
Malam itu Devan masuk rumah sekitar pukul sepuluh malam setelah mengantar Starla. Mereka berbincang sebentar. Dan ketika Jeep masuk ke garasi mobil, Devan mendengar isak tangis dari dalam rumah. Siapa yang menangis?
Ia pun cepat-cepat turun dari sana, dan masuk melalui pintu yang terhubung dari garasi mobil ke ruang tengah. Disana, terlihat Helsa menangis.
“Mi?” panggil Devan.
Helsa mendongak, mendapati Devan yang menatapnya penuh tanda tanya. Wanita itu menghampiri anaknya dan memeluk Devan sangat erat.
“Ayo kita pulang ke rumah Oma, disini bukan rumah kita Sayang. Nggak ada tempat lagi untuk kita. Papi selalu egois,” ungkap Helsa.
“Devandra…,”
Suara itu membuat hatinya selalu bergetar. Setiap Adryan menyebut namanya secara lengkap, Devan tak memungkiri bahwa dia lemah ketika sudah mendengar suara Papinya. Adryan berpengaruh besar dalam dirinya.
“Mami hanya drama, nggak usah didengerin,” kata Adryan.
“Mas!” raung Helsa, yang membuat suaminya langsung tertawa. Pria itu menghampiri istrinya, mencoba untuk melepaskan pelukan Helsa dari Devan.
“Sini, Sayang.”
“Nggak mau! Aku mau tidur sama Devan dan Cemara malam ini,” hardik Helsa.
“Mas juga ya. Kita nostalgia zaman Cemara dan Devan masih kecil,” ujar Adryan.
“Nggak! Ini khusus anak dan cucu Yuda Andrean,” hardik Helsa.
“Kan Mas juga anaknya Papa, Sayang.”
“Cuma menantu,” cetus Helsa.
Devan melengos, kenapa juga dia harus menonton Papi dan Maminya ribut seperti ini? Mana drama banget lagi. Maminya berulah kayak bocah. Astaga, Devan bahkan tidak habis pikir dengan Papinya yang senang meladeni wanita kesayangannya itu.
“Papi sama Mami mending tidur deh, Devan mau ke Cemara sebentar,” kata Devan menengahi perdebatan orang tuanya.
Ketika Devan akan naik ke lantai dua, Adryan memanggilnya.
“Dev, bujuk Ara makan.”
Devan menarik tuas pintu kamar yang sejak tadi ia dengar tangis seorang gadis. Pundaknya terasa lemas tatkala melihat adiknya menangis menatap keluar balkon kamar. Perlahan ia mendekati gadis itu, menyentuh punggung kecil yang bergetar akibat tangisannya.
“Ra…,”
Cemara Ayudhia Van Brawijaya, anak gadis semata wayang Adryan dan Helsa yang sudah beranjak remaja. Usia remaja yang mulai diperkenalkan dengan jatuh cinta membuat gadis itu harus diasingkan Papinya ke Jogja.
“Kakak…” isak tangisnya semakin meradang, Cemara memeluk Devan begitu erat.
“Jangan nangis terus, kamu bisa sakit,” tutur Devan.
“Papi nggak sayang sama Ara.”
Devan mengusap punggung Cemara, “nggak ada orang tua yang mau anaknya terjebak dengan kesalahan, Ra.”
“Ara janji bakal jauhin Lintar, Ara janji nggak akan pacaran lagi. Asal jangan pindahkan Ara ke Jogja. Bilang sama Papi, ya, Kak?”
Kesalahan Cemara adalah berpacaran secara diam-diam tanpa memberitahu orang tuanya. Adryan takut kejadian yang menimpah dirinya dan Helsa terulang, Adryan tidak siap melihat putri kecilnya dihancurkan dunia.
"Minta Mami ngomong sama Papi. Ara nggak mau jauh dari rumah," keluhnya pada sang kakak.
***
Devandra, kamu itu kesalahan.
Kamu itu hanya beban untuk dokter Adryan.
Devandra ….
“Mami…” lirih Devan.
Peluh keringat menetes dari pelipisnya. Devandra terperanjat dari tidurnya. Suara Helsa yang memanggilnya masih terngiang, bersamaan dengan suara seorang wanita yang bersahut-sahutan menyudutkannya.
