SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
SUAMI DAN ISTRI


__ADS_3

Malam itu Adryan dan Devan ditinggal tugas Helsa ke Bandung. Ada meeting tender yang akan dilaksanakan esok hari. Sepulang dari rumah sakit, Adryan langsung menjemput Devan di rumah orang tuanya.


"Papi, tadi pas di sekolah, Devan pukul temannya Kanaya," lapor Devan pada Adryan.


Adryan mendelik. Laporan macam apa ini. "Devan, nggak boleh gitu. Nanti Devan dihukum sama Miss Diana."


"Dia ngatain Kanaya cerewet. Terus Kanaya aduin sama Devan," ujarnya, jujur.


Adryan terkekeh. "Belain adiknya ini?"


"Iya dong, Papi. Kanaya 'kan, adiknya Devandra," sebutnya bangga.


Adryan membawa anak kecil sembilan tahun itu ke pangkuannya. Mendekap erat seraya mengusap surai hitam tebal Devan dengan lembut.


"Azlan, jangan cepat dewasa, ya," tutur Adryan.


Devan mendongak, melihat pada Papinya. "Dewasa itu apa Papi?"


"Seperti Papi dan Mami," jawab Adryan. "Dewasa itu nggak enak, banyak hal yang nggak asyik."


"Oh," Devan mengangguk, seolah ia paham. Kemudian Devandra kembali bertanya. "Emang dewasa itu gimana Papi?"


Adryan tersenyum kecil. "Dewasa itu tidak semenyenangkan saat Papi jemput di sekolah, dan tidak seindah dongeng yang Papi baca untuk Devan."


Devan lalu berbalik, dan memeluk erat Papinya. "Jangan dong, Papi harus jemput Devan terus ya. Bacain juga dongeng buat Devan, Pi."


"Iya, Sayang. Papi jemput Devan terus, bacain terus dongeng untuk anak kesayangan Papi ini,” sahut Adryan seraya mengecup kening anak kecil itu.


"Devan sayang sama Papi nggak?" tanya Adryan.


"Sayang dong. Papinya Devan " jawabnya antusias.


Adryan tersenyum simpul. "Tapi⸺,"


"Harus lebih sayang Mami," pungkas Devan melanjutkan perkataan Adryan.


Pria itu tertawa kecil mengingat kenangan masa kecil bersama anak sulungnya. Semua memori itu terekam jelas dalam ingatan dan juga dokumentasi berupa foto dan video masa kecil mereka. Tidak sedikit pun Adryan melewatkan masa tumbuh dan kembangnya Devandra maupun Cemara. Semua diabadikan di sana.


“Mas, Helsa sudah selesai, mandi gih,” seru wanita yang sudah bersamanya selama dua puluh tujuh tahun.


“Sebentar lagi,” sahut Adryan.


“Mikir apa sih, Mas?” Helsa menghampirinya, masih mengenakan handuk kimono. Terlalu penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya di balkon Villa ini.


“Move on, anaknya malam ini udah lepas perj**a,” sarkas Helsa.


“Enak aja move on,” balas Adryan kesal. “Gini-gini juga teman Mas sewaktu kamu jauh.”


Helsa tertawa geli. “Iya deh, sahabat hidup matinya Azlan Devandra.”


Pria itu menarik pelan hidung mancung sang istri dengan gemas. Adryan masih lengkap dengan tuxedo hitam dari resepsi pernikahan Devandra dan Starla.


“Sayang⸺,” Adryan memeluk Helsa.


“Mas, jangan mulai. Mandi sekarang,” tegur Helsa.


“Making love yuk,” bisik Adryan.


“Issh, nggak ah! Helsa capek.”


“Ini kan ulang tahun, masa nggak ada kecup-kecup mesra sih,” goda Adryan.


“Masih aja ganjen. Devan udah nikah, bentar lagi mau punya cucu. Mas sudah kepala lima, udah kelihatan tua. Kalau Helsa sih, masih muda banget. Besok-besok anaknya Devan nggak boleh panggil Oma, harus tetap panggil Mami,” ujar Helsa.


“Idih, nggak terima banget kalau sudah kepala empat,” sindir Adryan.


“Masih muda. Emang Mas Adryan, sudah setengah abad,” balas Helsa tak mau kalah.


