
10 tahun yang lalu
Pertengkaran hebat terdengar jelas dari sebuah rumah kecil dengan cat kuning yang mulai lusuh di ujung komplek. Ini bukan kali pertamanya rumah itu ramai oleh suara teriakan dan tangisan seorang anak perempuan yang berusaha menghentikan pertengkaran orang tuanya yang selalu berselisih paham akan sesuatu yang masih belum bisa ia pahami.
Di hari minggu yang sedikit mendung itu seakan menelan semua senyum manis gadis manis yang sedang duduk sendiri di ruang tengah rumah yang berceceran darah, ia menatap sendu ibunya yang berselimut darah dan tak berdaya tanpa melakukan apapun. Sorot matanya dapat menjelaskan semua apa yang ia rasakan. Pertengkaran yang besar hari itu membuat ayahnya tak bisa mengontrol emosinya begitu pula dengan ibunya, mereka saling memukul dan saling melukai satu sama lain.
" Apa yang sedang kau fikirkan hah? apa kau ingin menjual putriku berengsek!! aku tak akan membiarkan hal itu terjadi pada putriku sampai mati pun aku tak akan membiarkannya" menarik Bora dari genggaman ayahnya.
" Aku tak ingin menjualnya aku hanya membiarkan ia hidup bahagia dan berkecukupan seperti orang yang lain. Kita tak bisa melakukan ini lagi kita harus pisah" jawab ayah Bora yang berusaha menggapai Bora di pelukan ibunya.
" Kau fikir aku tak tau niatmu ? kau akan menjualnya dan pergi bersama wanitamu kan !! aku tidak bodoh preman !! menolak ayah Bora yang ingin mengambil Bora.
" Kunci dirimu di kamar nak apapun yang terjadi jangan buka pintu itu sampai kau tak mendengar suara siapapun dari kamar itu" ucap ibunya pada Bora.
" Bu.." melihat ibunya dengan sendu.
" Ingat yang ibu katakan padamu hapus ingatan buruk yang pernah kau alami Bora setelah ini berlalu ibu akan mengukir ingatan baik untukmu. Tidak tidak hapus ingatan ibu dan ayah di ingatanmu nak ibu mohon cepat masuk ke kamar kunci pintunya dengan rapat kau mengerti ".
" Apa yang kau katakan padanya !! berikan dia padaku ini akan berakhir tak bisa kah kau melakukannya? ".
" Kau fikir aku apa hah?" menolak suaminya.
" Ayo kita selesaikan ini "menyuruh Bora masuk kamar " cepat nak!!!".
Bora masuk ke kamarnya dan mengikuti perkataan ibunya dengan air matanya yang tak unjung berhenti menetes.
" Aku mohon aku mohon untuk pertama kali dalam hidupku tolong bawa ibu pergi menjauh dari ayahku kumohon hiks hiks hiks biarkan dia bahagia kumohon aku tak ingin ia terluka tuhan kumohon " meringkuk tepat di depan pintu.
"Apa pun yang kau inginkan tak akan pernah kau dapat kau ingat itu!!! selama aku masih berdiri disini" menghalangi pintu kamar Bora.
" Biarkan aka lewat !!! mehempaskan tubuh istrinya dan mencoba mendobrak pintu kamar
"Kau benar - benar bukan seorang manusia" melemparkan vas bunga tepat di kepala suaminya." jika aku berdosa dengan apa yang kulakukan padamu aku merasa berdosa membiarkanmu hidup dan membawa Bora jauh dariku".
" Ahhkkkkh " memegang kepalanya yang berdarah " Kau berani rupanya!!! kau belum mengerti juga maksudku bukan !! " menarik rambut istrinya kasar dan menghempaskanya ke meja yang berada di ujung ruangan.
" Bahkan aku mati aku tak akan pernah membiarkan iblis sepertimu hidup dengan tenang " mencoba berdiri dengan tubuhnya yang mulai lemas.
" Lantas jika kau mati kau akan menghantuiku seperti itu ?" memegang leher istrinya yang mulai lemas.
" Ya...... akan kupastikan kita bertemu di neraka bersama" menahan tangan suaminya yang mulai mencekiknya.
Di balik pintu terkunci Bora mendengar semua pertengkaran yang sengit itu terjadi dengan rinci. Ia ingin keluar membantu ibunya tapi ia tak bisa karna ucapan ibunya dan rasa takutnya. Karna itu ia terfikir untuk mencari bantuan dengan keluar melalui jendela.
" Kumohon siapapun tolong aku kumohon!!!" berteriak sekuat tenaganya.
__ADS_1
" Apa yang terjadi padamu? " ucap seorang pria.
" Paman tolong aku ....tolong panggil polisi untuk menangkap ayahku kumohon" menarik pria sedikit tua itu.
" Tunggu .. apa yang kau bicarakan nak? kenapa kau ingin menangkap ayahmu ...itu tak baik biar kuantar kau pulang ayooo" mengajak Bora pulang.
" Tidak paman panggil polisi lebih dulu cepat baru kau boleh mengajakku pulang cepattttt ibuku sudah tak berdaya karnanya cepatttt ia ingin membunuh ibuku kumohon " menangis sejadi - jadinya.
" Ok tunjukkan aku arah rumahmu nak, jangan menangis aku akan menelfon polisi untuk berjaga - jaga ".
" Kau serius !!! ayo paman aku tak ingin ibuku mati kumohon aku tak ingin melihat ibuku pergi ke neraka kumohon" berlari dengan cepat.
