SISI YANG TERTUTUP

SISI YANG TERTUTUP
PUTRA


__ADS_3

"*oh ternyata dia tinggal disini". Batin Radit


"berapa ongkosnya bang". Tanya Rara membuyarkan lamunan Radit.


"Aduh harus jawab berapa, gw ga tau harga ojek, gimna gw tau naik ojek pun belum pernah sama sekali" Batin Radit


"Bangg...." Tanya Rara membuat Radit gelagapan.


"" eeeeh... anuuu... samakan saja seperti kamu naik angkutan umum" Jawab Radit sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.


"maksudnya 10.000 ?". Tanya Rara heran.


"iii-iyaa 10.000 saja". jawab Radit*


Tak lama Rara mengambil dompet didalam tasnya dan menyodorkan uang pecahan 5.000 sebanyak dua lembar.


"*Ini uangnya terimakasih banyak bang". Ucap Rara.


"Bang ? berani sekali dia memanggilku abang dia tidak tau siapa saya, ah sial kenapa gw lupa gw kan masih nyamar jadi gw harus terima dipanggil abang". batin Radit


"Sama - Sama". jawab Radit*


Saat Rara hendka masuk kedalam Rumahanya tiba tiba.....


"*Hei, kita belum kenalan siapa nama kamu?" Teriak Radit sontak Rara memberhentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya hingga wajah mereka saling bertatapan.


"aiisssh aku sampai lupa, namaku Tiara Putri Utami abang bisa memanggilku Rara". Ucap Rara sambil mengulurkan tangan kanannya yang lansung di sambut oleh Radit.


"oh Rara, namaku Raa... Putra maksudku" jawab radit, kini tangang mereka saling berjabatan entah mengapa ketika sedang dekat dengan Rara jantung Radit berdetak lebih kencang dari biasanya, membuat Radit jadi gugup.


"Ah sial hampir saja gue keceplosan" Batin Radit setelah mereka berdua melepaskan jabatan tangannya.

__ADS_1


"Baik lah kalau begitu aku masuk dulu" Pamit Rara. Namun lagi -lagi Radit menghentikan pangkah Rara.


"Bolehkan saya numpang ke kamar kecil ?" Tanya Radit.


"Ouh tentu silahkan" Rara mempersilahkan Radit, tangan Rara yang sudah menggenggam gagang pintu langsung mendorong pintu di hadapannya hing terbuka.


"Kamar mandinya ada di belakang, di sebelah kanan dapur" Tunjuk Rara, dan hanya di balas anggukam oleh Radit*.


Kemudian Rara melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya untuk menyimpan tas, Sedangkan Radit kini kebingungan ketika melihat kondisi rumah Rara yang baginya tidak layak huni, di dalam kamar mandi hanya ada keran ember dan sebuah gayung berbentuk love, Radit pun segera menutup pintu kamar mandi yang dikunci menggunakan tali yang di ikatkan ke sebuah paku, setelah selesai Radit kemudian berjalan menuju ruang tamu, tidak ada kursi disana hayany ada karpet plastik saja sebagai alas duduk.


"*Bang Putra sudah selesai ?" Tanya Rara


" Sudah terimakasih tumpangannya" Jawab Radit dan hanya mendapat anggukan dari Rara.


"oh, iya boleh saya minta nomor handphone kamu, supaya memdahkan kita untuk berkomunikasi saat saya mengantar jemput kamu". Tanya Radit panjang lebar agar Rara tidak curiga*.


Kemudia Rara menyebutkan nomor telepon miliknya kepada Radit, dan tidak lama masuk sebuah pesan baru dari nomor yang tidak ada di kontak handphonenya


"*kalau begitu saya pamit dulu, besok pagi saya jemput". Pamit Radit


"Terimakasih bang". jawab Rara*.


Radit menyalakan motornya dan meninggalkan rumah Rara, ia mengendarai motor dengan kecepatan sedikit cepat ia harus segera tiba di kantor karna pak Adi saat ini mungkin sedang menunghunya. Setelah menyusi jalan dengan penampilannya sebagai tukang ojeg akhirnya Radit tiba di perusahan miliknya dan benar saja jika pak Adi sedang menunggu dirinya. Radit langsung berhenti tepat di depan pak Adi ia menyerahkan jaket juga kunci motor milik pak adi sambil mengambil dompet di saku belakang celanya dna mengambil lima lembar uang pecahan seratus ribu kemudian di berikan kepada pak Adi.


