
"Yang, kaki aku kapan sembuhnya? Aku bosen di rumah. Minum obat terus, tapi nggak sembuh-sembuh," protes Starla.
Devandra mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas. Ia sudah tampil rapi dengan kaos berwarna hitam, yang senada dengan celana pendek.
Siang itu, setelah bermanja-manja bersama istrinya di ruang kerja, Devandra memutuskan untuk makan siang di luar.
"Pasti sembuh, by," jawab Devandra.
Starla mendengus pelan. Ia mengikuti Devandra ke walk in closet. Sepertinya, pria itu sedang mencari sesuatu.
"Cari apa emang?" tanya Starla.
"Lihat kacamata hitam aku, by? Perasaan aku udah simpan disini."
Lemari bufet kaca itu tersusun rapi oleh dasi, kacamata, arloji, dan beberapa aksesoris milik pasangan suami istri tersebut. Walk in closet itu memang dirombak Devandra beberapa bulan sebelum ia menikah.
Starla membantunya mencari kacamata itu. Namun, tidak ada dimana-mana. Mungkin bukan disana Devandra meletakkannya.
"Aku pakai kacamata yang lain aja," kata Devandra.
"Tapi itu mahal, Yang. Harganya bisa beli satu ponsel," sahut Starla, masih mencari keberadaan kacamata itu.
"Udah. Paling ketinggalan di kantor." Devandra menghampiri gadis itu, dan mendorong nya keluar ruangan tersebut.
Starla menghentikan pergerakannya. "Tugas aku perhatian dan ngurusin kamu. Malah aku yang selalu nyusahin kamu."
"Nggak ada yang nyusahin, by," sela Devandra.
"Aku sedih nggak bisa ikat simpul dasi kamu seperti dulu. Aku pengen banget buat sarapan kamu pagi-pagi," imbuhnya.
Devandra menghela nafas. Ia berlutut di hadapan Starla, menatap dalam manik mata istrinya. Devandra tau bagaimana perasaan Starla selama kakinya terpasang gips. Gadis itu selalu menatapnya sedih setiap Devandra mengurus diri sendiri.
"Jangan pikirin hal-hal yang membuat kamu sedih. Aku baik-baik saja selama kamu disamping aku, by. Jangan ngerasa nggak berguna. Kamu berpengaruh besar di kehidupan aku," ujar Devandra.
"Aku justru senang ngurusin kamu. Semua ini juga karena aku lalai jagain istri aku ini," imbuhnya.
"Emang iya? Aku cacat…," lirih Starla.
"La, aku benci banget kamu ngerendahin diri. Kamu nggak cacat. Ini hanya sementara, biar kamu istirahat."
Starla hanya membalas dengan gumaman pelan. Dengan telapak tangannya, ia mengusap pipi Devandra. Lalu, diakhiri dengan ciuman singkat disana.
"Dulu, pertama kali kamu deketin aku, aku selalu nolak kamu. Kamu itu sombong, mesum, genit, tukang ngancem. Aku pikir kamu seperti cowok kebanyakan," Starla bernostalgia.
"Apa yang aku mau, harus jadi milik aku, La. Aku pernah juara dua tingkat Nasional Olimpiade Sains dan Matematika. Aku pernah menang tender besar dengan lawan mantan Bos kamu. Dan aku juga pernah kejar satu cewek, walaupun sempat kalah, tapi akhirnya aku jadi pemenangnya," terang Devandra.
"Semua itu aku dapetin karena usaha dan juga doa dari Papi Mami."
Starla terdiam beberapa saat. Sepintar itu, kah, suaminya. "Aku insecure sama suami aku," tutur Starla.
"Kamu juga pintar kok. Apalagi setelah jadi istri aku." Devandra tersipu mengatakan itu.
****
Restoran Nusantara itu tidak jauh dari kawasan Kemang. Mereka hanya memerlukan waktu 20 menit dari rumah.
__ADS_1
Starla begitu antusias memasuki restoran tersebut. Lumayan ramai hari libur itu. Mereka mengambil meja yang tidak jauh dari kolam ikan di sudut ruangan.
"Aku ke toilet sebentar," kata Devandra.
Starla mengiyakan. Ia duduk sembari melihat menu makanan. Devandra pergi ke toilet. Di depan lorong, tepatnya pintu toilet wanita, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis berambut pendek.
“Om, kalau jalan tuh pake mata!” hardik gadis muda itu.
“What are you saying? You think I'm your uncle!” Devandra menatap tajam padanya.
“Nggak usah sok inggris, Om. Kita sama-sama makan nasi. Belagu amat,” sinis gadis itu.
“Heh, anak kecil! Dimana-mana jalan pake kaki, lihatnya menggunakan mata. Dan satu lagi, gue bukan Om lo⸺”
“⸺paham!?” hardik Devandra.
Gadis itu mendelik, ia tidak terima dikatakan anak kecil. Ia baru saja lulus SMA dan akan memasuki Universitas.
“Papaku tentara. Aku aduin sama Papa,” sebutnya.
“Aduin sana! Panggil sekalian sama jajarannya,” tantang Devandra.
Devandra kemudian berlalu dari hadapannya. Malas meladeni bocah ingusan itu. Sedangkan gadis itu menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Awas saja jika bertemu lagi.
