SUAMI BUCIN STARLA

SUAMI BUCIN STARLA
POSESIF


__ADS_3

“I love you.”


Starla tersenyum kecil mendengar bisikan itu. Devandra memberi kecupan-kecupan pada punggung telanjang Starla dan menyibak selimut yang masih menutupi tubuh polos gadisnya, lalu kembali masuk kesana. Starla yang tidur memunggunginya langsung berbalik, tatapan mereka saling beradu.


“Sekarang jam berapa?” tanya Starla sambil memeluk Devandra.


“Pukul satu dini hari.” Devandra sangat gemas pada Starla, sejak tadi sebelum ia ke kamar mandi, gadis itu dicium berulang kali olehnya.


Malam pertama itu mereka lalui dengan sangat baik. Tidak ada drama apapun. Setelah mencapai ******* pertamanya, Devandra tidak memberi istirahat untuk Starla. Dia mau lagi, dan lagi. Hingga pukul satu dini hari, Starla meminta berhenti karena capek meladeni suaminya itu.


“Aku belum ngantuk, Yang,” kata Starla. “Seperti ada yang aneh.”


Devandra paham maksud Starla. Ia adalah pelaku disini. “Kamu ngerasa ada yang kurang, hm?”


Starla tersenyum, diikuti anggukan kecil. Sebelum Devandra bicara, gadis yang baru saja direnggut kesuciannya oleh sang suami itu naik ke atas tubuh Devandra, lebih tepatnya Starla berbaring diatas Devandra.


“Yang, kamu kenapa harus ada tato? Papi sama Mami nggak marah?” Starla menyentuh tato pada sisi leher Devandra, lambang enam agama.


“Aku suka seni. Papi nggak larang selagi itu bukan narkoba, rokok, dan *** bebas,” pungkas Devandra. "Mami nangis seharian tau aku pasang tato, ngambek sama aku seminggu."


“Kamu nggak ngerokok?" tanya Starla. Pantas saja selama beberapa bulan ini ia tidak pernah melihat Devandra seperti itu.


“Nggak. Lebih baik nggak ngerokok, daripada uang jajan aku dipotong. Lagian itu juga nggak sehat. Jangankan ngerokok, makanan instan aja bisa makan sebulan sekali. Papi nggak mau kita sakit," terang Devandra.


"Aku beruntung ketemu kamu. Punya mertua seperti Papi dan Mami," puji Starla, lebih untuk Deh andr dan keluarganya.


Starla kemudian menegakkan tubuhnya, duduk diatas perut Devandra. Sejak tadi ada yang menjanggal di pikirannya. Ia ingin bertanya, namun terlupakan karena semua kenikmatan yang Devandra berikan malam ini.


“Yang, ini bekas jahitan?” Starla menyentuh beberapa bekas jahitan yang ada pada perut Devandra.


“Ceritanya panjang.” Devandra menarik Starla agar kembali tidur di pelukannya, “kamu lagi nggak pakai pakaian, aku nggak mau buat kamu capek lagi, By.”


“Badan aku merah semua. Kamu sih,” adu Starla, mencubit lengan Devandra.


“Aku mau lagi,” bisik Devandra.


“Nggak, aku mau tidur!”


“Sekali lagi, setelah itu baru kita tidur,” bujuk Devandra. Ia menatap Starla dengan wajah memelas, berharap istrinya mau mengabulkan permintaan itu.


“Dev...,”


“Mau ya, By... kamu tadi katanya boleh aku minta apa aja, ‘kan seminggu kedepan. Nah ini, aku mau ini lagi,” sebut Devandra.


“Yahh, ‘kan nggak ini juga. Masih ada malam-malam besok lagi.”


Devandra bergeming untuk beberapa saat. “Kalau gitu, ada syaratnya."


“Syarat apalagi?” Starla mendelik. Sudah pasti syarat itu akan merugikan dirinya.


“Harus ikut semua permainan aku!”


***


“Mi, kakak sama kak Starla belum tiba?” tanya Cemara.


“Pesan Mami belum dibalas. Apa Starla sakit, Mas?” Helsa melempar pandangan ke Adryan, mungkin saja Starla sakit.


