SISI YANG TERTUTUP

SISI YANG TERTUTUP
RUMAH


__ADS_3

Sesampainya di rumah Rara langsung mengetuk pintu serta mengucapkan salam, setelah menunggu beberapa saat barulah terdengar bunyi "klek" tandanya pintu terbuka dan muncul sosok anak laki laki dari belakang pintu. Arfan yang sejak tadi membanyakang kehidupan Rara sejenak menghembuskan nafas kasar, karna selama ini ia hidup dengan berekecukupan tapi masih banyak orang yang harus banting tulang mencari nafkah untuk bertahan hidup.


"*Silahkan masuk pak, mohon maaf rumahnya kecil". Ucap Rara membuyarkan lamunan Arfan.


"mmm, tidak, tidak apa apa mau besar mau kecil yang penting kita bisa berteduh dan merasa nyaman berada di dalamnya bukan" Ucap Arfan sambil membuka sepatunya*.


Rara dan Arfan masuk kedalam tentunya dengan indri berjalan terlebih dahulu lalu di ikuti oleh Arfan .


"Kaka itu siapa ?" tanya Alfa, sedangkan Azka sedang di dalam kamar mengerjakan PR.


"mmm kenalin ini Pak Arfan dia atasan di tempat kerja kaka". Ucap Rara sambil memberi isyarat agar adiknya bersalaman dengan Arfan.


"Nama ku Alfa". Ucap Alfa sambil mengulurkan tangan kepada Arfan.


"Arfan" Ucap Arfan singkat sambil menyambut uluran tangan Alfa dan melukis senyuman di wajahnya.


"Bapak, mau minum apa ?" Tanya Rara.


"ahh tidak usah repot repot". Jawab Arfan


"tidak pak, susah kewajiban saya sebagai tuan rumah menyambut dan melayani tamu saya". Ucap Rara.


"mmm.. kalau boleh saya mau kopi hitam Ra". Ucap Arfan


"Baik pak, tunggu sebentar saya akan buatkan". Ucap Rara, hanya kopi hitam kebetulan dia punya stok karna Rara juga adalah penggemar kopi.


Ketika Rara pergi menuju dapur, Arfan memandangi setiap sudut rumah tersebut, kecil yang begitu sederhana namaun terlihat rapi juga bersih, walaupun Rara tinggal bersama kedua adiknya mereka selalu bahu membahu saling membantu begitupun dalam hal pekerjaan rumah.


Tiba tiba terdengar bunyi pesan masuk dari ponsel Arfan.


"Berkas yang saya butuhkan apakah sudah kamu siapkan ? saya harus memeriksanya sekarang juga, kirimkan saja soft filenya via email saya tunggu sekarang juga".

__ADS_1


kira kira begitu isi pesannya, Arfan segera bergegas menuju mobil miliknya untuk mengambil laptop dan berkas tersebut, bagaimana tidak panik yang mengirim pesan tersebut adalah Radit Presidir yang terkenal disiplin cuek dingin dan tidak mentolerin kesalahan sedikitpun.


Setelah sampai di mobil dia langsung mengabil barang yang ia butuhkan, tapi setelah ia menutup pintu mobil dan bergega ke rumah Rara banyak pasang bola mata yang mengarh kepadanya, ya mereka tetangga tetangga Rara yang super kepo, mereka baru kali ini melihat mobil mewah yang terparkir di lapangan kampung tersebut.


Sedangkan di rumah Rara dibuat kebingungan karena Arfan tidak ada disana dan ponselnya pun tertinggal disana.


"kemana pak Arfan pergi ? ponselnya tertinggal disini" batin Rara.


Sedangkan Arfan cukup kesulitan untuk menghindari kerumunan warga, sampai akhirnya ia lolos dan bergegas ke rumah Rara, namun ada yang membuatnya risih berada di lingkungan ini, yaa warga yang tadi mengerumuninya sampai saat ini mereka masih memamandang Arfan bahkan mereka sudah memutar hampir 360° kepalanya demi memperhatikan langkah Arfan. Keberadaan Arfan saat ini tentu saja akan menjadi trending topik di kampungnya.


tok...


tok..


tok...


"*Ra tolong buka pintunya" Ucap Arfan sambil mengetuk pintu.


klek pintu terbuka


"Pak Arfan dari mana, saya panik takunya bapak nyasar". Ucap Rara khawatir.


