SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
KESEDIHAN HELSA DAN KEMBALINYA STARLA


__ADS_3

Hari semakin larut dalam keheningan malam. Jakarta masih ramai ketika waktu menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Hari sudah berganti, dan mobil Mercy hitam itu baru saja memasuki garasi rumah. Rumah yang ditempati sejak ia lahir. Devandra keluar dari mobil membawa serta jas hitam yang sudah ditanggalkan pada tangannya, tersisa rompi berwarna hitam yang melekat dengan kemeja. Dasi sudah direnggangkan dari lehernya. Pintu garasi yang terhubung dengan ruang tengah tidak dikunci, karena memang disengaja oleh Papi dan Maminya, agar ia bisa masuk tanpa harus drama anak cowok pulang nongkrong.


Devan pikir Papi dan Maminya sudah terlelap seperti biasa. Namun pikiran dan penglihatannya bertolak belakang. Helsa tertidur di sofa dengan selimut dan bantal yang menyanggah kepalanya.


“Devandra…”


Seperti biasa, suara bariton itu selalu menenangkan hati dan juga emosinya. Adryan berjalan dari arah dapur dengan secangkir teh di tangannya.


“Papi,” sahut Devandra yang kemudian mencium punggung tangan pria yang usianya hampir masuk setengah abad. Papi udah tua.


“Pi, Mami kenapa tidur disini?”


Adryan kemudian melempar pandangannya pada istrinya yang tertidur pulas. “Bangunin Mami kamu yang keras kepala itu.”


Adryan pun mengambil duduk di sofa seberang dengan memperhatikan Devandra yang sudah berjongkok di samping Helsa. Pria itu tersenyum ketika Devandra menggoda Helsa dengan ciuman-ciuman pada hidung mancung istrinya.


“Mami?” panggil Devan. Ia terus mencium puncak hidung Helsa.


Lenguhan khas orang bangun tidur pun terdengar, Helsa menormalkan penglihatannya dari cahaya lampu yang menghalangi wajah di depannya.


“Devan, udah pulang, Sayang?” tanya Helsa.


“Kenapa Mami tidurnya di Sofa?” Devan balik bertanya.


“Kamu makan ya, Mami tadi buatin ayam goreng saus padang kesukaan Papi dan Devan,” kata Helsa.


“Besok aja, Mi. Devan udah makan diluar,” sanggah Devan yang sudah bersiap akan kembali ke kamarnya, namun langsung dicegah Helsa.


“Kapan bisa punya waktu dinner bareng Mami Papi?” tanya Helsa.


“Sayang…,” tegur Adryan. Devandra berhenti dipijakkannya.


“Mas, diem. Anak ini tuh udah jauh banget sama kita,” hardik Helsa pada Adryan.


“Nggak sekarang juga ngomongnya,” balas Adryan, “Dev, langsung ke kamar.”


“Boleh nggak kalau pulang kantornya sebelum Papi dan Mami tidur? Devan sekarang udah nggak pernah cerita sama Mami Papi,” tutur Helsa lembut, matanya tak bisa berbohong kalau sekarang dia hampir menangis.


“Devan jauh sama Papi Mami,” ucap Helsa yang sudah menangis.


Helsa dan Adryan adalah orang yang paling merasakan kehilangan selama empat tahun terakhir ini. Devandra kecil mereka sudah hilang. Anak kecil yang cerewet itu sudah tak ada lagi.


“Dulu, biasanya Devan yang paling seneng cerita sama Papi Mami kalau habis pulang dari sekolah. Kalau nggak ditanya pun, Devan yang selalu cerita duluan…”


“...Mami dan Papi harus seperti apalagi buat balikin Devan? Papi dan Mami punya dua anak, tapi udah kayak orang jompo yang ditinggal di rumah besar ini.”


Devandra terhenyak. Sebegitu jauh kah dia dari keluarganya sendiri? Ia kemudian menjatuhkan jasnya ke lantai, berbalik dan kembali pada Helsa. Wanita itu mengusap surai hitam lebat anaknya.

__ADS_1


“Mami, Devan nggak hilang. Devan masih disini sama Mami dan Papi,” ucap Devan mencium punggung tangan Helsa.


“Devan…” Suaranya tercekat, Devandra akhirnya menangis lagi malam itu. “Devandra hanya mau lihat Starla, Mi. Devandra khawatir sama Starla, Mi. Starla hanya punya Ibu, Starla nggak punya Ayah untuk melindungi dia seperti Cemara dan Devan yang punya Papi.”


