SNOW DOLL GIRL

SNOW DOLL GIRL
Aku senang bertemu dengannya lagi


__ADS_3

Rumah sakit terlihat tak terlalu sibuk sore ini. Hanya terlihat para suster yang berlalu - lalang untuk memeriksa pasien, terlihat juga beberapa dokter yang sedang melakukan pemeriksaan kepada para pasiennya. Waktu yang tepat untuk Bu Lily dan Bora mengunjungi rumah sakit tanpa khawatir akan ada orang yang melihat mereka.


Terdengar 2 suara berat yang sedang membicarakan hal serius dari sebuah ruangan yang terlihat tenang itu. Pas sekali di dalam ruangan itu sedang berbincang Ken dan pamannya Lukman.


" Aku akan berusaha melakukannya dengan semua yang bisa aku lakukan paman " ucap Ken dengan meletakkan dokumen yang di tangannya.


" Aku akan berterima kasih padamu Ken " sembari merangkul Ken bangga.


Tak lama seseorang mengetuk pintu ruangan itu yang membuat pembicaraan mereka terputus. Caca membuka pintu dengan membawa 2 orang wanita di belakangnya.


Seketika mata Ken membulat melihat wanita yang bersembunyi di balik badan Bu Lily itu. Tak hanya itu, wanita itu juga sama. Mereka saling tatap dengan wajah dan mata yang terbelak karna terkejut.


Di dalam hati Ken " Bagaimana Bora ada disini bukannya ini sebuah rahasia besar ? apa ia sudah tau? " di dalam benaknya ia bertanya - tanya.


Berbeda lagi dengan di dalam benak Bora, ia terkejut karna dokter yang ingin di temui mamanya adalah Ken. Lalu kenapa ia seakan tak mengenali mama saat aku membawanya kerumah !! apa ia sudah mempermainkanku sejak lama?. Itulah yang ada di dalam benak seorang Bora yang sedang terkejut hingga matanya membulat.


Bora dan mamanya masuk keruangan itu. Bu Lily memperkenalkan Ken pada Bora begitu pun sebaliknya, namun meskipun begitu sempat terjadi salah paham diantara Bora dan Ken. Bu Lily menjelaskannya dengan baik akan tetapi pertentangan mulut tak bisa di hindari dari mereka berdua.


Setelah mereka meluruskan salah paham diantara mereka berdua, akhirnya Bu Lily melakukan pemeriksaan dalam oleh Ken begitu pun dengan Bora yang bertemu dengan pemuda yang menolongnya pada saat kejadian yang sangat berat baginya sekitar 10 tahun yang lalu.


Ken membawa Bu Lily ke lab dan melakukan serangkaian pemeriksaan yang akan membantunya untuk bertindak nantinya.


Sedangkan Lukman membawa Bora untuk berkeliling diiringi dengan pengobatan yang ingin dilakukannya.


" Bagaimana ? apa keputusan yang akan kau lakukan padaku Ken ? " tanya Bu Lily pada Ken yang menatap komputernya.


" Itu yang sebenarnya akan kutanyakan padamu Bu.. aku ingin kau mendengarkan penjelasanku dan mengambil keputusan yang terbaik dan dengan benar " jawabnya dan menghentikan aktivitasnya melihat hasil cek laboratorium Bu Lily.


Bu Lily terlihat membeku saat Ken mulai menjelaskan apa saja kemungkinan dan keuntungan dari operasi yang ingin ia lakukan.


Tanpa berkata Bu Lily hanya menganggukkan kepalanya.


" Jadi.. kau bisa melakukannya walaupun dengan konsikuensi yang besar ? " tanyanya meyakinkan Ken.


" Seperti permintaanmu jika kau ingin melakukannya akan kulakukan, setidaknya aku mengatakan konsikuensi yang mungkin akan terjadi jika operasi tak berjalan lancar. Bukan karna aku tak percaya diri tapi semua dokter mengatakan operasi ini memang beresiko karna jika aku salah menyentuh pada saat pengangkatan hati yang rusak kau akan dalam bahaya. karna letak kankernya hampir mengenai bagian jantung itu menyulitkanku. Tapi itu satu - satunya cara yang kau miliki Bu.." jelas Ken dengan serius.


