Strawberry Marmalade

Strawberry Marmalade
Di Rumah Sora


__ADS_3

"Duduklah ... maaf jika rumahku sangat jauh dari kata layak dan membuatmu merasa tidak nyaman." ucap Sora mempersilakan Ren untuk duduk di sebuah kursi kayu dengan perasaan yang masih begitu ragu-ragu.


Namun tanpa terlihat ada keraguan, Ren mulai duduk di salah satu kursi kayu yang begitu sederhana itu.


"Kamu mau minum apa? Di rumahku hanya ada air putih, namun jika kamu menginginkan minuman lainnya, maka aku akan membelikannya untukmu dulu." ucap Sora menawari.


Apa? Membelinya dulu? Sora mau membeli dimana? Bukankah di sepaanjang perjalanan ke rumahnya tak ada rumah penduduk ataupun kedai makanan? Bahkan rumah ini sangat jauh dari jalan utama. Ataukah sebenarnya ada perumahan warga di sekitar sini yang tidak aku lalui?


Batin Ren mengusap dagi tirusnya dengan sepasang alis tegasnya yang berkerut saling berdekatan.


Jawabannya tentu saja sudah tau bukan? Jika Sora bisa bergerak dengan cepat, tentu saja untuk pergi ke sebuah mini market yang berjarak puluhan hingga ratusan kilometer bisa ditempuhnya dengan sangat cepat.


"Kamu mau minum apa, Ren?" tanya Sora lagi membuyarkan lamunan Ren.


"Oh. Tidak perlu repot-repot. Air putih saja tidak masalah kok." jawab Ren dengan cepat karena tak mau merepotkan dan mempersulit Sora.


"Baiklah. Tunggulah sebentar ..." ucap Sora lalu mulai berlalu begitu saja.


Rupanya dia mengetahui namaku ya? Aku kira gadis aneh itu sama sekali tak mengetahuinya. Hhm ...


Batin Ren tak sadar sudah tersenyum tipis menatap punggung Sora yang sudah semakin menjauh darinya.


Ren mulai menebarkan pandangannya dan mulai mengamati sekitarnya dengan seksama. Bahkan Ren juga mulai bangkit kembali dari duduknya untuk melihat-lihat rumah Sora.


Tiba-tiba saja Ren mulai melihat sebuah figura kecil yang dipajang di atas meja kayu. Di dalam figura itu adal foto Sora yang masih cukup muda, mungkin saat itu usianya masih 15 tahun.


Di sebelahnya ada seorang pemuda yang lebih dewasa dan kira-kita berusia 18 tahun. Di masing-masing sisi mereka berdua ada seorang wanita dewasa dan pria dewasa.


Mereka berempat tersenyum lebar dan terlihat begitu berbahagia. Namun kulit mereka berempat terlihat begitu pucat, sama seperti Sora. Dan hal ini sempat membuat Ren mulai berpikir keras.

__ADS_1


Apakah mereka adalah keluarga Sora? Lalu ... apakah Sora dan keluarganya memiliki riwayat sebuah penyakit yang sama? Mengapa keluarga Sora terlihat begitu pucat?


Batin Ren menerka-nerka.


Belum sempat pikirannya saling beradu argumen, kini Sora sudah datang kembali dengan membawakan segelas air putih dan meletakkannya di atas meja kayu.


Disaat itulah Ren segera meletakkan kembali foto keluarga itu ke tempat semula dan segera berbalik kembali lalu duduk di sebuah kursi kayu.


"Maaf. Tapi aku sungguh tidak memiliki persediaan makan apapun Ren ... aku tidak bisa menjamu kamu dengan baik." ucap Sora merasa segan kepada Ren.


Karena biar bagaimanapun Ren adalah tamunya saat ini, dan Sora juga sudah terbiasa dan sudah belajar banyak hal tentang kehidupan manusia.


"Tidak masalah. Jangan kamu jadikan ini sebagai beban pikiran. Aku yang datang tiba-tiba. Ini bukan salahmu. Terima kasih ..." ucap Ren dengan ramah dan mulai meraih segelas air mineral itu lalu meneguknya.


"Kalau boleh tau ... apakah foto di dalam figura itu adalah keluarga kamu, Sora?" tanya Ren sembari meletakkan gelas berisi setengah dari air mineral itu di atas meja kembali.


"Iya. Mereka ayah, ibu dan kakakku." jawab Sora seadanya dan terdengar begitu memilukan.


"Lalu dimana mereka saat ini? Apakah kamu tinggal sendirian disini? Kedua orang tuamu dan kakakmu ... ada dimana? Aku tak melihatnya disini." tanya Ren begitu berhati-hati.


