
Sisa tetesan hujan masih terdengar di teras rumah yang hanya di huni 2 orang kakak beradik itu. Terlihat Ken berkeliling di ruang tamu sambil melihat keluar, ia terlihat memiliki banyak pikiran. Bagaimana tidak ? keputusan yang diambilnya menyangkut nyawa seseorang.
Melihat kakaknya yang gelisah mondar - mandir seperti gosokan Rey melemparnya dengan snack yang sedang ia makan.
" Apa kau tidak bisa diam ?? kau membuat lantai rumah ini menjadi bersih karna kau melapnya dengan kakimu yang tak bisa diam "sambil melempar snack yang di makannya.
Terkejut karna sebuah kacang polong mendarat di wajahnya. Ken langsung menghentikan kegiatannya menggosok lantai dan bergelut dengan adiknya.
" Ya !!! kau ingin mati ? ( mengkunci leher Rey yang sedang memegang sebungkus snack ) Sudah lama aku tak mengeluarkan jurusku ( menggelitik adiknya )".
" Lepaskan aku ya !! uhuk uhuk ( tercekik oleh lengan Ken ) ya !!!! kau memang seorang dokter yang tak pernah cinta perdamaian "
Mendengar perkataan adiknya itu Ken mengeluarkan jurus jitunya apalagi jika bukan jurus jari jemarinya yang handal dalam gelitik menggelitik.
Suara kakak beradik itu memenuhi ruangan yang senyap karna hujan yang deras sudah berhenti. Canda tawa mereka yang sudah beberapa bulan tak terdengar di rumah itu hari ini kembali. Lontaran ejekan bersautan di ruang tamu mereka.
" Kau seperti orang gila yang lepas dari rumah sakit jiwa ( berdiri dan mulai mengejek kakaknya ) Bagaimana jika pasienmu tau bahwa kau sebenarnya orang gila, mungkin mereka akan lari " mengolok - ngolok kakaknya.
" Kau memang !! ya mereka akan berlari melihatku seperti kau sekarang " mengejar adiknya.
Seperti orang gila Ken mengejar adiknya sampai Rey ingin berlari keluar dari rumahnya menuju teras.
" Kau ingin melarikan diri haa !! " mengejar adiknya .
Namun ia terkejut melihat orang yang sedang ia lihat di hadapannya itu . Raut mukanya yang heran sangat jelas terlihat.
Tak hanya Ken yang terbelak Rey pun terbelak melihat orang yang ada di hadapan mereka sekarang. Ken langsung membawa orang itu untuk bicara menjauh dari Rey.
" Apa yang kau lakukan disini ? " tanyanya pada orang yang ada di hadapannya itu.
" Aku ingin bicara serius padamu ( membuka masker yang di pakainya ) Katakan padaku apa ada cara lain agar mamaku bisa sembuh ? jika harus ada seorang pendonor aku akan mencarinya jika perlu aku memberikan hatiku pada mama " ucap gadis cantik yang sudah basah kuyup itu.
" Aku tak punya cara lain selain operasi penggantian organ baru dan soal pendonor tidak semudah itu kau menyerahkan organmu pada orang lain harus mengikuti protokol juga. Lalu kau fikir ada orang yang ingin menyerahkan seluruh bagian hatinya pada orang lain ? tak banyak orang yang melakukan itu " ucap Ken menatap Bora yang basah kuyup.
Orang yang membuat kakak beradik itu terbelangak adalah Bora. Gadis yang sedang dicari oleh Ali itu ternyata mendatangi kediaman Ken. Dengan tak membawa apapun ia menembus air hujan yang deras untuk menemui Ken untuk membicarakan hal itu.
" Intinya mama membutuhkan seorang pendonor, aku akan mencarinya uang akan banyak berguna untuk ini " jawaban ketus dari Bora pun terlontar.
" Kau pikir itu mudah ? hanya orang gila yang rela mati demi membantu kalian, adapaun orangnya pasti dia memang benar -benar tamak akan uang " ucap Ken.
" Aku pernah mendengar bahwa kau orang yang punya banyak cara jadi aku kesini ingin membuktikan perkataan orang bodoh yang mengatakan itu " wajah Bora yang masih basah dan bibirnya terlihat biru mengatakan bahwa Bora sedang kedinginan.
Melihat Bora yang kedinginan Ken mengajak gadis itu agar masuk ke rumahnya untuk menghangatkan tubuhnya. Tapi sebelum Ken melontarkan tawarannya Rey datang membawa sebuah handuk untuk di berikan pada Bora.
__ADS_1
" Kurasa orang yang mengatakannya memang bodoh " jawaban Ken pada Bora yang sedang kedinginan.
" Apa aku harus mengajaknya masuk ? ia sangat kedinginan . Aishh itu bukan urusanku tapi.. ia sangat kedinginan " Ken yang bercakap dengan dirinya sendiri memutuskan untuk mengajak Bora untuk masuk namun itu terhalang karna Rey adiknya memberi Bora sebuah handuk.
***
" Ada apa Bora datang menemui kakak ? apa mereka saling mengenal ? wahhh kakak memang sangat cepat dalam hal seperti ini " tanya Rey yang heran bagaimana seorang ceo HG Company, perusahaan yang diincarnya untuk bekerja sama datang menemui kakaknya yang super sibuk itu.
