
Dua bulan sebelumnya.
“Happy Birthday, Sayang…” ucap Devan sambil mencium kening gadis itu.
Sheren membalas ciuman itu dengan pelukan yang tak kalah mesra. Hari itu kekasihnya berulang tahun yang ke 20 tahun. Itu menjadi ulang tahun kedua mereka bersama.
“Makasih, Sayang.” Sheren meniup sebuah cake kecil yang Devan bawa. Devan tahu Sheren tidak menyukai makanan manis, makanya dia membelikan cake yang berukuran kecil saja.
Mereka berada di apartemen milik Sheren. Pagi sekali Devan datang untuk memberi kejutan. Begitu sayangnya Devan pada Sheren, makanya dia tak mau melewatkan setiap momen penting untuk kekasihnya.
“Mami nitip sesuatu buat kamu,” kata Devan. Ia meraih sebuah paper bag berwarna coklat dan memberikannya pada Sheren. Di Dalam sana sebuah paket lengkap make up dengan merk La Prairie diberikan Helsa untuk Sheren. Perempuan mana yang tidak mengenal salah satu merek kosmetik yang harganya bisa untuk cicilan apartemen tipe studio.
“Dev, ini serius dari Mami?” tanya Sheren, gugup.
“Emang isinya apa?” Devan sendiri penasaran ka.
“Ini kosmetik mahal banget. Ini yang kedua kalinya Dev, aku nggak tau harus balas apa untuk Mami kamu.”
Devan tersenyum. “Cukup jadi pacar yang baik untuk anaknya.”
“Kalau itu nggak perlu kamu bilang, aku selalu mau jadi yang terbaik untuk kamu,” ujar Sheren. Gadis itu mencium sekilas bibir kekasihnya, namun cepat-cepat Devan menahan tengkuknya dan menciumnya lebih dalam. Pagi hingga siang itu keduanya menghabiskan waktu bersama.
Sampai pada malam hari Devan harus kembali ke apartemen Sheren karena arloji kesayangannya ketinggalan di sana. Malam itu Sheren sedang keluar ke rumah Pamannya jadi Devan tidak perlu memberi kabar akan kesana. Password apartemen itu Devan hafal betul. Tanggal jadian mereka.
Devan menghentikan langkahnya ketika suara seorang pria terdengar dari kamar. Seperti suara, *******. Cowok itu penasaran dan diam-diam pergi ke sumber suara itu.
Devan tidak mengedipkan sedikit pun kelopak matanya. Bagaimana pinggul Sheren bergoyang sangat erotis diatas tubuh pria yang usianya jauh lebih tua darinya. Tangan kekar pria itu memegang pinggul Sheren. Itu pertama kalinya Devan melihat tubuh telanjang Sheren, meskipun sudah beberapa kali kekasihnya itu menggodanya dengan menggunakan bikini. Dan lagi pria itu menyentuh puncak dada Sheren dan bahkan menyesapnya.
Devan pikir ini bagian dari halusinasinya. Namun dia salah. Ini nyata. Sheren melakukan *** dengan pria lain. Devan berangsur mundur dan segera mencari arlojinya dan cepat-cepat keluar dari sana.
Sepanjang perjalanan pulang, Devan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sakit luar biasa yang dia rasakan malam itu. Ini balasan Sheren untuk cintanya. Harus Devan apakan perempuan sialan itu.
Hari-hari berlalu begitu saja. Namun ada yang berbeda dari Devan, itu yang dilihat oleh Sheren. Tidak ada bahasa aku-kamu dari mulut Devan. Lo-gue, yang selalu Sheren dengar dari mulut kekasihnya.
“Sayang, liburan semester ini kemana?” tanya Sheren.
“Gue sama keluarga mau ke Bali,” jawab Devan.
“Kamu nggak ngajak aku?” tanya Sheren lagi. Biasanya Devan selalu membawa Sheren di acara-acara keluarganya, bahkan liburan semester kemarin mereka ke Singapore bersama menjenguk Kanaya-sepupunya.