Selama ini Ren tak pernah mengetahui jika Sora adalah seorang gadis yang hidup sebatang kara dan sudah yatim piyatu. Ren tak terlalu menggubris cemooh akan para mahasisi dan mahasiswa di kampusnya disaat menyudutkan Sora, karena saat itu Ren memang tak pernah mau menggubris apapun yang tak dianggapnya penting.


"Aku tinggal sendirian disini. Orang tuaku dan kakakku sudah tiada cukup lama." jawab Sora terdengar begitu lirih dan memilukan.


"Oh ... aku minta maaf. Aku sungguh tidak tau soal hal itu." ucap Ren merasa bersalah karena telah merasa membuat Sora kembali bersedih karena mengingat keluarganya.


Sebenarnya Ren masih begitu ingin tau mengapa kedua orang tua dan kakak Sora meninggal begitu cepat. Namun Ren mengurungkan niatnya kembali dan menelan kembali pertanyaannya itu.


"Mereka terbunuh bersamaan disaat segerombolan orang datang menyerang kami. Aku kebetulan baru pulang dari bermain dan melihat itu semuanya, namun ibuku memberikan isyarat untukku untuk segera pergi dan melarikan diri dari desa itu. Hingga akhirnya kini aku hanya hidup seorang diri." ucap Sora yang tiba-tiba saja malah menceritakan kisah hidupnya kepada Ren.

__ADS_1


Sejujurnya cerita dari Sora sungguh membuat Ren merasa begitu syok. Bagaimana mungkin orang-orang itu begitu kejam dan tega menghabisi nyawa orang?


"Lalu mengapa kamu tidak melaporkannya kepada pihak polisi?" tanya Ren masih sangat berhati-hati.


Sedangkan Sora hanya menggeleng pelan dan terdiam selama beberapa saat.


Jika polisi mengetahui semua ini, mungkin aku juga akan dimusnahkan oleh mereka. Atau mungkin aku akan diasingkan sejauh mungkin.


Batin Sora yang terlihat sudah sangat tidak berdaya.


"Pulanglah, Ren ... hari sudah semakin gelap. Akan sangat berbahaya jika kamu pulang terlalu gelap. Di daerah sini sangat jarang ada warga." ucap Sora mengkhawatirkan Ren.


Namun ucapan dari Sora malah membuat kening Ren mulai berkerut kembali. Bagaimana mungkin Sora malah mengkhawatirkan Ren? Sementara Sora sendiri tinggal seorang diri di daerah itu? Mungkin seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh Ren saat ini.


"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, Sora? Kamu bahkan malah tinggal di rumah ini seorang diri? Bukankah itu juga akan sangat berbahaya untukmu?" sahut Ren dengan sepasang mata yang memicing menatap Sora.


"Ini jelas sangat berbeda, Ren. Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Dan aku akan baik-baik saja." jawab Sora seadanya.


"Baiklah. Aku akan segera pulang tapi kamu harus berjanji padaku! Kamu harus kembali ke kampus dan tetap melanjutkan belajarmu!" ucap Ren tiba-tiba malah mengajak Sora untuk bernegosiasi.


"Itu ... kalau soal itu ... aku tidak bisa berjanji ..." ucap Sora ragu-ragu.


"Baiklah! Kalau begitu aku akan tetap berada disini dan tidak akan pulang saja!!" ucap Ren dengan sengaja dan sukses membuat Sora sedikit terkejut.


"Eh ... baiklah! Segera pulanglah ... dan mulai besok aku akan masuk kuliah lagi." ucap Sora dengan cepat karena tak memiliki pilihan lain lagi.


Karena sangat tidak mungkin untuk membiarkan Ren terlalu lama berada di dalam rumahnya, apalagi harus membiarkan Ren pulang di hari yang sudah begitu larut. Itu akan sangat berbahaya untuk Ren.


"Baiklah!! Deal!! Kalau begitu aku pulang dulu! Sampai jumpa besok di kampus!" ucap Ren dengan wajah yang sudah mulai berbinar.

__ADS_1


"Hhm. Baiklah ..." Sora menyauti dengan sangat terpaksa.


Akhirnya Ren mulai meninggalkan rumah Sora begitu saja. Dan sebenarnya Sora mengikuti Ren untuk memastikan jika Ren akan selalu aman saat menyusuri jalanan sepi di dekat hutan itu. Hingga akhirnya setelah Ren mendapatkan sebuah taxi, Sora mulai pulang kembali.


__ADS_2