" Apa pendonornya ada di rumah sakit ini ? bagaimana ia mendonorkan semua bagian hatinya padaku Ken? " tanya Bu Lily penasaran akan pendonor hatinya.


" Ia berada disini .. tak usah khawatir ia memang berencana untuk menyumbangkan bagian tubuhnya kepada yang membutuhkannya".


" Apa yang terjadi padanya ? sampai ia seperti itu". ucap Bu Lily penuh rasa ingin tau.


" Ia mengalami mati otak yang membuatnya tak akan bertahan lama lagi disini. Ingin melihatnya? ( tanyanya pada Bu Lily ) jangan menemuinya karna ia hanya berfikir bahwa kau mengasihaninya, ia sedikit sensitif ".

__ADS_1


" Benarkah ? baiklah ".


" Jaga kesehatanmu seperti yang kukatakan agar kau bisa dengan cepat dalam masa pemulihan nanti. Aku akan mengatur tanggal dan mengabarinya padamu" ucap Ken sambil berdiri dari kursinya.


Mereka berjalan kembali menuju ruangan Ken yang memang jaraknya tak terlalu jauh. Disaat mereka ingin masuk ke ruangan itu terlihat Bora dan Dokter Lukman berjalan menuju ke ruangan yang sama dengan Bora yang tertawa dengan lepas.


Sontak itu membuat Bu Lily terkejut, melihat anaknya itu kembali tertawa lepas tanpa ada sebuah beban yang ia sembunyikan.


" Oh kalian sudah selesai ? " tanya Dokter Lukman.


" Ya kami baru selesai bagaimana dengan kalian ? " ucap Bu Lily sambil tersenyum.


" Hmm baik " jawab Dokter Lukman santai.


" Ayo masuk aku ingin bicara denganmu juga Bora " ajak Ken untuk masuk ke ruangannya.


" Apa yang ingin kau bicarakan padaku ? " tatapnya sinis pada Ken.


" Tak bisakah kau menyimpangkan perasaan pribadimu untuk sekarang ? ayo masuk !! " langsung membuka pintu ruangannya.


Disaat Bora dan Dokter Lukman berkeliling, banyak hal yang dilakukan Dokter Lukman agar Bora nyaman dan ingin menjawab pertanyaanya.


Awalnya Bora hanya diam dan melihat - lihat tanaman pada saat berkeliling. Dokter Lukman hanya tersenyum melihat Bora yang memang semakin dewasa dan sangat berubah menjadi gadis yang sangat cantik seperti sekarang.


" Tidak ( menggelengkan kepalanya tanpa melihat ke belakang ) tapi mama bilang aku mengenalmu. Siapa kau ?" tanyanya sambil membalikkan badannya menghadap Lukman.


Bora memang tidak mengingat dengan jelas wajah Lukman, lagian pula kejadiannya lebih dari 10 tahun yang lalu. Bora memang merasa familiar dengan Lukman, dari suara dan cara bicaranya membuat Bora mengingat seseorang tapi tak tau siapa.


" Mamamu benar .. aku orang yang kau kenal. Kau tak mengingatku?" tanyanya memastikannya lagi.


" Maaf aku benar - benar tak ingat " jawabnya santai.


" Orang yang tak percaya dengan perkataanmu dan mengira kau hanya sedang bermain - main. Akhirnya aku kehilangan kesempatan menyelamatkan nyawa seseorang saat itu, orang yang sangat kau sayangi dan membuatku merasa bersalah seumur hidupku".


Mendengar Dokter Lukman berbicara seperti itu sontak Bora terbungkam dan mencoba mengenali orang yang ada di hadapannya.


" Maafkan aku yang tak bisa memenuhi janjiku untuk menjagamu" lanjutan ucapan Dokter Lukman.


Bora yang terdiam mulai mengingatnya.


" Paman ? " ucapnya lembut.


Dokter Lukman tersenyum bahagia saat Bora mulai mengingatnya.

__ADS_1


" Bagaimana kabarmu nak ? apa kau hidup dengan baik ? " tanyanya lembut pada Bora.


