
Dentuman musik EDM terasa memekak di telinga. Aroma alkohol menguar di setiap sudut ruangan. Kepulan asap rokok dan vape turut menghiasi langit-langitnya. Malam itu Yehezkiel dan Juna akhirnya menemani Devandra pergi ke salah satu klub malam besar yang ada di daerah Jakarta Selatan. Dragonfly.
Bukan. Bukan Klub milik Kakak Darren.
Yehezkiel dan Juna tidak mau terjadi sesuatu pada sahabat mereka dan membuat pria itu menyesal dengan semuanya.
See? Ada seorang perempuan yang menemani Devandra minum di sudut ruangan ini. Yehezkiel yang sudah pensiun dengan semuanya merasa muak kembali lagi ke tempat ini. Apa dia perlu mengirim foto Devandra kepada Helsa?
"EL! LO PULANG AJA, BIAR GUE YANG DISINI!" ujar Juna sedikit berteriak.
"Ingat, yang bisa kendalikan dia cuma gue," sahut Yehezkiel kemudian kembali memantau Devandra dari jarak yang cukup jauh.
Yehezkiel dan Devandra saling mengenal ketika duduk di bangku SMP. Adryan menyekolahkan anak lelakinya itu di sekolah yang berada dalam naungan Kristen. Itulah sebabnya Devandra dan Yehezkiel sudah seperti saudara.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya perempuan yang duduk disebelah kanan pria itu. Namanya Jessi.
Devandra terkekeh. "Bukan hal yang penting." Kemudian ia merangkul Jessi, mencumbu leher jenjang perempuan itu.
"Gue selalu suka wangi lo," bisik Devandra.
Jessi tersenyum canggung. "Selalu?"
"Hm," Devandra mengendus lengan telanjang perempuan itu dengan manja. "Lo itu candu, La."
Wajah Jessi pias mendengar Devandra menyebut nama gadis lain. Walaupun dia hanyalah perempuan yang dibayar Devan, tapi dia cukup tertarik dengan pria ini. Karena sudah beberapa kali Jessi menemani Devandra disini.
"Aku permisi sebentar," ujar Jessi yang kemudian beranjak.
"LA, MAU KEMANA LAGI? SUDAH CUKUP EMPAT TAHUN, LA. GUE CAPEK, BANGSAT!"
“LO ITU EGOIS, STARLA MEISYA!”
Devandra hampir menyusul Jessi kalau saja Yehezkiel dan Juna tidak menghampirinya dan memapahnya duduk di Sofa.
"El, Juna… Gue kurang apa sama dia, hah!"
"Tenang, jangan buat gue emosi sama lo. Jadi cowok jangan lembek soal perempuan," hardik Yehezkiel.
"Gue temenin lo minum. Demi lo, gue minum lagi," sebut Yehezkiel.
Yehezkiel yang memang sudah berhenti akhirnya malam itu kembali menyentuh minuman haram hanya untuk menemani sahabatnya. Menag Devandra ini selalu merepotkan kalau perasaannya diguncang.
Lalu …
__ADS_1
"El, lo disini juga?"
Yehezkiel mendongak, mendapati Charlos berdiri di dekat meja mereka. Sedangkan Devandra masih tertunduk sejak tadi.
"Temenin orang patah hati," celetuk Yehezkiel. Charlos mengangkat alisnya memperhatikan Devandra.
"Gabung Pak," tawar Juna.
"Siapa?" tanya Devan. Mata hitam legam itu langsung bertumbuk dengan Charlos. Devandra tertawa melihat saingannya ini. Sepertinya Bos Trinity juga siap bersaing untuk Starla.
"Dev…," tegur Yehezkiel.
"Shut up," Devandra dengan jari telunjuknya menahan Yehezkiel dan Juna agar tak usah ikut campur.
Pria yang masih lengkap dengan kemeja kerja ini menarik kerah kaos yang dipakai Charlos. Devandra mabuk karena sudah terlalu banyak menenggak banyak alkohol.
"Lo masih ingat Proyek Apartemen Nusa Indah milik Toro Grup Company?"
Charlos menyeringai. Dia ingat betul proyek incarannya yang jatuh ke tangan Andrean Corp.
"Gue bisa kasih yang lebih dari itu, asal lo batalin pernikahan itu. She's mine. Starla milik gue, Charlos Diego," cetus Devandra, berusaha berdiri sekuat tenaga.
Charlos tertawa, mengejek Devandra yang lemah seperti sekarang. Sudah diduga, sekretarisnya dan juga CEO perusahaan saingan nya ini memiliki masalalu yang belum selesai.
"Charlos, lo jangan tanggapi Devandra. Dia mabuk berat," sanggah Yehezkiel.