“Ini private, khusus keluarga aja.”
Sheren mengangguk paham.
“SHEREN!!!” teriak salah satu teman kelasnya. Sheren menoleh, dan bersamaan dengan itu Juna datang menghampiri Devan.
“Ren, lo dipanggil Bu Mega menghadap ke ruangannya,” kata teman kelas Sheren.
“Oh, iya deh. Gue kesana.”
Sheren berbalik menatap Devan dan Juna. “Aku ke ruangan dekan ya. Nanti sore aku mau main ke rumah. Bye Sayang,” kecup mesra Sheren pada pipi Devan. Hal itu membuat Juna melongo.
Sheren sudah pergi. Devan meringis jijik. “Lo ambil satu gelas air, Jun,” perintah Devan. Juna menuruti dan mengambil segelas air mineral dari kulkas di kantin.
“Buset, cuci muka lo pakai air mineral. Kebanyak duit lo Dev,” celetuk Juna.
“Jijik gue sama bibirnya,” tanda Devan.
Juna memicing curiga, ada hal aneh yang terjadi antara DEvan dan Sheren.
“Ada masalah?” tanya Juna, kepo.
“Lo harus bantu gue. Cari penyadap suara yang mahal, yang bisa dengar suara dengan jernih.”
“Ada apa dulu ni? Gue penasaran, Bangsat!” maki Juna.
“Sheren selingkuh!”
***
“Starla.”
Nama itu menggema di dapur Cafe. Starla langsung beranjak dan menghampiri Lani di ambang pintu.
“Ada apa, Lan?” tanya Starla.
“Lo lihat cewek yang duduk di meja nomor lima, dia mau ketemu sama lo,” ujar Lani memberitahu.
Starla terperanjat. Itu adalah kekasih Devan. Maksudnya mantan kekasih, karena hubungan mereka sudah selesai satu minggu lalu. Starla mendengar setiap pembicaraan mereka, Starla mendengar Sheren yang menangis hari itu. Dan Sheren juga mendengar satu kalimat yang menurutnya sangat intim.
Gue jatuh cinta sama Starla. Gue mau dia, gue mau dia jadi Ibu dari anak-anak gue nanti.
“La, kesana gi. Judes banget nanyain lo,” kata Lani.
Starla mengangguk, dan pergi menghampiri Sheren. Dari kejauhan, gadis itu menatapnya tak suka.
“Maaf Mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Starla, sopan.
Byur…
Beberapa customer dan pelayan di sana melihat tindakan Sheren barusan. Wajah dan baju Starla sudah basah dengan minuman yang disiram ke wajahnya. Memejamkan matanya, Starla mengusap wajahnya.
“Cewek nggak tahu malu. Perusak hubungan orang,” cecar Sheren memaki Starla.
“Heh! Lo bilang apa barusan? Coba sekali lagi gue nggak dengar,” sambung Lani yang datang dari arah kasir.
“Temen lo ini pelakor, godain cowok orang!” seru Sheren.
“Salahin cowok lo yang deketin sahabat gue!” Lani tak kalah menantang, ia menghunus Sheren dengan tatapan yang sangat tajam.
“Lan, ini urusan aku sama dia,” tegur Starla menengahi perdebatan itu.
“Nggak bisa, La. Perempuan ini harus tahu kalau cowoknya yang ganjen sama lo,” bantah Lani, lalu menatap pada Sheren. “Biar lo tahu, setiap hari Devan selalu kunjung rumah Starla cuma mau memastikan dia dan Ibunya baik-baik aja.”
Starla menoleh pada Lani, apa dia tidak salah mendengar?
“Setiap hari Devan selalu memastikan Starla bekerja atau nggak, dia selalu pantau sahabat gue ini. Lo tahu, Devan udah nandain Starla sama Ibunya,” jelas Lani berapi-api.
“Lan…,” Starla butuh penjelasan.
