SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
MASA LALU ORANG TUA STARLA


__ADS_3

Cincin berlian satu karat itu cantik sekali. Devandra memantapkan hati untuk menikahi Starla. Sepanjang perjalanan dari Jakarta, Adryan menghubunginya dan memastikan Devandra tidak main-main dengan ini semua. Cowok itu bahkan membawa cincin lamaran milik Maminya bertahun-tahun yang lalu.


“Starla….,” Devandra meraih tangannya, lalu mengecup buku-buku jari tangan gadis itu.


Sejak ucapan Devandra beberapa detik yang lalu gadis itu semakin dibuat bungkam. Devita dan Devandra saling melempar pandangannya.


“Can I put this ring on your finger, honey?” Devandra menampilkan senyum terbaiknya untuk Starla, namun gadis itu masih saja tidak bersuara.


“Aku nggak perlu dikasihani, Devan,” sebut Starla kemudian melepas genggaman tangan Devandra. “Kamu hanya kasihan sama aku ‘kan?”


Devandra terdiam sesaat. Ia menatap tajam manik kekasihnya. Ingin marah, namun Devandra tidak tegah. “Setelah empat tahun gue tunggu, lo masih bisa ngomong ini semua bercanda? Gue kasihan sama lo?”


“Perlu bukti apa lagi?” tanya Devandra yang merasa ditantang oleh kekasihnya sendiri.


“Devan…,” panggil Devita.


Cowok itu menoleh pada Devita yang memberi isyarat agar mengikutinya sebentar. Melihat reaksi Starla biasa saja ketika Devandra melamarnya, membuat Devita langsung mengingat satu kalimat yang pernah dikatakan anaknya itu.


“Ibu percaya kamu serius sama Starla,” kata Devita.


Wanita yang usianya masih terbilang muda itu menyentuh punggung tangan Devandra. Ada hal penting yang Devita katakan pada cowok itu sebelum Starla benar-benar jatuh ke tangan Devandra. Bagaimanapun nantinya, Devandra harus tahu tentang Ayah Starla.


“Starla punya impian kalau nantinya dia menikah, yang menjadi walinya adalah Ayahnya sendiri,” cerita Devita.


Ini yang selalu ingin Devandra tahu, Wishlist keempatnya akan dipenuhi sebelum menikahi Starla beberapa bulan yang akan datang. Tapi, memangnya Starla sudah menerima lamarannya?


“Dua puluh tiga tahun yang lalu, saat Ibu baru saja lulus dari SMA, Ibu positif hamil. Kandungan Ibu saat itu baru jalan delapan minggu. Nama Ibu adalah Rani, Devita hanya awalan yang akhirnya Ibu ganti ketika pergi dari Jakarta. Ayah Starla berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya. Ketika mengetahui kehamilan itu, Kale membawa Ibu menemui keluarganya. Semua berjalan dengan semestinya, keluarganya menerima Ibu dan bersiap untuk menikahkan kami. Namun, satu minggu sebelum pernikahan dilaksanakan, Tuan Aryanto meminta Ibu meninggalkan Kale. Dia mengancam akan membunuh Starla kalau saja keinginannya itu tidak Ibu penuhi.”


“Ibu mengira semua itu hanya ancaman, namun beberapa malam kemudian, sahabat Ibu datang menemui Ibu dan meminta Ibu membawa Starla pergi. Tuan Aryanto menggerakkan orang-orang suruhannya untuk membunuh Starla dan Ibu. Awalnya dia minta Ibu menyerahkan Starla setelah bersalin namun Ibu menolak. Ibu pergi ke Bandung ketika usia kandungan Ibu memasuki minggu ke sepuluh. Sejak hari itu, Ibu tidak pernah bertemu dengan Ayah Starla. Lalu satu tahun kemudian, kabar pernikahan Ayah Starla dan seorang gadis disampaikan melalui surat kabar.”


“Kale?” Devandra menggumamkan nama itu, dia merasa tidak asing dengan nama Ayah kandung Starla.


“Edward Kale Atmaja,” sebut Devita. Sekali lagi Devita menyentuh punggung tangan Devandra. “Kamu adalah orang yang bisa Ibu andalkan untuk melindungi Starla.”


“Devandra, Starla harus mengenal siapa Ayah kandungnya.”


****


Pukul sembilan malam, Devandra masih setia menunggu Starla keluar kamar. Gadis itu benar-benar menghindar ketika Devandra melamarnya siang tadi. Makan siang dan malam pun tidak disentuh sama sekali, Devandra takut kekasihnya sakit.


Starla ini tipe perempuan yang keras kepala. Bahkan Ibunya pun tak dihiraukan.


