SISI YANG TERTUTUP

SISI YANG TERTUTUP
MEMULAI LEMBARAN BARU


__ADS_3

Setelah saling bercerita Radit dan Arfanpun berpisah, Arfan menuju kediamannya dengakan Radit menuju kantor Widjaya Grup untuk mengambil barang pribadinya.


Kini Radit sedang meyusuri jalan dengan berjalan kaki, ia menolak diantar oleh Arfan kana ia sadar sekarang dia bukan siapa siapa, maka dari itu Radit memilih berjalan kaki. Ada kekaguman di dalam hati Arfan melihat kegigihan Radit yang rela berkorban demi mendapatkan gadit yang ia cintai, itupula lah yang membuat Arfan kembali semangat untuk mengejar cinta Rara.


Sesampainya di kantor Radit langsung menuju ruangannya dan menulis surat untuk Krish, serta meminta Krish untuk tidak mencarinya, ia meminta Krish mengawasi pergerakan sang Ayah saat perusahaan besar itu kembali di kelola oleh pria paruh baya tersebut. setelah dirasa cukup Radit membuka kotak kecil di lemari yabg ada di ruangan kerjanya itu, disana terdapat sebuah hasil dia menjadi seorang pembalap mungkin jumlahnya tidak begitu besar tapi baginya itu cukup sebagai bekalnya dalam memulai kehidupan baru.


Radit mengambil kunci motor miliknya lalu bergegas meninggalkan ruang itu, kemuadian Radit melajukan sepeda roda dua miliknya ia memutuskan untuk membeli rumah sederhan untuk ia tempati namun tengah malam seperti ini siapa juga yang akan menjual rumah, maka niatnya ia urungkan dan ia memilih menginap disebuah penginapan sederhana.


Sesampainya dipenginapan Radit langsung memesan sebuah kamar untuknya, lalu iya membersihkan badan dan beristirahat, agar besok pagi ia bisa tepat waktu menjemput Rara.


"Ah gerah sekali, bagaimana aku bisa tidur" Gumam Radit, namun sekitika ia ingat bahwa ini keputusannya maka ia harus membiasakan hidup jauh dari kemewahan.


"Tidak aku tidak boleh ngeluh, aku harus terbiasa hidup seperti ini". Tak lama Raditpun terlelap.


KRINGGGG KRINGGG.... Suara alrm dari ponsel milik Radit berbunyi. Raditpun beranjak dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri setelah dirasa cukup ia meninggalkan penginapan tersebut. Tujuan pertamanya ia akan menjemput Rara setelah itu ia akan mencati rumah untuk ia tempati.


Disisi lain Arfan terlihat sudah siap untuk berangkat kerja, ia pun melajukan mobilnya namun arah yang ia lalui sepertinya bukan arah menuju kantor Widjaya Group.


Rara dan kedua adiknya telah bersiap untuk sarapan, mereka bertiga sarapan dengan penuh semangat, terutama kedua adik Rara mereka sangat lahap menyantap makanannya, karna akhir pekan nanti Rara telah berjanji mengakak kedua adiknya bermain ke kebun binatang di kota tersebut, hari ini tepat satu bulan Rara bekerja di PT. Widjaya Group yang artinya hari ini Rara akan menerima Gaji pertamanya.


"Benar apa kata Tuan Radit, jika kita memcintai seseorang kita harus berkorban untuk mendapatkannya bahkan nyawa sekalipun". Batin Arfan setelah mengingat ucapan Radit tadi malam.


"Aku datang Ra, aku akan memulai perjuangan ku mulai hari ini dengan kehidupan baruku semoga kau mau menerimaku Ra". Batin Radit.


Setelah kurang lebih 15 menit memacu kuda besi miliknya Radit pun tiba di perkampunya yang ditinggali oleh Rara.


Tok... tok...


"***Assalamualaikum, selamat pagi". Salam Radit

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, sebentar". Ucap Rara, ketuka hendak membukan pintu muncul ledua adik Rara.