“Nggak mungkin. Paling sebentar lagi tiba,” sahut Adryan, tanpa melihat Helsa. Pria itu sibuk dengan ponselnya.


Adryan memang bukan cenayang. Hanya saja dia tau bagaimana Devandra. Jika terjadi sesuatu, anaknya itu akan segera menghubunginya.


“Papa dan Ibunya Starla baru sampai di depan,” kata Adryan.


Pria itu beranjak dari sana, menyambut kedatangan besannya. Sebenarnya, siang itu mereka mengadakan makan siang bersama, sebelum nanti sore mereka semua kembali ke Jakarta, kecuali Starla dan Devandra.


Cemara tidak ke Jakarta, jadi dia akan beda pesawat dari Papi dan Maminya. Gadis itu akan langsung kembali ke Jogja.


Sedangkan Edward dan Devita, mereka akan satu pesawat bersama Adryan dan Helsa. Oh, jangan lupakan Lani dan Kiki yang juga akan pulang bersama mereka.


Sebagian teman-teman Devandra pun sudah kembali ke Jakarta, masih tersisa beberapa yang masih ingin berlibur terlebih dahulu.


Kedatangan orang tua Starla disambut baik oleh keluarga Devandra.


Dan akhirnya setelah menunggu lama, pengantin baru itu baru menunjuk kan muka.


“Ya ampun, ditungguin,” cecar Helsa.


“Ada sedikit drama yang dilakukan menantu Mami pagi-pagi,” sahut Devandra.


Devita terkekeh. “Drama apa Dev?”


“Devan,” tegur Starla. Ia menggeleng dengan tatapan tajam, agar Devandra tidak buka suara.


“Oh, nggak jadi deh. Nggak mau ambil resiko kalau Devan cerita,” pungkasnya.


“Ya udah, kita siap lunch.”

__ADS_1


“Mbak Vio, Mas Jefri kemana?” seru Helsa menanyakan kakak iparnya.


“Sakit. Udah dikasih obat sama Adryan,” kata Viola melirik pria tersebut.


“Kebanyakan Sampanye semalam,” celetuk Devandra.


“Dev...,” tegur Adryan.


Sebenarnya apa yang dikatakan Devandra ada benarnya juga. Sudah lama Jefri tidak merasakan panasnya alkohol yang melewati tenggorokannya. Sekalinya di pernikahan keponakan kesayangannya, Jefri kalap.


Devan melempar pandangan pada mertuanya. “Papa, Ibu, dan Oma jadi berangkat nanti sore?” tanya Devan.


“Iya, lusa katanya mau keluar kota,” jawab Devita melihat suaminya.


Devandra menoleh pada Starla. “Jadi, mau balik kapan, By?”


Uhuk...


Adryan tersedak minuman mendengar Devandra bicara. Tatapan Ayah dan anak itu langsung bertemu. Menyorotkan ejekan disana.


Apa tadi? By...., Baby maksudnya?


Helsa yang paham dengan tatapan Adryan dan Devandra, segera mengajak untuk makan bersama. Jika menunggu lagi, maka Ayah dan anak itu akan saling mengejek. Dari tatapan keduanya, Helsa bisa membaca isi pikiran mereka.


***


“Kamu sama Devan baik-baik ya, disini,” pesan Devita, memeluk Starla erat.


“Iya, Bu.” Starla mencium pipi Devita, sebelum ia menghampiri Edward.


Bandara I Gusti Ngurah Rai malam itu ramai. Ya, sudah biasa, karena memang Bandara Internasional dengan jam operasional dua puluh empat jam. Devandra dan Starla mengantar orang tua mereka kesana. Malam ini, mereka sebuah kembali ke Ibu Kota, dan Cemara akan langsung ke Jogja.


“Kak, Ara bulan depan ganti ponsel, boleh, ya?” bisik Cemara pada Devandra.


Adryan mendengus pelan, ia mendengar bisikan modus anak gadisnya. “Perasaan baru enam bulan lalu ganti ponsel.”


“Ara mintanya sama Kakak, bukan sama Papi. Pelit,” sindir Cemara.


“Hm, terserah kamu. Kakak kasih apapun itu, asal lulus tepat waktu. Kuliahnya jangan bercanda,” balas Devandra.