Nafasnya tersengal, Devan mengambil gelas air diatas nakas yang memang selalu Helsa atau Adryan siapkan untuk anak-anaknya.
“Mami?” lirih Devan, setelah meneguk air putih.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Helsa dan Adryan mungkin sudah tertidur pulas, begitu juga dengan Cemara. Devan benci jika dia sudah terbangun, maka akan susah baginya terlelap kembali hingga pagi.
Ia memutuskan untuk membuka macbook dan menyimpan beberapa foto Starla yang ia ambil ketika di Pantai.
“Cantik,” gumamnya, mengagumi gadis itu.
Devan tersenyum senang, akhirnya dia bisa memiliki foto Starla yang langsung ia potret sendiri. Kemarin menjadi momen termanis di hidupnya. Hampir seharian penuh mereka menghabiskan waktu bersama, meskipun Starla belum memberi kepastian untuk kelanjutan hubungan mereka.
Cowok itu kembali teringat suara perempuan yang berada di dalam mimpinya. Devan belum pernah melihat sebelumnya perempuan itu.
“Bebannya Papi,” gumam Devan, lalu ia terkekeh. “Aneh…”
“...but i don't care.”
****
Lapangan futsal yang berada diantara Fakultas Sastra dan Management pagi itu mendadak ramai. Awalnya Starla tidak peduli dengan itu semua, namun nama Devandra sedang disebut-sebut. Starla penasaran apa yang dibuat laki-laki itu di sana selain bermain futsal.
“La, kirain gue, lo nggak mau lihat apa yang terjadi disana,” sindir Kiki, menyikut lengan sahabatnya.
“Aku penasaran aja,” sahut Starla.
Kiki dan Starla naik ke tribun dengan berdesak-desakan disana. Tribun yang mengelilingi lapangan begitu padat. 95% penonton disini adalah perempuan.
“Huh, Devan keren banget kalau nggak pakai baju, tatonya itu loh yang buat darah gue berdesir,” celetuk salah satu mahasiswa yang berdiri tak jauh dari Kiki dan Starla.
"Calon pacarnya disini," bisik Kiki.
Starla tidak menanggapi perkataan Kiki, fokusnya hanya pada laki-laki bertelanjangkan dada dibawa sana.
"Biar apa dia gitu? Biar dilihat cewek-cewek disini?" batin Starla mencibir.
Tapi, Starla tidak munafik. Devan sangat tampan disana. Walaupun peluh membanjiri tubuhnya. Mungkin di mata para perempuan disini Devan terlihat keren dengan tatonya itu.
Pertandingan futsal antara anak Teknik dan Sastra Inggris dipicu oleh Darren. Playboy Acme satu itu mempunyai misi merebut Alana dari Reynard. Gila memang. Mana Devan juga ngomporin buat rebut si Alana dan bergabung dengan mereka.
Waktu berjalan hingga pertandingan berakhir. Fakultas Teknik unggul dengan lima point.
Penonton yang tadinya memenuhi tribun berangsur keluar. Starla dan Kiki pun sama, mereka akan keluar dari sana.
"Starla….,"
Betapa terkejutnya gadis itu karena Devan sudah berdiri di belakangnya, dan juga memegang pergelangan tangannya.
"Dev, aku mau keluar."
"Bareng sama gue, tapi nanti," balas Devan. Starla melirik sekilas pada Kiki, sahabatnya seolah paham lalu keluar terlebih dahulu.
Devan menggenggam erat tangan Starla dan membawa gadis itu ke tengah lapangan. Disini masih ada beberapa anak Teknik yang sedang berkumpul. Ah, terserah mereka saja, yang terpenting Devan sudah membantu mereka. Darren pun sudah memberikan imbalan pada Devan selepas kemenangan mereka. Lima juta sudah Devan dapati hanya untuk membela anak Teknik siang ini. Bukan Devan jika tidak menerimanya.
“Tunggu disini, gue ambil tas sebentar,” pinta Devan, dan lagi-lagi dituruti Starla.
Entah ada magnet apa pada Devan, Starla lebih menurut padanya akhir-akhir ini. Dan Devan suka jika gadis itu tidak melawan padanya. Biasanya Starla akan cerewet dan membalas setiap ucapannya.
