
Dua minggu setelah rawat nginap di rumah sakit, hari ini Starla diperbolehkan pulang. Gadis itu sangat antusias. Sejak tadi pun, tak hentinya dia banyak bicara hal-hal yang bahkan menurut keluarganya tidak penting.
Hanya saja, ia sedikit sedih karena Devandra tidak bisa menjemputnya. Pria dua puluh tujuh tahun tersebut sedang melakukan perjalanan bisnis ke Dubai, sejak dua hari yang lalu. Disini, hanya terlihat Devita, Edward, dan juga Helsa.
Oh, dan juga Adryan, yang memang baru saja keluar dari kamar rawat menantunya, setelah melepas infus dari tangan Starla. Kata Adryan, dia akan menemui dokter yang menangani Starla. Sebut saja dokter Anita.
“Jadi, Starla mau pulang ke rumah Ibu?” tanya Helsa pada menantunya.
“Iya. Kalau Devan sudah kembali, Starla pasti pulang ke rumah. Starla nggak mau repotin Ibu sama Papa,” jawabnya.
“Repotkan saja suami kamu. Biar tau rasa dia,” sahut Adryan. Pria itu datang bersama dokter Anita dan dua perawat.
“Selamat siang,” sapa dokter Anita.
“Siang, Dokter.”
“Starla, udah siap pulang, ya,” ujar dokter Anita.
Starla membalasnya dengan seulas senyum. Selamat dirawat, dokter tersebut sangat baik padanya. Beberapa teman dokter Adryan pun sempat menjenguk Starla, karena Devandra tidak asing untuk mereka. Sejak kecil, lelaki itu sudah buat banyak orang menyukainya.
“Jadi karena hari ini Starla sudah saya pulangkan, dengan catatan akan rawat jalan setiap satu minggu sekali,” terang dokter Anita.
“Emang Mas nggak bisa?” bisik Helsa pada Adryan.
“Bisa. Tapi lebih bagus sama ahlinya,” jawab Adryan.
Helsa mengangguk paham. “Emang, Mas Adryan ahlinya apa selain darah?” tanya Helsa lagi.
“Ahlinya buat Helsa jatuh cinta,” bisik Adryan. Helsa nyaris tertawa mendengar jawaban itu. Masih sempat-sempat suaminya menggombal.
Sedangkan di kota Dubai, Devandra sibuk meyakinkan beberapa klien yang hampir memutuskan kontrak kerja mereka. Sebuah perusahaan bergerak dibidang yang sama sudah lama mengincar klien asal Dubai itu. Disini, Devandra benar-benar menggerakan kecerdasan otaknya untuk mendapatkan kembali kerja sama mereka.
Pria tersebut tidak pernah menyesali masa kecilnya, yang dihabiskan dengan belajar. Ternyata memang otak cerdasnya dibutuhkan oleh Helsa di perusahaannya.
“I am very happy. My arrival to Dubai and leaving my dear wife who was sick was not in vain. Thank you very much sir,” ucap Devandra.
[Saya sangat senang. Kedatangan saya ke Dubai dan meninggalkan istri sayang yang sedang sakit tidak sia-sia. Terima kasih banyak, Tuan]
Lima pria dewasa itu menatap kagum padanya.
“You are still very young, Mr. Devandra. Your leadership spirit is extraordinary. You even love your wife very much. Mrs. Helsa is proud to have a child like you. Come on, let's get this cooperation back.”
[Kau masih sangat muda, Pak Devandra. Jiwa kepemimpinan begitu luar biasa. Kau bahkan sangat mencintai istrimu. Nyonya Helsa bangga memiliki anak seperti kamu. Mari, kita kembalikan kerja sama ini.]
Devandra tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil menarik pria-pria tua ini untuk kembali melibatkan Andrean Corp untuk pembangunan hotel di kota mereka.
***
“Pak, Devan, jadwal nanti sore, akan ada rapat bersama divisi⸺”
“Tunda besok sekitar jam tiga sore di Jakarta,” tangkas Devandra sebelum Ami bicara lebih banyak.
__ADS_1
Ami berjalan dibelakang Bosnya itu. Gadis itu hampir saja jatuh kalau saja ia tidak mengimbangi langkah kaki Devandra yang terlalu cepat.
“Tapi, Pak⸺”
“Shut up!” Devandra menghardiknya, “karena ulah divisi marketing saya harus meninggalkan istrinya saya.”
Ami melengos. “Biarkan saja mereka menunggu!”
“Pak, jangan gitu dong.”
“Mau kamu, saya pulangkan ke Indonesia dan membatalkan liburan alay kamu itu?”
Ami mendelik cemas. Dua hari yang lalu, sebelum keberangkatan mereka, gadis tersebut merayu Devandra untuk bekerja sambil liburan. Sebenarnya, Devandra ingin protes, tapi menyenangkan hati sekretarisnya itu sesekali tidak ada salahnya.
“Eh, nggak deh, Pak. Sekarang juga saya konfirmasi sama Lidya,” sela Ami.
Devandra memang terlihat ketus di mata staf dan karyawan perusahaan, tapi tidak untuk Ami. Satu tahun dia menduduki jabatan menjadi sekretaris Devandra, dia tahu cara menyenangkan hati atasannya itu. Namun, Devandra mengakui bahwa Ami adalah sekretaris yang bisa diandalkan, walaupun dia sering ngaret dan Juna harus menjemputnya ke rumah.
