
"Aku akan pergi ke istana kerajaan, karena di dalam surat ternyata bukan cap lambang kerajaan yang di cap tetapi lambang cap khusus raja,"
"Tidak datang ke istana karena mengabaikan cap khusus raja, akan di anggap sebagai pengkhianatan dibandingkan dengan cap lambang kerajaan yang digunakan di umum," ucap Luna dengan tatapan serius menatap sang duke yang kemudian di jawab oleh duke dengan anggukan setuju
Keesokan hari setelah Luna pulang ke kediaman duke Arley untuk menghabiskan waktu liburannya, Luna yang awalnya telah merencanakan cara-cara menghabiskan liburan musim dingin, tetapi karena surat yang datang dari kerajaan membuat Luna sebelum matahari terbit langsung dibangunkan oleh para pelayan dan di siapkan oleh para pelayan hanya untuk menemui seorang raja, Luna bahkan tidak sarapan hanya untuk berdandan hingga beberapa jam kemudian dia akhirnya siap dan berangkat bersama duke ke istana kerajaan. Di istana kerajaan terlihat banyak sekali para pegawai negeri dan bangsawan yang bolak-balik di lorong-lorong istana.
Dari mulai orang yang gila kerja sampai ke orang yang membawa banyak barang dan terjatuh berkali-kali, Luna tidak menyangka kalau hal semacam ini sangat mirip dengan kehidupan sebelumnya.
'Aku tidak menyangka hal semacam ini tidak berbeda dengan kehidupanku sebelumnya,'
'Tetapi entah kenapa aku lebih kasihan dengan orang-orang yang ada di istana ini, mereka bekerja lebih keras tanpa adanya teknologi,'
'Tunggu, teknologi... aku rasa aku bisa memanfaatkan ini untuk bisnis ke depannya,' ucap Luna di dalam hatinya dengan seringai
"Luna, kamu tidak boleh tersenyum seperti itu nanti di depan raja," ucap sang duke yang melirik ke arah putrinya yang menyeringai dengan menyeramkan
Ucapan yang di ucapkan oleh duke tidak di dengarkan oleh Luna karena dia tenggelam dalam pikirannya mengenai menjadi kaya dan hanya menjulurkan kaki. Tiba-tiba layar sistem muncul di depan Luna, misi tersebut adalah untuk mengambil hati raja untuk pengembangan teknologi menggunakan ilmu sihir, hadiah yang akan Luna dapatkan berupa hadiah spesial dan sebuah liontin tentang siapa orang tua asli Luna dan jika Luna gagal maka Luna akan mendapatkan hukuman berupa penipuan kepada sang raja dan hukuman mati berkemungkinan. Luna yang melihat isi dari misi di depan matanya menatap dengan berbinar-binar, tetapi dia hanya fokus dengan isi misinya tidak peduli dengan hukuman dari sistem ataupun jadian dari sistem.
'Apakah sistem ini tiba-tiba bisa membaca isi pikiranku? Kenapa rasanya menyeramkan sekali rasa tetapi tidak apa-apa karena aku telah mendapatkan yang aku inginkan dari sistem,' ucap Luna di dalam hatinya menatap ke arah layar tipis yang di depannya sambil terus berjalan berdampingan dengan sang duke
Sesampainya di pintu besar berlapiskan beberapa batu permata sihir yang harganya bisa membeli lima mansion membuat Luna terkejut tentang kekayaan yang dimiliki oleh keluarga kerajaan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Duke. Ketika pintu besar itu di buka terlihat dari posisi Luna yang berada di luar pintu masuk melihat ke aula sang raja duduk di atas kursi yang berlapiskan emas dan batu permata sihir, akan tetapi bukan sang raja yang terlihat di mata Luna dari kejauhan melainkan sebuah kilauan dari emas dan permata batu sihir yang menghiasi kursi itu.