“La,” bisik Devan.
“Ish, Devan! Ngagetin,” decak Starla. Cowok itu terkekeh dan langsung mengambil duduk disampingnya.
“Kirain lo nggak nonton pertandingan tadi. Penasaran ya, pacarnya main futsal?”
Starla menyerngit. “Aku nggak punya pacar!”
“Gue.”
“Emang aku udah bilang iya?”
__ADS_1
Devan menatap tajam Starla. “Iya atau tidak, lo tetap milik gue.”
“Nggak ada ceritanya gitu,” tangkas Starla.
Devan melengos ke arah anak-anak Teknik yang mulai beranjak dari lapangan ini. Itu artinya tersisa dia dan Starla disini. Ia memakai kembali kaosnya.
“Aku perhatiin kamu selalu pakai kaos hitam,” celetuk Starla.
“Udah mulai sayang?” Devan menggodanya.
“Dev, aku serius. Kamu nggak ada kaos yang warnanya merah atau putih atau apapun selain hitam?” tanya Starla.
“Nggak…”
“... ibaratkan kaos hitam, gue selalu mau lo,” imbuh Devan.
Starla tertegun, menelan salivanya kasar.
"Tato wajah di sisi kanan perut kamu itu Papi dan Mami kamu?" tanya Starla penasaran. Sudah tidak ada topik lagi.
"Lo lihat kapan?" Devan menyeringai nakal.
"A-aku lihat pas di Pantai kemarin," jawab Starla.
“Lo suka?”
"Suka? Suka apa?" Starla semakin dibuat salah tingkah. Ia menggeser duduknya karena Devan mulai mengikis jarak diantara mereka.
"Tato yang ada di badan gue. Kalau udah suka, gue nggak perlu hapus buat jadi tipe cowok idaman lo ‘kan, La?”
Kali ini, Starla menelan saliva dengan susah payah. Wajah mereka sangat dekat, dan Starla bisa melihat netra hitam legam itu secara dekat.
"Dev?"
“Hm…,”
“Ini terlalu dekat. Aku nggak nyaman,” cicit Starla.
"Shut up," bisik Devan tepat didepan bibir gadis itu.
“Starla, can I kiss you?” Cowok itu menatap dalam mata Starla, menautkan helaian rambut gadis itu ke belakang telinganya.
Jujur saja, Starla sedang menahan nafas. Ia menggigit bibir dalamnya ketika Devan mulai memiringkan leher dan menatap bibir mungil yang belum dijamah cowok manapun selain Devan yang kemarin sempat mengecup sekilas di Pantai.
Cup…
Starla terhenyak. Ciuman itu tepat pada keningnya. Devan mengulas senyum semanis mungkin untuk gadis pujaannya itu.
“Ayo, pacaran. Jatuh cinta sama gue, dengan syarat kita nggak akan pernah putus,” ucap Devan.
****
Suara ketukan pintu menggerakan hatinya agar segera membuka pintu. Devita segera membuka pintu, dan mendapati seorang lelaki berjas hitam yang berdiri membelakanginya.
Wanita bersyal merah itu berdehem. “Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Pria yang tingginya sekitar 180 cm itu berbalik. Devita seketika memegang tuas pintu, nafasnya terasa berat. Pria itu memandangnya sendu.
Edward Kale Atmaja
“Kale?”
“Rani. Devita Maharani,” sebut pria itu.
Sekelebat kenangan masa lalu membuat wanita itu menangis di tempatnya.
“Berapapun yang kau minta, akan kuberikan. Dengan syarat, tinggalkan Kale setelah bersalin nanti dan anak itu tetap disini bersama kami.”
“Namanya Starla. Starla Meisya Admaja. Tetaplah di Jakarta, Rani. Aku akan menjemput kamu dan Starla.”
“Rani, keluar dari Jakarta. Bawa Starla sejauh mungkin. Jangan biarkan Tuan Aryanto menemukan Starla. Kamu sudah melanggar janji.”
“STARLA TIDAK DISINI, KALE. ANAKMU SUDAH TIADA. STARLA TIDAK BERSAMAKU,” teriak Devita memohon pada Kale.
