SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
PSIKOPAT?


__ADS_3

“Papi, ngapain tadi di Sun Flower?”


“Menurut kamu ngapain Papi kesana selain beli bunga? Nonton bioskop?” kelakar Adryan.


Devan menangkap seorang wanita cantik yang hendak menuruni tangga. “Hm, mungkin ketemu sama cewek cantik di toko itu,” jawab Devan.


“Cewek cantik siapa?”


“Mampus,” lirih Devan, menahan tawa karena wajah Adryan mendadak pucat.


“Devan sialan,” umpan Adryan, sangat pelan.


Helsa turun dengan sebuket mawar pemberian suaminya tadi. Bunga-bunga itu akan ia letakan di vas berisi air. Matanya memicing, memperhatikan dua lelakinya itu.


“Cewek cantik siapa, Dev?” tanya Helsa, penuh selidik.


“Cewek siapa Mas?” kali ini Adryan yang ditanya.


“Nggak ada, kamu kayak nggak tahu mulutnya Devan. Kemarin Viola sama Jefry digituin, Sayang. Tanya aja sama Jefry,” kata Adryan, membela diri.


“Papi, nggak usah bawa-bawa om Jefry deh,” kata Devan mulai mengompori. “Emang bener kok, Mi. Tadi Papi dari toko bunga yang pelayannya cantik banget.”


“Tidur di kamar lain malam ini,” ketus Helsa. Sedangkan Devan sudah menahan tawa di sofa seberang.


“Astaga, sayangggggg. Percaya banget sama anak curut satu ini.” Adryan melempar bantal ke arah Devan, namun ditangkis dengan cepat.


Devandra. Jika dia tidak kembali ke rumah berhari-hari, maka Adryan akan merasa kesepian. Tapi jika dia sedang berada di rumah, akan ada perang antara dirinya dan Helsa. Karena salah hobi Devan adalah membuat Helsa marah pada Adryan.


***


Starla membuka sepucuk surat yang terdapat pada buket bunga tersebut. Duduk bersandar pada ranjang, tepatnya di lantai, Starla mulai membaca sepenggal kalimat itu.


🌹𝐾𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑎𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑐𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑀𝑎𝑚𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝐶𝑒𝑚𝑎𝑟𝑎, 𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑆𝑡𝑎𝑟𝑙𝑎 𝑀𝑒𝑖𝑠𝑦𝑎 🌹


“Cowok aneh,” gumam Starla, tersenyum.


Ting…


Unknown Number :


Bunganya jangan dibuang. Lo tahu ‘kan gimana susahnya cari uang?


Dari mana lelaki mesum ini menemukan nomor ponselnya? Starla, sepertinya kamu harus mulai berhati-hati dengan cowok itu.


Ia kembali memandang buket bunga mawar itu. Bunga mawar yang katanya harus rapi dan cantik kini berada ditangan Starla. Sempat berpikir akan membuang, namun pesan itu membuat Starla mengurung niatnya. Lebih baik diletakkannya dalam vas yang kini berisi bunga tulip kuning yang mulai layu.


“Starla, tolong bukakan pintu!” seru Devita dari dalam kamar.


“Iya, Bu,” sahut Starla. Terdengar suara ketukan dari pintu depan.


Cepat-cepat gadis itu membukakan pintu. Seorang pria berpakaian hitam seperti supir tersenyum padanya.


“Selamat malam Nona,” ucap pria itu.


“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”


“Apa benar ini kediaman Ibu Rani?” tanya pria itu memastikan.


“Rani?” Starla menyerngit, kemudian barulah dia sadar. “Devita Maharani, Pak?”


“Iya, maksud saya Ibu Devita Maharani.”


“Sebentar ya, Pak. Saya panggilkan Ibu,” ujar Starla.


Starla memanggil Ibunya, kemudian keduanya menghampiri pria tadi.

__ADS_1


"Loh, Bapaknya kemana?"


"Kamu nanya Ibu," sahut Devita.


"Tadi disini kok, Bu. Dia sebut nama Ibu. Rani."


"Rani?" Devita terkejut.


"Bu?" Starla memanggil Ibunya, lirih. Devita terlihat begitu cemas.


"Starla!" jerit Devita.


"Ibu, tenang dulu. Starla disini." Devita memeluk erat putrinya. Menangis sejadi-jadinya disana.


Tak ingin dilihat tetangga, gadis itu membawa Ibunya masuk. Devita duduk memeluk pinggang Starla.


"Starla, Ibu cuma punya Starla. Jangan pergi, Nak. Ibu takut sendiri," ujar Devita.


Starla tertegun. Air matanya meluruh. Apa ini ada berkaitan dengan Ayah kandungnya?


"Starla nggak kemana-mana," sanggahnya. Starla menggigit bibir bawah, agar Devita tak mendengar tangisannya.