Rey sangat mengagumi ceo muda itu karna kemampuannya dalam hal program yang sangat lihai dan sangat pemilih dan teliti dalam hal sekecil apapun dalam program.
Orang yang hampir ia temui untuk menjalin kerja sama itu membuatnya terpana dengan penampilannya yang lebih cantik saat di lihat langsung.
Saat melihat Ken membawanya untuk bicara agak jauh Rey berinisiatif untuk membawakan handuk untuk Bora karna gadis itu terlihat sangat kedinginan.
Dengan pelan ia menghampiri dua orang yang sedang berbicara dengan serius itu tanpa bersuara. Tiba saat sudah agak dekat Bora melihat ke arahnya.
" Maaf mengganggu kurasa kau membutuhkan ini " memberikan handuk yang di bawanya untuk Bora.
Ken yang melihat adiknya itu langsung menarik handuknya dan memberikannya pada Bora.
" Keringkan badan dan rambutmu kau sangat kacau dan kedinginan" ucap Ken.
" Aka tak akan lama ( menolak handuk yang di ulurkan Ken padanya ) Ayo lanjut percakapan kita " ucap Bora yang mulutnya sudah menggigil.
" Tidak .. terima kasih banyak " memberi hormat pada Rey yang menawarkannya untuk masuk dan minum teh.
Bora menolak tawaran Rey untuk menghangatkan tubuhnya sejenak di rumah sederhana kakak beradik itu.
Melihat Bora menolak tawaran dari Rey dengan santai Ken menarik tangan Bora dan membawanya masuk ke dalam rumah.
" Apa yang kau lakukan ? " menghempaskan tangannya agar Ken melepaskan genggamannya.
" Masuklah dan keringkan rambutmu kau terlalu kedinginan, aku tak mau kau mati kedinginan disini " ucap Ken ketus.
" Aku juga tak sudi mati di rumah ini makanya aku ingin pergi " membalikkan badannya untuk pergi.
" Ikut denganku dulu ( menggapai lengan Bora ) aku juga punya sesuatu untuk di katakan padamu " menarik Bora masuk ke dalam rumahnya.
Pov Ken
Saat pertama bertemu dengannya ia sangat terlihat seperti gadis yang lugu dan pendiam, aku tak menyangka sikapnya sedingin es batu dan mulutnya setajam silet. Dia benar - benar misterius dan aneh tapi ia selalu membuatku naik darah .
" Keringkan rambutmu dulu aku akan kembali dengan segelas teh " melemparkan handuk yang di bawa oleh Rey pada Bora.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan ? aku aku " terbata - bata.
" Duduklah ( mendudukkan Bora yang ingin beranjak berdiri ) aku tak membiarkan tamu kedinginan sepertimu pergi begitu saja kau bisa sakit " ucap Ken menatap Bora dengan lembut.
Tak tau mengapa Ken tiba - tiba menatap Bora dengan lembut dan penuh arti yang membuat bibir Bora tak bisa melawan ucapan Dokter tampan itu.
" Tunggu disini " menarik handuk yang berada di samping Bora dan meletakkannya ke atas kepalanya untuk menyuruh mengeringkan rambutnya yang basah.
Dengan mata terbelangak Bora mulai mengeringkan rambutnya. Rey yang melihat kejadian itu tersenyum manis karna sikap kakaknya yang tak biasa.
Langkah Rey terus melangkah menuju dapur untuk melihat apa yang sedang di lakukan kakaknya disana. Dan benar saja Ken sedang membuat teh untuk Bora, waktu yang pas untuk membalas perbuatan kakaknya padanya Rey mulai mengolok - ngolok Ken.
" Kau membuatkan teh untuknya ? " tanyanya sambil mengambil cangkir yang ada di depan Ken.
" Menurut mu ? aku sedang membelah dada orang sekarang !!! jangan mengganggu " pindah tempat dari dekat Rey.
" Kurasa kau menyukai Bora kak .. tak biasa kau dapat menatap mata seseorang selama itu " ucap Rey sambil mengaduk teh punyanya.
Langsung melototi Rey " Jangan bicara hal bodoh " pergi meninggalkan Rey di dapur dengan segelas teh di tangannya.
" Jangan meminta saran padaku jika kau mulai gila karnanya !!!" jerit Rey pada kakaknya.
Tanpa menjawab Ken menunjukkan jari tengahnya pada Rey.
" Apapun pertarungannya aku akan selalu menang " ucap Ken santai.
" Dasar dokter kasar !!! menyebalkan " meletakkan cangkirnya kuat.
Mata Bora tak lepas dari pria tinggi dan tampan itu saat membawa secangkir teh di tangannya menuju ke ruangan tengah tempat duduk Bora.
" Minumlah ( menjulurkan secangkir teh pada Bora ) hangatkan dulu tubuhmu dengan ini" ucap Ken keren.
Dengan ragu Bora mengambil tawaran teh dari Ken dan meminumnya.
" Teh itu tak akan membuatmu mati, aku tak membuat racun di dalamnya" ucapan yang keluar dari mulut Ken karna Bora sedikit ragu saat akan meminumnya.
" Mendengarmu mengatakan itu membuatku takut " ucap Bora dan meminum tehnya.
" Kau luar biasa sangat pedas " ucap Ken kesal.
" Katakan padaku .." ucap Bora memecahkan suasana hening .
" Ok dengarkan aku ........"
__ADS_1
Lanjut episode selanjutnya ya ..