“Rani, tidak ada yang perlu kamu tutupi. Starla sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan mandiri. Dia mirip denganku, mirip Ibuku yang kau beri nama Meisya,” ucap Kale.
“DIA BUKAN ANAKMU! DIA ANAKKU! DIA BUKAN KETURUNAN ATMAJA, KALE!”
“Rani…” Kale menatapnya sendu.
“PERGI, KALE! STARLA ITU MILIK AKU.”
“Milik Kita. Starla milik kita, dan juga Ibuku,” sanggah Kale. Namun, belum sempat Kale berbicara lagi, asma Devita kambuh.
***
Hello You Cafe malam itu sangat padat pengunjung. Mungkin karena memasuki weekend. Starla mendapati shift malam karena harus menggantikan salah satu waiters yang sedang sakit. Padahal harusnya dia libur malam itu.
“Starla, ada delivery dari Devandra Brawijaya. Dia mau kamu yang antarkan,” ucap manajer Cafe.
“Tapi, aku masih harus antarkan pesanan di meja empat,” sahut Starla.
“Sudah, nanti itu menjadi tugas Lani,” sanggah wanita itu.
Starla pun bergegas melepaskan apron, dan membantu untuk menyiapkan pesanan. Pembayarannya di tempat, dengan nilai sebesar satu juta lima ratus.
Setengah jam, waktu yang ditempuh untuk Starla mengendarai motor. Sebenarnya Starla tidak bisa mengendarai kuda besi itu, namun pekerjaan yang menuntut dia harus bisa mengendarainya.
Basecamp Acme.
Starla berhenti disana, sesuai dengan tempat yang diberikan manajer dari Devan. Ia cepat-cepat turun dan menekan bell dari pintu gerbang. Basecamp itu lumayan besar, dengan plang pada pintu masuk yang bergambar tengkorak menggigit setangkai bunga mawar, sama seperti pada tato yang ada kaki dan tangan Devan.
“PERMISI!” teriak Starla karena tak kunjung ada yang membukakan pintu untuknya.
“DEV! INI STARLA,” terik Starla.
“DEVAN!!!”
Tak ada yang menyahut, Starla pun menunggu di depan sana. Mencoba menghubungi Devan, namun ponsel cowok itu tidak aktif. Air mata Starla membendungi pelupuk mata. Bagaimana dengan orderan makanan ini? Devan tidak merespon sama sekali.
Dering ponselnya membuat Starla terperanjat dari lamunannya. Panggilan dari Ibu Riana, salah satu tetangganya.
“Hallo, Bu.”
“Starla, ke rumah sakit Adhyaksa sekarang. Asma Ibu kamu kambuh,” seru Ibu Riana dari seberang sana.
Syaraf-syaraf lututnya terasa lemas. Ibu Riana mematikan panggilan itu karena merasa Starla tak ada jawaban lagi. Starla jatuh terduduk di samping motor, menangis sejadi-jadinya disana.
“Ibu…,” jerit Starla.
Tangisan Starla semakin meradang ketika ia melihat orderan makanan yang begitu banyak.
“Dev, ini yang kamu bilang di Anyer kemarin?” Starla tertunduk, air matanya jatuh pada box delivery itu
“.... kamu nyakitin aku.”
***
“Ibu kamu sudah ada di ruang perawatan. Kamu tidak perlu khawatir,” ucap Ibu Riana, menenangkan Starla.
Starla datang dalam keadaan yang sangat berantakan. Rambutnya terlihat sangat lepek karena keringat yang bercampur dengan air mata. Ibu Riana memberikan sebuah rincian pembayaran perawatan Devita pada Starla.
“La, kamu jangan memikirkan untuk melunasi uang ini. Ibu ikhlas membantu kamu dan Ibumu,” ucap Ibu Riana mengusap surai hitam gadis itu.
Starla mengusap air matanya. “Kasih Starla waktu, Bu. Uangnya ada, hanya saja Starla harus tutup kerugian Cafe karena orderan yang dibatalkan.”
Ibu Riana tersenyum sendu. Starla benar-benar anak yang berbakti kepada Ibunya. Dia rela mengambil dua pekerjaan part time hanya untuk memenuhi kehidupan mereka.