Adryan mengangkat pandangannya. Dua puluh tujuh tahun ia melihat tumbuh dan kembangnya Devandra, begitu juga soal asmaranya. Adryan juga melihat dua kepribadian dalam diri Devandra. Ada Akmal dan juga dirinya, dimana mereka bisa jatuh hati dengan satu perempuan dengan sangat tulus. Adryan masih ingat bahwa Devandra pernah menjalin hubungan bersama Sheren selama satu tahun, dan sekarang sebegitu sulitnya Devandra menghilangkan sosok Starla yang sudah menghilang selama empat tahun.


Menghilangnya Starla membawa perubahan besar pada anak lelakinya ini. Devandra menjadi introvert. Semenjak lulus S1 di Palm University, Devandra memutuskan langsung berangkat ke Kanada untuk melanjutkan S2 disana.


“Jadi, seperti inikah seorang Akmal ketika Helsa pergi dua puluh tujuh tahun silam?” batin Adryan.


Pria itu menghampiri mereka dan duduk tepat di samping istrinya. Adryan menarik dagu Devandra agar mau mengangkat pandangannya. Wajah anak lelakinya itu bersimbah air mata.


“Anak cowok nggak usah nangis. Kamu serius sama Starla?” tanya Adryan, tegas.


“Mas, empat tahun sudah cukup untuk menjelaskan perasaan Devandra,” sahut Helsa.


“Cari Starla dan bawah dia ke rumah,” terang Adryan.


“... Azlan Devandra?” panggil Adryan.


“Ya, Papi?”


Adryan tertegun. Netra coklat dan hitam legam itu saling bertumbuk.


“Come back. Papi and Mami miss little Devandra,” ucap Adryan yang langsung membuat Devandra berhambur ke pelukan Papinya.


Adryan adalah orang paling dekat dengan Devandra. Sejak usianya satu tahun, Devandra hanya memiliki Adryan. Papi yang apapun Devandra minta selalu dikabulkan. Papi yang setiap malam sebelum tidur harus mendongeng untuk Devandra. Papi yang selalu rindu Devandra ketika anak kecil itu betah berlama-lama di rumah Eyang Putri. Papi yang selalu membela Devandra ketika Mami memarahinya. Papi yang kata Devandra adalah Papi terhebat sedunia.


Hari yang penuh dengan ketegangan bagi semua pimpinan perusahaan yang bergerak dibidang properti hari itu. Pagi sekali Devandra sudah sangat rapi dengan jas tiga rangkap berwarna abu-abu pilihan Maminya dan juga sepatu pantofel Louis Vuitton Shoes. Nampak tato-tato yang mengintip malu-malu dari cela pergelangan kemeja.


Devandra tampan sekali. Helsa menepuk pundak anak lelakinya itu, menghempaskan beberapa helaian rambut dari sana.


“Ganteng,” ucap Helsa.


Devandra hanya tersenyum sekilas. Namun sebelum Helsa keluar dari kamarnya, dia memanggil kembali.


“Doain Devan menangin tender ya, Mi.” Ia mencium punggung tangan Helsa sangat lama.


“Iya, Sayang. Ingat, jangan main curang,” pesan Helsa sebelum akhirnya Devandra menggandeng turun ke lantai satu.


Dari atas lift terlihat jelas Adryan sedang menunggu di meja makan, pria itu pun sama persis dengan Devandra yang sudah rapih.


“Jangan romantis-romantis. Pamali,” ketus Adryan ketika Ibu dan anak itu baru saja tiba.


Keadaan menjadi lebih baik setelah malam itu. Devandra sudah bisa berbaur kembali dengan keluarganya. Mengunjungi makam Eyang, Opa, dan juga sering mengunjungi rumah Om Jefry kesayangannya serta Oma Renata.


“Anak Helsa kok,” balas Helsa, sinis. Adryan pasti cemburu dengan Devandra. Tidak heran juga, karena istrinya masih sangat muda. Mungkin juga ketika Ibu dan anak itu jalan bersama, Devandra akan dikatakan berondong nya Helsa.

__ADS_1


“Pi, bulan ini Devan sudah transfer buat Cemara. Papi dan Mami nggak perlu lagi,” ujar Devan.


Adryan menghela nafas. “Dev, bahkan Papi lebih dari bisa untuk memberikan kamu uang tanpa kamu harus menjadi pimpinan perusahaan Opa. Jangan keseringan manjain Cemara.”


