
Setelah mengantar sekolah kedua adiknya kini Rara menaiki angkutan umum menuju warung bu Asih, sesuai kesepakatan kemarin bu Asih akan memperkenalkan Rara dengan seseorang yang akan membatunya mendapatkan pekerjaan.
"Stop pak" . Ucap Rara kepada Sopir angkutan umum.
"ini uangnya" . Lanjut Rara sambil menyodorkan uang 10.000
"ini kembaliannya neng". Ucap supir angkot tersebut sambil menyodorkan uang 5.000 rupiah kepada Rara
"baik terimakasih pak". Ucap Rara
"sama - sama neng". Ucap supir angkut tersebut.
Setelah turun dari angkutan umum Rara langsung bergegas berjalan dengan penuh semangat menuju warung bu Asih. Setelah berjalan kurang lebih 1KM akhirnya Rara sampai di sebuah warung satu - Satunya di lingkungan perindustrian tersebut.
Ya jarak warung tersebut dengan jalan raya cukup jauh, sebenarnya disana ada tukang ojek namun Rara tidak mungkin untuk naik ojeg Uang yang ia miliki tinggal 5000 itupun hanya cukup untuk ongkos pulang saja.
Di warung tersebut nampak seorang wanita yang seeang duduk termenung, setelah kejadian kemarin bertemu dan mengobrol dengan ara Bu Asih kembali teringat kepada putrinya yang kini telah meninggalkannya seorang diri. Putrinya bernama Sinta, ia meninggal karna kecelakaan tunggal saat itu Sinta sedang mengendarai sepeda motor miliknya dengan kecepatan tinggi karna ia buru buru saat akan mengikuti SMBPTN namun naas ditengah perjalanan ban sepeda motor yang dikendarainya meledak hingga ia terlempar beberapa meter badan jalan membuatnya terbentur dan naasnya pembuluh darahnya pecah akibat benturan tersebut membuat ia menghembuskan nafas terakhirnya ditempat kejadian, tak terasa air mata bu Asih kembali menetes karna teringat bayang putrinya kembali.
"Assalamualaikum". ucap Rara dengan semangat, membuat wanita yang sejak tadi melamu seketika menjadi kaget.
"wa'alaikumsalam, eh nak Rara sudah datang". Jawab bu Asih sambil menggerakan tangannya untuk menghapus air mata di pipinya agar tidak terlihat oleh orang lain, ia tidak ingin menunjukan kesedihannya kepada siapapun.
Rara yang melihatnya merasa ada yang aneh pada bu Asih seketika ia bertanya.
__ADS_1
"ibu kenapa ? apaka ada hal yang menyakiti ibu sehingga ibu menangis ?". Tanya Rara khawatir.
"eeemm... ti.. tidak nak, ibu hanya kelilipan saja". Jawab bu Asih gugup
"jika ibu ada masalah Rara siapa mendengarkan curhatan ibu, sama halanya seperti ibu kemarin yang mendengarkan keluh kesah Rara". Ucap Rara sambil mengelus punggung bu Asih.
Rara yang menyimpan tanya, mulai berfikir hidup ini memang penuh misteri dan setiap orang diberi ujian hanya saja level ujian tersebut berbeda beda, Rara hanya bisa menarik nafas dalam lalu mengelurkannya, sedangkan disisi lain bu Asih masih terdiam.
"ibu, apa ibu memerlukan sesuatu, apa ibu mau Rara ambilkan minum" . Tanya Rara lembut
"tolong ambilkan ibu minum nak". Ucap bu Asih Lirih. Dengan cepat Rara mengambil air mineral botol lalu menyodorkannya kepada bu Asih, dan di sambut oleh bu Asi lalu meminumnya.
Setelah bu Asih sedikit tengang, ia menatap Rara dengan tatapan yang penuh kerinduan layaknya seorang ibu yang merindukan putrinya, ya benar saat ini bu Asih sangat merindukan putri semata wayangnya.
"sungguh bu aku siap mendengarkan keluh kesahmu". Jawab Rara nan memberikan tatapan lembut kepada wanita yang ada di hadapannya.
