SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
MELAMAR STARLA


__ADS_3

“Ini beneran udah mau pulang, Babe?”


Pukul lima pagi Starla sudah selesai mandi, rambut basah yang dibungkus dengan handuk baru saja dilepas. Kaos hitam oversize milik Devandra yang dipakai terlihat lucu di tubuh gadis itu.


“Devan, kamu jangan seperti ini dong. Aku ‘kan jadi nggak tenang,” tutur Starla.


Devandra menarik gadis itu agar duduk dipangkuannya. “Gue peluk dulu.”


Starla tersenyum tipis. “Manja banget,” ujar Starla.


“Telepon gue setiap satu jam. Jangan matikan ponsel, gue nggak tenang kalau lo masih jauh gini,” pinta Devandra. Ia mencium tengkuk leher Starla, mencium aroma tubuh gadis itu.


“Starla, dengar ‘kan yang gue bilang?”


“Iya, aku dengar kok,” sahut Starla. Ia balik menatap Devandra, “kamu harus pulang rumah ya, Devan. Jangan banyak di apartemen.”


“Iya, kalau lo nggak berulah, gue tarik lo dari Bandung.” Tangan kekarnya melingkar sempurna pada pinggang ramping gadis itu.


“Posesif…,” cetus Starla.


“Karena lo nggak pernah ada di posisi gue,” ketus Devandra membalas Starla. “Karena yang ada dipikiran cewek-cewek, mana mungkin cowok galau? Mana mungkin yang seperti Devan ini bisa patah hati, iya ‘kan Starla Meisya?”


Starla tertegun, lalu beranjak dar pangkuan Devandra.


“Laaaa, gue belum selesai,” jerit Devandra.


“Devan, masih pagi jangan teriak-teriak!”


Cowok itu naik ke kamar yang ada pada lantai dua, mengikuti Starla yang kini sudah hilang dari pandangannya. Gadis itu sedang memasukan beberapa barang ke tasnya.


“Ya udah, gue antar langsung ke Bandung,” seru Devandra dari pintu.


“Tiket kereta aku jam enam,” sahut Starla.


“La, gue anterin sampai depan rumah.”


“Devann, aku nggak suka dimanjain. Kamu juga harus masuk kantor, jadi pemimpin itu harus kasih contoh yang baik untuk bawahannya,” ujar Starla.


Gadis itu menghampirinya. “Mandi. Semalam aku udah siapin pakaian kantor kamu itu.”


“Seriously?”


“Kamu sibuk main PS, sampai nggak nyadar aku juga telponan sama Mami dan Cemara. Aku juga udah pamit semalam sama mereka,” kata Starla.


“Cium dulu, baru gue mau mandi.” Devandra tersenyum jahil, wajah kesal Starla mengingatkan Devandra pada Helsa. Maminya itu punya sifat yang sama seperti gadis didepannya sekarang, hanya bedanya Helsa itu manja bahkan sampai sekarang. Maklumlah, anak tunggal kurang kasih sayang.


“Cium nggak ni?”


“Ish, mauan aja kamu…” Cup….


“Nah kalau gitu kan enak, tapi gue maunya lebih.”


Alis Starla menyatu. “Kamu nggak usah modus ya.”


“Starla sayangggg….”


Panggilan Devandra bersahut-sahutan dengan dering ponsel gadis itu yang berbunyi. Devandra berdecak kesal, lalu merampas ponsel itu dari atas ranjang.


“Pak Heru, memanggil?” gumam Devandra.


“OB di kantor Devan, siniin dulu aku jawab teleponnya,” Starla menggeram kesal dengan tingkah kekasihnya ini.


Devan mengembalikan beda pipih itu pada sang empunya, lalu dengan cepat Starla menjawab panggilan itu.


“Nggak sabaran banget kayaknya si Charlos. Udah kangen dia sama lo. Sedekat apa sih lo berdua, hm?”

__ADS_1


Starla masih mendengar pembicaraan Pak Heru dari seberang sana, dia hanya menjawab seadanya saja, kemudian memutuskan panggilan itu.


