SISI YANG TERTUTUP

SISI YANG TERTUTUP
SIAPA DIA


__ADS_3

Selama perjalanan menuju kantor Arfan merasa gelisah bagaimana tidak, niat hati ingin mengajak Rara pergi bareng ternyata dia sudah didahului oleh sosok pria yang tidak ia kenal, alih alih memulai pendekatan kepada Rara ia malah mendapatkan kekecewaan, kesal, kecewa itu yang Arfan rasakan saat ini, ya betul ternyata Arfan kalah start dari Radit alias Putra.



Arfan merasa frustasi karna bayangan Rara dan seorang pria yang ia lihat tadi selalu muncul di fikirannya, hingga tanpa sadar Arfan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi padahal kondisi jalanan itu cukup macet, hingga beberapa kali terdengar bunyi klakson dari pengendara lain namun Arfan mengabaikannya seolah oleh ia tidak mendengar apapun telinganya mendadak menjadi tuli.


"Arggghhhhh, sial kenapa aku harus melihatanya, kenapa hatiku sesakit ini, padahal aku dan Rara tidak memiliki hubungan apapun, dan aku sama sekali tidak berhak atas Rara". Decak Arfan meluapkan kekesalannya sesekali ia memukul stir mobilnya.


sedangkan di rumah Rara dan kedua adiknya juga Putra telah selesai menyantap sarapan pagi, kini mereka berempat siap siap untuk berangkat, setelah Rara mengunci pint rumahnya Putra menyerahkan sebuah helm kepada Rara, Rara yang menerimanya langsung memakai helm tersebut.


"sudah siap ?" tanya Putra. Dan di balas anggukam oleh Rara.


Mereka berempat memulai perjalannya menggunakan sepeda motor dimana Azka duduk didepan dan Alfa duduk di tengah tengah seolah menjadi skat penghalang bagi Putra dan Rara namun begitu terlihat jelas kebahagian yang terpancar dari wajah tampan milik putra, ia senang bisa dekat dengan gadis yang berhasil mencuri hatinya walupun mereka harus duduk desak desakan, tak hanya itu kedua adik Rara yang mudah akrab membuat Putra menjadi seperti memiliki adik sendiri.



Setelah mengendarai sepeda motor selama beberapa menit melewati jalanan kampung yang teksturnya tidak rata akhirnya kendaraan yang mereka naiki telah tiba di sebuah Sekolah dimana kedua adik Rara menimba ilmu, Alfa dan Azka turun dari sepeda motor itu, kemudian mereka bergantian mencuim punggung tangan milik kakanya juga milik putra, mereka melangkah masuk melewati gerbang, setelah bayangan kedua adik Rara telah tidak terlihat Putra kembali melajukan perjalannanya menuju kantor Widjaya Group dimana disanalah Rara bekerja.



Suasana hening membuat keadaan sekitar menjadi horor, Akhirnya Putra membuka pembicaraan diantara keduanya.


"*emmm Ra, jalannanya cukup macet ya ". Ucap Putra


"iyaa, ka aku jadi takut terlambat". Ucap Rara


"Sebetulnya aku tau jalan pintas agar cepat sampai ke kantormu, tapi jalannya cukup sepi melewati beberapa lahan yang tidak ada penduduknya". Ucap Putra.


"mmm begitu ya ka, kalau menurut kaka itu rute tercepat kenapa kita tidak mencobanya". Tanya Rara


"Kamu yakin mah lewat sana". Putra balik bertanya

__ADS_1


"Ya kenapa tidak ka, selagi bisa lebih cepat, bukan kah itu lebih baik ?". ucap Rara


"Baiklah kalau begitu kamu pegangan aku akan sedikit mempercepat lajh motorku". pinta Putra


"Harus ya ka ?" Rara bertanya bingung


"Engga juga sih tapi kalau kamu tidak pegangan aku taku kamu terjatuh". Ucao Putra sedikit menakut nakuti*.


Ciieee bilang aja lo Putra pengen di peluk sama Rara dasar lo cowok modus.


Tanpa menjawab apapun kedu tangan milik Rara kini berada di pinggang putra, dengan sigap putra langsng menambah kecepatan laju motornya, membelokan motornya kesebelah kiri memasuki sebuah gang sempit membelah jalan yang memang sangat sepi ada beberepa jalan yang masih berbentuk tanah membuat setiap yang melewatinya menjadi licin.


