bangku tersebut, dan membuka tutup botol air mineral yang ia beli lalu meneguknya. "ahh, rasanya lega sekali". Batin Rara.
__ADS_1
Rara terduduk sendiri tak lama bayangan masalalunya kembali muncul hatinya terasa perih, ia teringat saat ayah dan ibunya bertengkar hebat dan memutuskan untuk berpisah, hatinya bertambah perih saat bayangan ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan janda beranak satu yang umurnya tidak terlalu jauh dengan umur Rara, tak hanya itu ia juga harus menerima kenyataan pahit saat ibunya memutuskan untuk pergi bekerja keluar pulau demi memenuhi kebutuhannya dan anak anaknya, batin rara kembali sakit saat melihat dan merasakan perlakuan keluarga ibunya kepada adi-adinya juga kepada diri Rara sendiri.
Tak terasa air matanya mulai menetes dan membasahi pipi, namun Rara yang menyadari itu segera menggunakan telapak tangan dan juga jari jemarinya untuk menghapus air matanya, karna ia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menunjukan kesedihannya kepada siapapun ia harus terlihat kuat didepan siapapun terutama dihadapan kedua adiknya, tanpa iya sadari sepasang bola mata sejak tadi memperhatikannya, ya beliau ibu Asih sang pemilik warung.
Rara yang sedang melamun tiba tiba terlonajak dari lamunannya ketika sebuah tangan menepuk pundaknya, seketika ia menatap ternya wanita yang sejak tadi berada dalam warungnya menghampiri Rara disana.
"Maaf bu saya terlalu lama istirahat disini". Ucap Rara gugup. Ia berfikir wanita tersebut akan mengusirnya karna terlalu lama duduk disana, dengan cepat Rara berdiri.
" Duduk lah kau kelihatan begitu lelah nak". Ucap bu Asih lembut.
Kemudian Rara duduk kembali di tempat semula dan diikuti oleh Bu Asih duduk di sampingnya, Rara hanya diam karna suasana hatinya belum sepenuhnya membaik akibat bayangan masalalunya kembali terlintas difikirannya.
"Kau kenapa nak ?, ibu perhatikan dari tadi kau melalamun, tidak baik melamun sendirian, apa kau sedang mencari pekerjaan ?". Tanya ibu asih lembut.
"Tiii.. tidak bu, saya haya sedikit lelah". Ucap Rara
"Iya bu, saya sedang mencari pekerjaan namu belum ada perusahaan yang menerima saya, mung belem rezeki saya". Ucap Rara kembali
"Kau lulusan apa nak ?". Tanya bu Asih
"Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)" Jawab Rara.
"Kau tidak melanjutkan kuliah nak ?". Tanya bua Asih
__ADS_1
"Tidak bu, saya ingin meringankan beban orang tua saya". Jawab Rara sambil melihatkan senyum dibibirnya, namun kesedihan di hatinya tidak dapat di sembunyikan, genangan air mata dipelupuk matanya terlihat jelas. Bagaimana tidak kuliah dan mendapatkan gelar S1 adalah impiannya namun kondisi keluarganya yang sudah tidak utuh membuat ia berfikir untuk memilih bekerja, jangankan Kuliah untuk makanpun susah, bahkan SPP selama ia sekolahpun menunggak dan belum dibayar sampai ia lulus, membuat Rara semakin membulatkan niatnya untuk bekerja, beruntung pihak sekolah tidak menahan Ijazahnya kebetulan ia bersekolah di sekolah Negeri jadi tida ada istilah tahan menahan Ijazah saat siswanya memiliki tunggakan.
kesedihan kembali muncul di wajahnya, ketika mengenang teman temannya yang sibuk mengikuti SBMPTN, dan mengenang tawaran Beasiswa dari gurunya namun ia tolak karna ia memutuskan untuk bekerja, ya Rara merupakan salah satu siswa beprestasi dari sekolahnya, hingga suata hari ia bertemu dengan sosok pengusaha yang hadir dalam acara di sekolahnya dan memberi motivasi dirinya untuk bisa sukses.