“La, kamu nggak kasihan Devan? Dia jauh-jauh dari Jakarta, punya niat baik sama kamu,” seru Devita dari depan pintu kamar anak gadisnya.


“Bu, nggak apa-apa Devan tunggu disini,” sanggah cowok itu. “Sudah malam, Ibu istirahat saja.”


Senyuman anak lelaki itu membuat hatinya terenyuh. Devita merasa kasihan kepada Devandra, ia benar-benar tulus kepada Starla. Devita penasaran seperti apa orang tuanya yang berhasil mendidik anak sebaik Devandra.


“Kamar tamu berantakan sekali, kamu tidurnya di kamar Starla aja ya. Nanti Ibu bicara lagi sama dia, biar Starla tidur sama Ibu,” kata Devita.


“Devan nggak akan tidur sampai Starla keluar dan makan,” sebutnya, “Devan tunggu disini aja.”


Mungkin kalau ada yang lebih baik dari apapun, Devita akan tetap memilih Devandra untuk melindungi Starla. Tatapan tulus itu terasa meneduhkan, Starla harus tahu bahwa Devandra tidak main-main padanya.


“Ya sudah, Ibu ke kamar ya.” Devandra mengangguk, memandang kepergian Devita.


Mata hitam legam itu jatuh pada pintu dengan nama pemilik kamar itu. Devandra berjalan kesana, lalu mengetuk pintu kamar itu lagi dan lagi.

__ADS_1


“La, makan yuk. Atau kamu mau sesuatu, aku beli sekarang.”


Aku? Kamu? Apa Starla tidak salah mendengarnya? Apa mungkin Devandra hanya merayunya sebentar, lalu setelahnya hanya lo dan gue?


****


Pukul sebelas malam, gadis yang sejak tadi ditunggu Devandra keluar.


Starla. Gadis itu mengenakan piyama berwarna biru, warna favoritnya. Ia tertegun mendapati Devandra yang tidur bersandar pada sofa. Lantas, Starla kembali masuk ke kamar, mengambil bantal dan selimut untuk kekasihnya.


Starla memandang wajah Devan yang sedang tidur . Raut wajah pria itu sangat lelah,dan Devandra masih mengenakan pakaian yang sama sejak siang.


“Kenapa nggak pulang?” lirih Starla, ia kemudian menutup tubuh kekasihnya dengan selimut.


Starla tersentak ketika Devandra membuka mata dan menyentuh punggung tangannya. “Don't leave me.”


“Dev…,” Starla mencoba untuk melepaskan tangan itu, namun Devandra malah menarik Starla dan duduk di pangkuannya.


“I really love you,” bisik Devandra.


“Aku takut, La. Aku takut nggak bisa lihat kamu. Suka atau enggak, aku mau selalu sama kamu. Lindungi kamu,” ucap Devandra tulus.


Starla terisak di pangkuan Devandra. “Aku mau kita selesai.”


“No…,” Devandra memeluknya erat. “Ingat kata-kata aku empat tahun lalu. Pacaran sama aku, konsekuensinya nggak akan putus.”


“Devandra!” decak Starla.


Devandra menduduki kekasihnya pada sofa, ia mengambil cincin yang tadi diberikan Helsa. Matanya tersirat ketulusan yang begitu besar. Ia duduk jongkok di hadapan kekasihnya.


“Cincin ini pertama kali Mami dilamar sama Papi. Kata Papi, jangan main-main sama punya istrinya. Papi cinta banget sama Mami. Jangan buat aku harus dicoret dari kartu keluarga cuma karena cincin ini aku buang ke laut karena kamu nggak mau terima ini,” ungkap Devandra.


“La, wishlist keempat itu akan aku wujudkan sebelum kita nikah. Untuk yang ketiga tentang Cemara akan tetap dilaksanakan bersamaan dengan yang kelima.”


Devandra menarik pelan nafasnya “Starla, my dear. Will you marry me, and be the mother of my children?”


Starla yang sudah menangis sejak tadi, kembali dibuat nangis oleh pria itu. “Maaf aku nggak jujur soal Charlos,” jeritnya, dan langsung membuat Devandra membawanya dalam pelukan.


“Nggak usah dibahas, sudah lewat,” kata Devandra. Telapak tangannya itu mengusap punggung kecil yang bergetar akibat tangisnya.


“Aku benci bajingan itu. Aku benci saat dia bilang kalau bukan aku, kamu yang bakal dibunuh. Dia ngelampiasin kekesalannya sama kamu lewat aku,” jerit Starla menceritakan kembali perlakuan Charlos padanya.


