SISI YANG TERTUTUP

SISI YANG TERTUTUP
MAKAN MALAM BERUJUNG PETAKA


__ADS_3

Setelah meninggalakan Ruangan Arfan Rara kembali keruangan miliknya, ia kembali fokus dengan pekerjaannya yang seakan tidak ada habisnya, meja miliknyapun oenuh dengan tumpukan kertas juga balpoint miliknya.


Sedangkan dirungan khusus direksi perushaan seorang petinggi anak pemilik perushaan itu sedang terduduk gelisah ia terus memikitkan rencana dari ayahnya yang selalu memonopoli dirinya, bahkan sampai sebesar ini ia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menggunakan pendapatnya sendiri.


Seketika Radit membuka Laptop kerjanya ia mengarahkan kursor lalu mengklik aplikasi yang terhubung langsung dengan cctv yang di pasang diruangan Rara tepatnya pas dihadpaan gadis itu, namun Rara tidak menyadarinya begitupun teman satu ruangan lainnya, atau bahkan semua karyawan tidak ada yang mengetahuinya, karna cctv itu di pasang saat Radit menhinap di kantor dan yang memasangnyapun Radit sendiri bukan apa apa ia hanya ingin memamtau geraj gerik gadis yang sangat ia kagumi.


"*Rara, kenapa kamu membuat hidupku jadi lebih berwarna, hatikupun menjadi tak karuan wajahmu selalu melintas di hadapanku, senyummu selalu memenuhi fikiranku"


"Aku berjanji aku akan menjagamu dan akan membahagiakanmu, bersabarlah sebentar lagj kita akan hidup bersama walaupun aku haru terpaksa menyembunyikan identitasku dari dirimu". Lanju batun Radit*.


Ting.... Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Radi.


Papa


Jam. 6 sore nanti aku minta kau datang tepat waktu, aku tidak ingin melihat putraky membuang buang waktu.


Seketika Radit mendengus kasar, ia jelas tidak menyukai sikao ayahnya yang terkesan terlalu mengekang dan memaksakan kehendak, berhubung Radit telah menekan pesan tersebut dan membuat ceklis dua abu abu di room chatnya itu menjadi warna biru maka mau tidak mau ia harus membalas pesan dari sang ayah


Ya. Radit membalas pesan dari sang ayah.


detik menit jam kian berlalu ini sudah saatnya jam pulang bagi karyawan, Radit bergegas menggati pakaiannya dan menutupi kemejanya menggunakan jaket kebanggaannya tak lupa iya menggunakan masker untuk menyempurnakan penyamarannya.



Radit tergesa gesa meninggalkan Ruangannya ia celingak celinguk melihat sekitar setelah di rasa aman is bergegas kedalam lift khusus direksi setelah berada di lantai tujuannya ia kemudian menuju parkiran dimana ia memarkirkan motornya itu, kemudian ia menyalakan mesin motor itu lalu meninggalakn bangunan pencakar langit itu lewat pintu belakang.



Sedangkan Rara ia masih bersiap siap di ruangannya setelah dirasa semuanya sudah rapi, ia melangkah meninggalkan ruangan miliknya menuju tempat dimana ia menunggu sang tukang ojek pribadinya.


"***Rara, tunggu". Ucap seorang pria, Rara yang hendak masuk kedalam lift pun menghentikan niatnya dam membalikan tubunya sehingga kini ia berhadapan langsung dengan pria itu.


"Pak Arfan, ada apa bapak memanggil saya". Ucap Rara


"Kamu mau pulang ?". Tanya Radit

__ADS_1


"Iya pak saya mau pulang ini kan sudah jam pulang". Ucap Rara


"Kalu begitu mari kita pulang bersama, hiar aku yang mengantar kamu pulang". Tawar Radit


"mmmmm.....--------"


Tring.... sebeuh pesan masuk ke ponsel milik Rara.


"Ra, aku sudah didepan". Isi pesan tersebut membuat Rara menaikan ujung bibirnya dan melukis senyuman di wajah Rara. Arfan yang memperhatikannya merasa ada sesuatu namun ia enggan untuk bertanya.


"Maaf pak, sepertinya saya tidak bisa ikut pulang bersama bapak, tukang ojek langganan saya sudah ada di depan". tolak Rara dengan memberikan sedikit penjelasan.


" oohh, jadi lelaki tadi pagi itu tukang ojek langganan kamu". Tanya Arfan sedikit mendapat udara segar


"Iya pak, kalau begitu saya permisi". Ucap Rara sambil berjalanan meninggalakan Arfan. sedangkan Arfan masih mematung menatap kepergian Rara.


