
Meeting yang tadinya harus dilaksanakan bersama Maminya harus ditunda karena adiknya yang mendadak jatuh sakit. Cemara dilarikan ke rumah sakit karena tak sadarkan diri di kamarnya.
“Calon dokter kok sakit,” celetuk Devandra.
“Dokter juga manusia, Dev,” balas Starla.
Jalanan kota Jakarta pagi itu terasa lenggang. Mungkin karena sudah ada di jam kerja dan sekolah. Devandra melajukan Mercy hitam itu menuju Mawar Medika, rumah sakit tempat Papinya mengabdi.
“Tapi Papi nggak pernah sakit,” imbuh Devandra yang tak mau kalah dari gadis yang duduk disampingnya.
“Imunitas tubuh orang itu beda-beda. Emang kalau Papi kamu sakit, harus mengadu sama kamu?” ujar Starla yang mulai kesal.
Devandra terkekeh, memandang wajah itu dari samping. “Udah cocok jadi menantu Adryan Brawijaya, soalnya ngomongin imunitas tubuh.”
Starla menoleh sekilas. “Kamu punya saudara cowok selain Gavin?”
“Cucu Tuan Franco hanya empat orang. Kenapa, Sayang?” tanya Devandra.
“Kalau masih ada selain kamu dan Gavin, pengen aku pacarin, soalnya pacar aku ngeselin,” pungkas Starla.
Cowok itu tertawa mendengar pungkasan Starla barusan. Terlalu dibiarkan diluar membuat Devandra tidak leluasa bermanja-manja dengan kekasihnya.
“Dev, kalau ada toko Bunga, berhenti bentar ya,” kata Starla.
“Di dekat rumah sakit aja, disana banyak,” sahut Devandra.
***
Ruang VVIP. Lantai sepuluh, kamar nomor 2.
Devandra menghentikan langkah karena merasa tangan Starla dingin. Yap, benar sekali, sejak dari basement, dia tidak melepaskan tangan gadisnya.
Starla tersenyum sendu padanya. “Aku tunggu diluar aja, gimana?”
“Kenapa?”
“Kesan terakhir kita bertemu itu nggak baik, Devan. Aku takut Mami kamu benci sama aku,” cicit Starla.
“Setelah hampir buat anaknya gila, lo masih mau bilang Mami benci sama lo?” Devandra melepas genggamannya dari Starla, lalu menangkup wajah gadis itu. “Mungkin Mami dan Papi yang bakal desak gue, biar cepat nikahin lo.”
“Dan kamu nurut?”
“Kecuali wishlist keempat itu tercapai,” sanggah Devandra. Cowok itu dengan cepat merengkuh pinggang Starla dan membuka pintu kamar rawat adiknya.
Hal pertama yang mereka lihat adalah sepasang suami istri yang duduk di sofa sambil berpelukan. Tapi, sepertinya Helsa sedang tertidur. Dan juga Cemara yang juga sedang tidur pada hospital bed.
“Papi?” panggil Devan.
Adryan langsung tersenyum melihat kedatangan Starla dan Devandra. Sebenarnya pria itu sudah mengetahui keberadaan Starla sejak semalam, karena anak nakalnya itu yang mengirim foto padanya. Adryan sengaja tidak memberitahu Helsa dan juga Cemara.
“Mami kamu tidur. Taulah nggak mau tidur di ranjang sebelah,” Adryan terkekeh. Dia lalu beralih melihat gadis yang masih Devan peluk. “Starla…”
“Iya, Om,” sahut Starla, canggung.
Mereka duduk di sofa yang berseberangan dengan pasutri itu. “Apa kabar?”
“Kabar Starla baik, Om.”
“Nggak usah canggung gitu sama calon mertua,” singgung Devandra.
“Mami…” Devandra menghampiri Helsa dan mengecup pipi wanita itu berulang kali. “Mami, Devan bawain calon menantu yang bisa kasih banyak cucu.”
Starla mendelik dari duduknya, apa-apaan cowok itu.
Pandangan Starla tidak luput dari tingkah manis kekasihnya. Perlakuan Devandra membuktikan bahwa dia begitu menyayangi Maminya. Helsa melenguh pelan karena sudah sadar, ia berdecak kesal karena kelakuan anak sulungnya.
“Mas…, anaknya tuh,” adu Helsa pada Adryan.
