SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
MELEPAS RINDU


__ADS_3

Senja kini berganti malam. Suasana rumah orang tuanya sepi. Starla sendirian di rumah, ditemani seorang asisten rumah tangga bernama Mbak Novi.


Papa, Ibu, dan Omanya menghadiri makan malam oleh salah satu kolega bisnis Edward. Tadinya, Edward mengajaknya untuk ikut, sekalian memperkenalkan Starla dan Ibunya kepada beberapa kolega yang juga akan menghadiri undangan makan malam tersebut. Hanya saja, Starla menolak. Dia tidak ingin kemana-mana.


Starla duduk pada kursi roda elektrik, menikmati cemilan yang dibuatkan Mbak Novi. Ditemani sebuah film genre komedi, yang membuatnya tak henti menertawakan tingkah absurd para tokoh.


Starla merendahkan volume televisi ketika mendengar deru mobil yang memasuki pelataran rumah.


"Mobil Papa?" gumam Starla.


Ia segera mendekati pintu utama, dengan terus menjalankan kursi rodanya. Gadis itu mengernyit, pandangannya buram karena cahaya diluar yang sangat remang.


"Hello, Sayang…,"


Tawa bahagia Starla langsung terdengar ketika pria itu menghampirinya, memeluk, dan mencium keningnya sebentar.


Devandra.


Si cowok tatoan tersebut masih rapi dengan kemeja putih, dan jas berwarna hitam yang ia sampirkan pada lengannya. Ia juga membawa serta koper kecil.


"Devan…," lirih Starla.


Devan berjongkok di hadapan Starla, memberi tatapan rindu yang luar biasa untuk istrinya.


"Kangen nggak?" goda Devandra.


"Masih nanya?" Starla memukul lengan Devandra, merasa kesal dengan pertanyaan suaminya.


Namun, tak urung hatinya untuk membalas ciuman Devan tadi.


"Katanya balik Jakarta besok," ujar Starla.


"Rindunya sudah meluap," sahut Devandra.


Ah, kan.. Wajah Starla berseri-seri mendengar gombalan receh suaminya. Namun, sialnya, Starla memang merindukan Devandra-nya.


"Ayo, masuk! Aku mau melepas rindu," ajak Devandra tak sabaran. Ia kembali berdiri.


"Melepas rindu?" Starla mengulang kembali kalimat yang menurutnya terdengar sangat ambigu.


Devandra menunduk, agar wajah mereka bisa sejajar. Tatapannya terasa teduh di hadapan gadis berkursi roda itu.


"Mau making love, hm?" Bukan menggoda, tatapan Devandra sangat serius.


"Kaki aku sakit, Sayang," jawab Starla. Devandra tersenyum padanya. Lalu, mendorong Starla memasuki rumah mertuanya.


Devandra mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tengah. Tidak ada tanda-tanda orang rumah yang akan menyambut kedatangannya malam itu.


"Papa, Ibu, dan Oma lagi di luar," kata Starla, seolah tau pikiran suaminya.


"Kamu sudah makan?" tanya Devandra.


"Dev, kamu terlalu formal," protes Starla.


"Aku udah makan, tadi lagi nonton film. Sekarang mau ke kamar aja, soalnya suami aku udah pulang," celetuk Starla menggoda Devandra.


Devandra kemudian mendorong Starla ke kamar, kemudian menutup pintu. Pria itu menyimpan jasnya diatas ranjang, dan menggendong Starla duduk di atas ranjang.


"Mau kemana, Dev?"


"Mandi, Sayang. Tunggu, ya, lima belas menit," sahut Devandra.


Starla meminta Devandra untuk kembali, dan berdiri di hadapannya.


"Sedikit menunduk. Aku mau melepas kancing kemejanya," pinta Starla, dan jelas dituruti Devandra.


Tentu pria tersebut merindukan momen ini. Dan sekarang, walau sedang sakit pun, Starla ingin melakukan itu. Hal tersebut gadisnya lakukan, agar Devandra tidak merasa kurang sedikitpun. Starla ingin, Devandra tahu bahwa ia selalu memperhatikannya.


"Aku kangen lihat ini." Starla menyentuh tato yang berada di perut Devandra, lalu diikuti ringisan oleh sang empunya, ketika Starla sengaja mengecup dadanya.


"Sana mandi!" usir Starla tiba-tiba saja.


Devandra mendelik, tak terima dengan perlakuan Starla yang sudah membuatnya baper. Kalau saja kakinya tidak sedang sakit, sudah Devandra terkam ketika pintu kamarnya ditutup.


Sejak tadi, Starla hanya ingin menggodanya saja. Karena gadis itu tahu, Devandra mati-matian menahan nafsu berkedok rindu itu.


"Sayang, cepat sembuh," ucap Devandra, lalu diikuti kecupan singkat pada bibir gadis-nya.


Devandra pun berlalu meninggalkan Starla yang terkikik melihat wajah memerahnya. Sudah pasti waktu lima belas menit itu akan berubah menjadi tiga puluh menit, karena ulah istrinya.