“Maaf, La. Gue udah nutupin semuanya dari lo. Tapi, lo harus tahu ini. Ibu selalu minta gue rahasiakan ini dari lo. Setiap hari Devan selalu ke rumah lo setiap lo lagi kerja atau di kampus,” kata Lani.
Sedangkan Sheren yang tadinya marah besar, kini menciut setelah mendengar pernyataan itu. Devan tidak main-main dengan ucapannya. Devan menginginkan Starla. Devan sudah melupakannya.
“Lo juga udah putus ‘kan sama Devan? Kenapa lo dengan nggak tahu dirinya maki-maki Starla?” Lani tertawa mengejek, hal itu membuat teman-teman pelayannya ikut tertawa dengan kebodohan Sheren.
Starla menarik pundak Lani untuk mundur sedikit, lalu ia berdiri tepat di depan Sheren. Starla mengambil minuman salah satu customer yang mejanya berseberangan dengan meja yang Sheren tempati.
Byur…
“Nggak usah mempermalukan diri kamu disini. Barusan itu untuk muka aku yang udah kamu siram. Dan ini…” Plak…
“... untuk kamu yang udah buat keributan di tempat kerjaku.” Tamparan keras mendarat dengan sangat kencang di pipinya, Sheren hampir menangis karena pipinya sangat sakit.
Sheren memang salah mencari lawan. Starla bukan orang yang tepat untuk digunjing. Starla memang terlihat polos, tapi dia tidak akan tinggal diam jika dijatuhkan seperti sekarang.
“Ini terakhir kalinya aku lihat kamu di Cafe ini,” terang Starla. Lani tersenyum puas melihat wajah pias Sheren.
“Pergi lo!” usir Lani.
Sheren mengambil tasnya, lalu dengan jari telunjuknya ia menanda wajah Starla. “Hidup lo nggak akan tenang!”
***
Kejadian dua hari yang lalu di Cafe membuat Starla berubah. Tadinya, semenjak dari apartemen Devan, Starla sudah mulai berteman baik dengannya. Namun, semuanya berubah setelah kedatangan Sheren di tempat kerjanya. Starla merasa salah satunya adalah kesalahannya yang membuat Devan dan Sheren putus.
“Kiki, bisa nggak kamu jangan tarik rambut aku? Sakit!” jerit Starla.
Masih sibuk menulis, Starla merasa kesal karena rambut panjangnya ditarik sejak tadi.
“KIKI!!!” hardik Starla.
Gadis itu terperanjat, ternyata Devan yang melakukannya. Cowok itu tersenyum ramah padanya. Lalu Devan duduk tepat di depannya.
“Nggak capek lari terus dari gue, hm?”
“Aku nggak ada urusan sama kamu,” kata Starla.
“La, ikut gue yuk.”
__ADS_1
“Nggak!” tolak Starla.
“Starla….,”
Gadis itu mendongak, “aku nggak takut sama semua ancaman kamu.”
“Oh, ya? Are you sure?” goda Devan.
“Iya, aku nggak takut sama kamu,” cetus Starla.
“Shit!” Dengan cekatan, dengan satu kali saja Starla sudah dalam gendongan Devan.
“DEVAN!!! TURUNIN AKU!!” Layaknya karung beras, Devan membawa keluar gadis itu dari dalam kelasnya. Laptop dan tas milik Starla tertinggal di meja.
“Lo harus gue hukum. Soalnya ngelawan. Udah berani sama gue sekarang,” seru Devan tanpa mempedulikan tatapan para mahasiswa Sastra sepanjang koridor kelas.
“DEVAN!!” Starla menjambak surai hitam cowok itu, namun Devan tidak mempedulikannya.
Di parkiran, Devan langsung membuka pintu Jeepnya dan mendudukan Starla di depan. Lalu ia pun ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.
“Dev, aku masih ada kelas.”
