
Rintik hujan membasahi bumi. Hari itu langit Jakarta diselimuti awan hitam tebal dan angin kencang, pertanda sebentar lagi akan ada badai hujan disana. Waktupun sudah menunjukkan pukul enam sore. Seluruh perkantoran sudah kosong. Termasuk perusahaan raksasa bernama Andrean Corp.
Juna duduk di lobby kantor menunggu atasannya keluar. Sebenarnya Devandra sudah memintanya untuk pulang terlebih dahulu, karena Juna akan melakukan fitting baju pengantin. Namun hatinya tak tenang ketika matanya menangkap sosok perempuan blazer merah yang berdiri dibawah payung pedagang kaki lima. Perempuan yang diyakini adalah Starla.
"Belum pulang lo?" tukas Devandra.
Dengan sigap, Juna bangun dan menghampiri Devandra. "Dev, ada yang harus lo pastikan?"
Devandra mengerutkan keningnya, tidak paham dengan maksud Juna.
"Apa sih, Jun? Gue capek tau nggak! Ngomong yang bener," sentak Devandra.
Juna membawa Devandra keluar, menunjukkan pada Devandra perempuan itu. Dan kini bukan lagi dibawah payung, melainkan sudah basah-basahan karena hujan.
"Starla, Dev. Itu Starla," sebut Juna lantang.
"Ngapain dia ke Jakarta, lo nggak usah ngaco! Starla kerja di Bandung," tandas Devandra.
Sudah satu minggu setelah meeting tender itu, Devandra selalu mencari tahu kabar gadis itu. Namun tak banyak yang tahu. Karena menurut kebanyakan orang, gadis itu sangat tertutup.
"Gue nggak punya waktu, Jun. Mending lo kembali ke butik, gue juga mau pulang," perintah Devandra.
Juna memberengut kesal. Dasar keras kepala. Bagaimana bisa Starla mau kembali kalau dia sendiri seperti ini? Perempuan itu maunya diperjuangin, bukan manis dimulut aja. Iya nggak, girls?
Devandra lalu masuk ke dalam Mercy, melempar jas ke kursi belakang. Mobilnya sudah berada di lobby sejak pukul lima. Memang sejak di ruangannya, Devandra memiliki firasat buruk yang entah itu apa. Dia menghubungi Papi, Mami, dan juga Cemara menanyakan keadaan mereka. Semuanya baik, tak kurang satu pun.
Mobil Mercy hitam itu keluar. Benar kata Juna, perempuan itu adalah Starla. Gadis itu terlihat sangat berantakan disana. Devandra menghentikan mobilnya di bibir jalan mengambil payung, dan cepat-cepat menghampiri gadis itu.
Ada yang salah dengan Starla.
***
Sudah tiga jam sejak pukul empat sore dia di Halte bus itu. Menatap gedung tinggi di hadapannya. Beberapa karyawan dari sana baru saja keluar, mungkin sudah waktunya pulang.
Matanya sembab. Rambutnya terlihat sangat kusut. Yang saat ini dia pikirkan adalah Devandra mau bertemu dengannya.
"Dev, aku terlalu naif."
Gemuruh dari langit begitu menggelegar, Starla tidak takut. Dia hanya memeluk tubuhnya, hembusan angin bisa mengalahkan blazer yang dipakai. Sudah cukup Starla menangis di perjalanan tadi, dia tak mau menangis lagi.
"Mbak, nungguin orang? Udah lama banget berdiri disini," tanya pria pedagang kaki lima itu.
"Iya, Pak."
"Mau minum, Mbak?" tawar Bapak itu, dan dibalas gelengan oleh Starla.
__ADS_1
"Saya perhatikan, Mbak dari tadi ngeliatin kantor di depan? Nunggu seseorang disana? Udah maghrib ini," tanya Bapak itu lagi.
"Saya yakin orangnya bentar lagi keluar, Pak."
Bapak pedagang kaki lima itu pun pamit untuk pulang pada Starla. Dia hanya berpesan untuk hati-hati karena daerah itu rawan begal.
Hujan mulai turun. Ingin berteduh di halte, namun tempat itu terasa sesak dengan orang-orang yang sedang menunggu bus. Payung pedagang kaki lima pun sudah tak ada. Terpaksa Starla kehujanan disana. Ponselnya pasti akan rusak karena air hujan.
"Dev….," lirih Starla. Lelaki itu hendak menyebrang dan Starla yakin Devandra akan menghampirinya.
"SHUT UP THERE!" teriak Devandra dari seberang sana. Hal itu membuat orang-orang di halte menoleh pada Starla.
Langkah Starla yang tadinya mau menghampiri Devandra seketika berhenti mendengar interupsi itu. Devandra sudah berjalan dari arah sana.
"Starla….," panggil Devandra lembut.
Mereka berdiri dibawah payung yang sama, saling menyalurkan rasa rindu melalui tatapan itu. Devandra terhenyak ketika Starla langsung memeluknya erat.
