Sistem Kekayaan Milik Antagonis

Sistem Kekayaan Milik Antagonis
Bab 26 Ini Mungkin Terakhir Kalinya Kita Bisa Bertemu


__ADS_3

"Feuer des Todes,"


"Kalian semua tidak akan mati, hanya akan terluka berat jadi tenang saja," ucap Luna yang sambil menggerakkan tongkat sihir yang dia ambil dari barang pelelangan yang berada tepat di depan matanya


Api yang besar berwarna biru dengan cepat datang ke dua orang pengawal yang meremehkan Luna, hingga tubuh mereka semua terbakar dan dinding di depannya rusak membuat suara yang begitu besar menarik banyak perhatian para pengawal yang berjaga di sekitar tempat itu. Luna kemudian melakukan hal yang sama kepada para pengawal itu hingga dia menarik lengan Ian untuk secepatnya keluar dari ruangan sempit itu setelah selesai mengambil barang-barang pribadi milik mereka.


"Luna, apakah kamu baik-baik saja menggunakan sihir tingkat tinggi seperti itu dua kali?" tanya Ian dengan tatapan khawatir dengan Luna yang ada di depannya


"Aku masih bisa bertahan, tetapi tidak dengan orang-orang yang berada di dalam penjara," ucap Luna yang akhirnya sampai ke ruangan pelelangan di adakan terlihat di tempat itu


Banyak orang-orang yang berada di ruangan pelelangan memperhatikan Luna dan Ian yang masuk tepat ke tengah panggung, orang yang menjadi pembawa acara pelelangan dan menawarkan barang yang melihat ada penyusup yang masuk ke dalam pelelangan ilegal yang mereka adakan dengan cepat menghancurkan batu sihir peringatan bahaya yang mampu membuat para penjaga di pelelangan itu berkumpul di ruangan itu mengelilingi Luna dan Ian di tempat itu.


Luna dan Ian yang berada di tempat itu langsung bersikap waspada dan siaga dengan para petugas keamanan di pelelangan yang sudah berkumpul di sekelilingnya siap untuk menyerang mereka berdua. Semua orang yang berada di ruangan pelelangan panik pada awalnya karena takut nyawa mereka menghilang menjadi tenang setelah para pengawal itu tiba, sebelum Luna memulai diam-diam dia menghancurkan batu kalung miliknya sebab dia tidak akan yakin bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.


"Hei, anak kecil menyerah jadi dan menurut,"


"Menjadi budak untuk bangsawan tidak akan buruk sama sekali," ucap seseorang laki-laki dari para penjaga pelelangan ilegal itu mulai menyerang di ikuti oleh para penjaga pelelangan lainnya

__ADS_1


Luna menyerahkan serangan jarak dekat kepada Ian, sedangkan dia mengurus serangan jarak jauh. Keduanya bertarung selama beberapa jam hingga merasa kelelahan dan memiliki banyak luka sebab jumlah lawan mereka lebih dari lima puluh orang. Para bangsawan di atas sana melakukan pertaruhan dan tertawa merendahkan Ian dan Luna yang berusaha bertahan sampai pandangan Luna menjadi buram, karena kelelahan berlebihan namun dia ingin memaksakan dirinya dengan melukai lengannya untuk membuatnya tetap sadar dan terus bertarung.


Ian terkejut melihat betapa kuatnya tekad yang di keluarkan oleh Luna hanya untuk bertarung di tempat ini, dia tidak pernah mendengarkan cerita atau melihat seseorang begitu berjuang hanya untuk memaksakan dirinya sendiri hingga melukai dirinya sendiri seperti itu dan hal itu membuatnya berpikir apakah dia layak menyukai gadis itu terlepas dari segalanya dia gadis yang sangat berbeda untuk Ian.


