
"Aku tidak menunggumu, hanya saja aku berpikir aneh tidak melihat kereta kuda dari keluarga Duke Arley hingga sore hari," ucap laki-laki itu yang tanpa sadar kalau dia memberikan penjelasan kepada Luna kalau dia memang menunggu kereta keluarga Arley
"Terima kasih, karena telah menungguku pulang,"
"Dan maafkan aku atas kejadian tadi pagi aku tiba-tiba saja pergi tanpa berbicara," ucap Luna dengan senyuman tipis ke arah sosok laki-laki yang ada di depannya
"Tidak masalah, aku paham mungkin saja kamu tidak terbiasa di depan banyak orang karena telah lama mengurung diri di dalam mansion,"
"Pada dasarnya kamu memang pemalas jadi perlahan-lahan saja," ucap Ian membuat Luna mencubit lengan sosok laki-laki itu hingga dia meringis kesakitan
"Luna, coba sekali kamu bersikap seperti seorang putri keluarga Duke kepadaku,"
"Kelakuan bar-bar seperti itu tidak ada laki-laki yang mau menjadikan dirimu pasangan," ucap Ian dengan melipat kedua tangannya
Luna berpikir sejenak mengenai ucapan yang di ucapkan oleh Ian, kemudian dia malah bergumam tidak jelas seperti mempertimbangkan sesuatu di dalam pikirannya.
"Bukankah itu bagus Ian? Tidak memiliki pasangan artinya dia tidak ingin menerima kamu apa adanya, sebab kamu tidak seperti gadis yang elegan dan berperilaku seperti seharusnya,"
"Lebih baik bersama dengan uang saja, selalu setia walaupun tidak memiliki pasangan," ucap Luna yang membuat Ian menyentuh kerutan kening untuk bersabar menghadapi sosok gadis di depannya yang sejak kecil berbeda dari rumor malah dia terlihat seperti gadis yang materialistis
Ian baru mengenal diri Luna yang sebenarnya setelah Luna mengajaknya pergi ke alun-alun kota dan di hukum bersama, Ian adalah orang yang mengubah sudut pandang kepada Luna yang merupakan seorang anak adopsi dari keluarga Duke. Alasannya untuk selalu bersama dengan Luna sampai saat ini tidak terdengar dengan jelas, tetapi dapat di pastikan keduanya telah menjalin pertemanan yang baik semenjak itu.
"Luna, apakah besok kamu memiliki waktu?" tanya Ian yang tiba-tiba kepada Luna
"Aku humm..."
__ADS_1
"Aku sepertinya tidak memiliki jadwal penting, tetapi coba tanyakan kepada papa karena dia biasanya yang melimpahkan pekerjaan berkas kepadaku," ucap Luna sambil menatap ke arah jendela luar dari kereta kuda menikmati pemandangan matahari yang tenggelam
"Baiklah, aku akan datang besok pagi untuk menemui Duke dan menanyakannya langsung," ucap Ian yang menjawab sambil menganggukkan kepalanya
Ian yang melihat Luna tidak banyak berkomentar ataupun menuntut terhadap sikap Luna yang berbeda dari gadis itu, sebab dia sendiri menyukai gadis itu apa adanya walaupun perasaan yang dia miliki tidak begitu di sadari oleh sang gadis yang hanya memikirkan uang saja.
Dua jam kemudian Luna tertidur dan tiba-tiba saja bersandar di bahu milik Ian yang sedang sibuk dengan buku yang dibaca mendadak menoleh ke arah sebelah tepat Luna duduk di sebelahnya. Sosok gadis yang tertidur lelap tanpa tau peduli akan dengan bahaya karena orang yang berada di sampingnya adalah laki-laki.