__ADS_1
'Kilauan dari kekayaan lebih terang dibandingkan aura seorang pemimpin kerajaan,'
'Inikah yang namanya perbedaan status kekuasaan,' ucap Luna di dalam hatinya dengan helaan nafas panjang dan tatapan suram sambil berjalan ke arah sang raja
"Saya memberi hormat kepada yang mulia raja sang pemimpin kerajaan, semoga di berikan panjang umur selalu oleh para dewa," ucap Luna dan Duke bersamaan dengan posisi menundukkan kepala menghormat
"Carlos, aku ingat kalau aku hanya meminta putrimu untuk datang ke istana,"
"Kenapa kamu juga berada di tempat ini?" ucap sang raja dengan tatapan serius dan menyidik ke arah laki-laki itu
"Karena dia adalah putriku, aku takut kamu melakukan pembullyan atau memanfaatkan putriku yang sangat luar biasa," ucap sang Duke dengan tatapan dingin dan serius
"Dan kita telah berteman sejak kecil, tidak bisakah kamu percaya denganku? Walaupun begitu aku masih terkejut dan kagum kepada seorang anak yang di umur masih muda hampir mengorbankan nyawanya untuk semua rakyat yang dijadikan budak di pelelangan ilegal,"
"Jelas-jelas untuk melakukan hal semacam itu dibutuhkan keberanian diri yang besar," ucap sang raja yang di jawab dengan gelengan kepala oleh sang Duke
"Aku tidak percaya dengan dirimu, dan membawa-bawa hubungan pertemanan dengan putriku pasti kamu ada sesuatu," ucap Duke dengan tatapan menyidik ke arah sang raja yang duduk di atas kursi takhta
Sang raja yang mendengarkan ucapan yang di ucapkan oleh Duke tertawa dengan lantang, sedangkan Luna menatap dengan kebingungan tentang percakapan yang dari tadi topiknya berubah-ubah.
'Sebenarnya mereka membicarakan apa?Aku mendengarkan awalnya dia membahas A kemudian ke B kemudian C dan kembali ke percakapan awal, apakah memang pembicaraan orang tua itu sesulit itu di mengerti?' ucap Luna di dalam hatinya berusaha memahami topik mana yang sebenarnya utama di bahas hingga akhirnya sang raja memanggil seseorang laki-laki masuk ke dalam ruangan
__ADS_1
Terlihat sesosok laki-laki berambut emas dan bermata biru seperti permata Tanzanite memasuki ruangan dari arah belakang Luna dan sang Duke, laki-laki itu terlihat memiliki umur yang sama dengan Luna.
"Saya memberi hormat kepada yang mulia putra makhota," ucap sang Duke yang langsung memberikan hormat di ikut dengan Luna yang awalnya melamun
"Tidak perlu bersikap formal guru, lagipula kita sudah seperti keluarga,"
"Kamu pasti nona Luna Arley, sudah lama tidak bertemu,"
"Terakhir kita bertemu anda masih berumur enam tahun,"
"Kamu bisa langsung memanggil namaku Albert atau Rowdens tetapi aku menyarankan kamu memanggilku dengan nama langsung," ucap sang pangeran dengan senyuman
Luna yang di tatap oleh sang putra makhota secara langsung merasa merinding bukan karena takut, tetapi karena di tatap dengan sangat tajam ke arahnya hingga Luna seperti merasakan kalau sosok laki-laki di depannya menggunakan bahasa isyarat memaksa untuk langsung memanggil namanya langsung dari balik ucapan dan senyuman itu.
'Entah kenapa aku merasakan tatapan yang memberikan aku sebuah peringatan,' ucap Luna di dalam hatinya dengan senyuman kaku mengangguk mengerti dengan ucapan sang putra makhota yang berada di depannya
'Apakah pertemuan dengan putra makhota ini masih lama selesai? Aku ingin cepat pulang,'
'Aku tidak akan tahan jika berlama-lama dengan laki-laki yang menatap tajam terus ke arahku,'
Sistem Kekayaan Milik Antagonis
__ADS_1