“Sedekat apa sih sama si brengsek itu?” ketus Devandra.


“Devan, kamu cemburu?” Starla terkekeh.


“Nggak! Ngapain gue cemburu sama Charlos,” cetus Devandra.


“Oh, ya udah,” Starla balik menghampiri tas kecilnya tadi, dan membuat Devan kesal sendiri.


“STARLA MEISYA!”


Cowok itu menarik paksa agar Starla duduk di ranjang dan terjadilah ciuman panas pagi itu. Singkat, padat, dan jelas.


“Jangan deket-deket sama Charlos,” lirih Devandra.


Cup….


Starla mencium pipinya. “Aku nggak deket sama dia.”


“Lo bohong. Mana ada sekretaris yang nggak deket sama atasannya?”


Starla menyerngit. “Berarti kamu juga dekat ‘kan sama Ami?”


Devandra lalu bangkit dari tindihannya itu.


“Benar ‘kan?” Starla masih menuntutnya.


“Dia yang ganjen sama gue.”


“Sama aja, Pak Devan juga ganjen,” celetuk Starla.


Cowok itu tersenyum simpul, lalu memeluk Starla erat. Sepertinya rindu yang katanya sunyi akan selalu berisik ketika Devan yang rasakan itu. Gadis bersurai panjang ini akan lebih banyak menyita waktunya. Devandra selalu ingin dekat dengannya, Devandra selalu ingin mendengar suara berisik yang memarahinya, selain Helsa.


Bandung cerah hari itu. Starla masuk ke rumah minimalis dan mencari Ibunya. Terlihat Devita yang menghampirinya dari pintu kamar.


"Starla….," panggil Devita.


"Ibu…," Tangisan Starla pecah, ia menangis dalam pelukan Ibunya.


"Kenapa kamu nggak bilang sama Ibu? Kamu hanya bilang kalau kamu punya kerjaan ke Jakarta," tanya Devita khawatir.


"Starla nggak mau Ibu khawatir. Starla nggak mau Ibu sakit," jawab gadis itu, semakin erat memeluk Ibunya.


Devita tersenyum dengan air mata yang membasahi pipinya. Perasaannya hancur ketika mendapat kabar tidak menyenangkan dari salah satu teman kerja anaknya.


"Kamu di Jakarta sama Kiki atau Lani?" tanya Devita, mengajak Starla duduk.


Starla menggeleng pelan. "Starla ketemu Devan."


"Devan baik sama Starla, Bu."


"Kamu cerita sama Devan?" tanya Devita, dan membuat Starla bungkam.


****


Di sebuah rumah bergaya Eropa, puluhan wartawan dari stasiun tv sedang meliput disana. Sebuah mobil tahanan pun terlihat disana , dan juga beberapa motor polisi.


"Dari TKP, kami melaporkan penangkapan Charlos Diego yang merupakan CEO Trinity Company dan juga pelaku pelecehan seksual terhadap Sekretarisnya yang berinisial S.M," terang salah satu presenter stasiun tv.


"Dari laporan yang diberikan saksi yaitu seorang Office Boy bernama Heru Handaru, korban nyaris diberikan narkoba yang diterangkan oleh BNN berjenis Morfin. Sampai saat ini korban masih diperiksa oleh pihak kepolisian.”


BRAKKH >>>


Layar besar yang menampilkan berita saat itu pecah dan jatuh ke lantai. Plakat yang dilempar tadi menancap pada layar televisi tersebut. Kasus pelecehan seksual itu terjadi empat hari yang lalu, tepat dimana Starla datang dan menangis padanya.

__ADS_1


“CHARLOS BAJINGAN!” teriak Devandra. Cowok itu tidak peduli dengan keberadaan Juna di ruangannya.


Jadi, alasan kuat Starla kembali adalah karena ini. Gadisnya itu nyaris diperkosa dan bahkan dicekoki narkoba oleh atasannya yang brengsek itu.