" Aku hidup dengan baik seperti yang kau lihat . Kenapa kau bertanya seperti itu ? apa aku terlihat tak baik olehmu.." ucapnya sedikit terkekeh.


" Kau memang sudah dewasa dan kau memang mirip dengannya sama - sama dingin seperti es batu ( tertawa ) Ingin berkeliling ke tempat lain ? ".


Bora sedikit heran dengan perkataan Dokter Lukman. Tapi ia tetap ingin berkeliling bersama orang yang sudah lama tak berjumpa dengannya.


Mereka berdua berkeliling taman sambil mengobobrol banyak hal. Bora mulai terbuka dengan dokter Lukman. Disitulah dokter Lukman mengambil kesempatan untuk membantu Bora untuk kembali normal dan memperbaiki masalahnya.


" Aku tak yakin dengan itu tapi aku ingin seperti orang lainnya" jawaban Bora dari tawaran Dokter Lukman.


" Tapi aku yakin kau bisa seperti yang lainnya. Ayo tetap semangat nak !!( mengepalkan tangannya dan mengankatnya dengan semangat ) Percaya padaku ". ucapnya semangat.


Mereka banyak bercerita tentang banyak hal yang membuat Bora merasa nyaman. Bora tersenyum lebar dan merasa senang. Ia benar merasa nyaman pada saat itu.


" Bagaimana denganmu paman ? apa kau hidup dengan baik ? " tanyanya sambil duduk di kursi taman rumah sakit itu.


" Tak sulit untukku untuk menjalani hidup seperti biasa tapi akan terasa sulit jika aku melihat orang yang kusayangi dalam keadaan sulit. Aku mencoba mencari bagaimana kabarmu dari surat kabar dan itu tak semua seperti dirimu. Sangat sulit mendapat kontak kalian berdua karna kalian orang yang sukses di negara ini " jawabnya dengan memberi sebotol minuman pada Bora.


" Benarkah ? tapi... bagaimana kau mengenal Ken paman ?" tanyanya yang dari tadi sangat penasaran.


" Ken ?? anak itu adalah keponakanku, keponakan yang menemaniku melalui hal sulit dalam hidupku dan membuatku datang ke rapat orang tua karna merawat 2 anak nakal itu " tawanya pecah .


" Kau merawatnya ? kenapa ia sangat berbeda denganmu paman ? kenapa ia sangat menyebalkan dan sangat tak jelas".


" Mereka memang tak jelas sama sepertiku, apa kau tak melihat hal itu pada diriku ? " menunjukkan wajah aneh.


Sontak tawa Bora pecah dan membuatnya tak berhenti tertawa karna Lukman terus menunjukkan hal - hal aneh padanya.


" Aku dengar kau mulai mengkonsumsi obat tidur kembali dari mamamu. Apa ada sesuatu yang terus mengganggumu saat kembali kesini ?" memulai sesi pertanyaan.


" Ntahlah aku tak bisa terpejam, pada saat aku ingin terpejam aku selalu merasa sesak dan satu lagi ... aku mulai memimpikan hal itu lagi ".


" Aku ingin kau datang ke rumahku untuk banyak pertanyaan yang akanku tanyakan padamu. Apa kau tak keberatan nak ? " tanyanya mempercapat waktu karna ia takut ada orang yang mengenali Bora.


" Ok " jawabnya yakin.


Mereka pun kembali ke ruangan Ken untuk melihat Bu Lily. Sepanjang jalan Dokter Lukman terus memberikan lelucon yang membuat Bora tertawa lepas.


pov Bora


Tak ada orang yang membuatku tertawa selepas ini sebelumnya. Apa yang kulakukan, kenapa aku tertawa ? kenapa aku bahagia bisa melihat paman lagi?. Apa aku bisa percaya padanya untuk semua yang ada di dalam diriku yang aku simpan selama ini. Apa dia bisa membuatku lepas dari rasa takut ini ?. Lalu kenapa pria menyebalkan itu berhubungan dengan paman !! aku sangat ingin menjambak rambutnya pada saat dia mulai membuatku merasa kalah darinya. Aku akan menang darimu akan kupastikan itu !!!.

__ADS_1


__ADS_2