
Setelah Arfan hadir di antara keduanya, bu Asih dan Arfan sedang ngobrol ringan, sedangkan Rara yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan antara bu Asih dan Arfan sesekali tersenyum kepada mereka berdua.
"Nak Arafan ini Rara yang sudah ibu ceritakan kemarin, dia sudah ibu anggap seperti putri ibu sendiri, dan saat ini dia sedang mencari pekerjaan, ibu harap nak Argan dapat membantu Rara". Ucap bu Asih dengan menjelaskan kembali tujuannya meminta Arfan untuk menemuinya hari ini.
Seketika Arfan mengalihkan pandangannya yang dari tadi fokus kepada bu Asih kini matanya telah menatap Rara, gadis kecil yang telah diangga oleh bu Asih sebagai putrinya sendiri, Arfan tersenyum kepada Rara dan dibalas kembali oleh Rara dengan senyuman yang sedikit canggung.
"Hai, perkenalkan nama saya Arfan Sanjaya". Ucapnya kepada Rara sambil mengulurkan tangan kanannya mengajak Rara untuk berjabat tangan.
"Nama saya Tiara Putri Utami, pak". Ucap Rara sedikit gugup sambil membalas uluran tangan Arfan dan merekapun saling berjabat tangan.
"Baiklah, ibu tinggal dulu warung ibu tidak ada yang menjaga, silahkan lanjutkan pembicaraan kalian berdua". Ucap bu Asih bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka tanpa menggu jawaban dari Arfan dan Rara.
"Jika boleh saya tau, tujuan kamu mencari pekerjaan untuk apa? apa kamu tidak tertarik untuk melanjutkan pendidikanmu ?". Tanya Arfan datar, seperti biasa ia sebagai HRD memang di tuntun untuk bersikap sedikit dingin saat dihadapkan dengan calon karyawan di perusahaannya, untuk melihat seberapa pantaskah mereka diterima di perusahaannya itu.
Sebetulnya itu bukan kepribadian seorang Arfan Sanjaya, hanya saja tuntutan kerja yang harus dilakukan secara porfesional, Arfan sejatinya memiliki sifat yang lembut juga penyayang, terlihat jelas ketika ia memperlakukan bu Asih layaknya ibu dia sendiri.
" Saya ingin memiliki penghasilan sendiri saya ingin membantu meringankan beban orang tua saya, bohong memang jika saya tidak menginginkan untuk melanjutkan pendidikan saya, tapi saya tidak bisa egois memaksakan kehendak saya sendiri disaat orang tua saya tidak mampu membiayai lagi". Ucap Rara dengan penuh keberanian
" Apakah kamu tidak mendapatkan beasiswa ?". Tanya arfan
"Sebtulnya saya sempat di tawari beasiswa oleh guru saya, namun saya tolak karna tekad saya sudah bulat saya ingin bekerja". Ucap Rara tegas.
"baiklah, jelaskan kelebih dan kekurangan yang ada pada diri kamu". Ucap Arfan tanpa menatap Rara pandangannya Fokus pada beberapa berkas yang ada di tangannya ya itu CV yang Rara berikan pada Arfan.
"Kelebihan saya, saya mudah bergaul, jujur rajin terampil, pekerja keras, penyayang, dan tidak mudah menyerah". Ucap Rara Tegas
__ADS_1
"Lalau kelemahan mu ?". Tanya Arfan sedikit melirik Rara dengan ekor matanya.
"Kelemahan saya, gugup saat bertemu orang baru, mudah menangis, sedikit egois". Jawab Rara.
"oke,, lalu bagai mana kamu bisa meyakinkan saya agar saya bisa menerima kamu bekerja, sedangkan kamu belum memiliki pengalaman bekerja ". ucap arfan sambil menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Saya yakin bahwa saya dapat diterima dan bergabung di perusahaan bapak, karna saya memiliki kemampuan yang berbeda, walaupun saya fresh graduation tapi pengalaman saya cukup banyak". Ucap Rara dengan lantang
"maksud kemampuan yang berbeda itu seperti apa ? lalu pengalaman apa yang kamu miliki?". Tanya Arfan.
" Jelas berbeda, kemampuan saya dan kemampuan bapak pun berbeda, setiap manusia yang diciptakan dimuka bumi ini diberikan sisi positif dan negatif yang berbeda beda dan tentunya dengan skill yang berbeda beda, sama halnya dengen pemikiran seseorang, jangankan dengan orang lain munkin didalam suatu keluarga yang jelas saling berhubungan darah pasti memiliki isi kepala juga kepribadian yang ber beda beda, begitupun saya, dan saya yakin dengan kemampun yang saya punya saya layak menjadi bagian di perusahaan bapak, dan saya yakin saya dapat memberikan yang terbaik untuk perusahaan bapak". Ucap Rara dengan penuh penekanan tanpa ragu sesikitpun.