“Bahasa Jawa Kuno ‘kan? Bu Irma nggak masuk, lo nggak usah bohong sama gue,” sahut Devan yang kemudian menghidupkan mobilnya.
Ya ampun, Devan cenayang atau bagaimana. Anak Bisnis seperti dia bahkan tau jadwal kelas Anak Sastra.
Starla berdecak kesal karena mobil sudah mulai keluar dari parkiran kampus. Devan selalu seenaknya.
Sepanjang perjalanan itu Starla memikirkan perkataan Lani dud hari yang lalu, tentang Devan yang selalu mengunjungi rumahnya tanpa sepengetahuannya. Sesekali ia melirik pada cowok itu.
“Banyakin lihat muka gue, biar cepat-cepat jatuh cinta,” ucap Devan yang sadar diperhatikan oleh Starla.
“Dasar cowok mesum!” decak Starla.
***
“Gue nggak habis pikir sama Devan. Putus dari lo, naksirnya waiters Cafe,” ujar Arsya-sahabat Sheren.
Hanya ada keterdiaman dari Sheren. Ini semua salahnya yang tidak bisa menahan hasrat sexnya. Ini semua salahnya yang tidak pernah jujur pada Devan bahwa dia sudah tidak gadis sejak kepulangan study tour saat semester dua. Sejak kejadian salah satu katingnya yang menyetubuhinya tahun itu, Sheren menjadi sangat liar. Ya, memang saat itu dia belum mengenal Devan. Karena mereka baru berpacaran sejak semester empat tahun lalu.
Sheren selalu ingin disentuh lebih. Itu sebabnya ketika Devan menolak, gadis tersebut selalu melampiaskan hasratnya dengan lelaki bayarannya. Namun lima bulan yang lalu, seseorang dari masa lalu pulang ke Indonesia. Jujur saja, Sheren masih menyimpan rasa untuk Danu. Danu adalah mantan kekasihnya ketika masa putih abu-abu. Danu yang lama tinggal di Amerika memiliki kehidupan bebas dan liar. Danu selalu memberikan Sheren kepuasan diatas ranjang yang tidak pernah Devan berikan.
Danu pun masih sangat mencintai Sheren. Apapun yang Sheren minta, selalu Danu turuti, termasuk hasratnya.
Dan Arsya tidak pernah mengetahui perselingkuhan itu.
“Sya, gue mau istirahat,” ujar Sheren lalu meninggalkan Arsya sendiri di ruang tengah.
“Ya udah deh, gue pulang aja. Gue juga malas kalau dikacangin. Lo selamat nangis-nangisan, habis itu move on,” nasihat Arsya, kemudian mengambil tas dan pergi dari apartemen.
Di dalam kamar, Sheren merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ponselnya bergetar, sebuah notifikasi pesan mengalihkan perhatiannya. Pesan itu dari Danu.
Danu : Do you miss me?
“Ya, i miss you,” gumam Sheren. Mendapat pesan itu seketika hasratnya naik. Dia menginginkan Danu, namun dia enggan bertemu. Sheren menanggalkan pakaiannya, sepertinya dia akan menggunakan tangan sore itu.
Ditempat yang berbeda, di Pantai Sambolo Anyer. Devan menanggalkan kaos hitam dan juga celana jeans D&G memasukkannya ke dalam kursi mobil. Starla masih duduk di kursi depan memperhatikan gerak-gerik cowok tersebut. Sedikit tercekat karena Devan hanya mengenakan celana boxer sekarang. Cowok itu akan mandi laut.
Starla mengira tato yang Devan punya hanya ada pada pergelangan tangan kanan dan juga sisi kanan lehernya saja, namun dia salah. Di kakinya bahkan ada yang bergambar tengkorak dan bunga mawar, Starla benar-benar tidak melihat saat Devan hanya memakai boxer di apartemen satu minggu yang lalu. Selain itu di perutnya bergambar wajah sepasang pria dan wanita yang Starla yakini itu adalah wajah Papi dan Maminya.
