SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
MELEPAS RINDU 2


__ADS_3

Devandra menatap Starla penuh dengan api gairah yang sudah ia pendam dua minggu terakhir ini. Kecelakaan yang membuat kaki gadis-nya di gips, membuat pria itu tidak leluasa menikmati awal-awal pernikahan mereka. Dan malam ini, Devandra akan menuntaskan hasratnya. Ia merindukan berada di dalam gadis itu.


Dibukanya kemeja putih, memperlihatkan tato yang ada di badannya. Devandra meraih telapak tangan Starla dan menempelkan pada perut sixpack-nya itu.


“You miss touching my tattoo, Baby?”


Ia mendesah nikmat, ketika telapak tangan Starla mengusap lembut perutnya. Starla mengambil posisi duduk, secara perlahan dengan kaki yang masih terpasang gips itu. Devandra kembali memejamkan mata, ketika gadis-nya mengecup perut hingga dada.


Devandra dilanda gairah yang sudah meluap-luap. Ia merebahkan kembali Starla, lalu mencium dari wajah hingga ujung kaki. Starla belum terbiasa, walaupun sebelum kecelakaan terjadi, mereka bercinta hampir setiap malam. Maklum, pengantin baru gezzz.


Devandra menanggalkan pakaian Starla, dan dirinya. Mereka sudah sama-sama tidak berbusana. Lalu, pria itu mengambil pengaman di laci nakas. Di dalam sana, ada banyak kemasan pengaman yang masih belum terpakai. Devandra juga mematikan lampu kamar, dan membiarkan lampu tidur pada nakas menyalah.


“Dev, pelan-pelan aja, kaki aku masih sakit,” peringat Starla, melihat Devandra memasangkan pengaman itu pada keperkasaannya.


Devandra menekukkan kaki kiri Starla, membiarkan kaki kanan yang di gips lurus seperti biasa. Ia akan bermain dengan pelan.


Memposisikan keperkasaannya tepat pada cela kelembutan Starla, pria itu pun mendorong masuk miliknya ke dalam sana.


Devandra mendesis. Ia menunduk, lalu mencium Starla. Pandangannya tidak luput dari gadis itu.


“I love you,” ucap Devandra. Ia menatap Starla penuh cinta dan nafsu secara bersama. Gadis itu mendesah, saat Devandra mulai menggerakkan seluruhnya.


“Mau gue hamilin, tapi masih sekolah,” desis Devandra, melepaskan jedai berwarna hitam dari surai panjang istrinya.


“Yang..,” desah Starla memegang lengan Devandra. Sepertinya, pria itu mulai hilang kendali. Melupakan bahwa kaki istrinya sedang sakit. Wajahnya mendongak, dengan mata yang terpejam menikmati jepitan Starla dibawah sana.


Devandra adalah tipe pria yang lebih dominan kasar diatas ranjang, main lembut itu bukan dirinya. Apalagi, ketika nafsu sudah diubun-ubun seperti saat ini.


“By, ah..” Devandra menegakkan tubuhnya, menghujam Starla dengan sekuat tenaga. Peluh membasahi tubuh mereka, menunjukkan betapa panasnya percintaan malam itu.


Devandra kemudian sedikit menunduk, wajahnya tepat berada pada ceruk leher gadis itu. Ia menyesap leher jenjang Starla, meninggalkan bekas merah di sana. Leher memang menjadi bagian dari Starla yang Devandra suka.


“By..,” panggil Devandra disela desahannya.


Starla membuka mata, tatapan mereka bertemu. Gadis itu tersenyum lalu mengusap keringat pada wajah Devandra.


“Kakinya sakit?” tanya Devandra.


“Sedikit. Tapi⸺” Starla melenguh, ia mencapai puncaknya.


Ada kepuasan sendiri dalam diri Devandra, ketika Starla tergolek lemas di bawahnya. Bola mata Starla berwarna putih naik, ketika dirinya dilanda orgasme hebat.


Permainan yang dilakukan Devandra berakhir dua puluh menit kemudian. Ia bergulir dari atas tubuh gadis itu, lalu bangkir ke kamar mandi dan melepaskan pengamannya disana.


Ketika Devandra kembali, Starla sudah menarik selimut menutupi tubuhnya.


“Baru juga jam sepuluh, by. Udah tidur aja,” protes Devandra.


“Capek,” sahutnya dari balik selimut.


“Belum juga aku gempur sampai pagi,” seloroh Devandra. Ia memakai boxer dan juga kaos.


“Yang…, mau kemana!” teriak Starla.


“Ambil minum,” jawab Devandra, lalu keluar dari kamar.


Devandra mengambil beberapa es batu dari kulkas, dan keluar dari dapur. Minuman yang ia maksud adalah whisky.


