
"Starla…," panggil Meisya.
Gadis itu memandang wanita paruh baya yang memanggilnya. Air matanya meluruh, Devandra langsung memeluk calon istrinya.
Starla mendongak, tatapannya dan Devandra bertemu. "Aku punya keluarga lengkap seperti kamu, Yang?"
Devandra tersenyum kecil, lalu mengangguk. Sedangkan di tempatnya, Edward menunduk sambil menangis di pundak Mamanya.
"Tapi, kenapa baru datang sekarang?" tanya Starla pada Devandra.
Meisya berjalan dengan kursi roda menghampiri Starla yang masih berada dalam pelukan Devandra. "Oma, Papa, dan Ibu, akan menjelaskan ini pada Starla."
Wanita paruh baya tersebut lalu menghampiri Devita. "Rani, dengarkan Mama. Setiap hari tidak pernah Mama mendoakan kamu dan Starla, karena Mama yakin kalian selamat dari kejamnya suami Mama."
"Rani, pernikahan Kale dan Novita tidak berlandaskan cinta. Novita dan Kale korban keegoisan orang tua mereka. Novita sudah kembali pada pria yang dia cinta sejak enam tahun silam," terang Meisya.
Meisya melempar pandangannya pada Edward. "Sedangkan anak Mama. Sejak perceraian itu, Kale selalu mencari kamu dan Starla."
Devita tersenyum, ia duduk berjongkok di depan kursi roda wanita paruh baya tersebut. Devita menggenggam tangan Meisya.
"Sudah seharusnya Starla kembali ke rumahnya. Rasanya, tugasku sudah selesai," lirih Devita. "Aku kembalikan Starla pada Kale dan Mama. Starla memang harus kembali pada pemiliknya. Dan itu adalah Kale."
"Enggak!" bantah gadis itu. Starla melepaskan pelukannya. "Starla milik Ibu. Dari kecil, Starla sama Ibu. Sekarang, Starla punya satu orang lagi. Starla hanya punya Ibu dan Devan. Starla nggak butuh siapa-siapa."
"La," tegur Devandra.
"Devan, seharusnya kamu nggak ngelakuin ini."
"Starla dengerin Ibu-"
"Nggak! Starla nggak mau dengar," pekik gadis itu, menutup telinganya. Gadis itu menangis.
"Starla." Kale menghampiri gadis itu. "Marah Papa. Salahin Papa yang nggak bisa jaga Starla dan Ibu," kata Edward.
Starla tertawa dengan derai air mata. Hatinya terluka melihat sosok pria yang kata Devandra adalah Ayah kandungnya. Memang benar. Starla tidak munafik, hari ini adalah jawaban dari banyaknya pertanyaan dan lontaran tetangga yang mengatakan bahwa Starla tidak ada kemiripannya dengan Devita.
Starla mengakui bahwa ia mirip dengan pria dihadapannya sekarang.
"Dari kecil Starla nggak pernah nanyain tentang siapa Ayah Starla. Dimana dia. Starla takut nyakitin perasaan Ibu," katanya dengan menatap Edward.
"Starla," panggil Edward.
"Starla iri sama Devan yang punya keluarga lengkap," terangnya pada Edward. "Starla takut nggak diterima oleh keluarga Devan karena Starla nggak punya Ayah."
"Starla punya Papa," tegas Edward.
"Iya. Starla punya Ayah," sebut gadis itu.
Devita, Meisya, dan juga Devandra mendengar dan memandang percakapan dua orang yang sudah dipisahkan belasan tahun.
__ADS_1
"Devan…," panggil Starla. "Aku punya Papa sekarang."
Tangis gadis itu pecah ketika Edward memeluknya. Beginilah rasanya dipeluk seorang Ayah? Teduh sekali. Starla memeluk Edward lebih erat.
"Starla dan Ibu nggak sendiri," seru Edward. "Nggak ada lagi yang jauh. Nggak ada lagi yang pisahkan kita. Papa mencintai Starla dan Ibu."
***
Bunyi sepatu pantofel menggema ke seluruh ruangan di lantai satu. Pria dengan tuxedo putih itu terlihat rapi, dengan bunga mawar merah pada saku.
Wanita yang hari ini berulang tahun ke empat puluh dua tahun menuruni anak tangga, dengan sang suami yang tak melepas rengkuhan di pinggangnya.
Helsa cantik dengan dress berwarna putih, dan Adryan yang sangat maskulin dengan jas hitamnya.
"Selamat Ulang Tahun, Mami. Ini hadiah untuk Mami, tidak mewah seperti apa yang selalu Papi kasih," ucapan Devandra melankolis.
Helsa tertawa, menahan air matanya yang hampir luruh. "Anak Mami ganteng. Peluk Mami," seru Helsa.
Melepas pelukan itu. Devandra kemudian berpaling dan memeluk Adryan.
"Papi…, restui Devandra kecil ini melantunkan ijab-kabul sampai selesai. Doakan Devandra bisa seperti Papi yang selalu mencintai Mami, walaupun sering minta pisah terus," pinta Devandra diselingi tawa.
Hari itu, bertepatan dengan hari ulang tahun Helsa.
Bali, 01 September.
Adryan memeluk Devandra. Lebih lama dari Helsa, batinnya menangis. Devandra kecilnya akan menikah, dan memiliki keluarga sendiri.
"Ara nggak dipeluk juga?" Gadis kecil Devandra, itu adalah sebutan Devandra.
"Ayo, Sayang," Helsa menghampiri Cemara dan membawa gadis itu dalam pelukan hangat itu.
Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin Adryan menciptakan nama Cemara Ayudhia saat Devandra masih dalam rahim Helsa. Sekarang, anak-anak itu sudah tumbuh dewasa. Memiliki pasangan masing-masing dan meninggalkan mereka.
"Kalau twins itu ada, pasti kita ramai ya, Papi," sebut Cemara tiba-tiba.
"Mami ok?" Devandra memastikan perasaan Helsa ketika adik kecilnya membahas adik kembarnya itu.
Manusia diciptakan dengan berbekalkan akal dan perasaan. Meskipun sudah belasan tahun yang lalu, Helsa bahkan masih menyimpan buku catatan kehamilan milik bayi kembarnya itu dan juga foto USG.
Helsa mengangguk kecil, kemudian tersenyum. "Mami punya Devandra dan Cemara. Sebentar lagi, bakal ada Starla juga, 'kan?"
"I love you so much." Adryan mengecup pelipis Helsa, lama. "Happy Birthday, my dear."
"Hadehhhh, bucin nggak tau tempat dan umur," sarkas Devandra dan Cemara.
****
"Ananda Azlan Devandra Van Brawijaya bin Adryan Brawijaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Starla Meisya Atmaja, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar satu milyar, dibayar tunai."
__ADS_1
Dengan satu kali tarikan nafas, Devandra mengucap Kabul dengan mantap. "Saya terima nikah dan kawinnya Starla Meisya Atmaja binti Edward Kale Atmaja dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai."
"Para saksi, sah?"
"Sah!"
Pernikahan dengan tema outdoor itu berlangsung di sebuah Villa besar di Bali milik Jefri-om dosen kesayangan Devandra.
Pernikahan yang dipersiapkan dengan sematang-matangnya sudah terjadi hari ini. Semua kolega perusahaan datang, bahkan dari mancanegara. Devandra memang ingin dunia tahu bahwa hari ini dia sudah menang.
Dari jarak dua meter, tiga pria beserta anak dan istri mereka tersenyum puas. Devandra akhirnya mendapatkan Starla.
Para tamu undangan yang tadinya duduk, kini beranjak berdiri, menyambut pengantin wanita yang didampingi dua bridesmaid, tidak lain adalah dua sahabat Starla. Kiki dan Lani.
Hembusan angin laut, dan lagu Beautiful in white bersahut-sahutan dengan deburan ombak. Hari ini Devandra banyak tersenyum. Di depan sana, Edward meraih tangan anak gadisnya, dan menyatukannya dengan Devandra.
"Cantik sekali," bisik Devandra.
Starla duduk disamping Devandra. Memasang cincin, lalu berciuman satu sama lain. Sorakan terdengar dari para tamu undangan ketika Devandra memekik kesenangan di pelaminan.
Sebahagia itu kah, Devandra mendapatkan Starla-nya.
Mulai dari akad hingga sungkeman pagi itu berjalan dengan lancar. Helsa tak henti menangis ketika Devandra mengatakan bahwa dia adalah anak laki-laki milik Mami selamanya.
Resepsi pernikahan malam itu masih dengan tema outdoor Rustic, hanya membedakan adalah lokasinya. Acara meriah, dan juga megah. Devandra benar-benar membuat pernikahannya sesempurna itu. Katanya, ini sekali seumur hidup.
Satu persatu orang terdekat Devandra dan Starla memberikan wejangan untuk pengantin baru itu.
Adryan salah satunya.
"Devandra." Adryan memandangnya sejenak.
"Pertama kali diberitahu Maminya bahwa dia ke Bandung untuk melamar Starla, saya gelisah luar biasa. Saya takut dia akan ditolak gadis cantik itu. Dia membawa cincin lamaran milik Maminya, dan saya pun memberi ancaman pada dia. Kalau kamu nggak bisa bawah Starla jadi menantu Papi, nama kamu di Kartu keluarga hilang."
Semua orang tertawa mendengar cerita Adryan.
"Dia lagi nyetir ke Bandung saat saya telpon siang itu. Tapi, setelah satu hari anak ini menghilang, dia pun akhirnya menghubungi kami. Dia telepon saya seperti ini katanya 'Papi, she said yes!'"
"Dua minggu setelahnya. Kami keluarga besar ke Bandung untuk melamar Starla secara resmi," kata Adryan. "Namun kemungkinan minggu depan, nama Devandra beneran sudah saya hapus dari Kartu Keluarga."
Di Akhir kata itu, Devandra menghampiri Adryan dan memeluk Papinya. Semua bertepuk tangan. Suasana semakin mengharukan ketika Starla menghampiri Ayah dan anak itu, lalu Adryan turut memeluk menantunya.
Setelah Adryan, ada Jefri dan juga istrinya yang menceritakan singkat tentang Devandra. Barulah sang pengantin pria mengangkat segelas Sampanye ke atas.
"Starla Meisya. Kami berdua pisah selama empat tahun karena hal lain yang tidak bisa saya ceritakan disini. Mungkin kalau tidak bertemu dia, saya tidak akan berdiri disini sekarang."
"Mari bersulang untuk pengantin cantik saya malam ini," seru Devandra, kemudian semua mengikutinya, bersulang untuk mereka.
Hari yang luar biasa. Terukir manis nama dua anak manusia itu di pelaminan.
__ADS_1
Devandra dan Starla, meresmikan pernikahan mereka tepat di hari ulang Tahun Helsa. Kata Starla, ini kado besar darinya dan Devandra untuk Helsa.