***


Singlet hitam pria berotot itu sudah basah akibat keringatnya. Ruangan gym sudah mulai sepi pengunjung. Ia lantas beristirahat sebentar, duduk di bangku coklat.


Ponselnya bergetar tatkala ia sedang meneguk air dari botol minumnya.


"Hallo," jawabnya.

__ADS_1


"Kaden, besok pagi, kamu sudah mulai bekerja. Untuk tugas pertama, kamu bisa menjemput saya dan istri besok pagi."


Senyum pria itu terbit mendapat jawaban resmi dari CEO yang siap menjadi Bos-nya. Walaupun untuk sementara waktu, setidaknya pria bernama lengkap, Ashraf Kaden Abimana itu bisa bekerja.


Ponsel kemudian mati. Kaden bersiap kembali ke apartemen, dan menyiapkan diri untuk hari esok.


***


Semenjak siang tadi, Helsa tidak banyak bicara pada Adryan. Seolah Adryan yang salah, karena tidak memberitahu bahwa mantan kekasihnya berada di restoran yang sama dengan mereka.


Perasaan gelisah membuat wanita itu tidak menyentuh makanannya malam ini. Apa yang Helsa takutkan mungkin akan terjadi.


"Helsa, Mas nggak suka, ya, kamu nggak makan gini," tutur Adryan, dengan langsung menyebut nama istrinya.


Pria itu sudah mengganti makanan sebanyak dua kali, karena makanan itu sudah dingin. Helsa enggan menyentuh piringnya.


"Kenapa dia harus balik lagi, Mas?" lirih Helsa.


"Itu bukan urusan kita," sahut Adryan kesal.


Ia marah jika Helsa tidak makan. Ia benci ketika Helsa mengatakan diet. Ia benci ketika Helsa harus seperti ini, lagi.


"Mas lupa Devandra siapa?" Helsa menatap Adryan.


"Devandra anak kita," balas Adryan. "Devandra, anak Mas sejak dia masih di dalam kandungan kamu."


Cetusan dari suaminya, membungkam mulutnya. Helsa menarik selimut, dan menutup tubuhnya. Ia tidur memunggungi Adryan. Pria usia kepala lima itu meletakkan kembali piring pada nakas. Ia naik ke atas ranjang dan memeluk Helsa dari belakang.


"Sayang, jika suatu saat nanti Devan mengetahui yang sebenarnya, ijinkan Mas saja yang menanggung semuanya. Ini mungkin terdengar egois, tapi Mas mau kamu tidak pernah dibenci Devan," ujar Adryan.


"Mas Adryan!" jerit Helsa. Tangisannya pecah.


Adryan selalu seperti itu, mempertaruhkan dirinya untuk Helsa. Sejak awal pernikahan mereka dua puluh tujuh tahun silam, Adryan selalu memikirkan perasaannya.


Helsa bangun dan duduk menghadap pria itu. "Kali ini aja Mas mikirin perasaan Mas aja. Jangan selalu Helsa. Aku malu sama diri aku sendiri, yang selalu andelin suami aku."


Adryan yang semula berbaring, kembali duduk. "Kenapa? Kamu sudah tidak mencintai Mas sampai bicara seperti itu?”"


"Bukan soal itu! Aku minta, Mas jangan selalu lindungi aku untuk hal-hal seperti ini."


"Soal Devandra, jangan selalu menutupi keburukan aku sama dia. Mas tau gimana aku dulu sama dia," imbuh Helsa.


Suara tangisannya nyaris tak terdengar.


"Masa lalu. Mas selalu ingatkan kamu untuk tidak menyebut itu-itu lagi. Devan udah maafin kamu," jawab Adryan.


"Devan udah maafin Mami. Kata Papi, Devan harus lebih sayang Mami. Karena Mami itu Surga."


Helsa mengatakan bahwa ia adalah Ibu terburuk di dunia. Mungkin benar, melihat semua perlakuannya pada Devandra di masa kecil. Anehnya, Devandra tidak membencinya.


***


Starla memperhatikan Devandra yang sejak tadi menghubungi seseorang.


Kaden? Siapa pemilik nama tersebut? Starla belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.


Dilihatnya Devandra sudah memutuskan panggilan, dan menghampirinya.


“Kaden itu cowok atau cewek?” tanya Starla.


“Cewek.”


“Ihs, Sayang!” decak Starla.


“Dia cowok. Yang bakal ganti Juna untuk sementara waktu,” jujur Devandra akhirnya.


Starla hanya membalas dengan anggukan, ia lalu mematikan macbook dan meminta Devandra menggendongnya ke ranjang.


“Aku mau jenguk Juna ya, nanti. Dia gimana, Dev, udah baikan seperti aku?” tanya Starla.


“Besok, sekalian kita ke rumah Papi,” kata Devandra.


***


Devita dan mertuanya mengantar pasutri itu sampai di depan rumah. Edward sudah berangkat sejak pukul delapan pagi. Hari ini Starla kembali ke rumah, karena Devandra sudah kembali.


Di luar, seorang pria berperawakan tinggi seperti Devandra sudah menunggu mereka.