Ada beberapa jenis minuman beralkohol yang tersusun rapi dalam lemari kaca besar di ruangan kerjanya. Siapa bilang, anak dokter ini tidak mengkonsumsi minuman itu, bahkan Adryan pernah menjadi partner minumnya beberapa kali.


Devandra mengambil sebotol whisky, lalu menuangkan pada gelas kaca sedang yang berisi beberapa es batu. Sudah lama ia tidak menikmati minuman ini. Ia mau bersantai sejenak, sebelum kembali menghampiri istrinya.


***


“Dia bukan anak gue!”


“Aku bakal gugurin anak ini. Memang dia nggak harus tumbuh dirahim aku.”


“Terserah, gue nggak peduli!”


“Dan yang harus lo dengar. Kita selesai!”


Matanya perlahan terbuka, bersamaan dengan setitik air mata yang jatuh dari sudut matanya. Devandra terbangun ketika matahari pagi menyeruak masuk ke kamar dan menerpa wajahnya.


Si pelaku tersenyum senang melihat suaminya sudah bangun. Starla terpaksa harus mandi sendiri, dengan berhati-hati agar gips pada kakinya tidak terkena air.


“Devan, kamu nangis?”

__ADS_1


“Enggak.”


“Tapi, air mata kamu keluar dari sudut mata,” kata Starla.


Devandra mengusap matanya. Benar, ia menangis. Untuk kesekian kalinya mimpi itu menyapanya.


“By⸺” Devandra turun dari ranjang, duduk berjongkok di hadapan istrinya.


“⸺aku mau cerita sesuatu ke kamu, yang belum pernah aku cerita ke siapapun, termasuk Papi dan Mami.”


“Apa?” Starla mulai penasaran. Mimik wajah Devandra terlihat serius.


“Ini sudah terjadi sejak umur aku sepuluh tahun. Aku selalu mimpi didatangi dua anak SMA. Mereka kayaknya pacaran, tapi aku enggak kenal mereka siapa. Mereka nggak pernah nunjukin wajah.”


Starla masih menyimak cerita itu. “Terus apalagi?”


“Kadang mereka berantem, kadang mereka romantis. Aku seolah ada di sana, dan lihat semua kejadian itu. Aku takut, by. Apa mereka sepasang kekasih yang mati bunuh diri?”


“Ih, apaan sih! Jangan buat aku takut,” decak Starla.


“Siapa tahu aja, kan, mereka mau sampaikan sesuatu melalui aku,” sela Devandra.


“Nggak usah ngasal, deh. Mending kamu mandi,” hardik Starla.


Gadis itu berlalu dengan kursi rodanya, meninggalkan Devandra yang masih berdiam diri disana.


Sebenarnya Starla ingin bertanya banyak hal pada Devandra. Namun, ia masih ragu. Ia takut semua itu menjadi bumerang untuk dirinya dan juga Devandra.


“YANG, KONDOMNYA DI PLASTIKIN. JANGAN BUANG GITU AJA DI SAMPAH!!” teriak Starla beberapa saat kemudian.


***


“Raf, kamu nggak ada niat bertemu Devan?”


Pria itu menoleh sekilas pada istrinya. Rafael mengancing kemejanya lebih cepat, dan segera menghampiri istrinya. Sudah dua hari mereka berada di Jakarta, ia juga sempat bertemu Helsa secara tidak sengaja. Wanita itu terlihat sehat, dan masih cantik.


“Aku harus ijin sama Helsa,” tutur Rafael.


“Kenapa harus ijin?” Glenca memberikan secangkir kopi untuk suaminya.


“Devan umurnya udah berapa?” tanya Glenca.


“Dua puluh tujuh tahun. Di sudah dewasa, Glen.”


Tentu saja Rafael tahu. Helsa yang memberitahu hari lahir anaknya belasan tahun yang lalu.


“Papa!” Suara seorang anak perempuan dari ujung pintu mengejutkan sepasang suami-istri itu.


“Hei,” Rafael menghampiri gadis dengan koper kecil di tangannya. Pria itu memeluk erat anaknya.


“Gimana liburannya?"


"Liburannya seru. Pengen ke Jogja lagi," jawab gadis itu.


"Iya, nanti ke Jogja lagi.."


"Kamu kok nggak bilang bulanan kamu habis," kata Glenca.


"Kebetulan saja karena aku ke Jogja dan lagi Papa sama Mama, kan mau datang. Sekalian Mama yang belanja," ujarnya.


"Grace, Mama bakal di Jakarta sama kamu sampai selesai ospek, ya," kata Rafael.


"Hah, kenapa nggak habis semester aja, sih," protesnya.


Rafael menggeleng keras. "Tidak. Papa nggak bisa sendiri. Lagian setiap Natal kamu balik ke Makassar."


"Hadeh, Papa emang susah banget jauh-jauh sama Mama."


