
Suara tepuk tangan memenuhi lokasi syuting menandakan bahwa syuting berjalan dengan lancar. Senyum manis terlihat dari wajah Ken yang berdiri sambil bertepuk tangan dengan senang.
" Senang bekerja sama denganmu ( saling bersalaman ) semoga banyak dokter yang menghubungimu " ucap MC cantik itu pada Ken.
" Terima kasih atas doamu " jawabnya dengan senyuman lebar.
Di kejauhan produser yang mengundangnya untuk syuting datang memanggilnya untuk memberi selamat padanya.
" Wahh kau lebih mahir dari yang kuduga ( menepuk bahu Ken ) dalam waktu kurang dari 5 menit penayangan sudah banyak yang menanyai keadaan Sesi dan tak kalah dengan yang menanyai info kontakmu " tertawa melihat ekspresi Ken yang canggung.
Melihat wajah Ken yang malu - malu membuat orang yang melihatnya ikut tersenyum malu. Ken sangat berbeda dengan dia yang memakai jas dokternya, saat memakai jasnya ia terlihat garang seperti dokter yang dingin. Tapi pada saat ia melepas jasnya kita bisa melihat kharisma Ken yang berbeda.
" Ingin ku antar ? " tanya produser itu saat berada di lobi gedung yang mereka pakai untuk syuting.
" Tak usah aku akan menaiki taxi seperti saat aku datang tadi " ucapnya sambil membukuk hormat.
" Ayolah biar kuantar " bujuk pria itu.
" Aku akan kembali ke rumah sakit, aku meninggalkan mobilku disana. Tak apa biar aku sendiri saja aku takut merepotkan apalagi arahnya mungkin berlawanan" ucap Ken menolak pria itu.
" Kau sangat dingin, apa kau seperti ini juga pada wanita ? ( tanya pria itu sambil bergurau ) aku tak merasa repot ayo !!! " menarik paksa tangan Ken untuk ikut dengannya.
Ken akhirnya menerima tawaran dari pria itu . Ken diantarnya tepat di depan rumah sakit dan keluar dengan tawa yang lepas karna pria itu terus memberi lelucon yang sangat lucu.
" Aku akan memberimu kontak gadis cantik ok" seru pria itu pada Ken yang ingin masuk ke rumah sakit.
Tanpa menjawab Ken tersenyum pada pria itu dan kembali berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Saat melewati UGD Ken langsung berlari karna ia melihat seseorang yang tak asing baginya sedang berbaring dan sedang di tangani oleh Jeno.
Matanya membulat dan berlari kencang saat melihat Bu Lily sedang di tangani oleh Jeno sahabatnya. Tanpa berbasa - basi ia langsung membantu Jeno untuk menanganinya.
" Ken !! kau sudah tiba.. Ia mengalami rasa sakit yang luar biasa dan membuatnya pingsan ada yang aneh padanya" berkata dengan tangan yang sibuk memasang infus pada Bu Lily.
" Biar aku yang menanganinya !! " mengambil kain dan mencoba menekan dibagian hati Bu Lily.
" Kau pernah menanganinya? baguslah berarti kau sudah tau keadaannya. Kuserahkan padamu ( menepuk bahu Ken ) panggil aku jika kau butuh bantuanku" meninggalkan Ken yang sedang memeriksa Bu Lily.
Ken memberi pertolongan pada Bu lily dan dengan cepat ia langsung memindahkan Bu lily keruangan yang lebih baik dan mencoba menghubungi pamannya untuk memberi tau Bora atau sekertarisnya tentang keadaan Bu Lily sekarang.
" Apa yang terjadi padanya !! Dia bersama denganmu bukan ? tolong jaga dia " jawaban dari pamannya yang langsung khawatir saat Ken memberi tau mengenai kondisi Bu Lily.
__ADS_1
" Kenapa kau sangat khawatir sekarang paman ? ( nada mengejek ) aku menelfonmu untuk memberi taukannya kepada salah satu keluarganya. Aku tak memiliki kontak mereka, paman datangla kesini " ucap Ken dan mengakhiri panggilannya.