Devandra nyaris frustasi di ruangannya kalau saja Helsa tidak datang. Seluruh stasiun televisi sedang menayangkan berita itu.


“Devan, jemput Starla!” perintah Helsa.


“Mami?”


“Jemput Starla kalau kamu benar serius dengannya,” ujar Helsa. Pandangan wanita itu langsung diarahkan pada Juna, “Jun, temani Devan ke Bandung.”


“Siap, Tante.”


“Nggak perlu, Devan bisa sendiri,” sanggah cowok itu dan langsung beranjak dari sofa.


“Devan…,” panggil Helsa lagi sebelum anaknya benar-benar keluar dari sana.


“Kamu mungkin butuh ini, Sayang. Kamu mengerti maksud Mami.”


Ditempat yang berbeda, Starla menangis dalam pelukan Ibunya. Setelah memberikan kesaksian sebagai korban, gadis itu tidak ingin bertemu siapapun kecuali Ibunya. Sejak tadi, ponselnya berdering dan tak ada satupun yang ia jawab panggilannya.


Dari dua sahabatnya, Devandra, dan bahkan Helsa. Sekarang semua sudah terkuak. Starla yakin semua orang merasa jijik padanya, terlebih lagi Devandra. Kekasihnya itu mungkin akan memutuskannya.


Beberapa wartawan sudah mulai pulang karena tidak ada hasil yang mereka dapati darinya.


“Ibu, apa kita keluar dari Bandung lagi? Starla malu,” raung gadis itu.


“Sudah Starla. Ibu capek, biarkan semuanya berlalu. Pria itu sudah diamankan pihak kepolisian,” sanggah Devita.


“Kita tidak perlu keluar dari Bandung, Nak. Ibu sudah terlalu capek seperti ini,” ujar Devita, lagi.


Starla memandang lurus pada fotonya dan Devita. “Devan pasti marah sama Starla, Bu. Pasti Devan nggak mau ketemu lagi sama Starla.”


****


Tiga jam waktu yang ditempuh Devandra menuju Bandung. Untungnya dua hari yang lalu Starla memberikan alamat rumahnya di daerah Dago. Jadi, biarpun gadis itu tidak menjawab panggilannya, setidaknya alamat itu sudah ia tahu.


Komplek perumahan cluster itu terlihat ramai. Ini pasti dengan kabar yang menimpah Starla.


Devandra menghentikan Mercy hitamnya tepat di pekarangan rumah Starla, dan cepat-cepat keluar dari dalam sana.


“STARLA!!”


Orang-orang disana hanya memperhatikannya. Devandra tidak peduli, yang sekarang dia khawatirkan adalah kekasihnya. Starla pasti membutuhkannya sekarang.


Cowok itu terus menggedor kan pintu rumah kekasihnya, sampai akhirnya wanita yang sangat Devandra kenali itu membuka pintu untuknya.


“Bu, Devan mau ketemu Starla!”


Devita mengangguk, dan mempersilahkan cowok itu masuk.. Betapa terkejutnya wanita itu melihat betapa ramainya orang-orang diluar sana. Devita menutup kembali pintu dan membawa Devandra ke kamar anaknya.


“Starla,” panggil Devan lembut. “La, please, open the door!”


“YOU HAVE ME, BABE! LO NGGAK SENDIRI, STARLA.”


Lalu beberapa saat kemudian pintu kamarnya terbuka. Starla keluar dengan rambut yang dicepol. Matanya sembab walaupun sudah dibasuh sekalipun.


Devandra menatapnya sendu ketika setitik air mata jatuh pada mata kanan Starla. Gadisnya itu rapuh. Starla memang membutuhkannya.


Masih ada Devita disana bersama mereka. Devandra mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua pemberian Helsa sesaat sebelum dia berangkat.


“Starla, gue nggak bisa lihat lo kayak gini. Cukup sekali lo diperlakukan seperti itu,” ungkap Devandra.


“So, please marry me.”

__ADS_1


__ADS_2