
Sudah hampir 30 menit Radit berjalan kaki hingga pandangannya tertuju pada sebuah kursi di tepi kota itu, ia mendekat dan menjatuhkan tubuhnya keatas kursi tersebut.
Tak terasa air mata Radit mengalir menganak sungai di wajah tampan miliknya, bukan karna ia harus kehilangan hartanya bukan pula karna ia menyesali karna menolak keinginan sang ayah, tapi hatinya bertambah pedih karna ia mengingat sang ibu yang ia tahu sangat menyayangina dan rela berkorban apapun untuknya, namun jika ia memilih menuruti keinginan sang ayah maka ia yakin hidupnya akan terus di monopoli oleh sang ayah.
"Kenapa kau begitu egois Hadi, apa kau tidak melihat hidupku penuh tekanan yang kau ciptakan untukku, apa sudah aku korbankan tidak cukup untukmu" Pekik Radit
"Aku rela meninggalkan hobbyku sebagai pembalap, demi mengabdi pada perusahaanmu, apa urusan hatikupun hanya kau yang berhak memutuskannya wahai Hadi Widjaya yang terhormat". Ucap Radit dengan penuh emosi.
"Aku tidak boleh lemah akan ku buktikan aku akan berdiri dengan kakiku sendiri tanpa bantuan keluarga Widjaya, maafkan aku mom, do'akan anakmu ini agar bisa menghancurkan kesombongan pria itu". Ucap Radit semakin emosi dan dendam kepada sang ayah yang semakin membesar.
Disisi lain Arfan baru saja mengunjungi kediaman Rara namun rupanya ia tak mendapakan apa yang ia harapkan, wajahnya terlihat begitu memerah rambutnya acak acakan akibat kedua tangannya sendiri.
Arfan duduk didalam mobil miliknya ia mencoba menghidupkan mesin namun tak juga nyala hingga akhirnya ia turun dan mengecek mesin mobilnya setelah di rasa sudah cukup Arfan menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil itu membelah kesunyian kota malam ini.
"Aku mencintaimu Ra, sangat mencintaimu, apa tida ada sedikitpun perasaanmu untukku" gumam Arfan
"Kau menolakku tanpa alasan, sunggu itu sangat menyakitkan bagiku, apa kau sudah memiliki seseorang yang telah mencuri hatimu dariku Ra". Ucap Arfan sangat frustasi.
Flas back
Arfan baru saja sampai di kediaman Rara ia membawa makannan untuk di makan malam bersama Rara dan kedua adiknya.
Tok tok tok suara pintu di ketuk
"Assalamualaikum " Ucap pria dibalik pintu.
"Waalaikumsalam, sebentar" Sahut Rara
KLEKK... Pintu Terbuka
"Pak Arfan". Ucap Rara
"Iya ini aku Ra". jawab Arfan
" mmmm maaf pak ada apa bapak kesini malam malam". Tanya Rara
"Ah ini aku tak sengaja lewat sekalian saja aku mampir kesini" Jawab Arfan
"***Ouh, silahkan masuk pak" Ajak Rara di ikuti oleh Arfan, mereka pun duduk lesehan diatas tikar.
"Oh, iya Ra ini aku bawakan makanan untuk kamu dan adik adikmu kalian pasti belum makan kan" Ucap Radit sambil menyodorkan dua kantong plastik yang ia bawa.
"Ya ampun pak, kenapa bapa repot repot saya baru saja mau masak" Jawab Rara
__ADS_1
"Gapapa, malam ini kamu ga perlu masak, ambilah ga baik nolak rezeki". Ucap Arfan
" Terimakasih pa, kalau gitu kita makan bareng bareng saja pak, bapak juga belum makan kan". Ucap Rara dan kalimat itulah yang Arfan harapkan sejak tadi.
"Dengan senang hati". Ucap Arfan
"Kalu gitu saya permisi kedapur dulu, saya mau menyiapkan makannanya, oh iya bapa mau minum apa kopi apa teh ?". Tanya Rara
"kopi saja " Jawab Arfan di angguki Rara, setelah itu Rara melangkah menuju dapur, sednagkan kedua adik Rara mereka belum menyadari kehadiran Arfan dirumahnya mereka masih sibuk dengan tugas sekolah.
"Makanannya sudah siap" Ucap Rara sambil meletakan beberapa piring di atas hamparan tikar miliknya
"ini kopinya pak" Ucap Rara.