"Bagaimana bisa seorang gadis menghilangkan penjagaan dan perasaan waspada kepada seorang laki-laki yang begitu dekat dengannya?" ucap sosok laki-laki itu yang mencium lembut rambut perak panjang sang gadis
Sesampainya di kediaman Duke Arley, Luna terbangun karena merasa kereta kuda yang tidak lagi bergerak, Luna terbangun dan langsung terkejut dengan posisinya yang tertidur dan bersandar di bahu milik laki-laki yang menurutnya sangat tidak suka di sentuh apalagi di sandar seperti itu, tetapi sosok laki-laki itu sama sekali tidak berbicara buruk kepada Luna ataupun membangunkannya sejak awal.
"Akhirnya kamu sudah bangun, aku pikir kamu akan terus tidur bersandar di bahuku dan meneteskan air liur kepadaku,"
"Seperti anak kecil,"
Luna kemudian turun dari kereta kuda dan masuk ke dalam mansion, setelah beberapa saat berbicara dengan Ian. Pada saat Luna memasuki mansion sistem otomatis menganggap Luna menyelesaikan misinya dan mendapatkan hadiah rasa suka dari Ian.
'Benar-benar pelit, padahal dia tau kalau sangat sulit untuk menerima tawaran pulang bersama dengan laki-laki itu,'
'Sistem pelit seperti ini kenapa bisa-bisanya di anggap kompensasi, sejak aku transmigrasi sampai sekarang perasaan menyesal itu masih ada,'
'Mengingatnya saja sudah sangat membuatku kesal apalagi sampai saat ini,' ucap Luna di dalam hatinya sambil berjalan ke atas tangga
"Luna, kamu akhirnya pulang, aku khawatir denganmu yang pulang setelah matahari telah terbenam,"
__ADS_1
"Bagaimana dengan tes masuk ke akademi? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya sang Duke dengan tatapan perhatian dan sedikit khawatir Luna merasa kesulitan dan takut akan kegagalan masuk ke akademi
"Aku rasa itu cukup mudah dan semuanya berjalan dengan lancar, jadi aku cukup yakin kalau aku akan di terima di akademi Atreya,"
"Kalau berbicara tentang apakah aku akan mendapatkan posisi pertama atau terbaik saat tes masuk aku tidak mengetahui sama sekali," ucap Luna dengan tawa yang kaku kepada sosok ayah yang berada di depannya
"Baiklah, beristirahatlah kamu telah berjuang dengan baik,"
"Lusa nanti pasti akan ada surat keputusan diterima atau tidaknya kamu masuk ke akademi akan di kirim ke mansion," ucap sang Duke yang mengelus kepala Luna kemudian pergi meninggalkan Luna di aula mansion
Luna kemudian berjalan menuju ke arah kamarnya, disaat yang sama Luna masuk ke dalam kamar terlihat seekor burung mengetuk-ngetuk pintu balkonnya dengan membawa sebuah di kaki kecilnya, Luna yang penasaran berjalan menghampiri sang burung dan mengambil kotak hadiah yang di ikatkan ke kaki sang burung.
Pada saat Luna mengambilnya dan membukanya terlihat sebuah kalung dengan permata yang indah dan terdapat sebuah surat di dalam kotak yang dikirimkan bersamaan dengan kalung tersebut.
"Bagaimana kalau dia tau aku hari ini melakukan tes ujian masuk akademi? Padahal bisa saja aku tidak masuk ke akademi karena aku telah menerima pendidikan sebagai calon kepala keluarga selanjutnya,"
"Tapi, dia laki-laki yang baik hingga membelikan kalung dengan mana sihir pelindung yang bisa menyelamatkan aku sebanyak tiga kali,"
"Padahal harga satu kalung ini bisa seharga rumah di ibukota," gumam Luna yang tersenyum ketika membaca isi surat yang dikirimkan
Luna dengan cepat menuliskan sebuah surat balasan dan langsung di ikatkan kepada sang burung, burung tersebut langsung pergi meninggalkan kamar Luna yang setelah itu Luna akhirnya bisa merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Akhirnya aku bisa merebahkan diriku,"
"Tetapi, rasanya tulang ku baru saja berbunyi ketika aku merebahkan diri,"
__ADS_1
Sistem Kekayaan Milik Antagonis