
Suara sirene ambulans terdengar memenuhi jalanan yang lumayan padat karna ini waktunya jam pulang kerja. Di dalam ambulans Lukman terus menggenggam tangan gadis itu, ia menatapnya dengan tatapan iba dan menyesal.
" Seharusnya aku tak mengulur waktu saat gadis ini meminta tolong padaku, seharusnya aku langsung menelfon polisi dan berlari mengikutinya lebih cepat. Aku merasa ini semua karna aku tak cepat memahami ekspresinya padahal aku seorang psikolog, aku sangat payah. Ia harus menanggung semuanya sendiri seperti yang ditakutkannya, ini membuatku merasa bersalah" fikiran itu tumbuh berulang kali di benak Lukman.
Di kantor polisi.
" gadis kecil itu ? ( menunjuk sebuah foto identifikasi kasus yang sedang di tanganinya ) Aku merasa kasihan pada gadis malang itu, kami sedang menangani kasus pembunuhan yang melibatkan kedua orang tuanya " jawab polisi dari pertanyaan penasaran Bu Lily.
" Pembunuhan? apa maksudmu kedua orang tuanya di bunuh? ( ekspresi kaget ) ".
" Kurasa kau tak perlu tau lebih mendetail kasus ini ( menutup informasi kasus yang ada di bukunya ) kapan pengacaramu datang ?".
" Ok ..ia sedang di perjalanan ingin kesini, tapi aku hanya sedikit penasaran saja padanya ( tersenyum ) apa ia akan di rawat di rumah sakit? apa dia akan baik - baik saja? " tanya Bu Lily khawatir.
" Ia sudah mendapatkan pertolongan dan sudah di pindahkan ke ruangan yang nyaman, untungnya ia tak mendapat luka yang parah dan ia bersama orang yang dapat di percaya" jawab polisi itu sambil menyusun dokumennya.
Tak lama datanglah seorang pengacara yang menangani kasus Bu Lily. Pengacara itu melakukan tugasnya dan mengambil alih semua yang mengenai Bu Lily. Tak butuh waktu lama pengacaranya dapat menyelesaikan masalahnya dengan cepat, ia menyelasaikannya dengan membayar denda dan menerima masa pelatihan kembali bagi Bu Lily, dan itu disetujui oleh Bu Lily sendiri.
" Ok besok pagi kami akan melakukan masa pelatihan pada Bu Lily" ucap polisi yang menangani kasus tabrakan itu.
" Aku tak keberatan dengan itu ( jawan Bu Lily dengan wajah yang santai ) aku akan datang tepat waktu besok pak.. boleh aku pulang? ( tanyanya pada polisi itu )".
" Aku tunggu kau besok, ya kau boleh pulang" ucapnya mempersilahkan Bu Lily dan pengacaranya pulang.
Bu Lily keluar dari kantor polisi bersama dengan pengacaranya dan memasuki sebuah mobil yang dari tadi menunggu mereka.
" Syukurla mereka memberikan keringanan untuk masa pelatihan yang seharusnya di lakukan selama seminggu, mereka menguranginya dan hanya dilakukan selama 1 hari full " ucap pengacaranya yang memulai pembicaraan di dalam mobil.
" Kau memang hebat dalam bernegoisasi ( tersenyum pada pengacaranya ) kau menyelamatkan semua jadwal rapat ku, aku masih bisa pergi ke London untuk mendapatkan investor asing. Terima kasih " menjabat tangan pengacara itu.
" Maaf mengganggu waktu liburmu pak Jhon ( mengatakannya pada supir sekaligus sekertarisnya ) Aku membuat kesalahan besar hari ini. Oh ya bisa kita ke rumah sakit setelah mengantar pak pengacara pulang, aku ingin melihat keadaan gadis cantik itu. Aku merasa bersalah padanya, bisakah pak Jhon? ( berbicara pada pak Jhon )".
" Aku harus ada di saat seperti ini Bu.. aku senang bisa membantumu. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit setelah mengantar pak pengacara pulang" ucapnya sambil tersenyum dengan wajah ramahnya.