"GUE SERIUS SAAT GUE BILANG, GUE MAU STARLA!"
Devandra menarik kerah kemeja Yehezkiel. "LO PERNAH ADA DI POSISI GUE, EL!"
Nafas Devandra memburuk hebat. Ternyata gampang sekali menjatuhkan seorang Devandra pikir Charlos. Dia rela mempertaruhkan proyek 17 Triliun hanya untuk seorang sekretaris yang bahkan berasal dari kalangan bawah.
Ketika Devandra hampir melayangkan pukulan kepada Charlos, Yehezkiel langsung memukul punggungnya agar pria itu pingsan dan gagal membuat keributan di Dragonfly. Dan benar, detik itu juga Devandra jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
"Jun, bawah pulang bos lo," perintah Yehezkiel.
***
"Mi, nungguin Papi?" Cemara duduk disamping Helsa dengan ipad ditangannya. Calon dokter ini walaupun sedang liburan pun tetap sibuk. Gadis kecil Adryan Brawijaya sudah beranjak dewasa, sore tadi dia kembali ke Jakarta karena liburan semester selama satu bulan.
"Nungguin kakak, Papi ada jadwal operasi tadi jam sembilan," jawab Helsa.
Malam semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Devandra belum masuk rumah, padahal kata Ami, meeting tender itu sudah selesai dari pukul enam sore.
__ADS_1
Ting….
Bunyi bell dari pintu utama membuat Helsa langsung beranjak membuka pintu. Tadinya wanita itu berpikir kalau itu adalah Adryan, namun ada Yehezkiel dan Juna yang sedang memapah anak lelakinya.
"Malam Tante," ucapan Juna dan Yehezkiel.
"Dia mabuk?" tanya Helsa yang diberi anggukan dua pria itu.
"Tolong kalian anterin ke kamarnya," pinta Helsa. Yehezkiel dan Juna membawa Devandra ke kamar melalui lift di rumah itu. Capek sekali harus melalui tangga sampai lantai tiga.
Juna dan Yehezkiel langsung pamit karena besok mereka harus bekerja lagi. Cemara yang mengantar keduanya sampai pintu rumah.
"Bang El, nanti Ara main ke rumah ya?"
"Boleh, tapi datangnya sore aja. Kalau pagi rumah kosong," jawab Yehezkiel.
Sebagai info, Cemara adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang mengidolakan Yehezkiel. Entah lah, Devandra pun heran kenapa Cemara terobsesi pada sahabatnya.
Sedangkan di kamar, Helsa sibuk melepaskan sepatu anaknya. Dia menatap kasihan pada Devandra. Hanya ada satu perempuan yang bisa membuat anaknya seluka ini, dan mungkin termasuk dirinya.
***
"Tuan Kale, saya sudah menemukan keberadaan Ibu Rani dan putri anda."
Kale yang sejak tadi menatap keluar ruangan kerjanya seketika langsung menoleh cepat pada Wandi, orang suruhannya.
"Kamu serius?"
Wandi mengangguk mantap. "Putri anda adalah sekretaris Charlos Diego. Tuan pasti tidak asing dengan CEO Trinity tersebut."
Starla bekerja sebagai sekretaris Charlos Diego? Itu berarti saat ini, Rani dan Starla kembali menetap ke Bandung.
Ingatan Kale berputar kembali empat tahun silam. Ketika Rani memintanya pergi saat mengantarkannya ke rumah sakit hari itu bersama tetangganya. Kale juga melihat dan mendengar dengan terang-terangan Rani meminta tetangganya itu untuk tidak memberitahu kepada Starla bahwa ada pria yang bersamanya ketika asma nya kambuh.
Apa yang membuat Rani begitu ketakutan akan keberadaan Starla?
Sudah cukup hidup Kale hancur dengan kepergian Rani dan Starla. Sekarang Kale akan menjemput dua perempuan itu.
"Kale….," panggil wanita paruh baya yang duduk pada kursi roda.
"Mama," Kale menghampiri Ibunya. Namanya Meisya, nama yang diberikan Rani untuk Starla.
Meisya mengusap surai hitam lebat anaknya. "Ma, bantu Kale jemput Rani. Cuma Mama yang bisa bawa pulang Rani dan Starla."
__ADS_1
"Starla?" gumam Meisya. "Starla cucu Mama, Le?"
Kale mengangguk, membenarkan hal itu. Dulu Meisya berpikir bahwa janin yang dikandung Rani sudah tiada, namun dia salah, janin itu sudah menjadi gadis cantik dan mandiri. Kale sendiri tidak pernah mengatakan tentang pencarian Rani pada Meisya.