
Satu persatu perusahaan mulai menampilkan proposal mereka. Dan tiga puluh menit kemudian, giliran Trinity Company menyerahkan proposal mereka melalui sebuah presentasi di slide pada proyektor. Gadis dengan blazer ungu muda itu menampilkan senyum terbaiknya untuk seluruh vendor dan juga panitia lelang tender ini.
Karena ini adalah kali kedua Starla mengikuti tender, dia akan memperkenalkan diri kepada para vendor disana.
“Nama saya Starla Meisya, sekretaris dari Bapak Charlos Diego. Berdirinya saya disini untuk mewakili Trinity Company.”
Dan pada waktu yang bersamaan, pria berjas abu-abu yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya pun mendongak. Suara dan nama itu.
“Kamu hanya perlu ingat kalau akhirnya aku jatuh cinta sama kamu.”
Deg!
Devandra menyapu pandangannya ke seluruh ruangannya. Gadis bertubuh sintal itu tengah mempresentasikan proposalnya. Starla menampilkan senyum tanpa paksaan disana.
“Starla?” Devandra yang sudah setengah bangkit dari kursinya langsung tersentak tatkala Yehezkiel menahan pergelangan tangannya.
“Not now,” bisik Yehezkiel.
“EL!!” Suara hardikan itu mengalihkan atensi semua vendor, termasuk Starla.
Dari kejauhan, Starla melihat wajah pria itu. Perasaannya seketika berantakan ketika tatapan mereka bertumbuk. Devandra menatapnya sendu. Empat tahun. Empat tahun dia tidak melihat wajah gadis itu.
Dan sekarang, semesta dengan hebatnya mempertemukan mereka.
“Starla, fucking miss you so much,” batin Devan berteriak. Ingin sekali dia menghampiri gadis di depan sana dan memeluknya lebih erat. Demi Tuhan, Devandra ingin menangis sekarang juga.
“Maaf, saya tidak sengaja menginjak sepatu Pak Devandra,” sanggah Yehezkiel, mengalibi.
“Oh, tidak masalah.”
Tim lelang meminta Starla untuk melanjutkan presentasinya, namun konsentrasinya sudah pecah. Starla menghampiri Charlos dan meminta agar pria itu menggantikannya.
“El, jelasin sama gue!” tuntut Devandra dengan nada bisikan.
“Ingat, tender ini buat kado ulang tahun pernikahan Papi Mami lo. Gue sih cuma main-main aja disini,” celetuk Yehezkiel.
Devan mendengus pelan, ia sedikit menegakkan tubuhnya agar bisa lebih leluasa melihat Starla. Ya Lord, meeting ini sudah berjalan selama tiga puluh menit, itu artinya sejak tadi Starla sudah disini.
“La…” gumam Devandra sambil menatap Starla. Gadis itu tidak berubah, rambutnya masih panjang, dia terlihat sehat, senyumnya masih sama.
***
Meeting itu selesai setelah sepuluh jam para vendor bergulat dengan proposal mereka untuk menarik perhatian tim lelang. Starla keluar terlebih dahulu karena akan ke toilet sebentar. Namun, langkahnya berhenti ketika tangan kekar itu menahannya.
“Starla…”
“Dev?”
Tidak bisa dipungkiri bahwa detak jantung dua manusia itu bergerak dengan cepat. Devandra menatap Starla dengan perasaan luar biasa bahagia.
“Starla, lo kembali.”
Starla melihat tangannya yang masih Devandra genggam, lalu dengan teganya dia menghempaskan tangan itu.
__ADS_1
“Aku nggak kembali. Aku disini karena kerjaan.”
“La…,” lirih Devandra.
“Jangan panggil nama aku,” sergah Starla.
“Starla, lo harus tahu kalau hari itu kita dijebak, La,” jelas Devandra.
Starla melengos. Tak ingin menatap Devandra. “Aku nggak mau bahas itu. Lagian kejadian itu sudah lama, dan nggak pernah terjadi apa-apa diantara kita, Dev.”
“Ada. Seharusnya itu terjadi kalau lo nggak pernah pergi,” cetus Devandra.
“... dan sekarang, izinin gue perbaiki semuanya.”
“Nggak ada yang perlu diperbaiki. Aku udah maafin kamu hari itu,” balas Starla.
“Dan kamu harus tahu, aku udah tunangan! Aku akan menikah dengan orang yang mencintai aku.”
Deg!
Devandra tertegun mendengar pernyataan itu. Wajahnya seketika memucat. Empat tahun dia menunggu Starla, dan saat gadis itu kembali, semuanya sudah berubah.
“Lo bohong ‘kan?”
“Lo bilang gitu biar gue nyerah?”
Starla terdiam. Devandra tertawa dengan perasaan yang hancur. “Kasih tahu gue siapa tunangan lo?”
“Charlos Diego,” sebut Starla tanpa ragu.