Setelah mengakhiri panggilannya Ken pergi keruangannya untuk membuka emailnya. Ia meninggalkan Bu Lily sendirian di kamar setelah memberi obat pereda sakit di dalam infusnya, lalu memberikan sisanya pada Caca.
" Tolong lakukan sisanya aku perlu mengecek email ku. Jika keluarganya datang panggil aku" ucapnya pada Caca dan memberikan nampan obat padanya.
" Iya Dok " jawab Caca dengan semangat.
Ken membuka komputernya saat ia sampai ke ruangannya. Ucapnya pada komputer " Kumohon .. beri aku respon yang baik. Aku ingin membantu Sesi ".
***
Mobil yang dikendarai Ali itu berhenti di salah satu penginapan kelas menengah yang memang agak terpencil karna jauh dari perkotaan.
" Ini alamatnya ? mengapa ia ingin bertemu disini. Apa yang ingin dilakukannya " ucap Ali yang takut akan terjadi sesuatu pada Bora.
Bola mata Bora tak berhenti menyisir bangunan yang ia lihat itu. Tanpa ragu ia langsung berjalan memasuki penginapan yang menjadi tempat pertemuannya dengan seseorang yang memberi pesan padanya.
" Bora !!! " mengejar Bora yang sudah berjalan lebih dulu.
Ali yang sudah memimpin arah jalan langsung menuju ke salah satu pintu kamar penginapan yang sudah sedikit agak lusuh itu.
" Ternyata kau datang ( menaikkan alisnya ) kau cukup berani nak.. kau menantang dirimu sendiri , kau tau bukan penyakit mentalmu bisa saja kambuh " membisikkan kata - kata itu di telinga Bora.
" Apa maumu ? kau selalu mengganggu Bora. Jika kau melakukan hal yang aneh aku tak segan untuk membunuhmu " ucap Ali dengan emosi yang menggebu - gebu dan menarik kerah pak tua itu.
" Ali !! ( menghentikan Ali yang emosi ) aku datang kesini karna aku ingin mengikuti permainanmu pak Chan, lakukan apa maumu padaku kita lihat apa yang akan terjadi " mendorong pak tua itu dan masuk ke dalam kamar yang sedikit pengap itu.
Bora tau apa yang sebenarnya ia lakukan. Ia sadar bahwa orang yang ia hadapi sekarang adalah orang yang tak biasa. Bora tau orang yang akan bertemu dengannya malam ini, ya .. ayah Bora yang baru keluar dari jeruji besi karna membunuh ibunya sendiri.
Kejadian itu masih terekam jelas di dalam ingatan Bora. Bora sudah merasakan sesak dan gemetar saat melihat sosok yang di bencinya itu tepat di depan mata.
Ia berusaha menahan rasa sesak itu agar ia bisa membereskan masalah dalam hidupnya itu. Ia berjalan dengan tegak masuk ke ruangan yang pengap itu menatap wajah yang dulu ia sebut dengan ayah.
Dulu ia tak mau menatap mata orang yang ia takuti itu, tapi pada hari ini ia menatap dengan penuh amarah kepada ayahnya itu. Rasa benci dan marah yang ia rasakan selama bertahun - tahun membuat ia berani bertarung melawan penyakitnya.
" Apa mau mu? Ali duduklah kita tamu karna di undang di sini " tanya Bora sambil duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
" Hm .. kau memang berani ( duduk di samping ayah Bora ) mauku ? aku punya banyak kemauan kau tau itu Nona, apa aku harus bertanya pada ayahmu ? ( merangkul ayah Bora )".
__ADS_1
Dari saat pintu di buka mata ayah Bora tak pernah melesetkan pandangannya dari Bora. Ia terkejut karna anaknya itu tumbuh menjadi anak yang hebat.
" Aku tak peduli tentang pendapatnya. Aku datang untuk berurusan denganmu " jawab Bora dengan gaya bahasa biasanya.