"Starla?"
Starla sudah berjanji untuk tidak menangis di hadapan Devandra, namun semuanya itu hanya. wacana ketika Devandra kembali menyebut namanya.. Tentang hari ini dan empat tahun yang ia lalui meruntuhkan egonya.
"Devan, peluk aku." Isakan tangis Starla lolos begitu saja, Devandra memeluk Starla dengan senang hati, namun sejak tadi dia bertanya-tanya apa yang membawa Starla ke Jakarta hari ini dan menangis seperti sekarang.
"Charlos nyakitin lo? Si bangsat itu," desak Devandra.
Starla sudah basah sepenuhnya.
****
Sekitar pukul delapan malam, Devandra tiba di apartemennya dengan Starla tentu saja. Gadis itu mengenakan tanktop dengan balutan jas milik Devandra dari luar. Sebelum pulang, Devandra membiarkan Starla membuka baju kerjanya di mobil dan dia menunggu diluar.
"Lo masih ingat 'kan apartemen ini?" tanya Devandra.
"Masih." Starla berjalan mendahului Devandra yang sedang menutup kembali pintu. Gadis itu duduk di kursi.
"Mandi," suruh Devandra. "Pakai air hangat biar lo nggak sakit."
Starla memperhatikan pergerakan cowok itu. Devandra sepertinya mencari sesuatu.
"Cari apa?" tanya Starla.
Devandra menoleh. "Kunci kamar bawah. Nggak mungkin gue tidur di sofa atau sama lo."
"... walaupun gue benci Charlos, gue nggak akan sembarangan sama miliknya," imbuh Devandra.
__ADS_1
Starla tersenyum tipis. Dia menelan salivanya, mendengar sindiran itu.
"Empat tahun aku coba lupain orang itu, tapi hasilnya nihil. Dia masih di posisi itu, dia masih jadi yang pertama buat aku," ucap Starla kemudian melangkah naik ke tangga.
Sedangkan Devandra sibuk mencerna kalimat yang keluar dari mulut Starla.
"La, ngomong sekali lagi!" seru Devandra.
Namun Starla terus naik ke kamar tanpa mau menoleh lagi. Devandra tak bisa menahannya lagi.
"Starla!"
Gadis itu tersentak ketika dengan paksa Devandra menarik tangannya, dan memojokkannya ke pintu kamar.
"Lo nggak pernah tunangan 'kan sama si brengsek itu?" Devan menatapnya tajam, menurut jawaban yang sesungguhnya.
"JAWAB!" Bugh….. Ia memukul tembok tepat di samping wajah Starla.
"IYA, AKU NGGAK PERNAH TUNANGAN SAMA SIAPAPUN! KARENA MEMANG NGGAK AKAN ADA YANG TERTARIK SAMA CEWEK MISKIN SEPERTI AKU."
Devandra memejamkan matanya, menggeram tertahan. "Tarik kata- kata lo barusan atau gue perkosa lo!"
Yah, si tukang ngancem.
"Dev, aku bukan Starla sembilan belas tahun yang bisa kamu ngan-"
Starla mendelik ketika Devandra menciumnya cepat. Kesabaran cowok itu sudah habis. Devandra menciumnya tanpa ampun, menyesap leher gadis itu hingga meninggalkan bekas merah yang disertai gigitan kecil di sana.
Selepas ciuman itu, tak tanggung-tanggung Devandra menggendongnya seperti koala.
"Kenapa harus bohong, hmm?" Tangan kanan nya membuka tuas pintu kamar itu dan membawa masuk Starla ke dalam.
Devandra mendudukkan Starla diatas ranjang, membuka jas hitam miliknya dari tubuh Starla dan melempar ke atas meja rias.
"Empat tahun lo nyiksa gue, Starla." Devandra merangkak naik ke ranjang, dan gadis itu mundur perlahan.
Ia melepaskan gesper miliknya yang tentu saja membuat Starla hampir berteriak.
"Dev…."
"Fucking miss you so much," bisik Devandra.
Cowok itu kembali memagut bibir ranum di depannya. Kali ini Devandra melakukannya dengan sangat lembut dan membuat Starla terbuai untuk membalas ciuman nya.
Ciuman itu berlangsung lama, dan kini tangan nakal cowok itu membuka kaitan bra Starla dan membuangkan ke lantai. Ciuman itu akhirnya berpindah pada puncak dada Starla.
__ADS_1
Starla melenguh tatkala Devandra menyesap hingga leher jenjangnya. Devandra melepaskan celana chinonya dan tersisa boxer. Cowok itu bahkan sudah membuka kemeja kerjanya, menampilkan tato-tato pada tubuhnya.
Devandra menatap tajam mata gadis yang berada dibawahnya ini. "Gue mau lo, Starla. Gue mau milikin lo seutuhnya.”