Tanpa basa basi bu Asih langsung meluapkna isi hatinya, bagai mana perasaannya saat ia ditinggal suaminya dengan keadaan ia sedang mengandung anaknya, suaminya meninggal saat usia kandungan bu asih menginjak 7bulan, bagai mana ia bersusah payah mencari nafkah untuk membesarkan anaknya, bahak dibawah terik matahari putri semata wayangnya harus ia bawa mengelilingi lingkungan perindustrian demi menjajakan dagangannya sampai ia memiliki warung sendiri dilingkungan tersebut, namun naas nasib buruk menimpa putrinya dan harus menelan kenyataan pahit ketika ia harus meneri kenyataan bahwa putrinya telah meninggalkannya untuk selama lamanya.
Rara yang dari tadi menyimak setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita tersebut mera sesak bagaimana tidak wanita tersebut kelihangan anak dan suaminya, dan Rara pun kehilangan kedua orang tuanya, memang sampai saat ini kedua orang tuanya masih hidup tapi mereka sibuk dengan kehidupan mereka masing masing, hingga Rara dan kedua adiknya tak lagi merasakan kasih sayang orangtua perlindungan dari sosok ayah itu tak pernah ia rasakan, sejak orang tuanya berpisah, tak terasa airmata Rarapun sekang sudah bejatuhan menghiasa pipinya yang selalu mempelihatkan lesung pipi saat ia tersenyum.
"ibu bolehkan aku memelukmu". Tanya Rara tanpa menjawab wanita yang ada dihadapnnya kini telah memeluk gadis tersebut keduanya saling berpelukan dan saling merasakan kenyamanan.
" *Nak bolehkah aku menganggapmu sebagai putriku sendiri?" . tanya wanita itu dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
" dengan senang hati ibu boleh menganggapku seperti putrimu sendiri, aku sunggu merindukan sosok ibu dalam hidupku bu". jawab Rara sambil menarik bibirnya agar memperlihatkan senyuman di wajahnya*.
Dengan perasaan haru mereka kembali saling berpelukan dan meluapkan perasaan mereka dalam pelukan itu. Seakan kehidupan baru menghapiri mereka berdua, semangat baru kekuatan baru membuat keduanya tersenyum lebar.
Tanpa mereka sadari dari tadi ada sosok pria tampan memperhatikan mereka berdua, dengan tatapan yang begitu lembut, dan senyuman yang begitu manis yang ia lukiskan di wajah tampannya itu.
Pria itu adalah Arfan, seorang karyawan pada perushaan yang memiliki 3000 cabang yang tersebar di negara yang mereka tempati saat ini, di perusahaan tersebur Arfan menduduki jabatan yang cukup tinggi, ia seorang HRD sehingga ia memiliki kemudahan untuk membatu orang yang membutuhkan pekerjaan.
Bu Asih mengenal Arfan dengan baik, karna Arga adalah sosok pria yang selalu menjadi pelindung putri semata wayangnya itu, Arfan dan Sinta bersahabat sejak kecil menginjak dewasa mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, hubungan mereka berjalan dengan mulus karna mendapat dukungan dari orangtua mereka masing - masing. Sayang impian untuk menikah dengan Sinta harus terkubur bersama kekasih hatinya yang telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama lamanya.
seketika pelukan keduanya terlepas saat mendengar suara dari seorang laki laki yang sejak tadi ada di hadapan mereka namu tak disadari oleh keduanya.
"Assalamualaikum". Ucap Arfan sambil tersenyum.
"Waalaiakumsalam" . Ucap keduanya berbarengan.
"Maaf bu jika kedatanganku mengganggu kalian berdua". Ucap Arfan sambil menghampiri dan maraih tangan kanan bu Asih lalu mencimum punggung tangan wanita tersebut.
"Tidak nak, kamu tidak menggagu, ibulah yang sudah mengganggu waktumu". Ucap bu Asih
"Ibu jangan bicara seperti itu, aku ini anakmu bu, kau sudah aku anggap seperti ibu sendiri". Ucap Arfa.
Ya walaupun Arfan dan Sinta harus bepisah karna maut yang memisahkan mereka berdua namun Arfan masih sering menggunjungi ibu Asih, karna ia telah berjanji untuk menjaga dan melindungi ibu kekasih yang sangat ia sayangi.
__ADS_1