“Oh, ya, Ami. Karena jadwal kita besok hanya bertemu Mrs. Kezra, setelah rapat bersama divisi marketing, saya segera flight ke Jakarta. Dan untuk kamu, saya izinkan menjadi lima hari disini, jangan sampai lebih.”
Ami tidak sempat memekik bahagia di hadapan bosnya, karena Devandra sudah beranjak dari sana. Pria itu menambah tiga hari masa izin untuknya.
***
Kira-kira, pukul 11:30 WIB. Menjelang makan siang, hari itu Adryan mengajak Helsa untuk makan di salah satu restoran Jepang di daerah Bintaro. Tak lupa mereka mengajak Starla dan menjemput gadis itu di rumah Papanya.
Sebenarnya Starla tidak enak hati. Ia merasa membebankan Adryan yang harus mendorong kursi rodanya, bahkan bantu mendudukannya di mobil.
“Iya. Dijemput Papi untuk makan siang,” jawab Helsa.
“Dokter Anita sudah hubungi kamu, Starla?” tanya Adryan.
“Enggak. Paling sama Devan.”
“Itu katanya sebulan aja udah lepas gips-nya. Kamu nggak usah khawatir, ya.”
Mereka banyak berbincang selama perjalanan ke restoran tersebut. Starla menceritakan kuliahnya yang sudah Devandra atur secara online. Sebelum berangkat ke Dubai, Devandra ke Bandung untuk mengurus semuanya.
Sesampainya disana, parkiran restoran itu penuh. Adryan meminta Helsa dan Starla untuk menunggu di mobil, ia akan melihat tempat kosong di dalam sana. Akan sangat merepotkan jika penuh dan mereka harus kembali lagi.
Starla melihat Helsa yang sibuk merapikan rambut sebahunya. Seingatnya, kemarin rambut Helsa masih panjang.
“Mami potong rambut?” tanya Starla.
“Iya. Baru semalam. Dan kamu tahu, Papi ngamuk sampai di rumah⸺” kekeh Helsa.
“⸺itu orang tua nggak suka Mami pendekin rambut.”
Starla merasa lucu setiap Helsa mengatakan Adryan tua. Mungkin, orang-orang yang baru mengenalnya akan mengira pria matang itu usia kepala empat, padahal desember besok usianya sudah 51 tahun.
Starla teringat akan insiden penculikan itu. Semua ucapan pria yang tidak Starla kenali membuat mulutnya bergerak untuk bertanya hal-hal yang terkait dengan suaminya.
__ADS_1
“Mi, Devan itu kayaknya semua-semua diambil dari Mami, ya?” singgung Starla.
“Kamu juga menyadari itu. Kata orang-orang, Devandra itu secara fisik Mami, secara mental, dan sikap seperti Papi,” sahut Helsa.
“Berbanding terbalik sama Cemara. Secara fisik, dia itu Papi versi cewek. Kalau soal sikapnya itu Mami,” tambah Helsa.
Starla membenarkan semua itu. Cemara bisa dikatakan Adryan versi cewek, mereka nyaris seperti anak kembar. Begitu pun juga Helsa dan Devandra.
“Mi, Starla boleh nanya lagi?”
“Boleh, dong. Kamu mau nanya apa, emang?”
Belum sempat bertanya, Adryan datang dan segera masuk ke mobil. Pria itu membuat keduanya bingung dengan wajah yang seperti habis melihat hantu.
“Mas…,” panggil Helsa.
“Kita ke restoran nusantara dekat sini, ya. Di dalam penuh, nggak ada tempat yang kosong," kata Adryan.
Helsa berdecak kesal, ia menggeleng keras kepalanya. " Aku mau makan disini, Mas."
"Sayang, cari tempat lain saja," sahut Adryan.
"Nggak, harus disini!" tekan Helsa. Ia segera keluar dari mobil. Merajuk seperti anak kecil diluar.
Adryan pun turun menghampiri Helsa. Wanita itu bersikeras ingin makan di restoran Jepang tersebut.
"Ok, kita makan disini," putus Adryan.
Sudah tersenyum puas. Helsa segera menghampiri Starla di dalam mobil, Adryan mengeluarkan kursi roda dan membantu Starla keluar dari sana.
Mereka pun memasuki restoran itu, dengan Adryan yang mendorong kursi roda Starla dan Helsa berjalan dk sampingnya.
Benar kata Adryan, restoran itu penuh, namun masih ada meja kosong di sana. Helsa melirik sinis pada suaminya.
"Dasar pembohong!" cibirnya.
Namun, apa yang ditakutkan Adryan baru saja terjadi. Helsa berhenti tepat di depan kasir, dan memalingkan wajahnya pada Adryan.
"Mami…," panggil Starla yang melihat Helsa tiba-tiba saja keluar.
"Mami, kenapa?" tanya Starla pada Adryan.
"Kita harus keluar."
Mereka keluar menghampiri Helsa. Wanita itu bersandar pada mobil, menatap lurus tanpa berkedip sedikit pun.
"Sayang," panggil Adryan.
"Aku mau pulang, Mas!" Helsa masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, membiarkan suami serta menantunya diluar.
Sedangkan Starla yang tak mengerti perihal suasana hati Helsa yang mendadak buruk, enggan bertanya lebih. Ia memilih diam dengan isi kepala yang banyak pertanyaan.
__ADS_1