SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
APARTEMEN


__ADS_3

Resepsi pernikahan Yehezkiel malam itu berjalan dengan lancar. Untungnya pengantin cowok tersebut tidak berulah. Sebagian anak Acme masih di hotel, termasuk Darren dan Juna.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Devan baru saja keluar membawa Starla pulang. Di lobby hotel, Devan tak sengaja berpapasan dengan Aska.


“Wow, mainan baru?” Aska memicing, menatap Starla yang terlihat kebingungan.


“Lo nggak diundang. Ngapain lo kesini?”


“Tentu saja melihat kehancuran sahabat tercinta lo itu,” sahut Aska.


“Sial,” umpat Devan.


“Sheren kemana?” tanya Aska. Cowok itu melirik sekilas pada Starla, “dibayar berapa lo sama Devan?”


“BANGSAT, MATI LO!!!” Bugh….


Mendengar teriakan dan bunyi pukulan itu beberapa staff hotel dan security menghampiri mereka.


“Dev, udah!” lerai Starla. Ia mencoba untuk menarik Devan dari atas tubuh Aska, namun Devan tak mempedulikan itu. Aska akan mati jika pertengkaran itu tidak berakhir.


“Nggak terima lo?” Aska tertawa terbahak dibawah kungkungan Devan. “Pacar lo aja nggak bener, apalagi ini cewek!”


Bughh… Devan ingin membunuh Aska malam itu. Iya, Aska memang harus mati. Devan muak dengan kelakuan bajingan satu ini.


“Devan!!” teriak Juna yang berlarian dari dalam hotel.


“OM, DEVANDRA!!” teriak Darren memperingati Adryan yang sedang berbincang dengan Dilan- Ayah Yehezkiel.


“DEVAN!!!” Sontak saja Helsa berteriak histeris.


“Mami…,” sahut Cemara yang melihat Helsa berlari menghampiri Kakaknya.


“MATI LO MALAM INI!!” Tangan kekar yang diselimuti tato itu memukul wajah cowok blasteran Spanyol itu dengan brutal.


“LO BOLEH NGEJELEKIN GUE, BANGSAT!! JANGAN STARLA!”


“Devandra!” Suara bariton itu berhasil melumpuhkan tangannya. Adryan berjongkok dan menarik anaknya.


Sedangkan Starla diam membisu. Dia takut melihat Devan semarah itu dan hampir membunuh lawannya.


“Antar Starla pulang,” ujar Adryan. Devan memandang Starla yang ketakutan, lalu beralih menatap Maminya. Nafasnya memburu hebat.


“Sayang, you ok?” Helsa terisak menyentuh wajah dan sekitar tubuh Devan.


“Devan ok Mami,” jawabnya sembari mencium Helsa, netra hitamnya tak lepas memandang Starla. Tidak. Starla tidak boleh takut kepadanya.


“Starla…,”


Devan menghampiri gadis itu, meraih tangannya lalu meletakkannya pada sedikit lebam yang dipukul Aska. By the way, Adryan sudah menangani cowok brengsek itu. Dia yang langsung meminta beberapa orang mengantar Aska ke rumah sakit.


“Jangan takut sama gue,” ucap Devan.


***


Hanya ada keheningan di dalam mobil. Sesekali Devan meringis karena perih pada wajahnya.


“Kita mampir ke apotik sebentar,” kata Starla.


“Nggak usah, di apartemen lengkap,” sahut Devan.


Starla mengangguk paham. Dia sudah mengetahui keluarga cowok di sebelahnya. Ternyata, Devan adalah anak dari dokter yang selalu membeli bunga di tanggal 30 itu. Dunia sempit sekali. Devan memperkenalkan Starla kepada Adryan dan Helsa saat resepsi pernikahan tadi berlangsung.


“Dev, turunin aku di depan gang aja. Kamu juga harus ngobatin luka itu,” cicit Starla.


