SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
TAMU ISTIMEWA


__ADS_3

Siang itu, markas Acme cukup riuh dengan kehadiran laki-laki berbalut tuxedo putih. Mata hazelnya tak bisa memungkiri bahwa hari itu dia ingin menangis.


Leader Acme hari itu menikah. Yehezkiel sudah resmi menjadi seorang suami.


"Mana? Mana pengantin baru?" pekik Devandra yang baru tiba. Rusuh sekali.


Juna dan Darren hanya melirik sekilas. Tatapan Devan jatuh pada Yehezkiel. Hari ini sahabatnya lebih tampan dari biasanya.


"El?" panggil Devan.


Lelaki itu masih menunduk. "Gue nggak pernah siap. Kalau pun gue nikah, harusnya Dania yang jadi pengantin cewek itu."


Devan duduk disamping Yehezkiel. Delapan tahun mengenal lelaki itu, ini pertama baginya melihat sahabatnya itu menangis.


"Lo semua yang ada disini mungkin kenal baik Papi dan Mami gue. Apalagi lo, Darren, dan juga Juna," kata Devan.


"Tapi kalian nggak pernah tau gimana sampai adanya gue dan Cemara?" imbuh Devan. Semua mata dan telinga disana tertuju pada cowok bertato itu.


"El, lo itu Mami gue di masa lalu. Mereka memang nggak dijodohkan, hanya saja almarhum Opa kasih amanah buat Papi. Amanah untuk jagain Mami, dalam arti Opa mau Papi yang jadi pendamping hidup Mami."


"Seriously?" Darren ternganga mendengar cerita Devan. Mereka sangat dekat dengan Adryan dan Helsa.


Devan mengangguk. Ia menepuk pelan pundak Yehezkiel. "Mami nggak pernah cinta sama Papi. Tapi keadaan dan keterbiasaan membuat perasaan itu muncul. Gue yakin, lo dan Lia bisa seperti mereka."


"Dan jadi bucin," celetuk Darren.


Satu markas tergelak mendengar celetukan Darren. Sudah pasti Darren sedang menyindir orang tua Devan.


"Nggak tau kapan masanya habis," imbuh Juna.


"Om Adryan bucin parah!" seru salah satu dari mereka.


Yehezkiel terkekeh mendengarnya. Sedikit terhibur oleh kelakuan teman-teman komunitasnya. Hari itu dia sudah berkhianat dari kekasihnya. Dan lebih parahnya, gadis yang ia nikahi adalah sahabat dari kekasihnya sendiri.


Apa tidak gila jika semuanya ketahuan?


***


"Kotaknya cantik. Isinya apa?" tanya Devita.


Starla masih memandang kotak besar berwarna biru langit di pangkuannya. Hari ini dia pulang lebih awal, karena mendadak owner Sun Flower memintanya libur saja. Mendadak sekali?


"Starla nggak tau, Bu. Emang tadi kurirnya ngomong apa sama Ibu?"


Devita mengambil duduk disebelah anaknya. "Katanya untuk Starla Meisya. Si cantik dari Sastra dua," jawab Devita.


Starla melongo. Ini pasti kerjaan cowok mesum bertato itu. Mau dia apa sih?


Starla membuka pita berwarna putih yang mengikat kotak tersebut, membuka tutup kotak itu. Yang pertama Starla lihat adalah sebuah surat kecil.


"Starla punya pacar?" tanya Devita.


Starla belum menjawab pertanyaan dari Ibunya. Ia lebih penasaran dengan gaun putih yang masih tersusun rapi.


"Cantik sekali. Pasti mahal," gumam Starla. Ia meletakkan kembali gaun itu, lalu menutup kotaknya.


"Starla diajak kencan? Punya pacar sejak kapan? Kok Ibu nggak tau?" Devita sangat penasaran dengan maksud dari gaun itu.


"Nggak kok. Starla nggak punya pacar!" bantah Starla.


Devita mengulum senyum. Wajah anak tunggalnya berseri. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Starla.


"Bu, jangan lihatin Starla seperti itu. Dia cuma cowok aneh yang tiba-tiba ngusik hidup Starla," kata Starla, merengek pada Ibunya.


"Coba kenalin sama Ibu sama cowok anehnya Starla," ujar Devita, menggoda Starla.