"Ah kenapa kau bodoh sekali Arfan kenapa kau tidak mencegah Rara lagian kau bisa membayar tukang ojek itu untuk tidak menjemput Rara sore ini". Batin Radit, seketika Radit pun bergegas meninggalakan bangunan tersebut***.


Sesampainya di luar gedung Rara bergegas pinggir jalan dimana Putra menunggunya.


Bukannya menjawab Putra hanya mengulumkan senyuman di wajahnya, dengan refleks dia tiba tiba memasangkan sebuah helm ke kepala Rara, sontak membuat rara menjadi malu, mukanya kini sudah berubah warna seperti kepiting rebus.


"Sudah siap ?" Tanya Putra


"Sudah kak" Jawab Rara.


"kalau begitu ayo kita berangkat, naik lah". Ajak Putra, Rara pun menaiki jok penumpang.


"Pegangan, kita akan sedikit ngebut jalannya cukup macet ". Ucap Putra, Rara pun memegang sisi kanan dan sisi kiri pinggang milk Putra.


"Berangkatt...." Ucap puta sambil melajukan sepeda motor miliknya***.


Sedangkan Arfan ia berniat mengikuti Rara dan Putra namun di tengah tengah ia kehilangan jejak karna Putra yang menyadari dirinya di ikuti oleh Arfan memilih membawa Rara menuju jalan pintas yang hanya bisa di lalui oleh sepeda motor.


"sial". pekik Arfan.

__ADS_1


Setelah beberapa menit ia melajukan sepeda motornya kini mereka telah tiba di kediaman Rara, mereka melakukan perjalan dengan keadaan hening, tanpa ada satupun obrolan diantara mereka, Putra tidak dapat memungkiri bahwa dirinya kini telah terjebak dengan sosok gadis bernama Rara, namun ini hukan waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya itu.


"***Kakak,. ga mampir dulu". Tawar Rara membuyarkan lamunan Putra.


"mmm engga Ra lain kali aja, aku masih ada kerjaan". Ucao Putra terpaksa bebohong padahal ia harus menemuni sang ayah yang sudah ia tebak bahwa ayahnya akan mempertemukan ia dengan wanita pilihan sang ayah***.


Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 kini sudah saatnya Putra kembali kekantor dan besiap menjadi sosok Radit Putra Widjaya.


setelah bepamitan dengan Rara, Putra melajukan sepeda motornya kekantor miliknya, lalu denga cepat ia mengganti pakainnya namu ia tidak memperdulikan penampilannya kali ini karna ini bukan pertemuan yang ia harapkan, setelah dirasa cukup ia kembali keparkiran memasuki mobil miliknya lalu melajukan mobil itu ke restoran yang sudah diberitahukan oleh sang ayah. Sedangkan Krish ia tidak bisa menemani Radit karna dia d beri tugas tambahan oleh Radit.



15 menit waktu berlalu kini Radit sudah sampai di tempat tujuan ia membuka pintu mobil lalu bergegas menuju ruangan yang telah di pesan sang ayah, nampak diruangan tersebut sudah ada Papa Widjaya dan sang istri juga seorang gadis yang sangat ia benci dan kedua orang tuanya.


"***Sore mom". Ucap Radit dan mencium pipi sang ibu,namun ia mengabaikan sang ayah, terlihat jelas kini Radit sedang memebatasi diririnya dengan sang ayah, dan mulai menyusun strategi perang dengan lelaki paruh baya itu.


"Oh anakku kamu sudah datang rupanya". Ucap sang ibu memberikan senyuman terbaiknya kepada sang Putra semata wayangnya.


"Radit apa kau tidak punya sopan santun, mengapa kau tidak menyapa mereka". Tegur Papa Widjaya. Radit mendengus kasar.


"Sore om , Tanten". Ucap Radit sambil memutar bola matanya malas. ia sengaja memasang wajah datar juga dingin yang sangat ditakuti oleh setiap orang yang melihatnya, tak terkeculi gadis di hadapnnya pun merasa horor berada satu ruangan dangan pria itu.


"Sore nak Radit,". Jawab Lelaki paruhbaya di hadapnnya.


kegiatan makan malampun berlajut dengan suasana mencekam tanpa ada sepatah obrolan dari mereka semua.


"Sudah Radit katakan, Radit tidak mau !!!!",. Suara Pria itu menggema dirungan tersebut.


Brakkkk, sura meja di pukul dengan keras ....


Haiiiii , Othor kembali selamat membaca yaaa semoga kalian suku, tinggalkan juka like dan komen yaaa,,, secangkir kopi untuk menambah semangat Othor juga Othor terimaaa hihihi...


selamat membaca


dan terimakasih***

__ADS_1


__ADS_2