Strawberry Marmalade

Strawberry Marmalade
Menolong Sora


__ADS_3

DUAKK ...


BRRAAKK ...


Pintu kamar mandi wanita itu kini terbuka dan menjadi rusak karena tendangan kuat dari seseorang. Setelah beberapa detik, kini terlihat seorang pemuda mulai memasuki kamar mandi wanita ini dan segera mendatangi tubuh Sora yang tergeletak di atas lantai tak sadarkan diri.


"Sora! Apa kamu baik-baik saja?" pemuda yang tak lain adalah Ren kini mulai memberanikan diri untuk menyentuh kening Sora karena Sora terlihat begitu pucat, bahkan lebih pucat dari biasanya. "Panas sekali!" gumamnya pelan.


Tanpa pikir panjang, kini Ren segera meraih tubuh Sora dan mulai menggendongnya. Ren berniat untuk membawa Sora untuk pergi ke ruangan medis, namun rupanya pintu ruangan medis juga terkunci, karena saat ini adalah senja dan semua orang sudah meninggalkan kampus.


Hingga akhirnya Ren memutuskan untuk membawa Sora untuk ke rumahnya yang berada tak jauh dari kampus mereka, karena Ren juga tidak mengetahui dimana Sora tinggal selama ini.


Ren yang hanya tinggal seorang diri meminta asisten rumah tangganya untuk menggantikan pakaian Sora yang sudah kotor dan maaih sangat lembab. Tak lupa Ren juga menyiapkan air hangat dan mulai mengkompres Sora, berharap demam itu akan segera turun.


Ada sebuah rasa simpati dan kasihan ketika Ren menatap gadis pucat yang saat ini sedang terbaring di atas pembaringannya.


"Apakah sudah sejak dulu mereka selalu memperlakukanmu seperti itu? Kamu ... tegar dan kuat sekali ... tanpa ada orang tua dan keluarga yang mendampingimu, kamu juga bisa bertahan menghadapi mereka yang selalu jahat padamu. Aku malu dengan diriku sendiri. Aku seorang pemuda, namun aku tak sekuat kamu." gumam Ren yang mulai mengingat kedua orang tuanya.


Orang tua Ren sudah bercerai 2 tahun yang lalu dan masing-masing sudah memiliki keluarga baru. Dan perpisahan itu terjadi, Ren lebih memilih untuk tinggal sendirian hingga sampai saat ini dan tak pernah mau untuk tinggal bersama mama maupun papanya.


Meskipun Ren selalu terlihat dingin dan tegar, namun tetap saja baginya perpisahan dari kedua orang tuanya sangatlah membuat hatinya hancur. Tak ada lagi kehangatan yang pernah dia dapatkan sejak saat itu. Terlebih mereka sudah begitu sibuk dengan keluarga mereka masing-masing.


Memang benar papa dan mama Ren selalu bertanggung jawab dalam biaya hidup dan kuliah untuk Ren. Bahkan mereka memberikan nominal untuk Ren dalam jumlah yang cukup fantastis Namun tetap saja semua itu bukanlah yang Ren inginkan!


"Umnhh ..." perlahan Sora mulai bergeming dan sedikit merubah posisi tidurnya.


Keningnya berkerut seakan Sora sedang mengalami sebuah mimpi buruk. Ren segera memeriksa kembali kening Sora untuk memeriksa sesuatu.

__ADS_1


"Syukurlah demamnya sudah mulai turun." gumam Ren pelan dan mulai mengambil sebuah handuk kecil dari kening Sora.


Perlahan Sora mulai membuka sepasang matanya, hingga akhirnya sepasang pupil indah berwarna amber atau cokelat muda itu mulai terlihat semakin melebar.


Sora terlihat mulai memperhatikan atap dan sekelilingnya lalu segera duduk. Hingga akhirnya Sora mulai melihat Ren yang sudah duduk di tepian pembaringan menemaninya.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik, Sora?" tanya Ren memastikan kembali.


"Mengapa ada kamu? Dan ini dimana?" bukannya menjawab pertanyaan dari Ren, kini Sora malah melontarkan pertanyaan untuk Ren.