Ketika akan mencubit pipi Devita, dering ponsel Starla terdengar. Terpampang jelas nama Devandra pada layar ponselnya. Devita beranjak dari sana membiarkan Starla menjawab panggilan itu.


"Hallo,"


"Jangan cantik-cantik. Gue jemput jam tujuh malam ini."

__ADS_1


***


Resepsi pernikahan Yehezkiel diadakan di salah satu hotel bintang lima Jakarta. Malam itu seluruh kolega perusahaan diundang. Anak-anak Acme yang mengiringi rombongan pengantin ke hotel tersebut. Hanya saja Devandra yang tidak ikut serta disana.


Cowok dengan kemeja hitam itu baru saja keluar dari lift rumah. Malam itu Yehezkiel tak lupa mengundang keluarga Brawijaya.


"Cantik banget sih," goda Devan pada Cemara.


Cemara berdecak kesal. "Ishhhh, kan rambut Ara udah rapih Mami…"


"Dev, sehari aja nggak ngusulin Cemara, bisa?" tegur Helsa. Wanita itu sudah cantik dengan dress putih yang tentu saja baru dibelinya.


"Kakak!" jerit Cemara ketika Devan malah mencium pipinya.


"Devandra!" suara bariton dari ruang kerja menghentikan aksinya. Papinya pasti masih sibuk dengan kerjaan. Bisa jamuran Helsa dan Cemara jika menunggu si tua itu.


"Mi, Devan duluan. Ketemu di hotel aja," pamitnya.


"Hmm, hati-hati di jalan." Nggak usah bernada juga dong.


"Iya. Bye Araaaa," seru Devandra.


Di tempat lain, Starla masih mengenakan daster. Ia ragu kalau Devan akan menjemputnya. Lagian, cowok itu tidak mengetahui alamat rumahnya.


Eh, sebentar. Lantas bagaimana bisa gaun itu bisa sampai rumahnya, jika Devan tidak mengetahui alamatnya?


Masa bodohlah. Lebih baik Starla menonton drakor atau mengerjakan tugas kuliah. Dia tidak perlu meladeni Devan, biar cowok itu juga tak mengusiknya lagi.


Namun Starla salah. Porsche 911 baru saja berhenti di pekarangan rumahnya. Cowok itu keluar dengan percaya diri, berharap kedatangannya disambut gadis bergaun putih.


Satu menit, dua menit, hingga menit kelima Starla tak membalas pesannya atau pun menjawab teleponnya.


"Starla…," panggil Devan santai, masih bersandar pada kap mobilnya.


"Gue hitung sampai tiga. Lo nggak keluar, gue culik lo beneran. Gue sekap lo di apart-"


"Iya, iya. Aku keluar!" teriak Starla. Suara itu seketika membuat senyum Devan terbit.


"Maaf…," ucap Starla.


Starla, lo nggak perlu minta maaf kalau untuk sekarang, batin Devan.


"Dev!" pekik Starla. Devan memandangnya sangat lekat, tentu saja Starla merasa khawatir.


"Hmm," lamunannya buyar. Perkara Starla hanya memakai daster, Devan hampir tidak bisa bicara.


"Kenapa lo belum siap? Lo mau main-main sama gue?" sentak Devan.


Ish, anaknya siapa sih Devandra ini. Hobi banget ngancem, batin Starla menggerutu.


"Yah aku 'kan mikirnya kamu cuma bercanda," sanggah Starla, cari aman.


Devan menghampiri Starla di ambang pintu rumah. Gadis itu tak berkutik ketika Devan menatapnya tajam.


"Gue nggak pernah main-main sama lo. Gue tunggu sepuluh menit," ucap Devan.


"... Now!" imbuhnya sedikit mendesak Starla.


Sepuluh menit? Starla bergegas ke kamar dan bersiap-siap. Entah, dia menjadi takut dengan setiap ancaman cowok mesum itu. Sedangkan diluar Devan melihat-lihat isi ruang tamu. Yang membuat Devan heran, dimana foto Ayah Starla. Devan tahu Ibu gadis itu adalah seorang janda, namun setidaknya akan ada foto Ayahnya disini jika saja Ayahnya sudah tiada.