" Aku mengganggumu untuk bermain dengan Ali, bukannya kalian ingin ke taman hiburan bersama hari ini . Apa Ali baik - baik saja? ia pasti sedih sekali rencananya berantakan lagi karna aku" ucap Bu Lily sambil melihat keluar jendela.
" Tidak sama sekali Bu.. Ali yang membiarkan ku pergi setelah mendengar kabar darimu, ia tak apa setelah aku memberinya game virtual yang kau berikan Bu ( tertawa ) dia bahkan mengatakan bahwa kita bisa pergi bersama lain kali walaupun itu tahun besok. Ibu tak usah risau tentangnya" menyampaikan dengan nada yang gembira yang membuat Bu Lily tertawa.
Setelah mengantar pengacaranya pulang mereka menuju rumah sakit dimana Bora dan dokter Lukman berada. Mereka memasuki sebuah ruangan yang sepi, terlihat Bora yang masih tertidur di kasur dan Dokter Lukman yang sibuk dengan buku dan penanya.
Dokter Lukman yang merasakan orang masuk berdiri dan menutup bukunya. Ia melihat Bu Lily dengan orang yang tak dikenalnya masuk ke ruangan itu.
" Maaf mengganggumu" ucap Bu Lily yang melihat Dokter Lukman langsung menutup bukunya.
" Tak apa ( sambil menarik kursi di sampingnya untuk memberikannya pada Bu Lily) duduklah" mempersilahkan Bu Lily duduk.
" Terima kasih... aku kesini untuk melihat keadaannya ( melihat Bora yang masih terpejam ) bagaimana keadaanya? " tanyanya sedikit khawatir.
" Lukanya tak terlalu parah ia hanya mendapat luka kecil saja, sekarang ia hanya sedang beristirahat" jawab Lukman dengan muka yang tak begitu senang.
__ADS_1
" Hmm syukurlah ( menghela nafasnya ) tapi kenapa ekspresimu sangat khawatir? " tanyanya pada Lukman yang memang ekspresi mukanya sangat khawatir.
" Ha ha ha ( tertawa canggung ) tak apa aku hanya sedikit lelah saja" jawabnya mencoba menutupi ekspresinya yang sangat terbaca.
" Apa kondisi mentalnya tak baik? aku dengar kau seorang dokter psikolog, aku hanya bertanya. Apa mungkin kau khawatir tentang kondisi mentalnya?, aku melihat jelas dari ekspresimu Dokter...." Bu Lily langsung dapat memahaminya.
" Bagaimana kau ? ( terkejut dengan pemahaman yang dikatakan oleh Bu Lily ) ya.. itulah yang sedang aku analisis tadi, aku berusaha memahaminya. Aku mengira ia hanya seorang anak yang hanya mengalami rasa takut atau trauma biasa, tapi ... ( berfikir sejenak ) ini jelas lebih buruk dan akan semakin buruk nantinya" menggaruk kepalanya.
" Apa maksudmu semakin buruk? seberapa buruk traumanya ?? aku bahkan melihat wajah ceria yang terpancar dari wajah cantiknya ( melihat Bora dengan tatapan yang lembut )" tanyanya tak percaya.
" Kau benar ia terlihat seperti gadis yang ceria dan sangat bersemangat tapi.... ia benar - benar menanggung banyak kesedihan di wajahnya yang mugil dan cantik itu, siapa sangka hari ini ia kehilangan ibunya dan menerima kenyataan bahwa ayahnya sendiri yang melakukan pembunuhan pada ibunya".
Bu Lily menyimak dengan ekspresi yang mulai berubah. " Pembunuhan?" tanyanya terkejut.