“SAYANG!” raung Adryan.


BLAM!!!


Pintu kamar mereka dibanding dari luar. Adryan nyaris menabrak benda mati itu kalau saja ia tidak sadar Helsa lari keluar dengan cepat.


Sial sekali. Padahal Adryan mau membuatnya menjerit malam ini.


***


“Malam panjang ya, La,” goda Kiki dan Lani di depan pintu kamar. Dua bridesmaid itu mengantar pengantin cantik milik Devandra terlebih dahulu. Sedangkan Devandra, pria itu masih duduk bersama ketiga sahabatnya. Darren menahannya sebentar. Paling juga dia mau menggoda Devandra.


“Apa sih, lo berdua!”


“La,Villa ini isinya cuma lo berdua. Devan sengaja cari tempat aman deh,” kata Kiki.


“Nggak usah ngaco. Kayaknya Mami sama Papi disini juga,” kilahnya.

__ADS_1


“Lah, dia nggak tahu, Lan,” seru Kiki. “Ini Villa emang buat lo berdua aja. Tanya aja sama laki lo.”


Starla melihat sekelilingnya. Villa yang berada di daerah Ubud ini tidak terlalu besar. Ruang tengahnya cukup luas, dengan dua kamar, dapur, dan kamar mandi serta di toilet. Pokoknya Villa ini dikasih bintang lima lah. Sepertinya Villa ini dikhususkan untuk honeymoon.


Tidak. Starla menggeleng cepat, membuyarkan lamunan persoalan malam pertamanya ini. Ya ampun, Devandra itu ‘kan mesum banget, pikir Starla.


“Kalian berdua balik gih. Kasihan Ibu sama Papa nunggu,” perintah Starla.


Kiki dan Lani sudah berada di Bali empat hari yang lalu bersama orang tua Starla, mereka tinggal di Villa yang sama. Sedangkan Adryan, Helsa, Cemara beserta keluarga besar mereka, tinggal di dua Villa milik almarhum Papa Helsa.


“Iya, iya. Ini juga mau pulang, nggak usah diusir juga dong Nyonya Devandra,” ketus Lani.


Setelah pamit, keduanya segera pergi. Starla dengan gaun mahal rancangan salah satu desainer terkenal itu belum mau masuk ke kamar. Memikirkan malam pertama menjadi istri seorang Devandra membuatnya lapar.


Sedangkan masih di Villa tempat resepsi pernikahan mereka, Devandra masih bersama anak-anak Acme. Ia masih menemani teman-temannya itu.


***


“By, where are you? Your husband is coming,” seru Devandra yang baru saja masuk ke kamar.


Ia melepas tuxedo dan pantofel, menarik dasi kupu-kupu yang terasa mencekik lehernya. Bunyi air dari kamar mandi menandakan bahwa Starla sedang berada di dalam sana.


“Sayang⸺kamu mandi?” tanya Devandra, mengetuk pintu kamar mandi.


“Bentar,” seru Starla.


Baiklah. Akan lebih baik jika Devandra menunggu Starla sampai gadis itu keluar.


Matanya menangkap sebuah private pool yang dihias bunga mawar dengan tulisan Happy Wedding. Mengajak Starla berenang bukan ide yang buruk.


Devandra segera mengambil kimono putih di lemari, lalu mengganti cepat sebelum Starla keluar. Mungkin istrinya sudah mengganti gaun resepsi dengan gaun tidur.


Devandra tersenyum kecil, membayangkan bagaimana lekuk tubuh gadisnya memakai gaun tidur yang tipis. Apalagi warna merah yang menantang.


Hah, see? Starla tidak salah menilai Devandra yang kelewatan mesum.


pintu kamar mandi bergeser. Devandra menganga tak percaya. Ekspektasinya terlalu tinggi. Starla masih dengan gaun pengantin yang super berat itu.


“Kok belum ganti?” Devandra menghampirinya.


“Tangan aku nggak nyampe. Resletingnya, ‘kan di belakang, Yang,” sebut Starla.


