
"Udah mau jalan, Sayang?"
Terdengar suara dari ponsel milik Starla. Sejak tadi Devandra bicara padanya. Pria itu tidak jadi menemani istrinya ke Bandung karena harus menghadiri rapat lelang tender yang dimana hari ini akan diumumkan pemenangnya.
Devandra sedikit kecewa karena rapat ini dibuat terlalu dadakan, ingin menyerahkan pada Juna dan Ami, namun tidak bisa. Harus Devandra yang menghadirinya. Dan lagi, ini adalah tender yang sangat ingin Devandra dapatkan.
"Iya. Juna baru mengirim pesan katanya sudah dekat rumah," Jawab Starla.
"Besok aku susul. Mungkin pagi. Perasaan aku nggak enak."
"Nggak usah! Aku langsung balik Jakarta sore,"sahut Starla.
"Rapatnya jam berapa, Yang?" Starla menuruni anak tangga, membawa bersama kopernya.
"Jam dua nanti. Kamu hati-hati di Bandung, by," pesan Devandra.
"Iya. Oh iya, nanti malam ke rumah Mami aja kalau kamu di rumah sendirian," usul Starla.
"Iya, by. Maaf banget aku ingkar janji. Aku benar-benar nggak bisa diwakilin sama siapa-siapa," ucapan Devan yang kini merasa bersalah pada istri cantiknya itu.
Setelah menutup panggilan dari Devan, Starla segera menunggu di teras depan rumah. Ia juga memastikan meninggalkan rumah dalam keadaan aman.
Tidak menunggu lama, mobil Juna memasuki halaman rumah besar itu. Juna turun dan segera memasukkan koper ke bagasi mobil.
"Juna, nanti mampir Minimarket ya. Aku mau ngambil cash," pinta Starla.
"Siap."
***
Juna melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Sejak keluar dari halaman rumah, sebuah mobil SUV hitam mengikuti mereka. Starla begitu ketakutan hingga peluh keringat membasahi wajahnya.
Sejak keluar dari rumah dan sempat berhenti di minimarket, Juna merasa mobil tersebut mengikuti mobil mereka.
Dan Juna mengetahui siapa pemilik mobil itu.
"GEOVANO SIALAN PONSELNYA MATI!!" teriak Juna kesal, karena tidak ada satu pun yang menjawab panggilannya.
"Juna, jangan ngebut-ngebut! Aku takut," pekik Starla.
Juna tak mengindahkan permintaan istri atasannya itu. Juna yakin, orang-orang itu sudah mengetahui pernikahan Devan. Mereka kembali setelah empat tahun berlalu.
"Starla, lo tahu mereka siapa? Mereka antek-antek Darto. Gue masih hafal plat mobil itu. Semua tentang Darto, Aska, dan kejadian empat tahun lalu, gue masih ingat semuanya," seru Juna.
Nafas Juna tak beraturan, tapi Juna masih harus menjelaskan pada Starla. "Kalau gue nggak mati ditangan Darto, berarti gue mati di tangan Devan karena buat lo celaka!"
"Darto siapa?" Starla menelan saliva gugup.
"Nanti lo bakal tahu. Gue nggak bisa jelasin sekarang."
Juna masih mencoba menghubungi orang-orang kantor. Sampai akhirnya dia teringat dua sahabatnya, Yehezkiel dan Darren. Panggilan tersambung pada keduanya, beberapa detik kemudian, Yehezkiel yang kan jawab terlebih dahulu.
"Hall-"
"GUE DIKEJAR DARTO DAN ANAK BUAHNYA SETELAH SEKIAN LAMA! GUE BAWAH STARLA KE BANDUNG! KIRIM BANTUAN, KITA MASIH DI DALAM KOTA!"
"EL, KALAU LO LAGI DI RUANG MEETING, BILANG INI SAMA DEVAN. STARLA DALAM BAHAYA!"