“Sama gue malam ini,” pungkas Devan.


“Maksud kamu?”


“Tidur sama gue malam ini,” sahut Devan.


“HAH?” Starla terperanjat, tidak menyangkah bahwa Devan memiliki maksud terselubung di acara malam ini.


“ENGGAK! AKU BUKAN CEWEK SEPERTI ITU!” pekik Starla.


“Apa sih? Gue juga milih kali,” ketus Devan.


“DEVAN!”


“IYA, STARLA!” balas Devan tak kalah heboh.


“Aku serius,” ucap Starla.


“Gue juga serius, Starla Meisya!” Devan terbahak melihat wajah Starla yang ketakutan kalau-kalau dia akan diperkosa Devan.


Dan benar saja, mobil itu sudah melewati daerah rumah Starla. Astaga, Starla sudah berjanji akan memberikan semuanya kepada suaminya kelak. Apa mungkin dia akan diperkosa Devan malam ini?


Selain karena takut diperkosa, Starla juga tak mau Devita khawatir padanya.


"Gue nggak akan macam-macam sama lo," ujar Devan. Ia terkekeh mendengar tegukan saliva gadis di sebelahnya. Starla ini membuat Devan gemas setengah mati.


"... cukup satu macam untuk malam ini," imbuhnya.


Starla menatap kesal Devan, dengan tangan kanannya ia menekan lebam di wajah Devan.


"Lo sengaja?" Devan melirik sekilas, matanya masih fokus pada jalanan.


"Iya, aku sengaja. Cowok mesum!" tanda Starla.


Bukannya marah, Devan malah tertawa. Rasanya aneh, ketika dari jutaan perempuan memuji nya, ada Starla yang selalu mengatakannya cowok mesum. Apalagi Starla juga pernah mengatakan dia seorang psikopat. Astaga, buat marah cewek saja Devan harus pikir berulang kali.


Setelah hampir 30 menit waktu yang ditempuh, mobil Porsche itu memasuki basement apartemen. Devan tidak main-main dengan ucapannya. Devan keluar, namun gadis itu masih di dalam mobil.


"Mau gue gendong?" tanya Devan ketika membuka pintu di sebelah kiri.

__ADS_1


"Nggak perlu. Aku bisa sendiri," ketus Starla. Untungnya gaun yang diberikan tidak menyusahkannya.


Starla mengikuti langkah Devan masuk ke lift hingga sampai pada lantai dimana unit apartemen miliknya berada.


Lorong apartemen sangat sepi. Mungkin karena sudah hampir tengah malam. Di depan pintu, Starla berdiri cukup jauh dari Devan.


"Masuk," perintah Devan, namun Starla enggan.


Devan menghela nafas, ia mengulurkan tangannya. Starla tak berkedip sedikitpun, namun seperti ada dorongan dari dalam dirinya, gadis itu menyambut uluran tangan Devan.


Devan membawanya masuk, lalu kembali menutup pintu. Starla masih tak melepas genggamannya dari tangan Devan. Matanya mengedar ke penjuru ruangan. Apartemen ini sangat mewah.


"Ini apartemen milik Papi," sebut Devan.


"Kamu tinggal disini?" tanya Starla.


"Hanya sesekali kalau lagi bosan di rumah."


Starla melepas genggamannya. Ia menghampiri meja bufet berwarna putih. Disana banyak sekali foto-foto keluarga. Starla tak dapat mengenal foto masa kecil Devan dan Cemara, mereka nyaris seperti anak kembar ketika masih kecil. Padahal usia mereka saja beda delapan tahun.


"Kamu yang mana?" tanya Starla, menunjukkan dua foto.


"Baju hitam itu gue. Cewek yang kayak bule itu namanya Kanaya, sepupu gue. Yang paling kecil namanya Gavin. Kanaya kuliah di Singapore, Gavin setahun diatas Cemara dan masih SMA. Gavin dan Kanaya satu rahim. Papa mereka, kakaknya Papi."


