
Dua jam setelah peristiwa itu, Starla kini sudah tertidur dengan nyaman pada kamar rumah sakit. Namun dengan kaki kiri yang dipakaikan gips. Saat tiba di rumah sakit Husada, dokter segera melakukan pemindaian dengan cara CT Scan. Tungkai kaki kiri Starla mengalami retak. Kata dokter, kemungkinan besar gips akan dilepaskan setelah dua atau tiga bulan, kemudian barulah melakukan fisioterapi.
Ada beberapa luka juga di bagian wajah Starla, namun itu hanya luka kecil.
“Devan?”
Devan menoleh pada Devita yang baru saja tiba bersama Edward. Perasaan bersalah yang sejak tadi menyerangnya semakin meradang ketika melihat orang tua Starla.
“Ibu,” lirih Devandra. Tatapannya begitu sendu, ia berdiri saat Devita berada di samping tempat tidur Starla.
“Bu, Devan minta maaf. Semua salah Devan,” ucap Devandra mencium punggung tangan Ibu mertuanya, dengan berdiri membungkuk.
“Hei, jangan seperti ini, Devan. Ini murni kecelakaan,” pungkas Devita.
“Kakinya dipasangkan gips?" tanya Edward.
Devandra melerai tangannya dari Sang mertua, ia menghampiri Edward yang berdiri di samping ranjang Starla terbaring sembari mengusap surai hitam anaknya.
"Kata dokter yang menangani Starla, tungkai kakinya retak dan bisa memakan waktu dua bulan untuk melepaskan gips," terang Devandra.
Edward melirik sekilas pada istrinya. "Nggak mau pindahkan ke Mawar Medika? Papa rasa disana jauh lebih aman karena dalam pengawasan Papi kamu juga," saran Edward.
Devandra terdiam. Kenapa dia tidak memikirkan itu sejak tadi?
Benar yang dikatakan Edward, akan lebih aman jika Starla dipindahkan ke Mawar Medika.
Sekitar pukul tujuh malam Starla siuman. Langit-langit ruangan berwarna putih yang ia lihat pertama kali. Ekor matanya bergerak mencari keberadaan Devandra.
Bunyi tuas pintu kamar terdengar, Starla kembali melirik ke sumber suara. Pria dengan pakaian santai itu datang dengan satu koper.
Devandra.
"Dev …," panggil Starla, setelah menetralkan penglihatannya.
"Sayang," Devan menghampirinya, memberi hujan kecupan pada kening istrinya. Hal itu membuat Starla sedikit meringis karena terdapat luka disana.
"Kaki aku sakit. Nggak bisa digerakin," adu Starla. "Kakiku diamputasi, Yang?"
Devandra menyanggah pertanyaan Starla, "hanya dipakaikan gips biar kamu istirahat aja di rumah. Tapi, lama. Nggak apa-apa, 'kan?"
Starla tersenyum tipis, namun tidak menutup raut wajah sedihnya. Gadis tersebut teringat akan kejadian yang menimpanya. Sejak disana, Starla yakin ia akan berakhir seperti ini, karena kakinya yang terjepit pada pintu mobil
"Juna gimana?" tanya Starla.
"Juna di ruangannya, Sayang. Sama seperti kamu, kakinya juga di gips. Maka dari itu aku sudah perintahkan Geovano mencari penggantinya."
Starla mendelik. "Kamu pecat Juna? Kamu jahat banget! Kamu nggak mikir gimana Juna buat ngelindungin aku!"
"Nggak pecat, by. Cuma sementara aja. Nggak mungkin, 'kan Juna kerja dengan keadaannya sekarang," sahut Devandra.
Starla langsung diam mendengar sanggahan suaminya, dengan tangan diinfus, ia mengusap matanya yang nyaris mengeluarkan cairan bening.
Devan kembali mengecup kepala Starla, mengusap surai hitam panjang istrinya. "Aku bisa jadi kaki buat kamu, Sayang. Jangan sedih, ya?"
Starla memandang kecewa wajah Devan. Tidak seharusnya seperti sekarang. Pasti Devan akan kesulitan merawatnya. Apalagi kesibukan pekerjaan pria tersebut.
"Mau sesuatu?"
Starla menggeleng lirih, hal yang membuat Devan tak suka melihatnya.
"Aku ada salah, by? Kamu kayak nggak seneng gitu," Devan menatapnya sendu.
"Aku kecewa karena nggak bisa jaga diri aku sendiri. Yangggg, aku sementara ini tinggal sama Ibu dan Papa, ya?"
"Tidak. Kita punya rumah dan aku bisa rawat kamu. Kita harus sama-sama terus," ketusnya menolak permintaan Starla.
