
Ayana berniat untuk membuka kemasan jus strobery itu. Namun baru saja terbuka sedikit saja, tiba-tiba saja mulai terdengar suara teriakan yang berasal dari ruangan atas. Jun, Mamo dan Kaoru berteriak histeris dan suaranya terdengar seperti sedang menahan rasa takut oleh sebuah ancaman yang sedang membahayakan nyawa mereka.
"Aarrgghhhh, tolong aku!!" teriakan melengking dari Jun terdengar begitu keras.
Ayana dan Jae segera bergegas untuk pergi ke ruangan atas untuk mencari tau apa yang sedang terjadi saat ini. Namun jus strobery yang sedang dipegang oleh Ayana rupanya malah terjatuh dan ada sebuah percikannya yang mengenai gaun Ayana disaat mereka lari.
Ayana berniat untuk memungut kembali kemasan jus stroberi itu, namun sebuah teriakan melengking yang berasal dari Jun membuat Ayana mengurungkan niatnya dan malah segera berlari dan menaiki tangga bersama Jae.
Mereka berdua mulai mencari keberadaan dari teman-temannya yang rupanya saat ini sedang berada di halaman rumah Sora.
Hingga akhirnya Ayana dan Jae mulai melihat ada seekor monyet hutan yang sedang berusaha untuk menyerang Jun. Monyet itu sudah bertengger di atas bahu lebar Jun dengan kedua tangannya yang mencakari wajah Jun.
"Argghh!! Dasar monyet sialan! Brengsekk!! Lepaskan dia dariku!! Bunuh monyet sialan ini!! Ini sakit dan perih sekali!!" erang Jun menahan sakit pada wajahnya yang sudah berdarah karena terkena kuku tajam dari sang monyet hutan itu yamg berusaha untuk menyeran Jun.
Beberapa hewan liar atau bahkan lumba-lumba, biasanya akan menjadi lebih agresif akibat perubahan iklim yang memengaruhi habitat mereka, bahkan memaksa mereka untuk berkonfrontasi dengan manusia.
Perubahan signifikan terhadap lanskap pedesaan di Jepang telah menyebabkan perubahan perilaku hewan liar di negara ini, yang mengarah pada pemberontakan mereka terhadap manusia, menjadi lebih ganas, dan hal ini sebenarnya lebih sering terjadi.
Terlebih di dalam hutan Wild Kaazaane ini sebenarnya memang masih cukup banyak hewan liar di dalamnya. Dan tentu saja hewan-hewan itu sangatlah berbahaya dan mengancam nyawa para manusia yang berada di sekitar mereka.
"Jun! Tenang dan diamlah! Aku akan memukul monyel itu!" ucap Jae mulai mengambil sebuah kayu yang berukuran cukup besar dan mulai mengayunkannya untuk memukul monyet hutan itu.
"Hiathh ... rasakan ini, Monyet sialan!!" pekik Jae sambil mengayunkan kayu itu.
BUAKKK ...
KKIIKK ...
KIIKKK ...
__ADS_1
Monyet hutan itu mulai terjatuh dan tak berdaya. Jun yang masih merasa sangat dendam kepada monyet yang sudah melukai wajahnya hingga meninggalkan beberapa luka cakar yang cukup dalam, kini mulai menginjak-injak monyet yang sudah tak berdaya itu.
"Hiathh!! Mampus kau monyet sialan!! Aku bahkan selalu menghabiskan banyak uang untuk merawat wajahku!! Beraninya kau melukainya!! Brengsekk!! Hiaathh!!" Jun menghajar monyet hutan itu dengan full power.
BUGGHH ...
DUAKK ...
BUUGHH ...
"Sudahlah, Jun! Monyet ini sudah mati!" celutuk Mamo masih mengawasi monyet hutan itu yang kini sudah tidak bergerak sama sekali.
"Mampus kau, Monyet sialan!!" umpat Jun lalu mulai memberikan tendangan terakhirnya untuk monyet hutan itu.
DUAKKK ...