"Yang paling tua siapa? Kok nggak ada Cemara?" Starla penasaran.


"Itu foto jauh sebelum ada Cemara. Gue cucu pertama dikeluarga Brawijaya," jawab Devan.


"Sempurna," lirik Starla.


"Siapa?"


"Keluarga kalian. Aku selalu suka lihat yang seperti ini," ujar Starla.


Devan tak mau menyahutinya lagi. Devan takut salah bicara dan menyinggung perasaan gadis itu.


Di tengah ruangan itu ada bingkai foto keluarga yang besar. Ada Adryan, Helsa, Cemara, dan juga Devandra tentu saja.


"Udah ngantuk?" Devan menghampirinya, "lo bisa nempatin kamar gue diatas. Biar gue tidur di kamar bawah."


Starla mendongak, tatapan mereka bertemu. "Aku obati luka kamu dulu. Mana kotak obatnya?"


Devan hampir lupa dengan luka di wajahnya itu. Segera ia mengambil kotak P3K dan memberikannya pada Starla.


Mereka duduk diatas lantai yang beralaskan karpet beludru itu, dengan Devan yang bersandar pada Sofa. Tangan mungil Starla mulai dengan telaten membersihkan luka di wajahnya dan Devan menikmati itu. Luka seperti ini sudah biasa baginya. Hanya saja hari ini sedikit berbeda.


"La, tipe cowok idaman lo kayak gimana?"


Starla tertegun sebentar. "Kenapa nanya itu?"


"Mau memantaskan diri," celetuk Devan. Jelas saja Devan sadar dengan omongannya barusan.


"Aku mau cowok yang paham Agama."


"Gue bisa jadi Imam yang baik buat lo dan anak-anak kita nanti," jawab Devan. Buset, udah anak-anak kita aja si Devan.


"Sama Mami aja gue sayang, apalagi Ibu dari anak gue nanti," jawab Devan.


Tolong kuatkan Starla. Jangan sampai Devan mendengar degup jantungnya yang berpacu dua kali lebih cepat.


"Dan yang pastinya bukan cowok tatoan," ungkap Starla. Sepertinya dia menyindir Devan.


Devan memicing. "Oh, nggak suka cowok tatoan?"


"Iya. Aku nggak suka cowok kayak gitu."


"Nggak suka yang mana? Yang ini?" tunjuk Devan pada pergelangan tangannya.


"Atau yang ini," tunjuk Devan pada sisi kanan lehernya.


Starla menyerngit bingung.


"Atau nggak suka yang ini, La?" Devan membuka satu persatu kancing kemejanya, mempertontonkan perut kotak-kotaknya, dan juga beberapa tato disana.


"Devan!!" jerit Starla ketika Devan hampir bertelanjangkan dada di depannya.


"Nggak suka yang ini?" tantang Devan yang akhirnya melepaskan kemeja sepenuhnya. Sekarang cowok itu hanya memakai celana Chino saja. Sedangkan Starla sudah berangsur jauh dari hadapan Devan.


"Dev, kamu nggak usah aneh-aneh deh,” tegur Starla yang ketakutan di tempatnya.


“Starla…,” Devan sedikit merangkak diatas karpet itu, suaranya nyaris seperti bisikan yang terdengar sensual.


“Dev,” Starla mematung tatkala bibir cowok itu menyentuh keningnya.


Lalu Devan melepaskan kecupan itu, dan menatap mata gadis di depannya. Astaga, sepertinya Devan mendengar degup jantung Starla.


“Jaga diri lo buat gue,” ucap Devan, tanpa memutuskan kontak mata mereka.


Starla masih membisu, mencerna dengan baik perkataan Devan barusan. Devan menginginkannya?


“Kamu-”


“Gue mau lo. Tunggu gue Starla,” ucap Devan, sekali lagi.