Devan bertanggung jawab atas hidup Starla. Ia mencintai Starla dengan segala yang dimiliki istrinya.Mau bagaimanapun kondisi gadis itu, Devan sendiri yang akan menjaganya.
***
Pria dua puluh tahun itu bersedekap dada, punggung lebarnya ia sandarkan pada mobil. Sudah setengah jam lamanya ia berdiri disini⸺di parkiran sekolah yang pernah kekasihnya bekerja.
Senyumnya terbit tatkala melihat anak cowok berusia delapan tahun itu menghampirinya. Dia membawa serta tas tupperwar yang berisi bekalnya.
“Om tentara,” sapa anak itu ketika jarak mereka sudah lebih dekat.
Devandra, namanya. Ia berlari kecil untuk segera dekat dengan pria yang katanya adalah sahabat Maminya.
Devandra mencium punggung tangannya. Hal sederhana yang Devandra lakukan membuat cairan bening menggenangi pelupuk matanya.
Rafael Emilio⸺orang mengenalnya dengan nama itu. Lebih tepatnya nama setelah dia dibaptis.
“Om tentara, tadi kata Miss Diana, Mami nelpon. Katanya Om yang jemput Devan, ya?” tanya Devandra memastikan.
“Iya. Mau ‘kan pulang bareng?”
“Boleh, tapi belikan Devan ice cream, ya?” Anak ini⸺Rafael tersenyum, mengacak surai hitamnya.
Sebenarnya hari itu dia ingin membawa ke tempat dimana Devandra ingin datangi. Kemana saja, akan ia temani anaknya.
__ADS_1
Kata Devandra, dia ingin pergi ke Dufan, karena sudah lama mereka tidak kesana. Namun, sesuai permintaannya mereka membeli ice cream terlebih dahulu.
“Enak, nggak?” tanyanya.
Devandra mengangguk, dengan terus mengecap ice cream. Lalu, mata anak kecil itu menangkap sepasang anak kecil yang berlari ke dalam minimarket tadi.
“Om tentara, kata Papi, di perut Mami ada dedek bayi,” celetuk Devandra.
“Dedek bayi?” Rafael membeo, tangannya terulur mengusap ice cream yang menempel pada bibir anak kecil itu.
“Iya, Devan mau punya adik. Devan mau punya temen di rumah,” serunya.
Perasaan Rafael hari itu sedikit diguncang. Cemburu?
Iya, dia cemburu dan juga cemas. Cemas ketika akhirnya Helsa mengandung anak dokter Adryan, dan Devandra mungkin akan sedikit terlupakan.
“Devan…,” panggil Rafael.
“Iya, Om Tentara.”
“Papi Devan sayang Devan?” Ia bertanya dengan sangat hati-hati.
“Iya, sayangnya banyak.” Tangannya membentuk lingkaran besar, memberitahu bahwa Adryan begitu menyayanginya. “Dari kecil, Devan tinggalnya sama Papi.”
“Kalau Mami?” tanya Rafael.
Devandra tertegun, barulah beberapa saat ia menjawab, “Mami juga sayang Devan. Tapi, Mami sering marahin Devan kalau nakal."
"Mau Devan bisikin rahasia Mami nggak?" imbuhnya.
Rafael terkekeh, lalu mendekatkan diri pada anaknya. “Mami kalau kangen suka ngambek. Mami cengeng. Mami nggak bisa bobo kalau nggak ada Papi.”
Devandra lalu tertawa setelah memberitahu rahasia Helsa yang sebenarnya sudah Akmal ketahui, kecuali tidak bisa tidur tanpa suaminya.
Setelah selesai makan ice cream di kedai itu, Rafael mengajaknya untuk langsung ke Dufan.
"Sudah selesai?" tanya Rafael.
"Udah!"
"Ayo, kita berangkat!" Rafael menggenggam jemari kecil yang sekarang malah tertawa senang bersamanya. Devan sangat antusias. Bahkan tangan kecilnya bisa membuka pintu mobil yang akan dinaiki mereka. Ajaib sekali Devandra.
Karena itu bukan hari libur, Dufan sangat sepi pengunjung. Tidak jika sedang hari libur atau weekend, maka tempat rekreasi itu akan dipadati pengunjung. Bahkan terkadang pelancong yang datang dari luar kota. Dan disinilah Rafael membawa Devan sekarang.
“Devan mau main apa?” tanya Rafael .
Hysteria? Baru melihatnya saja Rafael sudah merasakan mual luar biasa. Lagian mana bisa anak seumurannya diberi ijin dan juga Rafael takut Helsa memarahinya.
“Devan sayang Mami nggak?” Rafael mulai mencoba untuk merayu Devan dengan membawa nama Helsa.
“Sayang banget dong,” balasnya, semangat.