"Ian, dengarkan aku ini mungkin terakhir kalinya kita bisa bertemu,"


"Setelah aku menggunakan semua manaku di dalam tubuh ini maka kamu larilah sebisamu," ucap Luna yang terlihat tegas dengan keputusan yang dia miliki saat ini


Dia yang menyeret masalah kepada Ian, tidak mungkin dia berikan masalah yang membawa kepada kematian kepada Luna. Luna menggunakan seluruh mana sihirnya dengan pusat sebuah tongkat yang di ketukkan di tancapkan di tengah-tengah panggung itu. Layar sistem milik Luna yang merasakan keanehan kepada tubuh Luna memberikan Luna peringatan untuk tidak melakukan hal berbahaya itu, tetapi Luna merasa sangat bertanggung jawab dengan segalanya dari mulai dia mengajak Ian ke tempat pelelangan hingga rakyat yang menjadi budak untuk di lelang.


Luna sama sekali tidak mendengarkan teriakan dari Ian dan malah dia membuat perisai di sekitarnya supaya dampaknya hanya terjadi di dalam perisai itu bukan di luar, namun itu tidak bisa di biarkan oleh para penjaga lelang ilegal dengan cepat semuanya menyerang ke arah satu titik yaitu Luna, tetapi itu semua sesuai dengan yang dia rencanakan.


"Das Feuer des Todes Gehort Zur Holle,"


"Hidupku sepertinya pendek lagi, padahal aku sudah sulit-sulit mengumpulkan uang untuk hari tua," ucap Luna yang mengerahkan sihir apinya itu ke seluruh dalam perisai itu hingga semuanya terbakar termasuk dirinya yang telah menggunakan sihir tingkat tinggi yang menuju kepada kematian itu


Perlahan-lahan mata Luna tertutup dan di saat itu juga dia langsung berada di suatu tempat yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, langit berwarna merah darah dengan bulan yang sama merahnya terlihat sebuah istana besar di depannya dengan kiri dan kananya pohon-pohon mati serta suara gagak.

__ADS_1


"Apakah ini adalah neraka?" gumam Luna yang sambil berjalan lurus menuju ke istana besar yang terlihat di depan matanya


Sesampainya di depan pintu Luna membuka pintu itu dan melihat aula besar dan Luas, terlihat di atas sana ada seorang laki-laki berambut hitam panjang dan mata merah duduk di atas kursi singgasana dengan tatapan dingin, namun terlihat juga hangat oleh Luna.


"Luna, kita akhirnya bisa bertemu," ucap sosok laki-laki yang duduk itu beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Luna yang berada di depan sosok laki-laki itu


Laki-laki itu berjalan ke arah Luna dan kemudian mengelus kepala Luna dengan nyaman dan lembut membuat Luna membelalakkan mata tidak percaya dengan yang ada di depannya. Perasaan yang begitu hangat dan tidak asing di rasakan oleh Luna, walaupun dia tidak mengerti siapa sosok yang ada di depannya saat ini.


"Untuk saat ini hanya ini yang bisa aku berikan kepadamu, walaupun banyak hal yang ingin aku lakukan denganmu,"


"Kapan pun kamu putus asa dan kehilangan arah, selalu ingat negeri iblis adalah tempatmu tinggal, aku tidak akan memaksamu tinggal jika kamu tidak suka Luna Azazel," ucap sosok laki-laki itu yang perlahan-lahan pandangan mata Luna menjadi buram kembali hingga dia tidak bisa mendengarkan kata-kata terakhir yang di ucapkan setelah kata itu


Luna membuka matanya perlahan-lahan dan melihat langit-langit kamar yang tidak asing untuk dirinya saat ini dan terlihat banyak orang yang tertidur memenuhi kamarnya tidak terkecuali sang ayah dan Ian. Dengan tangan yang di gerakan oleh Luna, membuat sang ayah dan Ian yang tertidur di sisi tempat tidurnya terbangun.


"Dokter, cepat periksa keadaan Luna yang baru saja membuka mata,"


Sistem Kekayaan Milik Antagonis

__ADS_1


__ADS_2