***


“Mas..” Helsa duduk disamping Adryan yang masih sibuk dengan laptop. Suaminya baru saja kembali dari rumah sakit setelah memastikan Aska baik-baik saja. Aska harus dirawat di Mawar Medika, dan semuanya ditanggung Adryan. Apa kalian berpikir Adryan akan menyuruh Devan meminta maaf pada Aska?


Tentu saja tidak. Adryan tahu permasalahan mereka. Adryan tahu setiap tindakan yang Devan buat adalah hanya untuk kebaikan.


“Belum tidur?”


“Mas, menurut Mas, kenapa Devan nggak bawah Sheren ke resepsi pernikahan El malam ini?”

__ADS_1


Adryan melepaskan kaca mata dan juga menaruh laptop diatas meja. Atensinya kini sepenuhnya untuk Helsa. “Satu ciuman untuk satu jawaban.”


“Ish,” Helsa berdecak kesal.


“Mau nggak?” tawar Adryan. Memang dokter satu ini licik sekali.


“Nggak usah ganjen Mas, ini bukan lapak kita lagi,” balas Helsa.


Adryan tersenyum. “Pernikahan El dan Lia itu rahasia untuk anak-anal Palm. Mereka dijodohkan dengan syarat dari El, tidak ada yang boleh mengetahuinya. El itu punya pacar. Makanya Devan nggak berani bawah Sheren.”


“Satu hal yang harus kamu tahu. Devan itu suka sama Starla.”


“Mas nggak usah sok tau!” ketus Helsa.


“Karena Mas pernah ada di posisinya,” jawab Adryan.


***


Matahari pagi sudah mulai menampakkan cahayanya. Starla berangsur membuka mata, menetralkan penglihatannya yang sedikit kabur. Ia sadar sedang berada di apartemen Devan, tidur di ranjangnya, dan juga memakai kemeja putih milik cowok itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Starla kepikiran Ibunya yang pasti sangat khawatir di rumah. Tapi, tidak mungkin Starla pulang tanpa sepengetahuan Devan. Selain Devan bisa marah, Starla pun tak tahu password pintu apartemennya. Sial sekali.


“Aku buat sarapan deh,” ujarnya. Kaki jenjang itu membawanya turun ke lantai bawah, Starla membuka gorden panjang yang masih tertutup. Bagus sekali pemandangan kota Jakarta dari ketinggian lantai lima belas.


Di kulkas tidak ada bahan makanan, kecuali beberapa butik telur. Tapi, di lemari Starla menemukan bumbu racik nasi goreng. Tanpa menunggu lama, Starla memakai apron dan mulai memasak.


Di kamar, Devan sebenarnya sudah bangun sejak tadi. Cowok itu pun sudah selesai mandi. Hanya saja dia malas keluar kamar. Starla pasti masih tertidur pikirnya. Devan melihat jadwal sift Starla melalui ponselnya, hari ini Starla sift sore di Hello You Cafe.


Ibu : Assalamualaikum, Ibu. Maaf ya Devan ganggu pagi banget. Devan mau bilang, nanti siang Devan langsung antar Starla ke Cafe. Ibu nggak usah khawatir.


Yang tidak diketahui Starla adalah bahwa Devan sudah meminta izin pada Devita sebelum kejadian di perpustakaan kemarin. Devita mengizinkan Starla pergi bersamanya, asalkan Devan tidak boleh sembarangan dengan anaknya.


Devan kembali menatap layar ponselnya saat sebuah notifikasi pesan masuk. Bukan dari Ibunya Starla, melainkan dari sang kekasih.


Sheren : Sayang, aku di depan lobby apart kamu. Aku langsung ke atas.


Devan menyeringai tipis. Sheren mungkin sudah di lorong apartemen sekarang. Di dalam sini masih ada Starla, dan mereka akan bertemu. Sheren akan berpikir Devan selingkuh darinya.


Ting!