Dia bernama Kaden. Pria itu yang diceritakan Devandra. Kaden yang akan menggantikan Juna untuk sementara waktu, sampai Juna benar-benar sembuh.


"Selamat Pagi, Pak Devan," ucap Kaden, lalu tatapannya beralih pada Starla. "Selamat pagi Ibu---"


"Starla. Panggil aku Starla. Aku masih dua puluh tiga tahun, menikah terlalu mudah karena pria ini," tangkas Starla.


Kaden terkekeh, gadis ini berani menyindir suaminya.


"Kamu antarkan kami ke rumah orang tua saya," kata Devandra.

__ADS_1


Kaden mematuhinya, lalu membuka pintu untuk keduanya.


Untuk alamat, semua sudah Devandra berikan pada Kaden. Pria itu cukup mengemudi kemanapun Devandra meminta.


Pagi itu jalanan Jakarta lenggang. Devandra sengaja ke rumah Papinya terlebih dahulu untuk memberikan laporan perjalanannya kepada Helsa, sekaligus menjenguk wanita itu. Kata Adryan, istrinya butuh kasih sayang dari anak-anaknya. Mungkin Helsa kembali merasa sepi, walaupun ada Adryan bersamanya.


"Kemarin makan siang bareng Papi Mami?" tanya Devandra.


"Iya, tapi Mami kayaknya lagi sedih, Dev," jawab Devan.


"Sedih?"


"Aku nggak ngerti kenapa? Tanya aja sama Mami nanti," sahut Starla.


Tiga puluh menit waktu yang mereka tempuh untuk sampai rumah besar itu. Mobil Adryan masih terlihat di garasi, pasti pria itu masih di rumah.


Kaden mengeluarkan kursi roda dari bagasi, kemudian Devandra menggendong istrinya itu dan mendudukkannya.


"Assalamualaikum," salam Devandra dan Starla bersama.


"Devan…," Helsa menuruni anak tangga, lalu disusul Adryan.


"Mami kangen Devan," ucap Helsa.


Merasa ada yang aneh dengan Mami-nya, Devandra membalas pelukan wanita itu. Pandangannya dengan Adryan bertumbuk. Tanpa bersuara pun, Adryan tahu tatapan itu mengisyaratkan sebuah tanya. Ada apa dengan Helsa?


"Mami, nggak biasanya gini," tutur Devandra.


Helsa merenggangkan pelukan. "Kalian sudah sarapan?"


"Udah Mami," sahut Starla. Gadis itu menyalim punggung tangan Adryan, dan beralih pada Helsa


"Papi nggak ke rumah sakit?" tanya Devandra.


"Papi mau ngurus cuti. Mau ke Jogja sama Mami kamu," jawab Adryan.


"Cemara sakit?"


"Enggak, katanya kangen sama anak gadisnya disana," ujar Adryan.


Helsa melirik sinis pada Adryan. "Emang Mas gak kangen? Setiap malam aja, anaknya ditelpon."


***


"Ya Allah, kangen banget sama kamar ini," seru Starla.


Devandra menyimpan asal koper, dan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Sedangkan Starla, menatapnya kesal.


"Aku dicuekin!" sindirnya.


"Habisnya aku digodain terus," balas Devandra.


"Devan! Aku juga mau rebahan disana," pekik Starla. Devandra tidak mau menggendongnya ke ranjang.


"Ada syaratnya," kata Devandra.


Starla berdecak sebal, ia melempar buku ke arah pria itu. Dengan kursi rodanya, ia menghampiri Devandra.


"Kamu kok jahat banget, sih," tukas Starla yang hampir menangis.


Devandra mengubah posisinya menjadi duduk, menatap Starla yang masih duduk di kursi rodanya.


"Kalau nangis, cantiknya dua kali lipat," goda Devandra. Ia turun dan langsung menggendong istrinya ke ranjang.


Devandra turut berbaring di sampingnya, menempatkan kepalanya pada telapak tangan sebagai tumpuan. Posisinya miring menghadap Starla.


"Ngapain aja selama beberapa hari ini?" tanya Devandra.


"Kangen."


"Kangen?" Devandra mengulang kalimat itu.


"Iya, kangen kamu."


Jarinya menyentuh puncak hidung Starla yang tidak terlalu mancung itu, beralih pada bibir ranum gadisnya.


"Aku lebih kangen," bisik Devandra, ia mengecup leher Starla.


"--kangen berada di dalam kamu. Kangen dengar jeritan kamu. I miss you so bad, baby."


Gadis itu merinding dibuatnya. Tangan kekar itu menyingkap bajunya hingga dada. Menyentuh perut rata itu, lalu sedikit menggoda puncak dadanya dari luar bra.


Starla melenguh.


"I miss you," bisik Devandra. Kabut gairah sudah menyelimuti mata hitam legamnya.


"Aku mau, Starla." Devandra melepaskan kaitan bra gadis itu.

__ADS_1


"Dev, kaki aku," peringat Starla.


Seolah tuli, Devandra tidak menggubris ucapan Starla. Dia akan bermain dengan aman, tanpa menyakiti Starla.


__ADS_2