
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, Rara dan Arfan akhirnya tiba di PT. Widjya Group, mereka bergegas keluar dari mobil berjalan menyusuri parkiran yang berada di lantai atas, Arfan lebih dulu dan di ikuti oleh Rara dari belakang.
Karna terburu buru Arfan dan Rara berjalan setengah berlari, hingga tanpa mereka sadari didepan sana banyak pria berjas rapi dan di dampingi oleh penjaga, Ya mereka adalah rombongan Radit hari ini akan ada pertemuan khusus antra Radit dan pengusaha besar asal Turky.
Bruakk....
Rara yang sedang terburu buru tak sengaja menabrak sosok pria di hadapannya namun mukanya tidak dapat ia lihat karna laki laki itu menggunakan kacamata hitam juga menggunanakan masker.
Radit memang selalu berpenampilan seperti itu setiap keluar rumah karna baginya keamanan dan keselamatan diri itu oenting, terlebih banyak musuh juga saingan bisnis yang mengintainya.
"*Apa kau tidak melihat !". Bentak Radit
"Mmaa..maaf pak saya sedang terburu buru". Ucap Rara gugup juga takut hingga ia tak berani menampilkan wajahnya di hadapan pria tersebut.
"Makannya kalau jalan pakai mata lihat kedepan bukan kebawah, baju saya bisa kotor karna tertabrak olehmu". Ucap Arfan dengan nada tinggi.
"Maaf maaf kau benar benar ceroboh !" Ucap Arfan, Rara yang sedari tadi menundukan pandangannya seketika reflek mendongkan kepalanya hingga wajah Rara dan kedua bola mata rara berhadapan dengan Radit walaupun masih terhalang oleh kacamata hitam milik Radit.
"Saya betul betul minta mafa pak, saya tidak tau jika di depan itu ada bapa". Ucap Rara.
"Maaf tuan, tuan Arthur sudah menggu di ruang meeting sejak tadi". Ucap seorang pria mengingatkan arfan bahwa hari ini ada pertemuan penting.
"Ya sudah ayo kita kesana sekarang tidak baik membuat tamu menunggu cukup lama" Ucap Radit dingi dan Datar.
"Ingat urusan kita belum selesai". Sambung Radid dengan telunjuknya mengarah kepada Rara*.
Rombongan pria berjas itu kini telah berlalu meninggalkan Rara dan Arfan. Arfan yang sejak tadi melihat Rara di marahi oleh Radit segera mengat Rara untuk keruangannya, terlebih Arfanpun harus keruangannya karna ia belum mandi sejak tadi, untung saja Arfan selalu menyiapkan pakaian kerja cadangan di ruang kerjanya.
"*Maafkan saya pak saya sudah membuat bapak malu". Ucap Rara setelah sampai di depan pintu ruangannya.
"Tidak apa apa, lain kali kamu harus lebih hati - hati, jangan sampai kamu memancing emosi tuan Radit, karna itu akan berbahaya untuk kariermu juga kehidupanmu" Ucap Arfan dengan nada datar namun bisa terlihat jelas dari pandangan matanya bahwa Arfan menghawatirkan Rara.
"baa baik pak, saya akan lebih hati-hati dan tidak akan mengulanginya lagi" Ucap Rara
"Ya sudah kalau begitu kamu kerja dengan baik saya harus ke ruangan saya sekarang" jawab arfan yang di indahkan oleh anggukan kecil Rara*.
__ADS_1
Sedangkan di ruang meeting Radit menjadi gelisah kepikiran tentang gadis yang menabrakanya tadi, kini wajah lugunya memenuhi isi kepala sosok Radit Putra Widjaya seorang Presidir yang terkenal dengan sikap angkuh, dingin, juga kejam. Radit memilik sifat seperti itu karna ia melihat sang aya juga menunjukan sifat yang sama ketika sedang di hadapan orang lain namun menjadi sosok yang lemah lebut ketika sedang berada dengan keluarga .
Istilah Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu memang benar adanya.
"*Ah sial kenapa dia selalu muncul di kepalaku, fokus Radit fokus ingat ini proyek yang sangat besar jangan sampai kamu kehilangan proyek hanya karna gadis itu". Batin Radit.
"Baiklah saya rasa cukup pertemuan kali ini, dan saya tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan bapak, jika setuju maka kita langsung tanda tangan kontrak kerjasama " Ucap perwakilan dari prusahan asal Turky itu.
"Baik kalau begitu, Rudi tolong siapkan berkas kerjasama" Ucap Radit
"senang bekerjasama dengan anda" Ucap ledua belah pihak sambil saling berjabat tangan*.