"Itu pasti ka Putra, biar aku saja yang buka pintunya ka". Ucaf Alfa sambil bergegas membuka pintu


"Kak, Putraaaa". Ucap Azka. sambil berlari menemui Putra


"Hai. boyyyy" Ucap Putra


"Kak, Putra". Ucap Rara


"Hai Ra". Ucap Putra


"Kalian sudah siap ?" Tanya Putra, dan diangguki kedua adik Rara begitupun Rara.


"Ya sudah ayo kita berangkat". Ajak Putra***


Mereka berempatpun menaiki kuda besi milik Putra dengan formasi seperti biasanya, dimana Azka duduk di depan, Alfa di tengah tengah antara Putra dan Rara. Saat kuda besi mereka keluar dari gang, Rara tak sengaja melihat mobil milik Arfan terparkit dilapangan kampunya itu tak lama Arfan keluar dari mobil dengan secepat kilat Rara memalingkan muka seolah olah ia tak mengetahui keberadaan Arfan.


"***Sakit sekali Ra melihak kamu dibonceng oleh lelaki lain". Batin Arfan.


"Apa Pak Arfan melihatku tadi ?". Batin Rara, bukan maksud Rara menghindar dari Arfan namu ia belum siap bertemu dengan pria itu setelah ia mengetahui perasaan lelaki itu kepadanya***.


Sepeda motor milik Putra berhenti tepat di depan gerbang sekolah, kedua adik Rara turun dan menciumi punggung tangan Rara dan Putra, di belakang terlihat mobil milik Arfan mengekori mereka berempat.


Setelah kedua adil Rara memasuki sekolahannya, Putra melajukan kuda besi miliknya seperti biasa Putra meminta Rara untuk berpegangan padanya karna ia akan melajukan sepeda motornya lebih cepat agar bisa sampai tujuan tepat waktu, dan seperti biasa Rarapun menyetujui perintah dari Putra, Lagi - lagi sesak di dada Arfan kembali tersa terlebih ia melihat Rara begitu mesara dengan pria itu, Arfan terus mengekori kendaraan yang di tumpangi Rara.


Tiba tiba Putra memasukan sepeda motornya kesebuh gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor saja, dan lagi Arfan kembali kehilangan jejak.


"Sial" Pekik Arfan.

__ADS_1


Putra sengaja membawa Rara melewati jalan pintas Agar lebih cepat sampai, dan setelah itu ia punya waktu luang untuk mencari tempat tinggal untuk dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit melajuka kuda besi miliknya dengan keheningan akhirmya Putra dan Rara sampai di kantor milik Widjaya Group.


"Sampaiiiii.....". Ucap Putra sambil memberhentikan sepeda motor milik nya.


Rarapun turun.


"Terimakasih ka " Ucap Putra


"Sama - Sama Ra, gih buruan masuk nanti bos kamu yang galak itu liat lagi". Ucap Putra.


"Siap ka, kalau begitu aku masuk dulu ya" Ucap Rara sambil menyodorkan helm dan langsung diterima oleh putra.


"Selamat tinggal Widjaya Group". Ucap Putra sambil meninggalkan halaman kantor tersebut.


Tak lama mobil milik Arfan memasuki halam kantor Widjaya Group ia pun bergegas menuju parkiran dan kemudian menuju ruangan kerja miliknya dengan perasaan yang sangat kacau.


Ditempat lain Hadi Widjaya terlihat sedang sibuk, ya hari ini ia kembali mengurus perusahan Widjaya Group karna Radit telah memutuskan meninggalakan semuanya.


"Istriku, aku berangkat dulu" Ucap Papa Hadi, diangguli oleh mama Elin, setelag mencium kening sang istri Papa Hadipun bergegas menuju perusahaannya.


"***Ah, seeprtinya rimah ini cocok untuku simpel dan tidka terlalu besar". Batin Radit setelah mengelilingi komplek, tak jauh dari rumah Rara ia melihat sebuah ruma dengan plang bertuliskan Rumah ini Dijual Hub. 0821-xxxx-xxx .


Raditpun mengguhungi nomor yang tertera pada papan tersebut.


Haiiiii , Othor kembali selamat membaca yaaa semoga kalian suku, tinggalkan juka like dan komen yaaa,,, secangkir kopi untuk menambah semangat Othor juga Othor terimaaa hihihi...


selamat membaca

__ADS_1


dan terimakasih


__ADS_2