“Kamu harus melihat Ibumu sebelum kembali ke Cafe. Ibu yang akan menemani Ibumu disini sampai kamu kembali,” ujar Ibu Riana.
__ADS_1
Starla mengangguk dan masuk ke kamar rawat Devita. Ia menghampiri Devita dan terbaring lemah di atas brankar. Mata Devita terlihat sembab.
“Ibu menangis?” gumam Starla.
***
Fakultas Management, Teknik, dan Sastra berada di satu lokasi yang sama. Itulah sebabnya malam itu kampus sangat ramai. Seluruh mahasiswa semester enam mendapat pembekalan sebelum turun ke lapangan untuk magang mulai pekan depan.
Devandra, Yehezkiel, Darren dan juga Juna bertemu di salah satu koridor yang menghubungkan Fakultas Teknik dan Management.
“Dev, Mami lo kasih izin lo magang di Andrean Corp?” tanya Juna.
“Izinlah, mana mau Tante Helsa lepasin anaknya gitu aja,” celetuk Darren.
“Terus lo, El? Udah isi belum Lia?” tanya Juna menggoda sahabatnya.
“Bangke, belum ada sebulan nikah!” maki Devan.
“Tapi, yang namanya perjodohan mah, gue jamin El belum sentuh Lia. Ngaku lo, Yehezkiel!” desak Darren.
“Setuju,” Juna nimbrung.
“El, kasih kita berempat keponakan. Gue pengen lihat benih lo pasti bule Amerika bentukannya,” celetuk Devan.
Juna dan Darren tergelak.
“Kasih kembar sekalian,” celetuk Juna.
“Belajar sama Papinya Devan, anaknya bisa sepasang gitu. Mana pakai rencana lagi katanya,” imbuh Juna.
“Gue pernah punya adik kembar, tapi Mami keguguran.”
“Lo serius, Dev?” Mimik wajah Yehezkiel seketika berubah.
“Hm. Tapi, nggak usah dibahas lah,” tukas Devan.
Ketika keempat cowok itu sedang asyik berbincang, salah satu mahasiswa menghampiri mereka.
“Dev, sorry gue nimbrung,” ucapnya, “mobil lo, Dev.”
“Di derek?” tebak Juna.
“Nggak. Lo lihat sendiri, Dev!”
Mereka saling bertatapan satu sama lain, kemudian memutuskan untuk ke parkiran kampus.
Sedangkan di parkiran kampus, sudah ramai dengan para Mahasiswa yang melihat aksi Starla menyiram semua makanan dan minuman orderan Devandra ke atas kap mobil cowok itu.
“STARLA!”
Kiki menghampiri sahabatnya yang tengah menyiram makanan disana. Starla tak berhenti sampai Kiki yang menghentikannya.
“La, nggak gini caranya,” tegur Kiki. Seharusnya malam itu Starla juga mengikuti satu mata kuliah lagi, namun dia meminta izin karena harus bekerja satu shift malam ini.
“Ki, aku emang orang nggak punya, tapi nggak gini caranya dia memperlakukan aku,” jerit Starla.
“Iya, La. Tapi, harus lo ngomong baik-baik sama Devan. Dia pasti punya alasan sendiri kenapa batalin orderan ini,” sanggah Kiki.
“WHAT THE ****!” pekik Darren.
Devan mendelik tatkala melihat Porsche miliknya sudah dilumuri makanan siap saji.
“La…,” Devan tidak mempermasalahkan mobilnya.
“APA?!”
Devan tersentak ketika Starla menghardiknya. Gadis itu menatapnya penuh amarah dan air mata yang hampir jatuh.
“Jelasin ke gue! Apa maksud semuanya?”
“KAMU MASIH PURA-PURA NGGAK PAHAM, DEV? SEHARUSNYA AKU YANG NANYA SAMA KAMU!”
“AKU SALAH APA SAMA KAMU?” teriak Starla.
Semua yang ada di parkiran menonton perdebatan sepasang manusia itu. Starla tersenyum pahit, bibirnya mencebik menahan tangis yang hampir pecah.
