SNOW DOLL GIRL

SNOW DOLL GIRL
Permohonan Bora yang pertama


__ADS_3

Kereta yang begitu padat terasa sepi saat kedua orang yang bertemu itu mulai bertukar kata - kata yang masih sangat canggung dan kikuk. Namun Ken terus memulai percakapan yang memutus kecanggungan diantara mereka berdua.


Ken memulai percakapan dengan pertanyaan dengan hati - hati karna takut gadis yang ia ajak berbicara tak menanggapinya. Untungnya Bora menjawab pertanyaannya walaupun dengan beberapa kata.


" Aku melihat kau banyak membawa buku tentang perbisnisan dan managemen saat aku membantumu menyusun bukumu yang terjatuh kemaren, apa kau sedang belajar tentang perbisnisan?( melihat Bora yang sedang terdiam) maaf aku hanya ingin bertanya". Ungkapnya sedikit tersenyum.


" Hmm aku hanya sedang melakukan apa yang harus kulakukan" menjawab dengan dingin.


" Kau mengatakannya seperti kau terpaksa melakukannya ( tersenyum tipis) kata harus itu sangat ....wohh"


" Terpaksa?? ( menatap Ken ) apa terdengar seperti itu?" menundukkan kepalanya.


" Aku hanya menganalisa saja....tak usah kau fikirkan" melihat ke arah lain.


" Hmmm" menjawab dengan nada pelan.


Pov Ken


Gadis ini cukup membuatku kehabisan kata - kata, dari pertanyaan yang mungkin bisa mendapat jawaban sedikit banyak tapi ia hanya menjawabnya dengan beberapa kata waahhh gadis ini mengejutkanku.


Di kereta yang ramai itu membuat Bora sedikit tidak nyaman dan sesak di tambah lagi ia lupa membawa headset yang sering ia bawa untuk menghindari suara riuh pikuk di luar. Ia memang punya masalah pada mentalnya karna kejadian yang menimpanya di masa lalu, itu membuat ia harus menghindari keramaian dan memilih untuk menyendiri.


Back to Ali


Ali langsung menggas mobilnya untuk mencari Bora setelah mengetahui ia pergi sendirian dari Bu Lily.


" Kemana lagi kau akan pergi... " mencoba menghubungi Bora berkali - kali tapi tak unjung diangkat.


" Tak bisa kah kau mengangkat telphone ku ? Kau benar - benar membuatku khawatir " mempercepat laju mobilnya.


Setelah 5 menit kereta itu melaju Bora terlihat semakin tidak nyaman karna terjadi suatu kerusuhan antara wanita dan seorang pria mesum yang membuat suasana menjadi sedikit ricuh . Semua orang di kereta terlihat menghakimi pria itu, Ken hanya melihatnya seperti hal biasa dan tidak terlalu mengambil pusing akan hal itu. Sementara Bora memundurkan langkahnya menuju sudut kereta dengan wajah yang begitu lemas.


" huhuhu ( nafasnya mulai sesak) ada apa denganku ?" melangkah mundur.


Di susana kereta yang ramai Bora seakan tenggelam di laut sendirian, ia mulai merasa sesak karna gangguan mentalnya mulai muncul lagi. Ia mulai panik dan dadanya terasa sesak dan hanya terduduk lemas di sudut kereta. Ken yang melihat keadaan Bora mulai mendekatinya.


" Bora .. kau tidak apa - apa? " bertanya karna melihat wajah gadis itu mulai pucat.


" Tidak apa - apa " menjawab dengan lemas sambil menggelengkan kepalanya.


Ken terus melihat Bora dan menganalisa keadaannya. " Tidak..!!! keadaanmu tidak baik " meraih tangan gadis itu untuk mencek nadinya.


" Apa yang kau lakukan aku sudah bilang aku tak apa!!!" menarik tangannya kembali.


" Detak jantungmu tak beraturan kau juga sangat pucat" ucap Ken yang mulai mengetahui keadaan Bora.


" Bukan urusanmu !!! menjauh dariku" mendorong Ken menjauh.