Seketika pria yang ada di hadapannya tersenyum kearanya, dan melihal hal yang berbeda dengan calon karyawan yang sebelumnya telah iya temui, timbul perasaan kagum pada pria tersebut.
"lalu pengalaman apa yang kamu punya?". Tanya Arfan
"seberapa yakin kamu dapat diterima di perusahaan ini ?". Tanya Arfan sambil menaikan sebelah alinya, namun di hatinya ia sangat merasa kagum dengan kegigihan wanita di hadapannya, bahkan setelah mendengar cerita hiduonya bertambah kekagumannya terhadap Rara.
" Saya sangat yakin, dan saya layak mendapatkan kesempatan bergabung dengan perusahaa bapak". Ucap Rara yakin.
"Baik jika kau benar benar yakin saya ucapkan selamat kamu diterima bergabung di perushaan ini". Ucap arfan sambil mengulurkan tangan dan di balas oleh Rara mereka berdua kini saling berjabat tangan dan saling melempar senyum.
"Terimakasih banyak pak". Ucap Rara
"Sama - sama, besok sebelum pukul 8.00 kamu temui saya di di ruangan saya, karna kita melakukan wawancara kerja diluar area kantor maka saya akan mengulan wawancara kerja sebagai formalitas, dan di sana saya akan memberitahun kamu akan menempati posisi apa menjelaskan Setandar Operasional Prosedur (SOP) pekerjaan kamu". Ucap Arfan sambil memberikan sebuah kartunama.
__ADS_1
"Ba.. baik pak, saya akan datang tepat waktu". Jawab Rara sesikit gugup.
Bagai mana tidak ia di terima bekerja di perusahaan terbesar di Asia bahkan dalam waktu dekat perusahaan tersebut akan membuka cabang di benua Eropa, sunggu perjuangan yang berbuah manis, tentu semua ini tidak akan ia dapatkan jika ia tidak bertemu dan mendpaatkan bantuan dari bu Asih, wanita paruh baya yang hidup seorang diri karna telah ditinggalkan oleh kedua orang yang ia cingai yaitu suami juga anaknya.
"Baiklah kalau begitu, saya harus pergi karna ada beberapa urusan yang harus saya selsaikan, jangan lupa besok datang tepat waktu". Ucap Arfan dengan penuh penekanan namun kali ini wajahnya di hiasi oleh senyuman.
"baik pak, sekali lagi terimakasih banyak". ucap Rara yang dibalas dengan anggukan oleh Arfan, Pria itu kini telah melangkah meninggalkan Rara dan menghampiri wanit yang sedang tersenyum kearahnya.
"bu, maaf sepertinya Arfan harus pamit masih banyak pekerjaan yang harus Arfan kerjakan di kantor". Ucapa Arfan
"pergilah nak, terimakasih banyak karna kamu telah sudi datang kemari dan memberikan pekerjaan untuk Rara". Ucap bu Asih sambil mengelus pundak Arfan.
"Tidak bu itu bukan dariku, aku hanya pelantara saja, itu sudah rezeki Rara dapat bekerjasama dengan perusahan milik tuan Radit". Jawab Arfan
"*kalau begitu Arfan pamit bu, Assalamualaikum" Ucap Arfam sambil mencium punggung tangan bu Asih
"Waalaikumsalam, hati hati nak*". Ucap bu Asih, yang hanya di balas oleh anggukan serta lambaian tangan dari Arfan yang sudah memasuki mobilnya. Seketika laki laki itu menghilang dari kedua wanita yang berdiri didepan warung tersebut.
Hari ini Arfan memang meminta izin untuk datang terlambat kekantor dengan alasan keperluan pribadinya.
di warung Rara dan bu Asih saling bertatapan.
"Alhamdulillah bu Rara diterima bekerja, ini semua berkat ibu dan juga doa dari kedua adikku". Ucap Rara tersenyum dengan mata yang berkaca kaca.
"tidak nak, ini memang sudah rezekimu dan adik adikmu ibu hanya pelantara saja, ibu ucapkan selamat". Ucap bu Asih yang di balas dengan anggukan oleh Rara, keduanya kini saling berpelukan.
__ADS_1
"Tidak ada yang sia-sia jika di barengi oleh usaha kerja keras, Do'a Ikhtiar dan juga Tawakal"