“Thank you, love,” ucap Cemara sambil memeluk Devandra.


“Dev, jagain Starla,” kata Edward.


“Siap, Pah.” Tidak perlu memberi peringatan pun, itu adalah kewajiban Devandra. Gadis itu sudah menjadi tanggung jawabnya.


Semua beranjak dari sana. Meninggalkan pengantin baru itu dengan lambaian tangan Starla yang belum saja berhenti.


“Masih mau disini?”


Starla menoleh sebentar pada suaminya, lalu kembali mengalihkan atensinya kesana. Waktu boarding sedang berlangsung.


“Babe, ayo!” Devandra memanggil Starla, kemudian membawa istrinya pulang. Terlalu lama di tempat umum tidak baik untuk teman hidupnya.


“Langsung ke Villa?” tanya Starla, sesaat setelah Devandra membukakan pintu mobil untuknya.


“Enggak. Makan dulu, By. Dari pada kamu masak lagi,” sahut Devandra.


“Ih, pulang aja. Aku masakin buat kamu, Yang,” tutur Starla.


“Serius? Nggak capek emang seharian jalan sama Mami dan Ibu?”


“Enggak.”


Memutuskan kembali ke Villa. Sepanjang perjalanan pulang, Starla dan Devandra tak saling berbincang. Gadis itu lebih memilih menikmati Bali di malam hari.


Ting…


Sebuah pesan masuk dari ponsel Starla. Gadis itu membuka room chat, membaca sebuah pesan dari teman kampusnya.


“Dari siapa?”


“Temen kampus. Ngucapin happy wedding, karena nggak bisa datang kemarin,” jawab Starla.


“Oh...” Mendengar itu Starla memicingkan matanya, ia menatap Devandra curiga.


“Jangan bilang ya, cemburu!” decak Starla.


“Siapa yang cemburu sih?! Biasa aja,” balas Devandra.


“Biasa aja? Berarti kalau aku ngechat sama cowok, kamu nggak cemburu? Berarti nggak sayang aku!”


Devandra menghela nafas. Melirik Starla yang tampaknya sangat cemberut pada wajahnya.


“Itu mukanya biasa aja, Sayang,” tegur Devandra.


“Ah, kamu nggak sayang sama aku!”

__ADS_1


“Sayang kok, By. Aku cuma nggak mau ngekang kamu dengan perasaan cemburu atau apapun itu.”


Setelah hampir tiga puluh menit berlalu, mobil memasuki pekarangan villa, Starla langsung turun dan mendahului Devandra.


Devandra tebak, pasti Starla langsung ke kamar mandi. Kalau di ingat-ingat drama pagi pertama mereka sangat mencengangkan.


“Cari apa?” tanya Devandra. Ia melepaskan jaketnya, dan duduk pada sofa.


“Sprei yang sempat aku rendam kemana?” Starla balik bertanya. Perempuan itu masih di kamar mandi.


“Masalah sprei itu udah kelar. Nggak usah dipikirin lagi," sahut Devandra.


"KAMU SIMPAN DIMANA?" teriak Starla, segera keluar dari dalam sana.


"Laundry." Jawaban itu seketika membuat Starla mendelik. Matanya berkaca-kaca menahan kesal dan juga malu.


Starla menghampiri suaminya, dan memeluk Devandra dengan erat. “Kalau kamu ada diposisi aku, kamu bakal rasain hal itu. Aku malu,” pungkas Starla.


“Orang juga tahu habis first night, lagian aku udah bilang spreinya nanti nggak usah dipakai lagi,” balas Devandra.


“Udah, ya? Tadi katanya mau masak untuk suaminya."


***


Seperti yang sudah Devandra rencanakan sebelum pernikahan itu terjadi, setiap hari jumat hingga minggu, pria itu sendiri yang akan mengantar Starla ke Bandung. Gadis itu masih harus menyelesaikan kuliah magister nya setahun lagi.


Awalnya Starla menolak ditemani suaminya, namun bukan Devandra jika tidak keras kepala. Pria itu tidak mengizinkan Starla ke Bandung. Jika mengingat kejadian yang menimpa Starla beberapa bulan lalu, Devandra selalu merasa bersalah.