"Ini adalah rumahku. Aku menemukanmu pingsan di kampus. Karena aku tidak tau dimana kamu tinggal, makanya aku membawaku ke rumahku." jawab Ren seadanya.


Sora kembali mengingat-ingat sesuatu apa yang terjadi sebelum dia pingsan, hingga akhirnya Sora mulai mengingat jika dia sudah hampir menyerang Mamo dan Kaoru saat itu.


Rasa panik dan cemas kembali melanda dirinya saat ini karena khawatir jika sampai Sora lepas kendali lagi dan akan menyakiti Ren. Hingga akhirnya Sora mulai berniat untuk segera meninggalkan tempat ini.


"Terima kasih. Tapi aku harus segera pergi ..." dengan cepat Sora mulai menuruni pembaringan dan berniat untuk segera pergi.


Namun rupanya Ren tak mau melepaskan Sora begitu saja dan menahan tangan pucat Sora.


"Kamu masih sakit, kamu bisa beristirahat dulu sebentar disini jika kamu mau. Dokter pribadiku sudah hampir sampai. Sebaiknya kamu menunggu sebentar lagi." ucap Ren yang rupanya sudah menghubungi seorang dokter.


Ucapan dari Ren tentu saja membuat Sora sedikit membelalak lebar. Ada rasa begitu khawatir jika sampai dokter itu benar-benar akan memeriksanya dan mulai menyadari jika sebenarnya Sora bukanlah seorang manusia.


Namun belum sempat Sora berkata-kata dan menolak niat baik dari Ren, tiba-tiba saja mulai terdengar sebuah melodi yang menggema di ruangan. Menandakan sedang ada yang sedang bertamu di rumah ini.


"Nah. Itu dokternya sudah datang. Kamu tunggu sebentar disini ya. Aku akan membukakan pintu untuknya." ucap Ren dengan ramah, dan tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Lidah Sora seakan terasa begitu kelu dan tak bisa berkata-kata lagi. Untaian kata penolakanpun rasanya tak bisa dia ucapkan, hingga akhirnya malah menelan semua kata-katanya kembali.


Tanpa mendapatkan jawaban dari Sora, kini Ren segera meninggalkan kamarnya dan berniat untuk menyambut sang tamu itu. Sementara Sora terlihat semakin gugup dan kebingungan saat ini.


Bagaimana ini? Aku tidak bisa membiarkan dokter itu memeriksaku atau semuanya akan segera mengetahui siapa diriku yang sebenarnya. Aku harus cepat meninggalkan rumah ini! Hhm ... benar!!


Batin Sora mulai melenggang mendekati jendela kamar Ren yang rupanya ini adalah lantai 2. Namun hal itu tentu saja bukanlah menjadi sebuah masalah untuk Sora.


Sora segera memanjat dan melewati jendela itu dengan begitu gesit. Bahkan tanpa ada sebuah keraguan, Sora segera melompat ke dasar bangunan begitu saja.


"Huupp ..." Sora melakukan pendaratan dengan sempurna dan segera meninggalkan rumah Ren dengan begitu cepat, secepat kecepatan cahaya.


WUSSHH ...


Hanya dalan beberapa detik, Sora sudah menghilang begitu saja.


Sementara itu ...


Ren dan sang dokter mulai memasuki kamar Ren, namun betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat kamar yang cukup rapi dan luas itu saat ini sudah kosong dan tak ada siapapun di dalamnya.


"Dimana temanmu yang kamu bilang sakit itu, Ren? Kamu bilang dia disini?" tanya seorang dokter pria yang masih cukup muda itu, dan sebenarnya dia adalah kakak sepupu dari Ren.


"Sebelum aku pergi, dia masih ada disini." gumam Ren masih menatap seisi kamarnya keheranan.


Hingga akhirnya Ren mulai melihat jendela kamarnya yang masih terbuka dan membuat gorden putih itu melambai-lambai karena tertiup dengan angin malam.


Gadis itu ... apakah kini dia kabur melalui jendela kamarku? Sebenarnya kenapa? Mengapa dia selalu saja berbuat seperti itu? Dia selalu saja berusaha untuk menjauh dariku. Gadis yang sangat aneh dan penuh misteri ...

__ADS_1


Batin Ren masih menatap jendela kamarnya dengan sepasang mata yang memicing.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2