“Cemara juga tanggung jawab Devan. Sampai kapan pun,” cetus Devan.


Semenjak Devandra bekerja, Cemara lebih banyak diberikan uang olehnya. Karena Cemara memang lebih banyak mengadu pada Devandra. Padahal itu hanyalah akal-akalannya saja agar bisa mendapatkan uang dari Devandra.


Selesai sarapan, dua pria itu lantas meninggalkan rumah dengan urusan mereka. Pagi itu Devandra meminta mobilnya dikawal patroli polisi menuju Ambara Group karena hari senin sudah pasti Jakarta akan sangat macet.


Seharusnya, sebagai asisten pribadi Juna menjemputnya di rumah pagi ini. Namun, Devandra memintanya untuk menjemput Ami. Devandra sudah tau bagaimana Ami. Ini adalah hari penting, Devandra tidak ingin Ami berlama-lama. Semua bahan presentasi proposal perusahaan dibawa sekretaris ganjen nya itu.


Setibanya di lobby, ternyata Yehezkiel pun baru saja tiba. Mereka melakukan first bumpt seperti biasanya. Andrean Corp dan Royal Group sendiri menjalin kerja sama yang sangat erat.


“Ami mana?”


“Juna lagi on the way sama dia,” jawab Devandra.


“Manja banget sekretaris lo,” kekeh El. Pria yang terkenal dengan sikapnya yang dingin ini berubah 360 derajat setelah memiliki sepasang anak kembar.


Mereka masuk ke dalam gedung berlantai empat puluh itu bersama, menyapa beberapa pimpinan perusahaan yang sudah terlebih dahulu disana. Lalu beberapa saat kemudian Ami datang bersama Juna di belakangnya. Gadis itu memakai rok span hitam super ketat dengan kemeja merah menantang. Seperti biasa, Ami selalu mencoba untuk menarik perhatian mata para pria disana. Dasar ganjen.


“Bro…,” Yehezkiel menyapa teman lamanya. Mereka sudah bertemu satu minggu sebelumnya sebagai reunian.


Charlos Diego.


Pria yang lebih tua satu tahun di atas mereka adalah teman semasa kuliah Yehezkiel di San Fransisco. Berbeda dengan Yehezkiel, Charlos dan Devandra tidak pernah akur semenjak tender proyek apartemen Nusa Indah dalam naungan Toro Group dimenangkan oleh Devandra. Proyek itu adalah incaran Charlos.


Devandra memutuskan untuk masuk ke ruangan meeting terlebih dahulu. Sepertinya Yehezkiel masih ingin berbincang dengan Charlos.


“Sekretaris lo?” tanya Yehezkiel penasaran.


“Sedikit terlambat, karena dia belakangan.”


***


Kedua kalinya Starla mengikuti meeting tender. Di atas mobil yang membawanya dari Bandung ke Jakarta, gadis 25 tahun itu sibuk merapikan diri dan juga memastikan kembali berkas-berkas penting.


“Kata Pak Charlos, tender kali ini banyak proposal dari perusahaan-perusahaan yang masuk. Ya ampun, semoga aku nggak mengecewakan dia,” gumam Starla.


Empat tahun Starla meninggalkan Jakarta, ini adalah kali keduanya ia datang kesana. Jakarta banyak yang berubah. Namun tidak dengan kenangannya. Kata Charlos, mereka akan menginap satu malam di Jakarta, maka dari itu Starla ingin bertemu Kiki dan Lani selepas meeting ini.


Mobil memasuki lobi perusahaan Ambara. Starla bersiap-siap turun. Salah satu staff mengantarkan dia ke ruangan meeting yang sudah berjalan selama sepuluh menit. Charlos juga baru saja mengirimkan pesan bahwa mereka mendapatkan giliran kelima untuk mempresentasikan proposal mereka.


Ketika pintu besar itu terbuka, betapa terkejutnya dia. Semua orang terpandang hadir disini. Starla langsung masuk kesana dan memberi salam untuk pimpinan panitia lelang dan juga para vendor disana.


Berbeda dengan Starla yang mati-matian menahan rasa gugupnya. Yehezkiel langsung terhenyak melihat sosok perempuan berkemeja biru langit yang baru saja duduk disamping Charlos.

__ADS_1


Ya. Dia Starla. Tidak salah lagi. Dia adalah sekretaris yang Charlos ceritakan.


“Dev, pencarian lo sudah berakhir,” gumam Yehezkiel.


__ADS_2