“Dia hampir perkosa aku. Dia hampir masukin narkoba itu dalam tubuh aku. Aku takut Devan,” ungkap Starla. “Dia cekik leherku dengan gespernya, dan tarik rambut aku sepanjang ruangannya.”


Air wajah Devandra merah bersamaan dengan matanya yang hampir menumpahkan cairan bening. Tangannya mengepal, menahan amarahnya ketika mendengar jerit tangis Starla. Gadisnya disiksa habis-habisan oleh Charlos.


“Devan, dia jahat sama aku.”


Devandra gagal menjaga Starla. Semua karena dirinya yang terlalu meremehkan Charlos. Pria itu, kalau saja dia masih berkeliaran di luar, mungkin saja Devandra yang akan membunuhnya.


Tangisan itu teramat pilu, Starla memeluk leher Devandra seakan tak ingin dilepas, lagi.


“Maaf, aku nggak bisa nepatin janji. Kamu luka karena aku,” ucap Devandra.


Pria itu melerai pelukannya dari sang kekasih, menyampirkan helaian rambut panjang yang bercampur air mata dan keringat. Ia mengusap wajah kekasihnya dari air mata lalu tersenyum saat pandangan mereka bertemu.


“Aku mau kamu,” sebut Devandra.

__ADS_1


Starla menyerngit. “Mm?”


Devandra mendekatkan bibirnya pada telinga Starla, lalu berbisik. “Kita jadi nikah ‘kan?”


“Dev…”


Devandra tersenyum. “Yes, my beautiful Starla.”


“I will. I want to be with you,” ucap Starla.


Dan detik itu juga, Devandra dengan entengnya menggendong Starla dan menghujani gadisnya dengan ciuman pada wajah sembab itu.


****


Dragonfly seperti biasa selalu ramai pengunjung. Di meja bar yang besar duduk Juna dan Darren sejak pukul sepuluh malam. Darren yang sedang bertengkar dengan istrinya, mengajak Juna pergi ke club malam itu. Namun, Darren tidak bisa membawa Juna begitu saja, ia harus melewati amukan dari istri Juna, yang pada akhirnya memberi izin dengan perjanjian Juna tidak boleh pulang dalam keadaan mabuk.


Memang, diantara mereka berempat, hanya Devandra yang belum menikah.


“Juna, apa kabar?”


Pria itu menoleh, lalu tersenyum pada seorang gadis cantik dengan pakaian kurang bahan disampingnya. Jessi—wanita malam yang selalu menjadi partner minum Devandra.


“Oh hai, Jess, gue baik. Lo gimana kerjanya?”


“Baik kok,” jawab wanita itu. Manik matanya mencari seseorang yang tak terlihat malam ini.


“Lo nyari Devan?” tebak Darren.


Wanita itu tersenyum canggung, lalu mengangguk kecil.


Darren tertawa sinis. “Tempatnya bukan disini lagi. Devandra udah punya mainan baru sekarang.”


“Mainan baru?” gumam Jessi.


“Udah dua bulan ini Devandra sibuk urusan pernikahannya nanti,” kata Juna.


Jessi seperti mendengar kabar buruk. “Devan mau nikah?”


“Mm, persiapannya sudah 80%,” imbuh Darren.


Juna dan Darren saling melempar pandangan. Mereka tahu apa yang sedang dipikirkan Jessi sekarang. Wanita ini memang menyukai sahabat mereka.


“Buang jauh-jauh perasaan lo untuk Devan, Jess,” tutur Darren. Pria itu masih sadar walau sudah banyak menenggak alkohol.


Jessi mengangkat kepalanya, memandang Darren dan Juna.


“Lo cuma di bayar buat jadi teman minum selama ini. Devandra itu nggak sembarangan pilih perempuan,” cecar Darren dengan tidak punya perasaannya.


Wanita itu nyaris menangis kalau saja Juna tidak menghampirinya.


“Jes, nggak usah lo masukin ke hati omongan Darren. Si brengsek itu lagi mabuk,” ujar Juna, menenangkan Jessi.


Jessi—gadis itu tersenyum pada Juna. “Yang dibilang Darren emang benar kok. Aku emang salah disini.”


Dari tempatnya, Darren memperhatikan wanita itu. Pria itu berdecak jijik melihat penampilan Jessi. “Pelacur kayak lo nggak pantes dicintai. Lo cukup diatas ranjang sambil buka ************ aja, Jes.”


Detik itu juga Jessi menangis dan pergi dari hadapan Juna dan Darren. Juna hanya menggeleng keras dengan mulut mercon sahabatnya.

__ADS_1


“Darren, ingat anak lo cewek!” sentak Juna.


__ADS_2