Devandra tergelak. “Mami ini baru jam sebelas siang lho.” Sedangkan dari tempatnya, Starla lagi-lagi dibuat keheranan oleh kekasihnya. Devandra berbicara layaknya anak kecil pada Mami dan Papinya. Dia sangat manja.
“Lihat, siapa yang datang?” Adryan merapikan helaian rambut Helsa yang berantakan. Helsa memicing, menatap lekat wajah gadis bersurai panjang yang tersenyum padanya.
“Kamu…,” Helsa diam sejenak. “Kamu, Starla?”
__ADS_1
Wanita itu kemudian berdiri menghampiri Starla, dan duduk tepat di samping gadis tersebut. Helsa menyentuh wajahnya, mengusap surai hitam gadis itu.
“Kamu sehat?”
“Kamu kemana aja?”
“Ibu kamu sehat, Starla?”
Lalu, Helsa terdiam sesaat. Pikirannya langsung merangkak pada empat tahun terakhir ini. Karena kepergian Starla, Devandra banyak berubah. Anak sulungnya itu menjadi penyendiri.
“Kenapa kamu ninggalin, Devan?”
“Devan punya salah?” suara Helsa sangat lembut.
“Mami…,” Devandra menegurnya, agar tidak melanjutkan pertanyaan itu.
Namun, Helsa ingin bertanya itu sekarang. Helsa ingin memastikan bahwa Starla tidak akan pergi lagi.
“Kalau Devandra punya salah, maafin dia, ya? Devan sayang sama kamu kok, percaya sama Mami ya, Starla.”
Belum sempat Starla menjawab semua pertanyaan itu, Helsa menarik tangan Devandra. “Minta maaf sekarang!”
“Mami, Devan nggak punya salah,” sanggah cowok itu.
“Minta maaf atau Mami suruh Starla pergi?”
Adryan menahan senyum melihat wajah Devandra yang sedikit pucat.
“Iya, ini minta maaf sekarang.” Devandra beralih menatap kekasihnya, lalu dengan segenap hatinya ia menyentuh punggung tangan Starla.
“La, kata Papi, kalau kita salah harus minta maaf. Bahkan sekalipun kita nggak salah,” ujar Devandra yang melirik pada Maminya.
Adryan menatap datar pasangan kekasih itu. Ada perasaan bahagia ketika semua nasihatnya masih diingat Devandra.
“La, gue minta maaf untuk semua kesalahan yang gue buat. Baik sengaja atau pun nggak. Jangan pergi lagi, ya.”
“Kalau buat salah, tinggalin aja,” celetuk Helsa.
“Mami…..,” Devandra merengek di paha wanita itu. Sebenarnya sejak tadi dia berlutut di hadapan dua perempuan itu.
“Dulu aja, sekarang enggak,” pungkas Devandra, jujur.
***
Starla tersenyum canggung. Dulu, dia hanya bertemu sekali dengan Adryan dan Helsa, itu pun ketika resepsi pernikahan Yehezkiel. Dan hari ini, mereka dipertemukan kembali.
Setelah Starla sudah bertemu Cemara dan banyak bercerita, Helsa mengajak gadis itu ke salah satu Cafe favoritnya jika ke Mawar Medika.
“Starla mau minum apa?” tanya Helsa.
“Apa aja, Tante,” sahut gadis itu.
“Kok Tante? Panggil Mami aja kayak Devan,” ujar Helsa.
“Emang boleh?”
Helsa tersenyum tipis. “Kamu mau tahu nggak apa yang buat Mami takut selain kehilangan Papinya Devan?”
“Mami selalu takut kehilangan anak-anak Mami. Kehilangan dalam hal mereka ada sama Mami, tapi bukan dengan diri mereka sendiri. Devandra itu anaknya aktif banget. Apapun yang mau dia lakuin, selalu bicara sama Papi dan Mami. Tapi kamu tahu Starla, suatu hari dia jadi anak yang pendiam, dan lebih banyak mengurung diri. Kata teman-temannya, dia ditinggal sama perempuan yang dia incar selama dua bulan itu.”
Starla terhenyak. “Tante, Starla nggak pernah punya niat ninggalin Devan. Ada sesuatu yang Starla sendiri belum paham tentang hari itu. Tentang Ibu yang menangis agar kami segera pergi dari Jakarta.”
“Devan selalu khawatir sama kamu,” ungkap Helsa.
Keduanya saling diam-diaman.
“ Starla, janji sama Mami jangan pernah pergi dari kehidupan Devan.”