“Kalau sayang sama Mami, jangan buat Maminya sedih. Devan tahu ‘kan Maminya Devan itu cengeng, jadi nggak usah naik Hysteria. Pasti nanti Maminya Devan khawatir dan sedih,” ucap Rafael dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.
Devan tertegun. Pandangannya masih tertuju pada wahana tersebut, namun pikirannya saat ini sudah pada Helsa. Membayangkan Maminya sedih karena dia.
Devan kemudian melempar tatapan pada Rafael, dan berkata, “om tentara, kata Papi, Mami itu ‘kan Surga. Kalau Devan buat Mami nangis, nanti Devan nggak dapat Surga dong.”
“Ya udah deh, naik yang lain aja. Tapi, om tentara harus belikan Devan permen kapas,” lanjutnya.
Habis duit lo, Rafael.
Rafael menghela nafas legah. Setidaknya Devan mau mengikuti perkataannya, walaupun berakhir dengan imbalan permen kapas.
Turangga Rangga menjadi wahana pilihan kedua Devan. Kini dua laki-laki beda generasi itu tengah menunggangi kuda pada komedi putar tersebut. Demi anaknya, Rafael mau menaiki wahana tersebut.
“Devan…,” panggil Rafael .
Devan menoleh padanya. “Hallo, ini Devandra,” sapanya pada kamera ponsel yang Rafael arahkan pada wajah gemas itu. Tangan kirinya sibuk memegang permen kapas, dan satunya lagi memegang pada tiang kuda.
“Kamu mau?” tawar Devandra, yang pastinya dia seolah sedang membuat vlog pada kamera ponsel tersebut. “Minta sama om tentara, Devan nggak ada duit.”
Rafael tertawa pelan. Cerewetnya turunan Helsa.
“Om tentara, fotoin Devan terus kirim sama Mami, ya. Bilang Devan seneng banget hari ini,” ujar Devan.
Sesuai permintaannya, Rafael mengirim beberapa foto, dan juga satu video pada Helsa. Seperti kata Devan, hari ini dia sangat bahagia. Semua bisa dilihat dari foto-foto tersebut.
Kalau saja ini mimpi, mungkin kisah ini adalah mimpi terburuk yang Rafael punya. Ingin sekali dia memeluk Devan dan mengatakan bahwa dari dialah anak tidak bersalah itu dilahirkan.
Helsa pernah mengatakan bahwa suatu saat nanti Devan akan mengenalnya sebagai Papa. Dan saat hari itu tiba, kemungkinan yang akan terjadi adalah Devan akan membencinya. Rafael siap menerima konsekuensinya.
“Ganteng banget anaknya,” puji salah satu wanita yang tengah mengantri ice cream.
Ya, setelah bermain dengan beberapa wahana, Devan meminta untuk membeli ice cream di salah satu kedai ice cream Turki.
Sebenarnya, Rafael ingin protes karena ini kedua kalinya Devan meminta ice cream. Tapi, ya sudah lah.
“Mirip banget ya, Ci,” kata wanita itu pada wanita yang lainnya.
__ADS_1
“Iya. Papa atau kakaknya?”
“Papanya Devan,” sahut Devan. “Papanya Devan ini tentara,” lanjut Devan dengan nada sinis.
Bocah sembilan tahun itu merasa risih dengan wanita-wanita yang mengantri ice cream. Hal itu sontak membuat Rafael terkejut. Devan mengatakan bahwa dia adalah Papanya.
Devan melempar tatapan pada Rafael, lalu mengedipkan matanya agar pria tersebut mengiyakan perkataannya yang sialnya memang benar. Rafael speechless yang membuat Devan harus mencubitnya dahulu.
“Iya, ini anak saya. Devandra namanya,” ujar Rafael, dengan suara yang lantang. Senyumlah benar-benar menandakan bahwa ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Hari ini, Devan memperkenalkan dirinya sebagai Papa, meskipun itu hanya alibi semata.
“Ayo, Papa, ice cream kita udah nih. Pasti Mama nungguin kita sekarang,” ujar Devan berakting. Rafael mengangguk, dan keduanya berlenggang pergi.
Merasa sudah jauh dari kedai, Devan melepaskan tautan tangannya dari Rafael .
“Om tentara, gimana aktingnya Devan? Udah cocok jadi pemain film. ‘kan?” Devan menaik turunkan alisnya, senyuman jahilnya itu sangat menggemaskan.
“Dev…,” panggil Rafael .
“Iya, om,” sahut Devan, lidahnya sibuk mencecap ice cream varian coklat tersebut.
“Om tentara sayang banget sama Devan. Sama seperti om sayang sama Maminya Devan. Tentang hari ini mungkin tidak akan bisa membayar semua salah om sama Devan dan Mami, tapi Devan harus tahu satu hal, Devan dan Mami tidak akan pernah tergantikan.” Rafael membersihkan sisa ice cream yang menempel pada sudut bibir kecil itu.