" Tenangkan dirimu kumohon!!! " ucap Ken. " Aku bisa sedikit membantumu walaupun itu sedikit aku seorang dokter kau tau itu..( menatap Bora yang semakin lemas) coba dengarkan intruksiku Bora ".


Sementara Ken mencoba untuk menenangkan Bora keributan menjadi - jadi di kereta . Pria mesum itu tidak terima akan tuduhan yang di jatuhkan padanya dan mulai membuat keributan dengan memulai kekerasan pada seorang pria muda yang membela wanita yang dia lecehkan tersebut.


Perkelahian tak terhindarkan dan membuat suasana semakin sesak, pria muda itu melemparkan tubuh pria mesum itu dekat dengan dimana Ken dan Bora sedang duduk, pria mesum itu hampir mengenai Bora dan dengan cepat Ken menarik Bora ke dalam pelukannya.


" Apa yang kalian lakukan!!! ini sebuah tempat umum tak bisakah kalian bertingkah seperti orang berpendidikan yang dewasa??? " berbicara dengan nada yang tegas sambil memeluk Bora yang sangat ketakutan.


" Dasar para brengsek itu!! ( mulai mengumpat) Tak bisakah kalian menelfon orang yang berwajib untuk keadaan seperti ini jangan hanya berkelahi hah? ( menatap wanita yang dilecehkan).


" Halo apa benar ini dengan polisi saya ingin melapor ..............( Ken menelfon polisi)".

__ADS_1


Bora sangat ketakutan sampai ia merasa sangat lemas, tangan dan kakinya sangat lemas dan dadanya juga terasa sesak . Saat pria mesum itu hampir mengenainya ia sangat terkejut syukurnya Ken langsung memeluknya dengan erat dan mulai menenangkannya dengan menepuk pelan bahunya.


" Tak apa ...tak apa cobalah menyusaikan nafasmu dengan benar kau hanya perlu menyesuaikan situasi ini ok" menepuk pelan bahu gadis itu.


Bora menutup telinganya agar tak mendengar suara teriakan orang - orang di sekitar mereka .


" Apa yang kau lakukan ? jika begini kau tak akan terbiasa ( melepaskan tangan Bora yang menutup telinganya sendiri).


" Aku tak bisa!!!! sungguh aku tak bisa, aku ingin keluar dari sini ( menggenggam kalungnya dengan erat)" melepas pelukan Ken.


Ken melihat jadwal stasiun pemberhentian selanjutnya.


" 5 menit lagi kita akan sampai cobalah untuk tenang, aku tau itu pasti terasa tak enak dan sangat sakit. Minum ini (memberi Bora minum yang ia beli tadi di supermarket sebelum menaiki kereta)".


" Terima kasih" meminum air pemberian Ken.


Sedari tadi handphone Bora berdering tapi ia tak mendengarnya sama sekali. Ali yang dari tadi menelfon dan mencoba mencari Bora dari ke kampus, taman dan tempat yang mungkin akan Bora kunjungi tapi Bora tidak ada.


" Ponselmu dari tadi berbunyi" ucap Ken.


" Aku tau biarkan saja" jawab Bora dengan sedikit tenang.


" Kau sudah tak apa? " tanya Ken khawatir.


" Kurasa sudah lebih baik tapi dadaku masih terasa sesak tapi sekali lagi, aku sangat berterima kasih " ucap Bora pelan.


" Kau mengatakannya sangat pelan sampai semut saja tak mendengarnya (ucap Ken sambil tersenyum) kurasa penyakitmu cukup serius dengan melihat keadaanmu tadi".


" Ternyata kau memang benar seorang dokter rupanya..( tersenyum tipis) ".


" heh.. kau meragukanku ? aku benar seorang dokter kau harus percaya itu... waah kau belum tau aku dokter yang cukup mahir dan terkenal hah!! ( melihat Bora tersenyum lebar karna tingkat kepedeannya yang tinggi) baguslah melihatmu sudah bisa sedikit tersenyum kurasa keadaanmu sudah cukup membaik".


" Syukurlah..( tersenyum) kau cukup mahir mengendalikan dirimu".