***


Melihat Devandra bekerja di hari minggu adalah hal paling dibenci Starla. Sejak selesai sarapan, pria itu duduk di ruang kerjanya. Ia melakukan meeting online dengan beberapa klien, menandatangani berkas-berkas penting lainnya, dan juga Ami sempat datang ke rumah pagi tadi.


"Yang, aku bosen banget di rumah," ujar Starla.


Sejak tadi, gadis itu duduk di sofa, memperhatikan suaminya.


"Terus, mau ngapain?" sahut Devandra tanpa melihat pada gadis itu.

__ADS_1


"Kita makan siang diluar, yuk!" ajak Starla.


"Kita delivery aja, kalau harus keluar rumah. Kan itu sama aja, by," jawab Devandra.


Starla memberengut kesal. Devandra bicara padanya, namun mata pria itu tidak lepas dari berkas-berkas di meja.


"Aku telpon Kaden saja. Biar Kaden yang temenin aku makan diluar," pungkas Starla.


Devandra mengangkat pandangan. Ia segera menghampiri gadis menyebalkan itu. Kalau Devandra perhatikan, kelakuan Starla mirip Maminya.


Devandra merebut ponsel dari tangan Starla. Ia menggulirkan nama kontak pada benda pipih itu. Ternyata benar, ada nama Kaden disana.


"Sejak kapan kamu punya kontaknya?" tanya Devandra.


"Sejak hari ini. Kamu bilang sendiri, kan, kalau Kaden juga bisa nganter aku kemana-mana," jawab Starla.


"Aku hapus!"


"Yang!" pekik Starla tak terima.


Devandra terus menggulirkan daftar kontak pada ponsel Starla. Ada banyak nama cowok di sana.


"Apa ni Chiko, Marvel, Bagas," protes Devandra.


"Itu teman sekolah aku," sahut Devandra.


"Nggak ada teman sekolah chat gini. Ganjen banget jadi cowok," hardik Devandra.


"Jangan dihapus, Yang! Kamu cemburunya berlebihan," seru Starla.


"Aku hapus," jawab Devandra.


"Ihs, terserah kamu aja. Aku capek."


Devandra pun meletakkan ponsel di atas meja, lalu duduk di samping gadis-nya itu. Satu kaki naik ke sofa, posisinya duduk menghadap Starla.


"By, cowok yang kelihatannya baik banget, belum tentu dia cowok baik-baik. Bisa aja dia hanya memanipulasi kamu," kata Devandra.


"Termasuk kamu, gitu?" balas Starla.


"Enggak, lah! Aku ini suami kamu. Orang yang rela nungguin kamu bertahun-tahun," sebut Devandra dramatis.


"Gombal."


"Ya, memang faktanya seperti itu," sahut Devandra. "Jangan deket-deket sama teman-teman kamu itu, by."


"Kamu cemburu?"


"Ini bukan soal cemburu. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu---"


"---Kamu tau banget aku nggak bisa lihat kamu disakiti. Aku nikahin kamu secepat ini karena ada banyak hal yang akan terjadi kalau sampai mereka tahu siapa kamu buat aku. Dengan nikahi kamu, aku selalu ada di dekat kamu."


"Mereka siapa?" tanya Starla.


"Musuh aku. Termasuk Charlos, si brengsek itu."


"Berarti benar kamu nikahi aku atas dasar kasihan," gumam Starla.


"Siapa yang bicara seperti itu?" Devandra membawa Starla dalam pelukannya.


"Aku jatuh hati sama cewek yang berani cegat Darren sama Juna di kantin empat tahun lalu. Dia cantik banget, pekerja keras, nggak manja kayak cewek kain," tutur Devandra.


"Itu, kan aku!" sahut Starla.


"Emang itu kamu?" Devandra tersenyum.


Starla memukul lengan Devandra "Emang itu aku, Yang! Kamu amnesia apa gimana?"


"Kok beda. Dulu tepos banget," ujar Devandra, "sangking teposnya, mau aku buat berisi."


"DEVAN, IH!!! GENIT…"


Mereka tergelak dengan ingatan yang merambah pada kejadian empat tahun silam. Dimana saat itu Devandra gencar mengejar Starla. Namun gadis itu malah salah paham soal orderan makanan. Saat itu, Devandra tidak tega melihat Starla menangis di parkiran kampus.


Kalau saja Starla tidak pergi, mungkin hubungan mereka akan berlanjut sebagai pasangan kekasih, karena saat itu Starla mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Devandra, dengan semua yang pria itu lakukan untuknya.


Tapi, saat ini, Devandra sangat sangat bersyukur. Ia mendapatkan kebahagiaan berlipat ganda. Kehadiran Starla membuatnya lebih berarti.

__ADS_1


__ADS_2