
Suasana di ruang makan menjadi lembih menyeramkan terlebih ketika pria paruh baya itu memulai pembicaraan di tengah keheningan itu.
"ehemmmm" Dehem pria itu
Sontak Radit dan sang ibu melirik ke arah asal suara itu, ya dia adalah Hadi Widjaya orang yang sangat berkuasa di masion itu.
"Ada apa suamiku". Tanya Elin
Radit yang merasakan ada sesuatu yang akan memojokan dirinya saat ini, ia mulai mengambil sikap, memasang wajah datar dan dingin, benar saja ia mendapatkan serangan dari sang ayah.
"Radit, usiamu sudah menginjak 25 tahun, *sudah saatnya kamu mengakhiri masa lajangmu, kamu harus menikah" . Ucap ayahnya, ya pak Hadi selalu meminta Radit untuk segera menikah, karna ia tidak mau anaknya hidup sendiri tanpa ada wanita yang mendampingi hidupnya.
"Maaf Dad, aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk membahas ini, lagi pula aku belum berfikir kearah sana sedikitpun". Jawab Radit dingin dengan memasang wajah datar memperlihatkan bahwa dia tidak senang dengan perkataan ayahnya itu.
"Tapi aku ingin sekali melihat kamu menikah, terlebih usiaku dan ibumu saat ini sudah tidak muda lagi, aku ingin ada seseorang yang mendapingimu dan mengurus mu, bukan hanya itu aku ingin menimang cucu, sudah saatnya aku memiliki cucu". Ucap pria paruh baya itu
"Sudah aku bilang aku belum pernah berfikir sedikit pun kearah sana dad" Ucap Radit dengan menaikan nada bicaranya, jelas ia sangat tidak suka jika sudah membahas tentang pernikahan, bukan tidak mau hanya saja orang tuanya itu berniat menjodohkan ia dengan gadis yang tergila gila padanya, membuat radit merasa jijik jika berhadapan dengan wanita tersebut.
"Cukup Radit aku tidak mau mendengar penolakan darimu lagi, minggu depan kamu akan menikah dengan Vera, dia gadis dari keturunan baik-baik, aku sangat mengenal dia terlebih ayahnya adalah sahabat karibku, jadi aku putuskan kamu akan menikah dengan vera minggu depan". Ucap Papa Hadi membuat amarah dalam diri Radit semakin memuncak.
"Kau tidak bisa seenaknya mengatur hidupku, lagi pula aku tidak mau menikah dengan gadis itu, jika aku menyetujui untuk menikahpun bukan gadis itu yang akan aku nikahi, aku akan menikahi gadis pilihanku sendiri". Jawab Radit marah
"Kau berani membentakku, ingat aku ayahmu aku berhak menentukan hidupmu, lagi pula apa salahnya kamu menikahi gadis itu bukan kah itu menguntungkan bagi kita, perusahaan kita akan semakin besar bukan". Ucap Pria itu, dengan menyunggingkan senyuman licik di akhir kalimat.
"Sekali tidak tetap tidak aku akan menikahi wanita yang aku cintai, ini keputusanku !!!".
__ADS_1
"Lagi pula apa kau tidak menjadikan kematia ka Sela sebagai pelajaran hidup, kau bahkan kehilangan anak wanitamu karna kau memaksa dia untuk menikah dengan pria yang kau pilih"
"Lihat lah pada akhirnya gadis yang kau janjikan hidup bahagia dengan pria pilihanmu rupanya meninggalkanmu dengan kondisi yang mengerikan, bahkan kau sendiri yang mengantarkan gadis itu kejurang kematian itu"
"Aku tidak mau menyia nyiakan hidupku" . Ucap Radit sambil selengos pergi melangkah keluar meninggalkan ruangan tersebut.
"Radit, keputusanku sudah bulat kau akan menikah dengan Vera minggu depan". Teriak pria paruh baya itu*
Namun Radit terus melangkah menajuh dari hadapan kedua orang tuanya ia bahkan mengabaikan ucapan sang ayah, seketika mobil bmw berwarna putih series terbaru itu keluar dari halaman massion mewah dengan kecepatan yang sangat tinggil.
"*Siaaalllll......" Teria Radit sambil memukul stir kemudinya.