Mobil SUV yang tadinya berada dibelakang, kini sudah sejajar dengan mobil milik Devan. Juna membanting stir ke kanan menabrak mobil itu, dan mobil SUV itu balas menghantam sisi kiri mobil Devan.
"LA, PEGANGAN!" perintah Juna. Tidak ada yang harus Starla lakukan selain mengikuti perintah Juna.
Sampai pada simpang tiga hampir mendekati tol, mobil SUV hitam itu membiarkan mobil yang ditumpangi Juna dan Starla mendahului mereka dan sialnya semua itu ada sebabnya.
Sebuah truk besar menghantam sisi kiri mobil, yang mengakibatkan mobil itu terseret jauh. Kaca mobil pecah. Starla dan Juna sudah tidak sadarkan diri.
***
Proyek besar Toro Group jatuh ke tangan Andrean Corp. Devandra selaku pimpinan perusahaan merasa semua ini tidak ada artinya ketika kabar kecelakaan Juna dan Starla disampaikan pihak rumah sakit Casablanca. Belum lagi sebelumnya, Yehezkiel memberitahu bahwa Darto mengejar mobil Devan yang dipakai Juna.
Ketukan sepatu pantofel terdengar sangat kompak memasuki lobi rumah sakit tersebut. Empat pria itu menjadi sorotan orang-orang disana.
"Atas nama Fransisco Juna," sebut Darren pada resepsionis.
"Ruang IGD. Bapak lurus saja, lalu belok kanan."
Mereka segera mendatangi IGD dan benar saja, disana terlihat Juna yang berbaring tak sadarkan diri pada brankar.
Tapi, Starla?
"Suster, pasien atas nama Starla Meisya yang dibawah kesini bersama Juna di ruangan mana?" tanya Devandra, panik.
__ADS_1
Perawat yang bertugas di UGD kebingungan. Tidak ada pasien selain Juna.
"Maaf, Pak. Saat kesini, Bapak Juna hanya seorang diri. Tidak ada korban lain di TKP," terang perawat tersebut.
"Nggak mungkin! Laki-laki ini bersama istri saya di mobil," ujar Devandra yang mulai tersulut emosi.
"Korban ditemukan warga sendiri disana. Saya pun ikut bersama Ambulance saat menjemput." Perawat itu terlihat sangat takut saat memberi keterangan pada Devandra.
"Dev, tenang! Darto nggak mungkin celakai Starla," sahut Darren.
"Gue bunuh mereka semua!" tekan Devandra, kemudian keluar dari IGD.
Siapapun tidak ada yang boleh menghalangi Devandra untuk membantai pria satu ini. Jika Starla sampai terluka, maka Darto akan mati di tangannya sendiri.
***
"Hello, cantiknya Devandra Brawijaya."
Starla mengerjapkan matanya berulang kali. Dua jam tak sadarkan diri membuatnya merintih kesakitan karena tangannya yang diborgol.
"Pintar sekali si brengsek itu mencari istri," celetuk salah satu pria.
"Kalian siapa? Kenapa tangan aku diborgol?" Starla menatap satu persatu orang-orang disana.
"Kaki aku sakit," adu Starla.
"Oh ya, kita belum kenalan. Tapi sebaiknya kamu tidak perlu tahu siapa namaku, Starla."
"Devan? Dimana suami aku? Bilang sama dia kaki aku sakit banget," kata Starla yang mulai menangis.
"Untuk apa kamu bertanya suami kamu? Dia tidak akan menjemputmu, karena kamu menyusahkan dia, Starla."
Starla diam. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan putih ini. Ruangan tertutup tanpa jendela, hanya ada satu pintu. Starla yakin ini bukan rumah sakit, dan orang-orang ini yang Juna bicarakan sebelum terjadi kecelakaan tadi.
"Aku lapar," tutur Starla.
"Tidak ada makanan untuk kamu!"
"Aksi pencurian nggak elit. Masa makanan nggak ada? Bos kalian siapa? Mau aku hambur mukanya pakai uang suami aku," ketus Starla sangat sombong.