"Saya habis ngambil laptop dan berkas dari mobil, tapi di depan sana banyak warga yang mengerumuni mobil saya". Ucap Arfan


"*Maaf pak memang seperti ini keadaan warga di kampung saya setiap ada orang baru mereka selalu penasaran tingkat keponya sangat tinggi". Ucap Rara merasa tidak enak


"ya sudah kalau begitu, saya ikut menyelesaikan kerjaan saya sebentar sambil menunggu kondisinya menjadi aman" Ucap Arfan.


"silahkan pak, oh iya ini kopinya keburu dingin" Ucap Rara sambil menyodorkan kopi kepada Arfan


"Terimakasih" ucap Arfan dan meneguk kopi yang di berikan oleh Rara*.

__ADS_1


Arfan terpaksa memilih menyelesaikan kerjaannya di rumah Rara karna jika memilih pulang ke rumahnya terlebih dahulu itu akan memakan waktu yang cukup lama dan dia bisa di marahi habis habisan oleh bosnya itu.


Hanya butuh. waktu sekitar 20 menit untuk menyelesaikan pekerjaan, sejenak ia memperhatikan Rara hatinya kembali teriris melihat Gadis di hadapannya begitu banyak ujian yang sudah ia lewati.


"*kamu tidak makan Ra" Tanya Arfan


"mmm saya belum lapar pak" Ucap Rara, bohong jika dia belum lapar sejak tadi cacing di perutnya sudah demo.


"makanlah dulu, ajak adik adik mu kasian mereka" Ucap Arfan


"baik pak, tapi bapak bagai mana ?" Tanya Rara bingung


"Tidak perlu khawatir saya sudah membeli 4 bungkus makanan, jadi kita akan makan bersama" Ucap Arfan, sambil menyodorkan 2 buah paperbag yang berisi makanan, Rara pun menerimanya dan menyiapkan makanan yang sudah di belikan oleh Arfan*.


Mereka duduk bersama di atas sebuh karpet plastik, karna di rumah Rara tidak ada kursi hanya ada karpet plastik sebagai alas duduk mereka, mereka pun duduk bersama sambil menikmati makan malam dengan suasana hening, setelah selesai makan Alfa dan Azka pamit untuk membersihkan diri mereka lalu masuk kedalam kamar untuk beristirahat, kedua adik Rara memang tidak terbiasa terjaga sampai larut malam, sedangkan Rara dan Arfan masih berbincang keduanya saling bertukar cerita mengenai kehidupan pribadinya dna sesekali membahas soal pekerjaan.



Tak terasa waktu sudah menunjukan puku 22.00 tandanya Arfan harus segera pulang kalau sampai telat sedikit bisa bisa jadi masalah besar bagi mereka berdua, mereka bisa di gerebek oleh warga dan tentu akan mempermalukan mereka berdua.


"*mmm aku rasa aku harus pulang Ra, ga enak jika belama lama disini, takut jadi fitnah" Ucap Arfan.


"mmm iya pak sebaiknya bapak pulang saja soalnya tetangga disini pada rese" Ucap Rara, ya memang tinggal di perkampungan tidak se bebas tingga di komplek elit, warga yang tinggal disana memang menjujung adat dan tradisi juga sopan santun namun tak sedikit dari mereka yang memilik kekepoan tingkat tinggi.


"Baiklah kalau begitu saya pulang dulu Ra, Assalamualaikum". Ucap Arfan


"Hati-hati dijalan, Waalaiakumsalam". Jawab Rara sambil memperhatikan langkah pria itu hingga punggungnya sudah tak terlihat oleh matanya*.


Rara tidak mengantarkan Arfan sampai ke lapangan tempat Arfan memarkirkan mobilnya, karna Arfan melarangnya Arfan tidak ingin indri sampai bahan gunjingan tetangganya karna menerima tamu pria kerumahnya hingga larut malam.


Sesampainya di mobil Arfan tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya, ia memilih menyandarkan mobilnya ke kursi kemudinya, entah perasaan apa yang menyelimuti hatinya, setelah ia mendengar kisah Rara ingin sekali ia menjadi pelindung bagi Rara, ia tak ingin Rara sedih ia ingin Rara selalu tersenyum dan melupakan kesedihannya itu.

__ADS_1


__ADS_2