"Orang kayak kamu itu, nggak akan pernah ngerti gimana susahnya nyari uang!" teriak Starla di tengah parkiran gedung fakultas Management.
Gadis berbando putih itu mati-matian menahan air matanya, namun tak disangka cairan bening itu sudah meluruh pada pipinya. Devan belum paham dengan maksud perkataan Starla.
“Starla, ngomong baik-baik. Maksud lo apa ngomong gitu sama Devan?” tanya Yehezkiel.
“Kalian semua sama aja. Orang kaya sombong!” cetus Starla.
Starla menangis. Ia meraih ponselnya dan menunjukkan struk orderan atas nama Devandra Brawijaya.
“Devan, aku emang miskin. Nggak kayak kamu yang punya banyak uang. Kalau kamu berniat pamer, nggak gini caranya,” ujar Starla.
“La…,” Devan hendak menyentuh pipi Starla, namun langsung dicegah gadis itu.
“Aku nyesel kenal sama kamu, Dev.”
“Bukan gue, Starla. Demi apapun itu bukan gue,’ sanggah Devan.
“DEVANDRA BRAWIJAYA DI KAMPUS INI CUMA KAMU!” Starla nampak frustasi karena Devan tidak mau mengakui kesalahannya.
Mendengar suara Starla yang meneriakinya membuat Devan marah. Marah pada dirinya sendiri.
"Gue tekankan sekali lagi sama lo, BUKAN GUE YANG ORDER MAKANAN ITU!" hardik laki-laki yang kini semakin mendekatinya. Emosi Devan naik seketika.
Mata hitam legam setajam Elang itu menyorotnya dengan kemarahan yang besar. Urat-urat pada leher dan pelipisnya mencuat. Tidak. Devandra tidak akan main tangan dengan perempuan. Sejak kecil, ia diajarkan bagaimana seorang laki-laki harus menghargai manusia yang katanya sudah melahirkan peradaban. Apalagi perempuan itu bernama Starla. Gadis pujaannya.
"Dev…,” Starla memanggilnya. “Dari semua customer Cafe, kenapa harus kamu?" tanya Starla, "kenapa harus kamu yang nyusahin aku kayak gini?"
"Bukan gue!" decak Devan.
Starla tertawa getir, ia mengusap pipinya. Devan benar-benar tak ingin mengaku.
"Gadis bodoh. Orang kaya memang harus jaga image," ucapnya seketika.
Starla beranjak dari sana dengan membawa box delivery. Semua yang menonton pertengkaran itu bubar ketika Juna menghardik agar mereka semua meninggalkan parkiran.
"Selamat menikmati hari tanpa Starla. Nggak akan ada lagi alasan lo buat godain cewek itu. Dia beneran benci sama lo, Dev," ujar Yehezkiel.
Devan tersadar dengan omongan Yehezkiel. Ia segera mengejar Starla menuju parkiran motor. Sepanjang langkahnya, Starla menangis.
“Starla, dengerin gue! Gue nggak berniat bentak lo barusan,” Devan menarik tangan gadis itu agar mau berhenti.
“Aku nggak mau ketemu kamu. Tinggalin aku, Dev,” ucap Starla, serius.
“Nggak. Lo disini sama gue. Kita perbaiki semuanya,” kata Devan.
“Nggak ada yang perlu diperbaiki, Devandra. Semuanya sudah jelas.”
“Jangan memutuskan segala sesuatu sepihak. Kalau salah diperbaiki, bukan pergi gitu aja!” hardik Devan, menatap tajam Starla yang juga sedang menatapnya.
“Dev…,” Starla menatap Devan dengan perasaan yang sulit diartikan. Gadis itu menangis hingga sesenggukan.
“La, trust me.” Mata Devan memerah.
“Semuanya salah, Dev. Seharusnya perasaan ini nggak pernah ada,” tutur Starla.
“Starla…,” Devan tercekat.
“... do you love me?”
Diamnya Starla adalah jawaban bagi Devan. Ia menggeleng lirih, ingin memeluk Starla namun gadis itu menjauh.
“Kamu hanya perlu ingat kalau aku akhirnya jatuh cinta sama kamu,” ucap Starla.
__ADS_1
Devan menggeleng lirih. “Don’t leave me, Starla.”