Handphone Bora berbunyi lagi tapi kali ini tidak Ali yang menelphonenya, dan ia mengangkatnya.


" Halo.."


" Nona kau dimana? ( suara panik)"


" Ada apa mencariku bi ? katakan pada mama aku sedang menuju kampus ".


" Nyonya ... nyonya.." terbata - bata.


" Ada apa bi? bicara dengan benar!!!" membentak.


" Nyonya jatuh pingsan Nona...."


" Apa??? apa yang kau katakan ? mama pingsan ..sudah panggil dokter ? cepat telphone dokter!! aku akan pulang.


" Tidak Nona jika dokter datang wartawan akan heboh mereka semua ada disini".


" Wartawan? jelaskan padaku kenapa ada wartawan di rumah"


" Aku tak tau Nona mungkin ini perbuatan pak Chan bagaimana ini Nona? (panik) .


" Aku akan pulang dan membawa dokter suruh Ali menjemputku di stasiun yang kemaren lalu coba lakukan apapun untuk membantu mama siuman ok" menutup telphone.


" Ada apa ? kau terlihat sedikit panik?" bertanya pada Bora yang panik.

__ADS_1


" Kau seorang dokter kan Ken? aku butuh bantuanmu Ken bisakah kau membantuku?".


" Iya... aku seorang dokter , bantuan apa?"


Sementara kereta sudah berhenti di stasiun tujuan Ken dan Bora.


" Ikut kerumah bersamaku, mamaku pingsan aku takut ini masalah serius ia tak pernah seperti ini aku tak bisa memanggil dokter yang biasa karna saat ini banyak wartawan di rumahku, aku bisa membawamu sebagai temanku agar mereka tak curiga"


"Haa aku tak bisa mengerti apa yang kau maksud ".


" Kumohon tolong aku Ken" menarik Ken keluar dari kereta.


"Nona....!!" teriak Ali.


" Jangan panggil aku seperti itu di tempat umum. Dia seorang dokter ia akan membantu ayo cepat " menarik Ken.


" Tunggu !! aku belum bilang iya.. Bora aku harus ke rumah sakit sekarang!!".


" Cepatlah kita tak punya waktu" ucap Ali.


" Ayo... " menarik Ken.


" Wah apa yang kalian berdua lakukan? ini benar - benar wahhh, hei aku punya tanggung jawab di rumah sakit apa kalian tak mendengarku ??"


" Maafkan aku Ken tapi hanya kau dokter yang aku kenal dan karna kau wartawan tak akan heran kumohon....."


" Nona??? ( heran karna sikap Bora yang memohon pada Ken)


" Apa!!"


" Ok aku akan pergi tapi... izinkan aku menelfon temanku agar ia menggantikanku di rumah sakit. Kulakukan karna mu ( melihat Bora).


" Terima kasih.." jawan Bora


" Apa!!!!" jawab dokter Jeno.


" Brooo tolong aku sekali ini saja aku harus melakukan hal penting ok??"


" Hal penting apa lagi ? kau terus menerus membodohiku bukan ?"


" Hanya 1 jam dengan imbalan chip game yang kuminta dari Rey dengan itu levelmu akan bisa melaju dengan cepat dari pada ku bagaimana? itu sangat berharga bagiku, aku bahkan membelikannya komputer baru saat memintanya, ok ok bukan?" berusaha meyakinkan Jeno.


" Ok aku suka hanya 1 jam bukan ? aku akan melakukannya dengan baik !!!!" menutup telphone.


" Ok ayo ........chip ku yang berharga....( nada mengeluh)


" Aku akan menggantinya dengan yang lebih " ucap Ali


" Ayo cepat Ali..." ucap Bora.


pov Bora


Pertama kalinya bagiku menarik tangan seseorang seperti ini bahkan pertama kalinya bagiku bertemu dengan orang asing dan asik seperti Ken.


Keseruan apa yang terjadi selanjutnya???? tetap ikutin ceritanya ya guys...


Bersambung


jumpa minggu ....

__ADS_1


__ADS_2