“Starla…”
Lamunannya buyar, Devan sudah duduk kembali pada kursi kemudi.
“Dev, turun nggak!”
“Pakai kemeja gue di belakang itu. Gue tunggu lima menit diluar,” ujar Devan memberitahu agar Starla mau mengganti pakaian dan mandi bersamanya. Cowok itu sudah keluar.
Jauh-jauh ke Banten cuma buat ke Pantai. Devan memang sengaja agar bisa lebih lama bersamanya. Baiklah, hanya lima menit waktu yang diberikan cowok itu. Cepat-cepat Starla mengenakan kemeja polos putih. Aish, ini terlalu terbuka jika dia harus keluar.
Devan memandang Starla yang baru saja turun dari mobil, ini kedua kalinya Devan melihat Starla mengenakan kemejanya.
Why you so sexy? batin Devan.
“Mata kamu mau aku colok pakai apa?” tanya Starla, kesal.
“Apaan sih kamu!” decak Starla, kemudian berjalan menuju bibir pantai.
“Dia bisa berenang?” monolog Devan yang akhirnya mengejar Starla.
Starla tidak pernah ke Pantai sebelumnya. Ini adalah pertama baginya. Dan Devan, cowok itu yang membawanya kesini. Padahal tidak harus ke Banten, Ancol sudah cukup bagus menurut Starla.
Hari itu sudah sangat sore, sekitar pukul empat. Deburan ombak saling mengejar, seakan ingin cepat-cepat menghampiri Starla.
"Starla…" bisik Devan dari belakang.
Gadis itu sedikit terkejut saat Devan memeluk pinggangnya.
"Biarin kayak gini, La. Gue mau," kata Devan mencegah pergerakan Starla.
Saat itu Devandra mau Starla untuknya. Saat itu yang Devan minta, mereka seperti itu selamanya.
"Dev…," panggil Starla, yang sudah terbawa suasana ketika tangannya mengelus punggung tangan Devan. Cowok itu memejamkan mata, merasakan sejuknya angin laut.
"Ya."
"Kamu sering ke Pantai?" tanya Starla.
Devan mengangguk, dalam keadaan sadar ia mencium pundak Starla berulang kali. Lalu beberapa saat kemudian Devan melepaskan pelukannya, menjulurkan tangan agar Starla mau ikut bersamanya.
"Aku nggak bisa berenang," cicit Starla.
Devan terkekeh, sudah ketebak.
"Ikut gue, Starla."
Starla meraih tangan kekar itu, lalu bersama Devan keduanya masuk ke dalam sana. Menyatu dengan deru ombak. Hingga ketinggian air mencapai dada Starla, Devan berhenti disana.
"Asyik banget, Dev!" pekik Starla, kesenangan.
"Mau yang lebih seru nggak?" tawar Devan.
"Apa?"
Lalu ….
Disini mereka sekarang. Dermaga yang tidak terlalu panjang, dan juga tidak terlalu tinggi dari dasar. Mereka sudah sama-sama basah dari bawa sana.
"Lo nggak ada phobia ketinggian 'kan La?"
"Enggak kok. Tapi Dev, aku takut," jawab Starla.
"Gue nggak akan lepasin lo," sanggah Devan, penuh arti.
"Janji? Kalau aku tenggelam, Ibu nggak punya siapa-siapa lagi."
"I promise you," Devan lalu memeluk Starla, bersiap untuk terjun bersama.
"DEVAN!"
"Belum juga lompat," decak Devan.
Starla mendongak, menatap Devan. "Ya maaf."
"La, peluk leher gue lebih erat," pinta Devan, dan Starla melakukannya. Gadis itu terperanjat ketika Devan malah menggendongnya seperti Koala dan…
"DEVANDRA!!!"
Byurrrr …
Seperti sedang bermain wahana di Dufan. Starla berteriak sekencang mungkin ketika Devan melompat ke laut bersamanya dalam gendongan itu. Kakinya tak lepas dari pinggang Devan, begitu juga dengan tangannya.