"Terimakasih" Jawab Arfan sambil menerima kopi yang diberikan Rara, senyuman manis terukir di wajah Arfan
"mau makan sekarang pak" Ucap Rara
"Boleh" setuju Radit
"Saya panggil adik saya dulu ya pak" Ucap Rara dianghuki oleh Arfan
"Pak Arfan" Ucap kedua kaka beradik lalu menghampiri Arfan dan menyalaminya
setelah semuanya kumpul, merekapun makan malam bersama, tanpa ada suara sedikitpun.
Tak butuh waktu lama makan malam pun selesai.
" Kalian masih sibuk ?" tanya Arfan kepada Alfa dan Azka
"Iya pak kami masih harus mengerjakan tugas sekola". Jawab Alfa dan di batengi oleh anggukan dari Azka
"Ouh memang kalian sedang mengerjakan tugas apa ?" Tanya Arfan
"Matematika dan Bahasa Inggris pak". Jawab Azka
"Kami permisi pak, kami mau mengerjakan tugas lagi". Ucap Alfa
"oke, baiklah" Ucap Arfan
Setelah Alfa dan Azka pergi kini hanya ada Rara dan Arfan dirungan itu. Arfan berusaha menetralkan perasaannya dan ia berusaha santai nampun otaknya terus mendorong untuk menyatakan maksudnya kepada Rara.
"ehem" dehem Arfan mencairkan suasana, Rara menoleh kearah Arfan
__ADS_1
"Ra ada yang mau aku omongin kekamu" Ucap Arfan
"Mau bicara apa pak, bicara saja". Ucap Rara tanpa menaruh curiga
"Sejak pertama aku datang kerumah ini, hatiku tergerak ada keinginan untuk melindungi kamu dna kedua adikmu, aku ingin membahagiakan kamu"
"Aku mencintaimu Ra" Ucap Arfan tegas
"Apa pak, apa aku tidak salah dengar" Tanya Rara tak percaya, bagaimana bisa seorang atasan mencintai bahawannya bahkan mereka baru kenal
"Tidak apa yang kamu dengar itulah kebenarannya". Ucap Arfan
"Maaf pak, tapi aku ga bisa membalas cinta dari bapak" Ucap Rara
"Kenapa Ra ? apa kau tidak mencintaiku". Ucap Radit. Jangankan cinta dit Rara aja baru kenal sama kamu
"bukan pa, tapi Rara ga bisa untuk membalas perasaan bapa". Ucap Rara. Bak di hantam bertubi tubi, hati Arfan begitu sesak bagai mana bisa ia di tolak oleh Rara, tapi ia tida bisa memaksa Rara untuk membalas cintanya
"Baiklah kalau itu keputusanmu, aku pamit pulang ya Ra" Ucap Arfan menyembunyikan kekecewaannya.
"sekali lagi maafin Rara pak" Ucap Rara merasa tidak enak
"Tidak apa apa, lagian kita masih bisa bertemana walaupun tidak menjadi sepasang kekasih" Ucap Arfan sambil berusaha mengembangkan senyim di wajanya***.
Arfan pun pamit dan meninggalkan rumah Rara dnegan rasa kecewa yang begitu besar.
Flasg back off
Di tengah jalan Arfan tak sengaja melihat sosok pemuda yang tak asing baginya, pemuda itu sednag duduk seorang diri di sebuah kursi tepi kota itu, dengan segera Arfan meminggirkan mobilnya ia turun dan bergegas menuju pemuda itu, seperti dugaannya ia adalah Radit bos diperusahan tempat Arfan bekerja. Namun bisa Arfan liat jika Radit sedang tidak baik baik saja.
"Tuan" Ucap Arfan
"Arfan". Jawab Radit dengan cepat Radit menghapus air mata di wajahnya itu
"Sedang apa Bapa disini sendirian". Tanya Arfan
"Aku hanya butuh ketenangan saja Fan" Ucap Radit
mereka pun ngobrol menikmati keheningan malam di tepi kota itu, hingga suasana hati mereka sedikit lega.
Haiiiii , Othor kembali selamat membaca yaaa semoga kalian suku, tinggalkan juka like dan komen yaaa,,, secangkir kopi untuk menambah semangat Othor juga Othor terimaaa hihihi...
selamat membaca
__ADS_1
dan terimakasih***