Starla mengalihkan perhatiannya ke arah pintu utama. Ada tamu? Duh, mana Devan belum bangun. Lalu bunyi tuas pintu kamar terbuka, Devan keluar hanya mengenakan celana boxer dan langsung menuju pintu.


“Siapa?” gumam Starla.


Nasi goreng buatannya sudah tersedia diatas meja makan. Starla yang tadinya hendak duduk pun segera berjalan ke tengah ruangan saat suara seorang gadis menyapa Devan dengan sebutan Sayang.


“Aku kangen…” ucap gadis itu. Starla yakin sekali jika itu adalah kekasih Devan.


“Ngapain?” tanya Devan.


“Aku bawain sarapan buat kamu, beib,” jawabnya.


Gadis itu masuk ke dalam dan reflek tas bawaanya jatuh saat melihat Starla berdiri di tengah ruangan hanya memakai kemeja putih dan juga hotpants. Sheren mendelik tak percaya.


“Devan, dia siapa?” hardik Sheren.


“Menurut lo?” Devan berjalan dari arah pintu dan langsung menuju Starla dan berdiri tepat di belakang gadis itu. Starla diam seperti patung.


“DEVAN! KAMU SELINGKUH?” teriak Sheren, dan menghampiri keduanya.


“CEWEK MURAHAN! BERANI BANGET LO PAKAI BAJU COWOK GUE!!”


“Don't touch mine!”


“KAMU KENAPA SAYANG? MINE? KAMU GILA, YA?” Sheren terbakar api cemburu ketika Devan mencium leher Starla. Dan yang dicium semakin membeku.


“Gue waras. Gue waras saat melewati malam panjang kami,” ucap Devan.


Tentu saja Sheren termakan dengan ucapan Devan barusan. Malam panjang? Devan dan gadis ini? Apa mereka sudah melakukan hal lebih?


“Dev, aku pacar kamu. Aku salah apa sama kamu?” raung Sheren.


Devan menoleh pada Starla, lalu berbisik. “Naik ke atas. Gue mau ngomong sama dia.”


Starla menuruti perkataan Devan, lalu kembali ke kamarnya.


Kini di ruang tengah itu tersisa pasangan kekasih yang mungkin sebentar lagi akan ada perang yang lebih besar. Sheren menghampiri Devan yang duduk di sofa.


“Jelasin sama aku! Kamu selingkuh?”


Devan balik memandang sepasang mata hitam kekasihnya. “Gue nggak serendah lo!”


“Dev…,”


Devan tertawa mengejek. Ia menautkan helaian rambut Sheren yang menjuntai menutupi wajah kekasihnya. “Lo nggak perlu minta maaf sama gue. Minta maaf sama diri lo sendiri.”


“Dev, aku nggak ngerti.”


“Gue tahu dengan siapa lo semalam. Gue tahu sudah berapa kali kalian tidur,” cetus Devan.


“Gue dan cewek yang lo bilang murahan itu nggak seperti lo dan dia. Gue masih perjaka. Gue nggak sembarangan kayak lo,” cetus Devan sekali lagi.


“Gue jatuh cinta sama Starla. Gue mau dia, gue mau dia jadi Ibu dari anak-anak gue nanti.”


Sheren terhenyak.


“Sheren, mulai hari ini gue mau berhenti. Berhenti berpura-pura dengan perasaan gue. Gue mengakui bahwa selama beberapa bulan ini gue tahu hubungan lo dan cowok itu.”


Devan memegang kedua tangan Sheren, “gue udah maafin lo.”


“Devan….,” Sheren menangis dengan kencang. Devan memutuskannya?


“Shut, gue yang mulai semuanya, gue juga yang harus mengakhirinya,” ucap Devan. “Mulai hari ini lo bebas mau ngapain diluar sana.”

__ADS_1


“Tapi, satu yang mau gue tanya sama lo.”


“... kenapa lo selingkuh?” tanya Devan.


__ADS_2