Masih dalam gendongannya, cepat-cepat Devan membawa Starla ke permukaan.
"Hah," Starla bernafas legah ketika sudah diatas.
"Seru 'kan, La?"
Starla melihat ke atas dermaga."Seru banget."
__ADS_1
"Bisa berenang sendiri?" tanya Devan, dan Starla membalaskan dengan gelengan ringan.
"Gue pegangin. Gerak sebebas lo, gue disini."
Dengan sedikit ketakutan, Starla mencoba untuk melepas diri dari Devan. Namun, tangannya tak lepas menggenggam tangan cowok itu.
"Dev, aku suka. Suka banget. Jadi gini ya, rasanya berenang. Apalagi di lautan kayak gini."
Devan terkekeh. Gadis tersebut terlihat sangat antusias. Devan tahu Starla belum pernah ke Pantai sebelumnya, dan masih banyak tempat lagi.
"Starla …"
"Ya, Devan," sahut Starla, lalu mengikis jarak diantara mereka.
"Be my girlfriend?"
Devan merengkuh pinggang kecil itu agar lebih dekat dengannya. Sedangkan Starla terpaku mendengar suara itu. Devan menembaknya?
"Dev…,"
"Be my girlfriend."
Kali ini Devan tidak membubuhkan kalimat tanya pada kalimat itu. Starla tercekat. Wajah Devan tidak menggambarkan bahwa cowok itu bercanda.
"Devan, aku-"
Suara Starla berhenti ketika Devan mengecup singkat bibirnya. Ya ampun, itu ciuman pertama Starla. Devan, author aduin sama Papi ya.
"Gue akan tunggu lo, Starla. Gue bakal nungguin lo, sampai kapanpun itu."
****
Langit sudah mulai gelap. Semburat langit berwarna Jingga begitu cantik menghiasi alam semesta. Ini puncak dari Romansa Pantai Panjang, Pantai Sambolo Anyer yang mau Devan berikan untuk Starla.
Duduk di bibir pantai, menikmati senja bersama gadis kesayangannya. Kemeja yang Starla pakai pun kering di badan. Hari ini luar biasa. Starla mengakui itu.
“Dev, kamu sering kesini?”
“Dari kecil udah dibawa jelajah alam sama Papi dan Mami, ke Pantai terus. Karena Mami suka lihat sunset.”
“... setiap weekend kalau nggak keliling kota, ya ke Pantai. Terkadang Mami ajak ke Bali,” imbuh Devan.
“Keluarga kamu keren, Dev,” puji Starla.
“... beda sama aku. Dari kecil aku hanya sama Ibu, aku nggak tahu seperti apa sosok Ayahku.”
Starla menoleh sekilas pada Devan. “Menurut kamu, aku masih punya Ayah? Menurut kamu, kalau dia masih ada, kenapa dia nggak temui aku?”
Deg !
Starla sudah berkaca-kaca menatap Devan. Cowok itu bingung harus menanggapi apa dua pertanyaan tersebut. Lalu terlintas dalam ingatannya salah satu kalimat milik Papinya.
Pelukan itu bisa menjadi obat dari segala rasa sakit.
“La, ada banyak hal di dunia ini yang sebaiknya tidak perlu kita ketahui untuk membuat kita tetap baik-baik saja,” ucap Devan, dan beranjak berdiri.
“... bangun,” perintah Devan dan Starla pun menyambut uluran tangannya.
Devan memandang wajah polos gadis itu, kedua tangannya terangkat membuat lengkungan pada bibir Starla.
“Senyum. Dan biar gue peluk,” kata Devan dan membawa gadis itu dalam pelukannya.
****
“Mas, Cemara tuh masih terlalu kecil. Jangan egois!”
“Dia langgar aturan, jadi harus dihukum. Ini yang terbaik untuk dia,” cetus Adryan.