“Tegur Devan kalau dia salah. Peluk Devan kalau dia sedih. Kamu adalah sandarannya jika suatu hari nanti terjadi sesuatu. Kamu adalah tempat mengadu Devan ketika Papi atau Mami tidak dipercaya lagi,” ucap Helsa.
“Kenapa?” Starla melihat Helsa yang akan menangis.
Helsa menepuk pundak gadis itu, lalu…..
__ADS_1
“Mami…,”
Cowok yang sejak tadi dibicarakan datang dari arah pintu Cafe, lalu duduk disamping kekasihnya. “Lagi pada ngobrolin apa sih dua perempuan ini?”
“Mau tahu aja kamu,” sindir Helsa.
“Mi, Devan nitip Starla boleh? Ada urusan diluar,” kata Devandra.
“Kamu pikir aku barang dititip-titip,” celetuk Starla, kesal.
“Mau kemana emang?” tanya Helsa.
“Mami cukup jaga pacar Devan.”
***
“Kenapa sih, pulangnya cepat banget? Sehari lagi aja gimana, La? Nanti gue ijin sama Ibu.”
Malam itu Devandra dibuat galau karena mendadak Starla harus pulang karena urusan pekerjaan, dan juga bagi Starla, dua malam sudah terlalu lama meninggalkan Ibunya sendiri. Starla khawatir Ibunya sakit.
“Devan, lepasin dulu. Tangan kamu tuh berat,” protes Starla yang belum beres dengan masakannya. Sedari tadi, ia terus memeluk Starla dari belakang.
“Yahh lo juga kenapa pulangnya cepet banget. Kangen lo sama CEO sialan lo itu, hm?”
“Nggak usah mulai deh.” Starla meletakan Lasagna buatannya ke atas piring untuk kekasihnya.
Devan memperhatikan pergerakan tangan Starla yang sangat cekatan menyajikan makanan untuknya. “Gue nggak mau makan.”
Starla melengos. “Ya udah , tidur sama perut lapar kamu itu. Jangan bangunin aku ya, Dev. Lasagna ini aku makan.”
Melihat Starla pergi membawa piring ke sofa, Devan pun mengekori gadisnya. Ia duduk disamping Starla, memperhatikan gadis itu yang sibuk mengunyah makanan khas Italia tersebut.
“Enak banget?” Devan meneguk salivanya.
“Enak lah, aku yang buat,” sanggah Starla.
Tidak diragukan lagi, dari cara makannya saja, Devandra yakin Lasagna buatan kekasihnya enak sekali.
“Mau dong…,” pinta Devandra.
“Nggak! Tadi katanya nggak mau, lagian ini juga tinggal sedikit.”
Lelehan pasta itu tidak mengedipkan matanya sekali pun. Devandra harus mendapatkan suapan terakhir itu.
Dan ….
Happpp…
Cuppp….
Sebelum satu sendok itu masuk ke mulut Starla, cowoknya sudah terlebih dahulu menyambar makanan tersebut, dan bahkan satu kecupan kecil Devandra berikan sebagai pengganti Lasagna pada Starla.
“DEVAN!” pekik Starla.
“Enak banget, apalagi sempat kena bibir pacar gue,” celetuk Devandra.
“Dasar mesum!” tanda Starla.
Bukannya marah, Devandra malah tertawa. “Lo tahu nggak La, salah satu rahasia rumah tangga harmonis itu apa?”
Starla menatapnya tak suka. “Emang kamu tahu, kamu aja belom nikah.”
“Emang belum nikah. Tapi gue punya edukasi dari Papi dan juga dua teman gue yang udah nikah. Makanya gue mau kasih tau sama lo sekarang, biar nanti gak kaget lagi.”
“Emangnya apa?” Starla mulai penasaran.
Devandra mengikis jarak diantara mereka. “Persoalan ranjang harus nomor satu, La.”
“Ranjang?” Starla diam sejenak, “kan emang suami istri harusnya tidur seranjang.”
Devandra menepuk jidatnya. Kekasihnya masih terlalu polos untuk membicarakan hal ini. “La, nikah sekarang aja yuk. Gemas banget gue pengen praktek sama lo.”
“Praktek apa Devan?”
__ADS_1
Devandra menggigit gemas bibir bawahnya. “PRAKTEK BUAT DEVAN DAN STARLA JUNIOR.”
“Ya Allah, gini amat pacar gue,” keluh Devandra yang sudah memeluk gemas Starla.