"ini uang sewanya, terimakasih" Ucap Radit datar sambil mengambil jas miliknya dan meninggalkan pak Adi.


Setelah mengembalikan motor dan memberikan uang sewa Radit kembali masuk kedalam kantornya, lalu ia bergegas keruangan untuk menelpon pria yang dia minta untuk mencari tau sosok Rara.


"*Hallo, selamat sore tuan". Ucap pria di sebrang telepon.


"sore, bagai mana apa kamu sudah mendapat informasi mengenai gadis itu ?" Tanya Radit.

__ADS_1


"Sudah Tuan, apa tuan perlu datanya sekarang ?". tanya Rey, ya pria itu bernama Rey, dia anak buah Radit yang bertugas sebagai detektif tak heran jika Radit sulit di kalahkan dalam hal apapun karna di balik seorang Radit ada orang orang hebat yang membantu kesuksesannya, salah satunya Rey dia seorang detektif yang paling jenius taktik dalam menggali dna menyelidiki sesuatu tidak ada yang dapat menyainginya.


"Ya, bawa sekarang juga ke ruangan saya". Ucap Radit.


"Baik tuan 15 menit lagi saya akan sampai". Ucap Rey


"hmmm"... jawab Radit*


Tuttttttt..... Sambungan telpon terputus.


Radit kini telah duduk dibalkon yang berada di ruangannya itu, ya dia sengaja membuat balkon untuk melepas penat saat ia lelah bekerja ataupun saat ia ada masalah. Radit duduk di sebuh kursi matanya menatap suasana perkotaan yang penuh dengan jutaan aktifitas manusia di kota itu, namu fikirannya terus terfokus kepada satu nama yaitu Tiara Putri Utami, bak tersihir cinta ia sama sekali tidak bisa menepis bayangan Rara difikirannya walaupun sedetik saja, bahkan ia rela nyamar jadi tukang ojek demi bisa mendekati Rara.


"Tiara Putri Utami, nama yang indah juga orang yang spesial". Gumam Radit sambil menikmati secangkir teh hangat yang tersaji di hadapannya.


Tida lama terdengar seseorang menekan tombol dan meminta izin masuk, kemudian Radit mengambil remote pintu otomatis lalu menekannya sehingga pintu itu terbuka dengan sendirinya, setelah rey masuk pintu itu kembali tertutup secara otomatis. Rey berjalan menghampiri Radit yang sedang duduk di balkon sendirian sejak tadi, kini senja pun berubah menjadi gelap dan dihiasi gemerlap bintang di angkasa, setelah tiba di hadapan Radit Reypun menjatuhkan dirinya kesebuh kursi di hadapan Radit setelah mendapat kode perintah untuk duduk dari bosnya itu.


"Jadi gimana, informasi apa yang sudah kamu dapatkan hari ini mengenai Rara". Tanya Radit dengan nada datar namun tidak dapat di pungkiri kali ini Radit terlihat berbeda dari sebelumnya dapat dilihat dari pandang matanya bahwa ia sedang kasmaran.


Rey yang sedari tadi duduk di hadapannya seketika menarik nafas lalu membuangnya secara lembut, ia menyodorkan sebuah map berwarna coklat yang bersikan beberapa lembar kertas juga foto.



Entah apa yang ada di fikiran Radit seketika ia mengambil map tersebut lalu membukanya saat ia melihat sosok gadis yang memenuhi fikirannya itu tanpa ia sadari kedua sisi bibirnya tertarik oleh sendirinya dan melukiskan sebuah senyuman di wajah dinginnya itu, jelas itu ada pemandangan langka bagi orang yang ada di sekitarnya karna Radit jarang sekali bahkan hampir tidak pernah tersenyum.



...Visual Radit saat melihat foto Rara...


MOHON SUPPORT KARYAKU YAAA... DENGAN CARA LIKE, KOMEN, JUGA VOTE SEBANYAK BANYAKANNYA, SEBUAH DUKUNGAN KALIN MENJADIKAN SEMANGAT BARU BAGI AUTHOR, TERIMAKASIH TELAH SUDI MAMPIR DI KARAYA PERTAMAKU INI, MOHON KRITIK JUGA SARANNYA YAAA 🙏🙏😊😊


JANGAN LUPA MASUKAN KE DAFTAR FAVORIT YA SUPAYA SETIAP UPDATE ADA PEMBERITAHUAN 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2