" Aku menepati janjiku padamu ( memukul pundak ayah Bora ) lihat itu anakmu, anak yang menatapmu dengan penuh kebencian sekarang. Dan yang paling penting apa ia masih akan memanggilmu ayah sekarang atau ia memutuskan untuk tidak lagi menjadi seorang anak pembunuh. Bukan begitu Nona? ".
" Apa keputusanku itu bukan urusanmu pak tua. Yang menjadi urusanmu sekarang adalah mengatakan permainan apa yang sedang kau mainkan sekarang".
" Apa kau mau jika media tau bahwa kau anak seorang pembunuh, atau bilang saja kau punya darah seorang pembunuh,darah sial !!. Ibumu meninggal karna kau dan sekarang ibumu juga akan meninggalkanmu karna berada di dekatmu" mengelilingi Bora.
" Kau memang tak pantas hidup bahagia bukan? Mengurus HG adalah resiko besar yang akan kau ambil apalagi jika semua orang tau kau anak seorang pembunuh bisa - bisa HG bangkrut karnamu".
" Jadi kau mengancamku atas hal itu ( tertawa ) lakukan apapun yang kau mau aku tak peduli. Karna aku memiliki darah seorang pembunuh di dalam tubuhku kau ingin membuat banyak orang percaya akan hal itu? tak apa bagiku aku biasa di perlakukan orang seperti itu. Tapi perlu kau ingat jika kau ingin HG hancur karna hal itu, kau tau apa ? aku akan mewujudkan tuduhan itu. Tuduhan menjadi seorang pembunuh, aku akan melakukannya padamu. Apa kau tak merasa takut ? Jangan mengancamku dengan itu " ingin beranjak pergi.
" Kau tak penasaran kenapa aku mengeluarkan ayahmu dari penjara ? ( tanyanya licik) kau tak tau apa alasannya bukan ??".
Langkah kaki Bora melambat karna ucapan Pak tua itu. Ia penasaran kenapa ayah melakukan itu pada ibu ? apa ada hal lain ? itu yang ada di pikiran Bora selama ini.
" Bora ... " ucap ayahnya memanggil Bora.
" Bora ayo pulang ayo pergi ini akan bahaya bagi kesehatanmu " ajak Ali khawatir.
" Bora .. ayah." ucapannya terpotong pada saat Ali menerima telfon bahwa Bu Lily sedang di rumah sakit dan tentang siaran TV Ken yang memungkinkan donor hati tak bisa di berikan pada Bu Lily.
" Bora ( membisikkan informasi )".
" Ayo !! untuk apa kau diam ayo pergi !!" ucap Bora dengan melangkahkan kakinya keluar dengan cepat dari ruangan pengap itu.
Seolah ingin mencegah kepergian Bora dari situ. Ayah Bora mencegahnya dengan memegang lengan Bora.
Sontak Bora terkejut dengan itu dan langsung menepis tangan ayahnya yang menggenggam lengannya untuk tak pergi karna ia punya sesuatu yang ingin dia katakan.
" Tunggu !!! aku ingin bicara denganmu nak .. aku punya banyak penjelasan untukmu aku ...".
" Aku ingin melihat mamaku yang sedang kesakitan lepaskan aku !! jika kau punya banyak penjelasan kenapa kau tak mengatakan apapun pada saat penyelidikan dan kenapa kau melarikan diri ? Aku tak percaya apapun yang keluar dari mulutmu " pergi meninggalkan ayahnya itu.
" Aku tak bersalah !!! aku tak membunuh ibumu Bora !!! " berteriak karna ucapan Bora yang sedikit menyakiti hatinya.
Bora yang mendengar ucapan ayahnya menghentikan langkah kakinya. Itu membuat ia dilema dan bingung ingin mendengar penjelasan ayahnya atau pergi menemui mamanya.
__ADS_1
Kira - kira Bora akan memilih siapa diantara mereka berdua ya guys...