" Kurasa aku dipertemukan dengannya bukan karna sebuah alasan tapi sebuah takdir. Aku melihat dengan jelas wajah mungil yang panik itu meminta bantuan kepadaku tanpa ada rasa takut sama sekali, ia membawaku berlari dengan kencang walaupun ia terlihat panik. Ia berhasil membawaku tapi pada akhirnya aku melihat wajah mungil ceria itu berubah menjadi wajah yang penuh kesedihan dan ketakutan setelah melihat orang yang ia sayangi berlumuran darah dan sudah tak bernyawa lagi. Ia tidak hanya kehilangan seorang ibu tapi ia kehilangan kepercayaannya pada orang lain, aku sudah membuktikannya sendiri dengan berbagai pertanyaan kemaren. Bukan hanya itu ia juga mendapat banyak ketakutan belum lagi ia harus hidup sendiri setelah ini" menjelaskan apa yang ia lihat dengan penuh rasa iba yang besar.
" Sendirian?? jadi ia akan hidup sendirian setelah kasus ini selesai !!" berbicara dengan nada yang sedikit tinggi karna terkejut.
" Aku mendengarnya dari polisi, jika mereka berhasil menangkap ayahnya ia akan hidup sendiri karna mereka tak punya sanak saudara yang dapat dihubungi".
" Jadi kau bermaksud ia akan tinggal sendiri dengan kondisinya yang seperti itu ? bahkan orang dewasa belum tentu dapat melewati kondisi seperti ini !! tak bisa begini ... ia harus tetap mendapat perawatan darimu dan melanjutkan hidupnya, kembali kemasa kanak - kanaknya, bukan begitu?" tanya Bu Lily bersemangat.
" Aku berfikir seperti itu juga... aku ingin membawanya bersamaku untuk sementara waktu tapi.. aku tak bisa karna aku juga punya 2 keponakan yang sudah menjadi tanggung jawabku. Aku tak keberatan akan hal itu, itu bahkan lebih baik lagi dalam proses penyembuhannya ia bisa bermain dengan keponakanku tapi..." kata - katanya yang terputus karna Bu Lily menjawab.
" Biaya?" cetus Bu Lily dengan cepat.
" Aku harus menabung banyak untuk kedua keponakanku dan belum lagi biaya kehidupan kami, aku tak ingin membuatnya semakin kesulitan bersamaku" ucap Dokter Lukman dengan wajah yang masam.
" Membantu?" tanya Lukman penuh harapan.
" Aku bisa membantumu soal biaya asal ( terpotong karna Bora bangun dari tidurnya )".
Melihat Bora membuka matanya Lukman dan Bu Lily menghentikan pembicaraan mereka. Mereka langsung mendekati Bora yang masih memproses kejadian yang terjadi, kenapa ia ada di rumah sakit.
Bora mulai membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Ia terlihat heran dan mencoba mengingat kejadian yang terjadi.
" Hei nak.. kau tak apa?" tanya Lukman pada Bora yang bingung melihat sekelilingnya.
" Aku dimana Paman? " jawabnya masih lemas.
Mencoba melainkan pembicaraan Lukman langsung menanyakan keadaannya secara mendetail.
" Apa ada yang terasa sakit lagi ?".
" Tak ada ( menggeleng ) aku ingin pulang " turun dari kasurnya dan menarik tali infusnya.
" Kau ingin kemana gadis manis? ( tanya Bu Lily ) perkenalkan aku Lily, aku tak sengaja menabrakmu tadi. Aku ingin minta maaf padamu nak ( menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan )" berusaha mencegah Bora pergi.
" Maafkan aku Bu.. aku tak melihat jalanku pada saat berlari" menundukkan kepalanya.
__ADS_1
" Aku yang salah, aku sudah melakukan proses hukum untuk bertanggung jawab atas kesalahanku, apa kau ingin memaafkanku dengan cara berteman nak?" berusaha mendekati Bora dengan cara yang halus.
" Terimakasih sudah mau bertanggung jawab, aku juga memaafkanmu bu tapi aku tak bisa berteman denganmu" berjalan menuju keluar tanpa melihat Bu Lily dan Lukman.
Mereka berdua terdiam melihat sikap yang ditunjukkan oleh Bora dan saling tatap, dengan cepat Bu Lily mengejarnya keluar karna diluar sedang hujan.
" Izinkan aku membujuknya..( ucap Bu Lily sambil berlari mengejar Bora )".