Foto-foto masa kecil Starla berjejer rapi di atas lemari bufet. Gadis itu sama sekali tidak mirip dengan Ibunya. Apa mungkin Starla lebih mirip Ayahnya? Tidak ada foto keluarga juga seperti yang terpampang besar di rumahnya.


Devan melirik arloji pada tangan kirinya. Lima menit lagi. Starla pasti akan keluar sebentar lagi. Gadis itu akan tepat waktu.


Belum sempat meraih sebuah bingkai, tatapan Devan jatuh pada gadis bergaun putih yang baru saja keluar kamar. Tak salah lagi, gaun itu memang sangat cantik pada orang yang tepat.


“Udah?” tanya Devan. Cowok itu menetralkan degup jantung yang berpacu sangat cepat. Starla sangat cantik dengan balutan gaun putih itu dan juga sedikit polesan pada wajahnya.


Starla hanya menjawab dengan anggukan kecil. Devan melangkah keluar, lalu disusul Starla.


“Ibu lo kemana? Gue mau pamit. Mau minta ijin juga,” tanya Devan.

__ADS_1


“Minta izin?”


“Gue ngerti adab bertamu. Apalagi soal anak gadis orang,” balas Devandra.


“Ibu lagi ada pengajian. Ibu juga tahu aku mau keluar.”


Starla kembali mengikuti Devan ke mobil. Dalam benaknya, gadis itu mulai berpikir tentang seperti apa keluarganya. Devan tak terlihat urakan dan mesum sangat menghormati Ibunya.


“Lo ngapain di belakang?” tanya Devan.


“Menurut kamu, aku merangkak?”


“Jalan di samping gue…”


“...kayak gini,” ucap Devan, menggenggam tangan Starla yang sudah berjalan di sampingnya.


Malam itu Devan membawa Starla ke resepsi pernikahan Yehezkiel dan Lia. Devan yakin sekali malam ini banyak yang menuntut pertanyaan tentang siapa gadis yang kini duduk disampingnya. Terlebih lagi Nyonya Brawijaya.


***


“Mi, kakak nggak kelihatan dari tadi,” kata Cemara.


Adryan yang baru sadar pun terlihat mengedarkan pandangannya mencari dimana cowok itu.


“Jemput Sheren mungkin,” celetuk Helsa.


“Sheren?” gumam Adryan. Pria itu tersenyum memandang sosok laki-laki yang sejak tadi mereka bicarakan. Lalu, gadis disampingnya?


“Starla?” Adryan tak salah lihat lagi. Gadis itu adalah Starla, salah satu pelayan toko bunga Sunflower.


“Sayang, kamu lihat Devan,” bisik Adryan pada Helsa. Begitu pun Cemara penasaran.


Dari pintu utama hotel, Devan merengkuh pinggang Starla begitu posesif. Entah sengaja atau apa, yang pastinya Adryan tahu ada yang Devan sembunyikan.


“Dev, bisa nggak jangan kayak gini. Aku nggak enak dilihat teman-teman kamu,” bisik Starla.


“Diem atau gue pakai gendong?”


Ancam teros.


Mereka duduk bersama Darren dan Juna, meja itu cukup jauh dari orang tuanya. Netra hitam legam Devandra bertumbuk dengan mata coklat Papinya. Ia mengedipkan sebelah matanya ketika Adryan memicing.


“Starla,” panggil Devan.


“Hm.”


“Mau kenalan sama Papi Mami?”


***


“Sheren…”


Laki-laki yang kini berbalut kimono putih itu menghampiri gadis yang dipanggilnya, dan memeluk mesra dari belakang. Pemandangan gedung pencakar langit di Jakarta menjadi objek gadis itu.


“I miss you,” ucap laki-laki itu.


“Me too,” balas Sheren.


“Jadi, mau sampai kapan kita seperti ini?”


Sheren berbalik, tangannya bergelayut manja pada leher laki-laki berambut gondrong itu. Sheren mengecup sekilas bibir tebal itu.


“Aku butuh waktu.”


“Sudah lima bulan,” balas laki-laki itu.


“Ok, aku akan selalu tunggu.”


Laki-laki itu mencium Sheren lebih dalam. Sepertinya mereka akan melanjutkan malam ini, bercumbu hingga matahari menjemput. Dan Sheren akan melupakan sejenak kekasihnya.


“Dev, im so sorry. Tapi, aku butuh ini.”

__ADS_1


__ADS_2