"Berani sekali mulutmu itu?" sentak pria dengan rambut gondrong.
"Aku nggak takut sama kalian! Lepasin borgol ini, beraninya sama cewek!"
"Starla Meisya…"
Mereka semua melempar pandangan pada sumber suara. Di sebuah speaker yang berada tepat di atas brankar tempat Starla dibaringkan.
"Suara banci siapa lagi ini?" tanya Starla.
Lalu bunyi tawa menggelegar seisi ruangan. Starla yakin pemilik suara itu adalah bos miskin mereka.
“Starla, sudah berapa kamu menikah dengan Devandra? Sudah kamu tahu latar belakang keluarganya seperti apa?”
“Aku yakin, kamu belum mengetahui siapa Devandra sebenarnya.”
Starla tertegun. Tiga minggu sudah ia dan Devandra menikah, semua tentang Devandra dan keluarganya jelas ia mengetahuinya.
“Devandra adalah otak dibalik kematian sahabatku. Suami kamu dan tiga orang sahabatnya, serta komunitas mereka itu pembunuh walaupun bukan tangan mereka yang turun,” terangnya.
“BOHONG! DEVAN NGGAK SEPERTI ITU! LAGIAN KALAUPUN IYA, PASTI KALIAN YANG MENCARI MASALAH. IYA KAN?” ujar Starla berapi-api. Tidak terima suaminya difitnah.
“Hahahaha … otakmu bahkan sudah dicuci oleh dia, Starla! Sekarang, hidupnya bahagia sekali. Punya jabatan tinggi, dan istri yang cantik. Aku pikir dia akan mati dengan tiga tusukan yang aku berikan.”
“Dan aku baru ingat, Devandra adalah anak seorang dokter.”
“Ehm, maksudku, anak sambung..”
Starla mendelik, wajahnya terlihat pucat. Anak sambung, siapa yang dimaksud pria itu.
“Apa maksud kamu? Siapa yang kamu sebut anak sambung?” tanya Starla.
“Oh, kamu belum mengetahuinya? Kasihan sekali kamu, hm mungkin Devandra pun belum mengetahui bahwa dia hanyalah anak sambung Papinya.”
Ucapan pria itu membuat Starla terhenyak. Devandra bukan anak kandung Papi. Tapi Starla tidak bisa percaya begitu saja, melihat bagaimana Adryan menyayangi anak sulungnya itu.
DORR …
DORR …
***
__ADS_1
Helsa beranjak dari sofa ketika melihat Devandra memasuki pintu utama. Wajahnya terlihat emosi. Devandra berjalan menaiki anak tangga, menuju kamarnya.
“Devan!!!” panggil Helsa, yang mana tidak disahuti anaknya. Helsa pun segera menghampirinya ke kamar.
Disana Devandra terlihat sedang membuka lemari besar dan terlihat sebuah brankas di dalamnya. Ia menekan password brankas tersebut, dan terbuka begitu saja.
“Devan, mau kamu apakan senjata itu! Simpan benda itu,” hardik Helsa.
Devan tidak mengindahkan teriakan Maminya, ia tetap mengambil dua revolver miliknya. Revolver yang terakhir dipakai empat tahun lalu. Ia menyelipkan dua senjata tersebut di belakang jas kantornya.
“Devan,” panggil Helsa sekali lagi.
“Mami, jangan sekalipun keluar rumah tanpa Papi, atau membuka pintu jika tamu tidak Mami kenal. Starla dalam bahaya, Mi,” terang Devandra.
“Apa maksud kamu? Dimana Starla?”
“Starla diambil Darto.”
Helsa terkejut mendengar nama itu. Berani sekali pria itu kembali mengusik Devandra.
“Devan dengerin Mami. Jangan gegabah, jangan sendirian ke tempat Darto.”