Dan hari ini setelah satu minggu berada di Bali, mereka sudah kembali disibukkan dengan realita kehidupan.


"Babe?"


Braghh…


Suara pintu kamar mandi yang tertutup mengejutkan Devandra. Ia menyerngit bingung dengan Starla yang tiba-tiba menutup pintu.


"Devan, bisa nggak ketuk dulu pintunya! Aku nggak lagi pakai baju," jerit Starla sangat kesal.


Devandra melangkah mundur, lensa hitam legam itu menangkap bayangan lekuk tubuh istrinya dari dinding kamar mandi. Starla sepertinya lupa bahwa dinding kamar mandi di kamar mereka terbuat dari kaca transparan. Segala aktifitas di sana bisa Devandra lihat walaupun hanya sebatas bayangan.


Lagian, untuk apa juga perempuan itu masih malu pada suaminya. Devandra juga sudah melihat semuanya.


"Sexy banget bayangannya," ujar Devandra nyaris berteriak.


"IHH, MESUM!" sahut Starla dari dalam.


Devandra naik keatas ranjang sebelum akhirnya Starla keluar dengan wajah yang sangat judes. Pria itu lengkap dengan pakain kantornya.


"Enak banget tiduran sambil lihat Starla mandi," goda Devandra yang melihat Starla melintas di depannya.


"Devan mesum!" ketus Starla.


Sebelum mengambil pakaiannya, ia duduk dulu di bibir ranjang. "Jadi nggak sih sama aku ke Bandung? Atau kamu di rumah aja."


Devandra menatapnya sayu. "Semalam nggak tidur sama kamu, aku nggak bisa."


Menatap sinis Devandra, Starla lalu beranjak dari sana. Mengambil koper kecil dan mengisi beberapa keperluannya dan Devandra. Mereka akan kembali ke Jakarta hari Minggu.


"Kamu siap-siap aja. Kita berangkat jam dua siang, setelah aku dari kantor."


Sekarang sudah pukul sepuluh pagi. Pria itu baru saja kembali dari kantor. Entah lah, semenjak menikah, Devandra lebih banyak kembali ke rumah ketika kerjaannya selesai. Hal itu membuat Ami sedikit kesal dengan atasannya. Berbeda dengan Juna, dia justru senang waktu di kantor hanya sebentar.


"By, beneran dasi aku. Mau ke kantor lagi," pinta Devandra.


Starla mengiyakan saja. Mengikat simpul dasi CEO yang suka caper sama istrinya ini. Yang setiap dua jam akan menghubungi istrinya. Pria yang setiap Starla tidak membalas pesan atau tidak menjawab panggilannya sudah seperti reog.


"By, kamu wangi," ujar Devandra menghirup leher Starla.


Starla membidik wajah Devandra dengan tatapan penuh kecurigaan. "Modus kamu itu udah aku hapal. Jangan buat aku harus mandi lagi."


Devandra mengalungkan tangannya pada leher Starla, perempuan itu terkejut karena Devan memakaikan kalung untuknya.


“Dijaga ya. Ini hadiah pertama aku buat kamu, by,” pinta Devandra, lalu mengecup kening istrinya.


Starla tersenyum. “Terima kasih, Dev.”


Starla menepuk pelan jas berwarna merah suaminya. Kemudian merapikan helaian rambut Devandra yang berantakan.


"Berangkat. Kasihan sekretaris kamu udah tunggu," tutur Starla mengejek suaminya.


Devandra terkekeh. "Cium dulu, baru berangkat."


“Kan tadi udah,” protes Starla.


“Maunya disini,” kata Devandra sambil mengusap bibir ranum Starla. Dan akhirnya mereka saling berciuman. Singkat, meskipun ada sedikit ******* kecil disana.


Semenjak menikahi Starla, Adryan sudah merasa tenang karena Devandra tidak bermanja-manja pada istrinya. Anak itu suka sekali menyiksa dirinya dengan membuat story di whatsapp menggunakan foto-foto istrinya. Tapi sekarang, semua itu sudah tidak terjadi.

__ADS_1


See, Devandra sangat bucin pada Starla.


__ADS_2