Helsa tertawa dengan air mata matanya. “Terbaik untuk Mas, bukan untuk Cemara. Kalau sampai Cemara beneran ke Jogja, aku bawa anak-anak keluar dari rumah.”
“Helsa…,”
Itu pertama kalinya Adryan menyebut nama istrinya. Biasanya Sayang, Baby, istriku, cintaku.
“Aku nggak ngancem, aku selalu serius,” ungkap Helsa.
“Cemara tetap pindah sekolah!”
“BERARTI SIAP PISAH KITA,” teriak Helsa. Wanita itu mengambil ponsel dan menghubungi Devan yang belum pulang sampai sekarang.
“Devan dan Cemara nggak akan keluar dari rumah, termasuk KAMU!” Adryan merampas ponsel istrinya dan melempar ke dalam wastafel kamar mandi. Dengan teganya ia menekan kran air lalu ponsel itu sudah terendam dalam wastafel.
“MAS ADRYAN!!!”
“Sayang, cukup kita yang merasa pahitnya kehidupan, anak-anak jangan,” lirih Adryan. Pria itu mencoba untuk memberi Helsa pengertian dengan rasa takutnya sekarang.
“Cemara punya Mas dan Devan yang bisa jagain dia,” seru Helsa. “Helsa nggak siap jauh dari Cemara, Mas.”
“Kita bisa jenguk dia, sayang. Kalau perlu setiap weekend,” sahut Adryan.
“Nggak! Nggak mau, Cemara harus tetap di Jakarta,” seru Helsa.
Adryan berdecak, ia beranjak dari ranjang. Ia tahu persis wataknya Helsa, dia akan lakukan ribuan cara agar permintaannya terkabul. Untuk menghindar lebih baik Adryan menghabiskan pekerjaannya saja.
Namun, baru diambang pintu pria tersebut berhenti.
“Siap-siap aja kalau suatu saat nanti Ara bakal benci sama Mas. Jangan pernah salahkan Helsa,” lirih wanita tersebut.
“Maksud kamu?” Adryan kembali menghampiri Helsa.
“Mas tahu betul bagaimana dulu hubungan aku dan Mama sebelum kita menikah,” sebut Helsa.
“Jangan bawah-bawah masa lalu!” tekan Adryan.
***
“Ibu…”
Sudah pukul sembilan malam, dan mereka baru saja di Jakarta. Devan memarkirkan Jeep di halaman rumah Starla, menunggu wanita paru baya itu keluar membukakan pintu untuk anaknya.
Lalu pintu terbuka, menampilkan seorang wanita bersyal putih pada lehernya.
“Assalamualaikum, Bu,” sapa Devan.
“Waalaikumsalam, Devan.”
“Ibu, maaf ya, Starla pulangnya telat,” ucap Starla.
“Iya, Devan udah bilang sama Ibu.”
Starla menatap selidik pada cowok itu, yang ditatap malah senyum-senyum jahil padanya.
“Devan nganter Starla aja. Dari tadi Mami telepon,” ujar Devan, jujur.
“Yahh, padahal Ibu mau ngajak makan malam.”
“Nggak usah, Bu. Tadi kita udah makan kok,” sanggah Starla.
“Oh, ya udah. Kalau kalian masih mau ngobrol Ibu masuk.”
Starla memandang punggung wanita itu, Ibunya pengertian sekali. Apa benar yang dikatakan Lani kemarin?
Starla menghampiri Devan yang masih bersandar pada mobilnya.
“Dev, makasih.”
“Untuk apa?
“Untuk hari ini. Kamu baik banget mau ngabisin waktu sama cewek kayak aku.”
“Karena gue mau,” ucap Devan.
Hening…
“Starla…,” panggil Devan, lembut.
“Iya, Dev.”
Devan berjalan mendekati gadis itu, kemudian ia mensejajarkan wajah keduanya. “La, apa gue harus hapus tato-tato ini biar bisa masuk dalam tipe cowok idaman lo?”
__ADS_1