Devandra pun pergi dengan restu Maminya, membawa pulang Starla dalam keadaan baik-baik saja. Devandra juga meminta untuk tidak memberitahu pada Adryan tentang ini. Namun Devandra tidak yakin Helsa bisa menjaga rahasia.
Sebuah gedung besar yang jauh dari pemukiman masyarakat. Devandra bersama Darren dan Yehezkiel sudah berada disana.
“Lo yakin Starla disini?” tanya Darren dan hanya dibalas anggukan oleh pria itu.
“Ada yang jaga di depan. Lo lihat yang botak itu, El. Lo masih ingat dia yang menghantam kepala Dania?”
Ya. Yehezkiel masih mengingat dengan jelas.
Devandra melepaskan jasnya, menyisakan kemeja dan rompi berwarna merah dan juga dasi. Ia juga menggulung kemeja hingga siku. Satu revolver tadi ia simpan dibalik rompi dan satunya lagi ia berikan pada Darren.
Mereka segera mengatur strategi dan siap masuk ke gedung itu.
Bangunan itu dikelilingi tembok yang tidak terlalu tinggi. Postur tubuh mereka sangat pas untuk sekedar memanjat.
Yehezkiel melompat ke dalam, setelahnya disusul Darren dan Devandra.
Bugg…
Bugg…
Darren menghantam kepala dua orang itu dengan revolver yang diberikan Devandra. Kemudian mereka masuk ke dalam sana.
Suara tawa menggelegar dari ruangan yang ada di ujung. Lalu ada suara-suara lelaki yang diikuti suara jeritan seorang perempuan .
Devandra mengenal dengan baik suara Starla.
DORR…
DORR…
Darren mendelik cemas begitu Devandra memberi dua tembakan pada kunci knop tanpa meleset sedikit pun.
“DEVAN!”
Suara teriakan Starla bersamaan dengan kaki-kaki yang berlarian menuju pintu terdengar bersahut-sahutan. Yehezkiel menendang pintu itu dan langsung terbuka.
Ada empat pria bertubuh besar di dalam sana. Jika tadi Devandra mendengar Starla meneriaki namanya, maka berbeda dengan sekarang. Mulut perempuan itu sudah diikat dengan kain berwarna putih.
Tidak menunggu lama aksi baku hantam terjadi didalam sana. Diantara mereka bertiga, tidak ada yang mengenal salah satu dari empat pria itu. Mereka anak buah Darto.
Devandra menghantam pria berambut gondrong itu berulang kali dengan pistol miliknya. Lalu dengan amarah yang sudah tidak terbendung lagi, ia mendorong pria itu ke tembok, lalu mencekik leher pria itu.
“DIMANA DARTO?”
“DARTO NGGAK ADA!” jerit pria itu diikuti tawa dikahirnya.
Di Ujung sana, terlihat Yehezkiel yang menghantam wajah pria lainnya. Dengan posisi berlutut, kepalan tangan Yehezkiel berulang kali menghantam korbannya. Lalu dengan tidak dengan perasaannya ia menginjak dada pria itu.
“DEVAN!!!” teriak Darren menunjukkan kunci borgol yang baru dapatinya.
Dua pria lainnya sudah terkapar di lantai. Devandra kembali menghantam pria bergondrong itu, lalu menghempaskan ke lantai ketika kondisinya sudah lemas.
Devandra segera menghampiri Starla, mengambil kunci borgol dari Darren, dan cepat-cepat melepaskan tangan istrinya dari jeratan besi sialan itu.
“Kaki aku sakit, Dev. Nggak bisa digerakin,” adu Starla pada Devandra.
Sedangkan di tempat yang berbeda, dua orang pria memantau keadaan disana melalui layar besar.
__ADS_1
Semua sudah selesai. Devandra menggendong Starla dari brankar, kemudian keluar dari ruangan itu. Sebelum benar-benar pergi dari sana, Darren menginjak leher salah satu pria yang sempat tersadar.
“Mati lo!” pekik Darren, kemudian meludahi wajah pria itu.