Tatapan Devandra langsung jatuh pada pria yang menghampiri mereka. Starla menampilkan senyum terbaiknya pada Charlos, lalu ketika pria itu sudah disampingnya ia menggandeng mesra atasannya itu.
“Charlos Diego adalah tunangan saya, Pak Devandra,” cetus Starla yang tentu saja membuat Charlos mendelik.
Apa Starla bilang? Apa Charlos tak salah mendengar barusan? Dan juga kenapa ada drama pelukan seperti ini?
“Kami akan segera menikah di awal tahun nanti,” imbuh Starla.
“Iya ‘kan, Sayang?”
Charlos yang belum mengerti dengan semuanya segera mengangguk, mengiyakan pernyataan Starla barusan. Apa yang sedang terjadi sebenarnya?
Sedangkan Devandra seolah dibisukan. Ia perlahan mundur, dan mengangguk paham. Tak mau membuat Charlos banyak bertanya, Devandra segera beranjak dari sana. Yehezkiel adalah orang yang harus bertanggung jawab disini.
Selepas kepergian Devandra, Starla melepaskan pelukannya.
“Maaf, Pak,” ucap Starla, menunduk.
Charlos tersenyum. “Kamu kenal Devandra?”
“Hanya teman lama,” jawab Starla.
Starla berbohong. Pertunangan itu tidak pernah ada, karena Charlos sendiri sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
Starla hanya tidak bisa kembali bersama Devandra. Dia terlalu kecil untuk seorang CEO tersebut. Sejak dulu, Starla selalu sadar akan perbedaan mereka. Devandra pantas mendapatkan perempuan yang sederajat dengannya.
Sedangkan di dalam mobil sekarang, Yehezkiel, Juna, dan Devandra baru saja keluar dari lobby dengan Juna yang mengendarainya.
“Dev, gue benar-benar nggak tahu kalau pacar Charlos adalah Starla,” ungkap Yehezkiel. Devandra menangis dalam diamnya, sungguh dia tak dapat berkata-kata dengan semua ini.
Starla bertunangan?
“Turunin gue ke klub milik Bang Daniel,” perintah Devandra pada Juna.
“No… Nggak gini cara lo selesaikan masalah, Dev!” sergah Yehezkiel.
“El bener, Dev,” Juna nimbrung. Sebenarnya dia takut-takut untuk mencampuri urusan pribadi Devandra. Kalau dulu boleh lah, tapi sekarang Devandra adalah atasannya.
“Gila sih Starla, gue nungguin dia selama empat tahun,” desis Devandra. Pandangannya keluar jendela, mengingat semua perkataan Starla beberapa saat lalu membuat Devandra frustasi sendiri. Apa Devandra akan menceritakan ini kepada Papi dan Maminya?
***
“Starla, lo nggak kasihan sama dia?”
Suara yang menggema di kamar mandi itu adalah suara Kiki. Saat ini Starla berada di rumah Kiki, dia memilih menginap di rumah Kiki dan Charlos di hotel.
Starla menceritakan pada kedua sahabatnya, bahwa hari ini dia bertemu Devandra. Dan dia juga membohongi pria itu bahwa dia sudah menikah.
“Aku dan Devan itu jauh, Lan, Ki,” sahut Starla sembari menyeruput teh hijau buatan Lani.
“Gue nanya sama lo. Apa Devan mempermasalahkan status sosial lo, hah?” tanya Lani.
Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Kiki keluar dengan balutan kimono di tubuhnya.
“La, gue yakin banget si Devan itu serius sama lo. Cowok mana sih yang masih mau terima cewek yang udah ninggalin dia kalau bukan karena dia masih cinta?” terang Kiki.
Starla tertegun. Devandra memang tidak pernah mempermasalahkan status sosialnya, namun apa mungkin keluarganya mau menerimanya?
“Devandra benci sama aku,” seru Starla.
“Siapa bilang?” sahut Kiki dan Lani bersama.
“Aku yakin setelah apa yang aku bilang tadi, dia udah benci sama aku,” kata Starla.
“Dan lo nyesel ‘kan?” tebak Lani, dan sialnya itu memang benar.
“Nggak, aku seneng kalau itu benar terjadi,” ujar Starla, mengalibi.
Lani terkekeh. Starla ini sudah bersahabat lama dengannya tapi masih saja membohongi perasaannya pada Lani.
“Starla, Starla… Mata lo nggak bisa bohong kalau lo itu masih punya perasaan itu. Lo masih cinta sama Devan.”
“Apa gue bilang aja sama Devan kalau lo bohong?” ujar Kiki.
“Kiki, persahabatan kita langsung putus, aku nggak bohong kalau sampai kamu ngelakuin ini semua sama Devan,” Starla balik mengancam.
"La…," panggil Lani.
__ADS_1
Starla menoleh padanya, gadis itu menghampiri Starla.
"Bukan tanpa sebab kalian dipertemukan kembali," ucapan Lani, penuh arti.