Yang, Sayang. Panggilan baru Starla untuk suaminya. Sedangkan Devandra untuk Starla, By, Baby, Babe, Sayang. Kalau Adryan mendengar, dia akan mengatai anak sulungnya itu kena karma. Devandra selalu mencibir saat Adryan memanggil istrinya dengan sebutan-sebutan romantis yang menurut Devandra itu terdengar sangat alay. Katanya Papi labil dan bucin.


“Iya sini, aku bantu bukain.”


“Udah stop, Dev. Aku lanjutin sendiri,” ujar Starla.


“Ini baru setengah, By,” sahut Devandra.


“Iya, aku bisa sendiri. Kamu mandi aja.”


“Aku nunggu kamu mau berenang,” imbuh Devandra.


Starla mendelik, lalu berbalik menatap Devandra. “Berenang jam segini?”


“Iya. Nggak bakal sakit. Kalau sakit juga, jangan lupa kamu punya mertua dokter,” sebut Devandra membuat Starla tersenyum.


Mertua? Iya, Starla sudah menjadi bagian dari keluarga Brawijaya sekarang.


“Kamu duluan aja, nanti aku nyusul,” perintah Starla.


***


Siapa sangkah gadis yang pernah menolaknya kini sudah resmi menjadi istrinya. Devandra dibawah ke masa lalu, dimana ia yang berusaha mendapatkan Starla lalu berujung gadis itu meninggalkannya.


Ribuan kelopak mawar yang tadinya menghiasi kolam itu sudah berantakan karena ulahnya. Pikirnya, lebih baik merilekskan diri sebelum menjalankan hak sebagai seorang suami.


Devandra menaruh gelas orange jus saat menyadari air kolam yang bergerak, tanda seseorang masuk. Itu Starla.


Gadis itu masuk ke kolam dari tangga yang berada di belakang Devandra. Pria tersebut yang memang berdiri memunggungi tangga kolam langsung berbalik. Ekspektasi yang sempat Devandra pikirkan di kamar sudah menjadi kenyataan, namun ini lebih hot.


Starla memakai bikini. Gadis itu menanggalkan kimono dan melempar ke pinggir kolam.


“Matanya mau aku colok?” Suara Starla membuyarkan pikiran-pikiran kotornya. Devandra langsung menariknya cepat.


“Lama,” cetusnya.


“Siapa yang buatin?” Starla mengambil segelas orange jus.


“Suami kamu.”


“Oh, suami,” kekeh Starla.


“Berani banget pakai bikini depan aku,” bisik Devandra, “nggak takut, hm?”

__ADS_1


“Berani-beraniin saja. Aku nggak bawah baju renang,” sela Starla.


Devandra terkekeh, membawa Starla ke tengah kolam. “Udah bisa berenang?”


“Kalau kolam gini aku bisa kok,” timpalnya.


“Emang bedanya kolam sama laut apa, Sayang?”


“Bedanya kalau laut itu airnya asin,” timpal Starla.


Langit dari Bali terang malam itu. Bintang-bintang bertaburan dengan indah, menemani pasangan pengantin yang sedang berendam di kolam.


Starla terperanjat merasakan tangan kekar Devandra yang menyentuh kulit perutnya. Pria itu memeluknya dari belakang, mencium tengkuk leher Starla.


“Geli,” desis Starla tersenyum. Semakin Starla mendesis, semakin gencar Devandra melakukan aksinya.


“Jangan digigit,” tegur Starla.


“Gemas,” sahut Devandra terkekeh. “Sekarang, sudah resmi jadi hak milik aku. Mau aku gigit dimana juga terserah.”


“Aw! Devandra,” pekik Starla. Pasti pundaknya ada bekas gigitan oleh suaminya.


Devandra ini memang selalu seperti itu. Bahkan di depan Devita pun ia sering mencium Starla.


Setengah jam sudah berlalu. Starla sudah duduk di bibir kolam, dan Devandra berendam sambil memeluk pinggang Starla.


“Disini bakal ada anak aku,” sebut Devandra sambil mengusap perut Starla.


“Iya,” sahut Starla tersenyum simpul.


“Tapi, aku udah janji sama kamu. Aku nggak mau nyusahin kamu, By. Cepat selesaikan Magister kamu, ya,” ujar Devandra.


Starla mengangguk. “Setahun lagi,” jawabnya. Jemari lentiknya itu menyugar surai hitam tebal Devandra yang berjatuhan menutup kening karena basah.