Malam ini dia ingin tidur bersama Ibunya.


***


"Selamat pagi."


Sudah tak asing dengan suara itu. Starla membalas ucapan itu dengan berat hati.


Dia, Devandra.


"Selamat pagi," ucapnya, sekali lagi.


"Hah?"


"Astaga, segabut itu kamu? Kan aku udah jawab tadi."


"Suka aja sebut nama lo. Starla!" balas Devan.


Starla melengos, kembali membaca buku. Perpustakaan yang hening itu didominasi suara anak fakultas Management Bisnis yang tersadar disini.


Merasa ada yang janggal, Starla mendongak. Tatapannya bertemu dengan Devandra.


"Dapat dari mana nomor ponselku?" tanya Starla.


"Semua tentang lo! Semua tentang lo, gue tahu!" jawab Devan. Ia menampilkan senyum semanis mungkin di depan gadis itu.


Apa mungkin cowok ini psikopat gila seperti pada novel-novel romance yang pernah Starla baca? Yang mengetahui segala tentang gadis incarannya. Gila, kalau benar, apa mungkin dia adalah target Devan?


Ketakutan mulai menghantui. Starla memutuskan kontak mata mereka. Perpustakaan sangat sepi. Lebih baik ia kabur saja dari sini.


"Mau kemana?" tanya Devan.


"A-aku shift sore hari ini," jawab Starla, gugup.


"Bukannya ini hari Jumat? Dan lo libur di Cafe, sedangkan di toko bunga shift lo sore mulai jam empat."


Benar sudah dugaan Starla. Cowok ini psikopat gila yang mengincarnya. Dia bahkan mengetahui jadwal kerja Starla. Astaga, Ibuuuu!!!


"Aku nggak tau siapa kamu. Kita nggak pernah ketemu sebelumnya. Tapi, tolong, jangan sakitin aku. Ibu aku single parent, dia nggak bisa hidup tanpa aku," ujar Starla, bergetar.


"Aku juga bukan anak orang kaya yang bisa kamu manfaatin dengan minta tebusan ratusan juta."


Devan tanggap apa maksud Starla. Mungkin sedikit mengerjai gadis polos ini sangat menyenangkan.

__ADS_1


"Gue mau lo! Gue mau tubuh lo. Gue mau ambil organ lo. Kaki, tangan, jantung, usus lo gue buat sate. Darah lo bakal gue minum," sebut Devan, kakinya terus melangkah, mengikis jarak antaranya dan Starla.


Starla berjalan mengelilingi meja bundar itu, menghindari Devan yang semakin dekat.


"Biasanya darah perawan enak," bisik Devan dan langsung menangkap pergelangan tangan Starla.


"Arghhh…. DEVANDRA!"


Brugh, beberapa buku jatuh ke lantai. Suara gadis itu menggelegar seisi ruangan, diikuti tawa Devan.


"Gimana? Udah cocok belum sama psikopat-psikopat yang ada dalam otak lo, hmm?" ledek Devan.


Ia melepaskan tangan Starla. "Lo tahu nama gue?"


Starla masih dibalut rasa takut. Peluh keringat menetes di pelipisnya. Devandra sialan.


"A-aku," suara itu masih bergetar.


"Starla…," panggil Devan.


HUAAAAA!!! Detik itu juga Starla menangis dan terjatuh ke lantai. Dia benar-benar takut pada mata hitam legam itu.


"Hei,"


"Kamu gila, Devan! Aku hampir mati," jerit Starla.


"Starla,"


"Berhenti panggil nama aku!"


"Tapi, gue suka," sanggah Devan.


"Kenapa sih sama kamu?" tanya Starla. Ia mulai sedikit tenang, mengusap matanya yang sembab itu.


"Gue kenapa?"


"Kenapa kamu selalu ngusik aku?" tanya Starla.


"Karena gue mau!" Devan tersenyum.


"Tapi, aku nggak suka!"


"Harus suka!" pungkas Devan.


"Kamu ngeselin 'ya?"


"Sama lo aja. Sama lo aja gue ngeselin," ucapan Devan lantang.


"Bangun!" perintah Devan, menjulurkan tangannya.


"Nggak!" hardik Starla.


"Serius nggak mau bangun?"


"I-iya."


Devan menghela nafas panjang, ia kemudian kembali berjongkok di hadapan gadis itu. "Gue nggak pandai ngerayu cewek. Gue bukan Dilan. Tapi untuk lo, gue bisa."


Hening…


Kemudian Devan berdehem. "Starla, ikut gue."


"Kemana?" Starla seolah terhipnotis mata itu.


"Malam ini,"

__ADS_1


"Gue mau menantang dunia dengan kehadiran lo."


__ADS_2