Ia melihat Bora yang berjalan lemas kearah sebuah taman di luar rumah sakit yang sedang hujan deras. Bora seakan tak peduli akan hujan tersebut dan terus berjalan dan berhenti di sebuah kursi untuk duduk.
Melihat Bora yang duduk, Bu Lily mulai mendekatinya tanpa membawa payung yang diberikan pak Jhon padanya. Dengan hati - hati ia mulai mendekati gadis itu.
" Bora.....( duduk tepat di samping Bora )".
" Kenapa kau mengikutiku? ( memberi jarak ) aku sudah memaafkanmu tolong pergilah!! " berusah mengusir Bu Lily.
" Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan hujan - hujanan seperti ini .. tak baik bagi kesehatanmu kau bahkan belum makan dari kemaren bukan?" ucap Bu Lily meyakinkan dengan pakaian yang mulai basah kuyup.
" Pergilah kau bisa sakit...." kembali memalingkan wajahnya.
" Aku tau kau sedang merasa sedih, tak apa jika kau menangis tumpahkan semuanya Bora aku bahkan tak akan bisa melihat air matamu karna hujan begitu deras. Aku sering melakukan hal bodoh ini disaat aku sedang sedih jadi kau tak perlu merasa malu."
" Apa yang kau lakukan ? kenapa kau menyuruhku menangis disaat semua orang menyuruhku kuat" menatap Bu Lily dengan pakaian yang basah.
" Apa yang harus kulakukan ? hanya itu yang bisa kulakukan karna aku juga hanya bisa menangis seperti ini disaat kedua orang tuaku meninggalkanku di sebuah panti asuhan tanpa aku tau apa sebabnya ( menatap hal lain) ".
" Panti asuhan? itu lebih baik dari pada ditinggal kedunia lain dan punya seorang ayah pembunuh sepertiku bukan?" ucapnya dengan nada yang lemah.
" Itu memang sulit dari pada apa yang terjadi padaku tapi aku hanya ingin kau bisa bertahan sekuat tenagamu, tak ada salahnya mencoba bukan? jika kau tak sanggup temukan alasanmu kenapa kau tak sanggup. Itu rencana yang bagus bagiku".
" Aku tak punya alasan untuk bertahan lagi, aku tak akan bisa hidup dengan baik bahkan setelah aku tak bersama mereka ( mengatakan pada orang tuanya ) Aku benar - benar tak punya harapan . Kenapa semua terjadi padaku !!!!! aku hanya ingin bisa bernafas dengan penuh arti ( mulai menangis ) Katakan padaku apa yang akan terjadi kepadaku sekarang !!!!! " melihat Bu Lily dengan tatapan serius.
" Apa yang terjadi padamu? jawabannya ada padamu nak...( memeluk Bora yang menangis keras ) menangislah Bora " mulai mendapatkan Bora.
" Ibu.... ibu..... ibu... maafkan aku ( menangis ) tolong aku ibu... kenapa harus aku yang merasakan ini !!!!! ".
Bora yang mulai mencurahkan semua yang ada dihatinya pada saat menangis sambil memeluk Bu Lily membuat Bu Lily merasa bahwa Bora memang benar - benar sama sepertinya. Itu yang membuat ia ingin membantu Bora melalui semuanya sama dengan keputusan Dokter Lukman.
Back to Bora
Ia yang sedang menangis di bawah hujan yang deras seketika merasa ada yang memayunginya dan melihat siapa orang yang memayunginya itu. Dan betapa terkejutnya Bora melihat yang memayunginya itu .
" Kau ??? " ucap Bora yang mulai kedinginan.
" Apa kau ingin mati kedinginan !!! " ucap yang memayunginya dengan cetus.
Bersambung....
Kira - kira siapa yang datang membawa payung untuk Bora ya..... Bu Lily ? Ali ? apa mungkin Ken ? penasaran .... ikutin ceritanya ya...
__ADS_1
Salam hanyat dari Nurul semoga kita semua sehat selalu ya guys...?????????????!:""