"Kenapa aku harus memiliki orang tua seperti mereka, bahakan aku tidak berhak menentukan pilihan hidupku sendiri dia selalu* mengatur hidupku" lirih Radit sambil tetap melajukan mobil itu tanpa tau arah tujuannya akan kemana
"aaarrrghhh" Pekik Radit menahan emosi yang sangat membakar jiwanya itu, iapun memutuskan untuk kembalu kekantor miliknya.
"Tuan Radit, ada apa mengaoa tuan kemari selarut ini, apa ada yang tertinggal tuan". Ucap pria itu ketika Radit melewati wilayahnya. Namun Radit mengabaikan pertanyaan pria itu ia secepat kilah masuk kedalam memasuki box besar dihadapannya tak lama pintu otomatis terbuka ia melangkan menjauh dan masuk keruangan kerja miliknya ia duduk termenung di balkon.
Radit berusaha menetralkan fikirannya, ia ngarahkan pandangannya ke arah langit ia memandang bintang yang turut hadir dimalam itu, kemudia ia mengalihkan pandangannya, tangannya meraih map coklat yang sejak tadi ada di hadapannya Radit lupa menyimpan map itu karna teburu buru radit meninggalkannya di balok, seketika raut wajahnya berubah ia merasa tenang saat ia memandang foto milik gadis yang berhasil memgobrak ngabrik pertahanan hatinya.
"Aku akan menikahimu". Umapat Radit
**** Sedangkan di kediaman orangtuanya, pria paruh baya itu sedang merasa gelisah karna setelah pembicaraannya tadi Radit meninggalakan mereka dengan keadaan marah hingga saat ini anak bujang mereka belum menunjukan batang hidungnya, ayah radit menjadi prustasi, bukan apa apa ia tidak mau pernikahan putranya gagal, karna jika gagal harapan untuk memperluas bisninya akan hancur.
"*Coba kau hubungi dia". Minta pria itu kepada wanita yang sejak tadi duduk dihadapannya menatap dirinya.
__ADS_1
tuttt...
tutttt*...
Beberapa kali wanita itu mencoba menghubungi putra sematawayangnya namun tidak ada satupun panggilan darinya yang mendapatkan jawaban dari sang putra, ia menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri.
"*Dia tidak menjawab panggilan dariku" Ucap wanita itu lirih.
"Sialll...." Pekik pak Hadi.
"Jangan sampai pernikahan ini gagal, aku tidak mau rencana yang sudah aku susun Rapi menjadi hancur berantakan". Ucap pria itu sambil mengapalkan kedua tangannya.
'Sudahlah mas, jika Radit tidak mau, lebih bai urungkan semua niatmu itu, benar kata radit akan kita sudah dewasa dia berhat menentukan hidupnya sendiri". Ucap wanita itu dengan nada lembut
"Tidak pokonya Radit harus menikah dengan Vera". Ucap pria itu
"Mas apa kau tidak menjadikan kematian Sela sebagai pelajaran" Tanya Wanita itu dengan nada yang sedikit meninggi, ia tak habis fikir kenapa suaminya itu sangat egois.
"Itu musibah, dan mungkin Shela memang di takdirkan untuk meninggalkan dunia ini dengan cepat". Ujar Pria itu, namun tidak menutup kenyataan dalam hatinya bawha kematia Putri sulungnya itu, memang kesalahan dia karna dia telah menikahnya putrinya dengan pemuda yang tega menghabisi nyawa istrinya sendiri*.
Mama Elin yang sudah jengah dengan sikap suaminya memilih meninggalakn suaminya seornag diri ia melangkah menuju kamar miliknya.
Sedangkan di Kantor Radit sudah terlelap dalam tidunya, tangan kanannya memegang kertas kecil dan di tempelkan di dada budnag miliknya.
MOHON SUPPORT KARYAKU YAAA... DENGAN CARA LIKE, KOMEN, JUGA VOTE SEBANYAK BANYAKANNYA, SEBUAH DUKUNGAN KALIN MENJADIKAN SEMANGAT BARU BAGI AUTHOR, TERIMAKASIH TELAH SUDI MAMPIR DI KARAYA PERTAMAKU INI, MOHON KRITIK JUGA SARANNYA YAAA 🙏🙏😊😊
__ADS_1
JANGAN LUPA MASUKAN KE DAFTAR FAVORIT YA SUPAYA SETIAP UPDATE ADA PEMBERITAHUAN 😊😊😊