Namun hal itu hanya disadari oleh Jun saja. Karena Ayana, Jae, Mamo dan Kaoru saat ini sedang berdiri membelakanginya. Jun yang merasa begitu syok dan ketakutan hanya bisa mundur beberapa langkah dengan pergerakan yang begitu berat.
Lidahnya terasa begitu kelu disaat melihat seeokor harimau sedang mengawasi mereka dari jarak yang begitu dekat.
"Kau kenapa, Jun? Mengapa wajahmu terlihat begitu ketakutan seperti itu?" tanya Kaoru yang belum menyadari situasi menegangkan yang sedang terjadi saat ini.
Jun masih saja tak bisa berkata-kata. Namun kini Jun mulai menuding ke arah harimau itu yang kini sudah berjalan mengendap-endap semakin mendekati keempat temannya.
"Ada apa? Apa kamu sedang melihat arwah dari monyet yang baru saja kau bunuh, Jun? Ahaha ..." celutuk Jae dengan tawa renyah.
"Jjj-Jaaee ... di bel-lakang ... kal-liannn ..." ucap Jun berusaha untuk memberitahu teman-temannya.
"Apaan sih, Jun? Jangan membuat kita ketakutan deh!" sahut Ayana merasa sedikit kesal dan malah mengira jika Jun sedang bermain atau berbohong.
__ADS_1
"Di bel-lakang kallian ..." ucap Jun lagi semakin mundur hingga akhirnya Jun malah terjatuh karena menginjak bebatuan.
Dengan cepat Jun segera bangun kembali dengan bantuan berpegangan pada sebuah meja kayu, karena tubuhnya sudah terasa begitu lemas saat ini. Setelah itu Jun mulai berlari pontang-panting meninggalkan teras rumah Sora.
Karena merasa penasaran, kini akhirnya Mamo mulai sedikit berbalik untuk memeriksa belakangnya. Dan betapa terkejutnya Mamo ketika melihat seekor harimau sudah berada tak jauh dari mereka.
"Kalian ... cepat berlari ... dan tinggalkan tempat ini ..." ucap Mamo tergagap dengan ekspresi sangat ketakutan.
Dengan panik dan gelagapan, Mamo juga segera berlari meninggalkan mereka.
"Mereka apa-apaan sih? Apa mereka benar-benar sudah melihat hantu di siang bolong seperti ini? Huft ... dasar penakut!!" celutuk Jae masih dengan gaya kerennya agar Ayana dan Kaoru tan meremehkannya.
Namun kIni Kaoru dan Ayana mulai memutar tubuhnya bersamaan, hingga akhirnya kedua gadis itu mulai melihat sosok harimau yang sudah berada sangat dekat dengan Jae.
Mata kedua gadis itu membelalak lebar dengan mulut yang terbuka dengan cukup lebar juga. Tubuh mereka seakan menjadi sangat lemas dan tak bertenaga saja. Rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk bisa selamat dari marabahaya kali ini.
Bahkan mereka semua tak membawa senjata apapun saat ini untuk berusaha melindungi diri mereka saat ini. Kaoru berhasil untuk melarikan diri, namun Ayana begitu tak tega untuk meninggalkan Jae, sepupunya. Bahkan sebenarnya tak menutup kemungkinan jika Ayana juga akan bisa lolos dari harimau itu.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Mengapa mereka semua melarikan diri dan terlihat sangat ketakutan?" celutuk Jae merentangkan kedua tangannya dan masih berlagak keren.
"Jae ... di belakangmu ... di belakangmu ada harimau ..." ucap Ayana begitu lirih dan bergetar saking ketakutan.
Mendengar ucapan dari Ayana membuat Jae seketika membatu. Karena selama ini Ayana adalah tipikal gadis yang akan berbicara apa adanya dan tidak suka akan candaan atau prank.
Jae mulai memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang untuk melihat sesuatu. Namun belum sempat Jae melakukan semua itu, tiba-tiba saja harimau itu sudah melompat dengan cepat dan mencengkeram hingga melukai tangan kiri Jae.
"Aarhgghhhh ... seseorang tolong akuu!!!" erang Jae dengan begitu kuat hingga suaranya menggema di seluruh hutan Wild Kaazane itu.
Bersambung ...
__ADS_1