Meetingpun telah usai, kini Radit juga asistennya Rudi sedang berjalan menyusuri lorong menuju ke ruangan masing masing namun ada yang aneh pada sosok Radit sejak tadi dia sangat sering melamun, membuat Rudi penasaran.
"*Tuan muda kenapa sejak tadi dia diam dan melamun apa ada masalah". Batin Rudi.
"Tuan muda apa sedang ada masalah ?" Tanya Rudi
"Tidak aku hanya sedikit kurang enak badan" Ucap Radit.
"tidak aku hanya butuh istirahat" Ucap Radit sambil menekan pasword pintu ruangan kerjanya.
"Baik lah kalau begitu, jika tuan butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi saya" Ucap Rudi.
"hmm" balas radit dan dia melangkahkan kaki kedalam ruangannya*.
Sedangkan di dalam ruangan kerja Radit dia terus gelisah dan terbayang wajah wanita yang telah menabrak dia tadi pagi, ada perasaan aneh yang timbul di dalam hati Radit.
"Aneh kenapa aku terus memikirkan dia, padahal aku baru melihat dia hari ini, masa iya aku jatuh cinta, ah itu tidak mungkin dia bukan wanita tipeku". Pekik Radit dalam hati.
karna merasa sangat mengganggu fikirannya Radit berniat menelpon Arfan untuk menanyakan siapa gadis itu, karna dia yakin Arfan pasti tau tentang semua karyawan yang ada di perusahaannya terlebih Arfan adalah seorang HRD.
Kini jemari Radit sedang menari - nari di atas telpon kantornya, mengetik sebuah nomor, tak lama terponpun tersambung.
"*hallo selamat siang , ada yang bisa saya bantu tuan" Ucap Arfan
__ADS_1
"Yaa, aku butuh data perempuan yang tadi pagi menabrak saya, saya minta datanya sekarang juga saya tunggu di ruangan saya."
"Baik tuan saya akan segera mengantarkan datanya ke ruangan tuan". Jawab Arfan
"Terimakasih" Ucap Radit sambil memutus sambungan telepon.
"Ada apa dengan tuan muada, apa dia akan memecat Rara, tidak biasanya juga dia mengucapkan terimakasih, sungguh aneh" Batin Arfan*.
Kini jemari Arfan sedang menari nari di Atas lemari cabinet yang didalamnya terdapat arsip data karyawan, tak butuh waktu lama bagi Arfan untuk menemukan data diri Rara.
Setelah menemukan data milik Rara Arfanpun bergegas meninggalkan ruangan kerjanya menuju ruangan Radit, setelah memasuki lift akhirnya pintu lift terbuka di lantai dimana disana merupakan lantai khusus petinggi perusahaan.
Kini Arfan menekan tombol di samping kiri pintu ruangan Arfan lalu ia berbicara di depan tombol tersebut.
"Tuan ini saya Arfan bolehkah saya masuk"
Setelah menunggu bebebrapa saat akhirnya pintu otomatis itu terbuka, tanpa basa basi Arfan langsung masuk menemui bosnya itu sambil membawa map merah berisi data karyawan milik Rara.
"*Permisi tuan, maaf ini berkas yang tuan minta" Ucap Arfan sambil menyodorkansebuah map berwarna merah.
"Oke, kamu boleh keluar sekarang" Ucap Radit sambil menerima map merah tersebut.
"Baik, kalau begitu saya permisi tuan" Ucap Arfan
"hmmm". Balas Radit*
Arfan pun melangkah menjauhi bosnya dan menuju pintu otomatis terbuka saat ada orang didepan pintu itu, hanya saja sensor otomatis tersebut hanya berfungsi diabagian dalam ruangan saja sedangkan di luar hanya bisa terbuka jika mengetahui pasword atau meminta izin melalu tombol khusus yanga da di samping pintu tersebut
Setelah Arfan pergi Radit langsung membuka map itu dan membaca semua data diri Rara.
"TIARA PUTRI UTAMI STAFF HRD" Gumam Radit.
MOHON SUPPORT KARYAKU YAAA... DENGAN CARA LIKE, KOMEN, JUGA VOTE SEBANYAK BANYAKANNYA, SEBUAH DUKUNGAN KALIN MENJADIKAN SEMANGAT BARU BAGI AUTHOR, TERIMAKASIH TELAH SUDI MAMPIR DI KARAYA PERTAMAKU INI, MOHON KRITIK JUGA SARANNYA YAAA 🙏🙏😊😊
JANGAN LUPA MASUKAN KE DAFTAR FAVORIT YA SUPAYA SETIAP UPDATE ADA PEMBERITAHUAN 😊😊😊
__ADS_1