Putra fokus mengendarai sepeda motornya, sedangkan Rara di belakang merasa takut terlebih beberapa kali motor yang mereka tumpangi hampir tergelincir, karna beberapa kali hampir tergelincir tangan Rara kini melingkar sempurna di pinggang milik Putra, sedangkan Putra merasakan debaran yang begitu hebat di dalam dadanya terlebih ada yang aneh dan merasa mengganjal pada punggungnya seolah menjadi penghalang bagi Putra dan Rara bukan tas melainkan sebuah benda yang terasa kenyal. Entah kenapa alairan darahnya berdesir begity hebat membuat sesuatu yang ada dalam diri Putra terasa hidup.


"Ah sial kenapa kau bangun jon". Ucap Putra dalam hati seketika ia menelan salivanya dengan kasar karna ia tidak dapat menghindari apa yang ia rasakan saat ini.


Setelah beberapa menit menyusuri jalan yang cukup terjal kini sepeda motor yang mereka naiki memasuki sebuah kawasan perumahan yang cukup elite tak jauh dari sanah sebuah gedung pencakar langit mulai terlehit sangat jelas mendakan bahwa mereka akan segera tiba disana.




Arfan yang melihat Rara memeluk Putra sangat merasa panas dalam hatinya ia terlihat tidak rela melihat Rara memeluk pria lain, dan sialnya wajah pria yang membonceng Rara itu tidak terlihat karna pria itu memakai masker juga helm full face. Sedangkan Putra yang tidak mau penyamarannya terbongkar ia memilih menggunakan kumis palsu yang ia pasang diantara bibir juga hidungnya.


"Siapa dia Ra, tolong jelaskan apakah dia temanmu tapi mengapa kamu terlihat begitu dekat dengan dia, apakah kalian berdua berpacaran". Arfan bicara pada dirinya sendiri, Arfan terlihat begitu frustasi.


Putra dan Rara telah tiba terlebih dahulu, putra menepikan sepeda mutornya dan membiarkan Rara turun dari sepeda motornya.


"*ini helmnya ka". Ucap Rara yang membuyarkan imajinasi Putra. Rara menyerhakan helm yang dipakainya kepada putra


"eehhh, i--iyaa Ra". Ucap Putra sambil menerima helm yang di berikan Rara.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu aku masuk dulu ka". Ucap Rara


"mmm iyaa Ra, nanti aku jem---". Tiba - ibu ucapan Putra tergenti karna bunyi klakson yang cukup keras mengganggu telinga kedua insan itu.


tiiittttt....


tittttttt*.....


Rara dna Putra menoleh bersamaan kearah sumber suara itu, mereka terkejut karna suara bising itu berasal dari mobil yang di kendarai Arfan, bisa merea lihat jika Arfan tidak menyukai mereka berdua, terlebih tangan Rara yang spontan memegang lengan milik Putra karna kaget.


"*Hei... ini bukan parkiran kau mengganggu pengendara lain, kalau mau parkir jangan disini". Ucap Arfan menatap Putra dengan tatapan seperti ingin mengajak berperang.


"Dan kamu, ini sudah jam berapa kenapa belum masuk kedalam". Ucap Arfan dingin kepada Rara*.


Rara refleks memandang jam tangan yang terpasang di pergelangan tangannya, masih ada waktu 15 menit lagi kenapa Pak Arfan begitu marah padahal Rara belum telat.


"*hei, kenapa bengong cepat masuk kalau tuan Radit tau, karier kamu disini akan hancur karna ia tidak mau memilik karyawan yang tidak disiplin". Ucap Arfan sambil melajukan mobilnya memasuki parkiran gedung tersebut


"Baa---baik. pak" Ucap Rara yang tidak di indahkan oleh Arfan.


"Kak, aku harus masuk" Ucap Rara buru buru .


"Masuk lahi" Ucap Putra yang sejak tadi mematung memperhatikan Arfan yang sewenang wenang padanya juga pada Rara*.


Rupanya Arfan tidak tahu siapa yang sudah ia maki tadi.


Putra pun melajukan motornya ke sebuah tempat dimana ia memarkirkan motornya itu lalu ia bergegas masuk keruangan pribadi miliknya tentu saja ia sudah melepas semua benda yang ia pakai untu menyamar menjadi sosok tukang ojek, ia masuk dengan mengganakan stelan juga kemeja yang ia pakai tadi tanpa mengguanakan jas karna tadi ia menggunakan jaket ojek.


***Readers yang baik ialah yang selalu menghargai karya dari sang penulis dengan kerendahan hati othor meminta koreksi jika ada yang harus di perbaiki dalam karya pertama otor ini.


TOLONG TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN YAAA TINGGALKAN JEJAK KALIAN DISINI OTHOR AKAN SANGAT BERTERIMAKASIH JIKA DIANTARA KALIAN ADA YANG SUDI MEMBERI OTHOR SECANGKIR KOPI JUGA SEBATANG BUNGA TERIMAKASIH 🤗🤗🙃🙃🙃💜***

__ADS_1


__ADS_2