Devan masih terlalu kecil untuk bisa memahami itu semua. Kata sayang yang Rafael bicarakan mungkin bagi Devan itu hanyalah perasaan sayang dari seorang sahabat.
“Raf …,”
Ingatannya seketika lenyap saat suara seorang wanita memanggilnya dari dalam rumah. Ponsel yang menampilkan foto anak kecil itu ia matikan. Tatapannya tertuju pada wanita yang baru saja memanggilnya.
“Sudah siap?” tanya Rafael.
“Check in jam dua siang, kita ke pangkalan sebentar lalu ke Bandara,” katanya.
Langit kota Makassar siang itu cukup cerah. Pandangan Rafael terus keluar jendela, pikirannya sudah berada di kota Jakarta. Membayangkan seperti apa kota yang sudah lama mereka tinggalkan.
Hari itu Rafael dan Glenca⸺istrinya akan berangkat ke Jakarta untuk memenuhi undangan wisuda SMA anak perempuan mereka dan juga karena ia mengambil cuti. Anak itu memilih tinggal di Jakarta sejak SMP bersama Sang Kakek.
Sudah sembilan belas tahun mereka hidup bersama. Kehidupan rumah tangga itu terlihat baik-baik saja. Mereka saling mencintai, walau Glenca tahu ada seseorang yang masih menaungi hati suaminya, sekecil apapun itu.
Dan juga Devandra. Rafael masih selalu menyimpan foto anak lelakinya itu. Glenca merasa ia tidak memiliki kapasitas membicarakan perihal foto tersebut untuk menjaga perasaannya. Karena bagaimanapun, adanya Devandra bukan karena keterpaksaan, namun karena cinta dua remaja pada masa itu.
***
Di kamar rawatnya, Starla menyalakan televisi tanpa ia menonton. Sejak tadi, gadis itu memperhatikan suaminya yang sedang melakukan meeting online. Starla teringat akan kejadian penculikan itu.
"Kamu belum mengetahuinya? Kasihan sekali kamu, hm mungkin Devandra pun belum mengetahui bahwa dia hanyalah anak sambung Papinya.”
Starla belum bisa percaya orang-orang itu. Bagaimana bisa Adryan hanyalah Ayah sambung, sedangkan pria tersebut begitu mencintai anak sulungnya.
"Tidak. Aku nggak boleh percaya omongan lelaki yang bahkan aku nggak lihat wajahnya seperti apa," sanggah Starla dalam benaknya.
"Ehem …"
Lamunannya buyar saat mendengar suara itu. Starla tersenyum canggung karena merasa kedapatan sedang memperhatikan pria tersebut.
"Mau jalan ke taman nggak?"
"Emang boleh?"
Devandra yang memang sudah selesai meeting pun beranjak dari sofa, dan mendekati istrinya diranjang. Sudah hampir satu minggu Starla di rumah sakit, selama itu juga Devandra bekerja dari sana.
"Boleh, Sayang," jawab Devandra. "Tunggu disini, ya, aku ambil kursi rodanya."
Beberapa saat kemudian, Pria itu hadir dengan kursi roda.
"Nggak jadi, Yang!" decak Starla. Ia memalingkan wajahnya ke luar jendela. Melihat kursi roda, moodnya langsung berantakan.
"La…," lirih Devandra.
"Nggak mau, Devan. Aku muak lihat kursi itu. Aku mau tidur aja," ujar Starla.
Baiklah, lebih baik menuruti keinginan istrinya. Starla masih belum bisa menerima kenyataan persoalan kakinya.
"Mau sesuatu?" tanya Devandra.
"Mau bisa jalan aja. Biar kamu bisa kerja, dan aku bisa kuliah," jawab Starla.
"Aku lebih suka kamu di rumah, by," sahut Devandra. "Aku nggak suka kamu pulang pergi Bandung. Aku nggak suka-"
"Nggak suka kalau ketemu cowok di kampus aku?" sela Starla.
"Iya, lah." Devandra mencium pipi gadis itu secara paksa.
Katakan Devan egois hanya ingin istrinya menetap di rumah. Menyambutnya pulang, dan melayaninya sebagai mana mestinya. Pria itu hanya ingin Starla menjadi objek manisnya saja, bukan para lelaki di luar sana.
Devan yang bucin dan posesif yang hanya ingin Starla menjadi miliknya seorang.
"Cemburuan banget," celetuk Starla.
"Kalau nggak cemburu berarti nggak cinta," tutur Devan. Ia mengecup kening gadisnya itu. Gadis yang sempat membuat jarak waktu cukup lama di antara mereka.
__ADS_1