“Dasar om-om nggak tahu diri!” pekik gadis itu.
Wajahnya terlihat kesal luar biasa.
“Grace," panggil seorang wanita dari arah belakang.
"Om-om siapa? Nggak ada orang disini kok," bantah sang Mama.
"Barusan masuk ke toilet cowok!"
"Mama nggak lihat. Ya udah, Papa udah nungguin tuh."
Grace menatap selidik pria bertato tadi. Sebenarnya dia masih muda, hanya karena Grace kesal, maka Grace memanggilnya Om.
***
Devandra kembali menghampiri meja yang mereka tempati. Gadis itu duduk anteng pada kursi rodanya. Devandra datang dengan wajah kesal.
“Kenapa dengan wajah tampan suami aku?”
Devandra menatap tajam ke arah meja yang berseberangan dengan mereka. Gadis yang tadi ia jumpa di depan toilet ternyata berada disini juga. Sepertinya dia bersama orang tuanya.
"Yang…, aku nanya lho ini," sindir Starla.
"Abis ketemu setan kecil," decak Devandra.
Starla menyerngit. "Setan?"
"Mana dia panggil aku Om," celetuk Devandra.
"Om?" Starla terkekeh mendengar celotehan Devandra. Pantas saja Devandra begitu marah.
__ADS_1
Dulu, saat Helsa mengandung Cemara, Adryan ingin sekali jika Cemara memanggil Kakaknya itu dengan sebutan Mas. Tapi, Devandra menolaknya. Ia tidak ingin disamakan dengan Papinya itu.
Kalau kata Devandra kecil: “Emang aku Mas Papinya Mami.”
Dan hari ini, ada yang memanggilnya dengan sebutan Om. Kalau bukan karena perempuan, sudah Devandra cekik lehernya.
"Udah, sih. Ngapain diladenin," kata Starla.
Sedangkan dari meja yang berbeda. Grace membalas tatapan tak kalah sengit pada Devandra. Grace tidak takut dengan pria itu.
"Pah, lihat Om itu, dia marahin aku tadi," adu Grace pada pria yang duduk di hadapannya.
"Raf—" panggil istrinya lalu menggeleng lirih agar tidak perlu meladeni ucapan anaknya.
Rafael tersenyum kecil, pandangannya jatuh ke arah seseorang yang disebut anak semata wayangnya. Seorang pria dengan beberapa tato pada tangan bagian kiri.
"Papa nggak bisa marah, karena nggak tau ceritanya seperti apa," sela Rafael.
"Ayo, dimakan. Keburu makanan kamu dingin, Sayang," lanjut Rafael.
Mereka menikmati makan siang dengan sedikit canda tawa disana. Grace yang memang jauh dari orang tuanya selama ini, banyak menceritakan hari-harinya di Jakarta.
...****************...
Mobil Devan berhenti di sebuah toko bunga. Ia memasuki toko itu tanpa Starla. Gadis itu memili duduk di mobil untuk tidak merepotkan suaminya. Sebuah toko bunga yang membuat ia merasa dejavu. Seperti pernah mendatangi sebelumnya.
"Selamat pagi, Mas," ucap karyawan toko bunga di sana.
"Pagi, Mbak. Saya minta mawar merah mix baby breath."
"Perlu kartu ucapan?" Wanita itu kembali bertanya.
"Tidak perlu. Saya lebih suka berbicara secara langsung tanpa perantara seperti surat," ucap Devan sedikit angkuh.
Yang benar saja. Dulu, dia pernah memberikan bunga untuk Starla dengan sebuah surat di dalamnya. Melalui kurir tentu saja.
"Baik, Mas. Anda bisa menunggu sebentar."
Sembari menunggu, Devan melihat-lihat bunga-bunga segar di dalam sana. Pandangannya beralih keluar kaca besar toko itu. Jendela mobil yang sengaja dibuka membuat senyum Devan terbit. Starla terlihat sedang memainkan ponselnya. Pasti ia merasa jenuh.
Lima menit menunggu, buket bunga itu pun sudah berada ditangannya. Devan membayar senilai dua ratus ribu untuk mawar merah itu. Pasti Starla suka. Ia segera keluar dari toko, dan menghampiri istrinya.
"Sayang..,," Devan mengecup pipi istrinya dan memberikan sebuket mawar untuk istrinya.
"Ini buat aku, Yang?" Terlihat jelas tatapan berbinar dari kedua mata cantik gadis itu.
"Mawar untuk istri cantik yang nemenin tidur tiap malam," bisik Devan, mengecup pucuk bibir ranum Starla.
Starla tersipu mendengar ucapan Devan. Ia meraih bunga itu, lalu menyusul pelukan untuk suaminya. Demi apapun, Starla tak berhenti jatuh cinta pada pria itu.
"Aku bakal kasih kamu mawar merah setiap hari dengan syarat seumur hidup sama aku," ujar Devan.
"Aku mau, Dev. Bukan karena mawar, tapi memang yang aku mau itu kamu, Yang." Hati Starla terenyuh memandang wajah di hadapannya sekarang.
Starla menyadari bahwa ia memang sudah lama jatuh hati pada lelaki tatoan itu. Kini, seluruh hidupnya milik Devan tanpa kurang sedikit pun.
__ADS_1