Setelah mereka berlari dan tepat di depan rumah kuning itu keadaan semakin buruk.
" Ibu!!!!!! " berlari menghampiri ibunya yang sudah tak bernafas.
Pria itu sangat terkejut dengan apa yang di hadapannya awalnya ia hanya mengira bahwa anak perempuan itu hanya bergurau ternyata tidak . Tak lama polisi langsung datang beserta para medis, pria itu menghampiri Bora yang memeluk ibunya yang penuh dengan darah .
" Ibu jangan matiii jangan tinggalkan aku sendiri ibu bilang akan pergi bersama , jika ibu mati setidaknya mati bersama ibu!!!!!!!".
" Apa yang kau katakan nak? terkejut mendengar ucapan gadis kecil itu .
Para penyidik mulai melakukan tugasnya memulai melakukan penyidikan secara menyeluruh.
" Boleh aku pinjam ibumu sebentar ia harus dipindahkan nak" ucap seorang penyidik.
" Kami akan melakukan pemeriksaan pada ibumu untuk bisa menangkap pelakunya dan bisa menghukumnya secara pantas".
" Ayahku yang membunuhnya untuk apa kau mencari pelakunya lagi ? tangkap dia pak polisi hukum dia sepantasnya " sambil pergi menjauh dari ibunya. Bora duduk menatap ibunya yang sedang di periksa dengan tatapan yang sendu.
" Maaf gadis manis bisa aku bertanya suatu hal padamu?" ucap seorang penyidik perempuan yang berusaha mewawancarainya.
Tapi Bora hanya diam membisu dan air matanya menetes, tak ada satu pun pertanyaan yang di jawabnya.
" Apakah bisa kalian mewawancarainya nanti saja kurasa ia sangat terkejut sekarang" ucap pria tua yang menelfon polisi tadi.
" Baiklah kurasa juga seperti itu, untuk sekarang kami akan membawanya ke dokter psikolog untuk mencari tau dan memeriksa keadaan mentalnya".
" Dia tak punya siapa" lagi bisa aku membawanya untuk malam ini aku akan mengantarnya besok ke psikolog, ini kontak ku kau bisa menghubungiku jika ada sesuatu hal tentang anak ini " memberi nomor hp nya.
back to Bora
" Ibu!!!!! " terbangun dari mimpinya.
" Ada apa lagi denganku kenapa aku memimpikan hal itu lagi setelah sekian lama aku tak bermimpi tentang kejadian itu" menggaruk kepalanya.
__ADS_1
" Oh yaa aku harus ke kereta bawah tanah itu sebelum Ali datang" bergegas untuk pergi.
" Ingin kemana Bora? ini masih jam 6 pagi tak biasanya kau sudah ingin pergi" Bu Lily keluar kamar.
" Ma ..! " terkejut " Aku ingin mencari kalungku kurasa terjatuh di kampus aku harus cepat datang sebelum orang ramai".
" Ohh ya biar ibu antar" mengambil kunci mobil.
" Tak usah ma aku akan naik taxi saja, mama kan ada rapat pagi ini " mengelak.
" Tak apa jika aku terlambat".
" Mama lelah mencari kalungku semalam biar aku saja yang mengurusnya hari ini semoga kalungku ketemu" berlari memanggil taxi.
" Bora !!! pergi dengan Ali .... ahhh anak itu". menelfon Ali " Bora pergi dengan taxi cepat datang lacak melalui GPS mulai besok tetap menelpel padanya kau mengerti!!!".
" Iya Nyonya"
Bora telah sampai di stasiun untuk menaiki kereta begitu pula Ken yang dari tadi terus berdiri menunggu kereta.
" Kurasa gadis itu akan mencarinya kumohon 50% kemungkinan itu bekerja" sambil memegang kalung milik Bora.
Kereta telah berhenti di stasiun tempat Ken menunggu dengan Bora yang sudah berada di dalam kereta. Ken dan Bora saling mencari satu sama lain di dalam kereta.
" Aku tak melihatnya...apa ia tak mencari kalung ini?".
" Kumohon aku harus menemukan kalung itu" cemas sambil menutup matanya.
" Maaf sebelumnya...." suara Ken mulai menyapa Bora.
" Ohhh " membungkuk pertanda saling menyapa.
" Apa benar ini kalungmu ( melihatkan kalung yang di pegangnya) aku menemukannya mungkin ini terjatuh saat aku menyenggolmu kemarin".
" Ahhhh ternyata kalung itu bersamamu ( mengambil kalungnya) terima kasih telah menyimpannya ".
" Hmm bukan hal besar tapi mungkin ini hal besar bagimu maaf sekali lagi seharusnya aku langsung mengembalikannya setelah melihat kalung ini dan langsung mengejarmu tapi aku sedang buru - buru untuk melakukan operasi".
" Kau seorang dokter? tak apa asalkan kau ingin mengembalikannya padaku. Ahhh (menghela nafas) kalung ini sangat berharga bagiku aku juga berterima kasih padamu ".
" Aku Ken ( menjulurkan tangannya) panggir saja aku Ken.
" Bora " saling berjabat tangan.
50% kemungkinan itu terwujud, mungkin ini bukan hanya kemungkinan bisa jadi ini sebuah takdir bukan teman - teman. ikutin episode selanjutnya pembahasan apa yang akan di bahas Ken untuk memulai pembicaraan lebih dengan Bora.
__ADS_1
selanjutnya....
" Bisakah kau membantu ku Ken..kumohon"