Persoalan memiliki anak setelah menikah, Devandra sudah memutuskan untuk menundanya terlebih dahulu. Ia bahkan sudah memberitahu pada Papi dan Maminya, karena Devandra mau Starla menyelesaikan kuliahnya.


***


Gimana sih, caranya mengusir rasa takut dan gelisah di malam pertama?


Itu adalah pertanyaan yang selalu terlintas dipikiran Starla. Gadis itu duduk bersandar pada kepala ranjang, jemarinya saling memilin, matanya terus mengintip pintu kamar mandi berharap Devandra lebih lama disana.


Malam ini⸺malam ini Starla akan memberikan mahkota berharga yang ia jaga untuk suaminya. Astaga, Starla teringat kejadian di perpustakaan Palm empat tahun silam. Ternyata suaminya adalah Devandra. Cowok yang dikatain Psychopath yang akan memperk**anya.


Sreg…


Starla tertegun mendengar bunyi pintu kamar mandi yang bergeser. Nafasnya tercekat. Ini kali keduanya ia melihat Devandra shirtless, dan hanya mengenakan boxer.


“Udah ngantuk?” tanya Devandra. Starla hanya menggeleng lirih. Bego banget sih, bilang aja ngantuk kalau takut. Dan Starla menyesali itu.


“Yang⸺,” panggil Starla.


“Hm.” Devandra menyahut tanpa melihat Starla.


“Kamu belum tidur?”


“Ambil sesuatu dulu,” jawab Devandra, dan keluar entah kemana.


Beberapa menit kemudian, Devandra kembali dengan segelas air di tangan dan menaruhnya di atas nakas.


Sebenarnya Starla sudah dengan posisi berbaring, menatap pergerakan Devandra yang naik keatas ranjang.


“Devan,” desis Starla, merasakan sapuan lidah suaminya tepat pada leher jenjangnya. Dan lebih menegangkan lagi ketika Devandra menatap tubuhnya tanpa berkedip. Ya Dewa, ini Starla masih pakai gaun tidur ya.


“Bantu aku lepasin ini,” pinta Devandra, tangannya sudah menurunkan satu tali gaun, kemudian menurunkan resleting belakang gaun.


Starla menuruti semua perintah Devandra. Jangan sampai kecewakan Devandra di malam pertama mereka.


Devandra berhasil meloloskan gaun tidur itu, menyisakan sepasang dalaman berwarna hitam.


“Nggak usah tegang gitu mukanya, aku nggak bakal nyakitin gadisku ini,” bisik Devandra, mengecup bibir Starla.


Starla terhenyak saat kedua tangannya diangkat ke atas kepalanya, Devandra menahannya begitu kuat, lalu mulai melancarkan aksinya mencumbu bagian leher dan juga telinga gadisnya. Leher adalah bagian tubuh Starla yang Devandra sukai. Suara erangan Starla menambah rasa penasarannya; senikmat apa bercinta sehingga Darren melakukannya sebelum menikah?


Tangan kirinya masih menahan kedua pergelangan tangan Starla diatas sana, Devandra melepaskan kaitan br* Starla dengan tangan kanannya.


“Aku pernah melihat ini, tapi sudah lama!” seru Devandra kembali menyesap puncak dada istrinya.


Tubuh Starla melengkung tatkala sesapan Devandra semakin kuat. Ingin menjambak rambut pria itu, namun tangannya dikunci.


“DEVAN!!!” pekik Starla akhirnya.


Nafas pria itu memburu hebat, layaknya orang kehausan. Devandra sudah melepaskan tangan Starla. Tatapannya sudah jatuh pada kain tipis segi tiga yang seperti sejak tadi sudah mengejeknya.


Ia menariknya ke bawah. Devandra bisa melihat dengan jelas bagian inti tubuh Starla. Sedangkan wajah gadisnya sudah memerah diatas sana, karena dirinya sudah tak berbusana sepenuhnya.

__ADS_1


Erangan Starla memenuhi kamar itu. Devandra membiarkan Starla berteriak sepuasnya, karena itulah ia sengaja mengambil satu villa untuk mereka. Devandra ingin menjadikan malam pertamanya ini hal luar biasa. Dia sudah lama menanti ini.


__ADS_2