
Hari sudah mulai gelap. Sebuah rumah mewah dengan bangunan bercorak Eropa itu terlihat sepi dari luar. Sejak pukul lima sore, Devandra dan Mercy hitamnya setia menunggu mobil mewah yang membawa Tuan rumah tersebut masuk ke sana. Ponselnya berdering menandakan ada pesan.
Mami ❤️ : Kamu jadi ke Bandung malam ini?
Devandra hanya membalas sesingkatnya saja. Dia akan berangkat ke Bandung malam ini, setelah urusannya selesai. Lalu beberapa saat menunggu, mobil itu memasuki rumah tersebut. Dari jarak jauh, Devandra dapat melihat sosok pria dewasa yang usianya lebih muda dari Maminya, keluar dari dalam mobil itu.
Edward Kale Admaja.
“Mirip calon bini gue, anjir,” Devandra bergumam.
Dengan segera Devandra melajukan mobil ke depan gerbang tinggi itu, dan kedatangannya dihadiahi tatapan bingung dari orang-orang disana. Ia keluar dari mobil.
“Selamat malam,” ucap Devandra, sopan.
“Ada yang bisa kami bantu, Pak?” tanya security itu.
“Saya ingin bertemu Tuan Edward,” jawab Devandra.
Pria yang namanya disebut menoleh, dan memperhatikan Devandra dari ujung kaki sampai ujung kepala. Alis mata kanannya naik, dia tidak ada janji dengan siapapun malam ini.
“Anda CEO Andrean Corp?”
Senyum manis terbit dari bibir Devandra. Tidak perlu memperkenalkan diri, pria itu langsung mengetahuinya.
“Iya.”
“Apa yang diperlukan perusahaan properti dari perusahaan konstruksi?” tanya Kale alias Edward to the point.
“Bisa saya masuk? Ini pembicaraan yang sangat penting,” tutur Devandra sok misterius.
Kale memerintahkan security itu membukakan pintu untuk Devandra, lalu ia masuk terlebih dahulu.
Ketika memasuki rumah itu, Devandra langsung teringat Starla. Ayahnya hidup bergelimang harta, sedang Starla dan Devita harus susah payah bekerja. Bahkan saat masih kuliah di Palm, Starla harus mengambil part time di Cafe dan toko bunga.
Di ujung tangga, seorang wanita dengan kursi roda menghampiri mereka. Devandra yakin sekali itu adalah nenek Starla. Di usia senjanya, wanita itu masih terlihat cantik.
“Silahkan duduk, Tuan—”
“Devandra. Saya lebih muda dua kali lipat,” sahut Devandra.
“Oh, baiklah.”
“Selamat malam Nyonya,” ucap Devandra pada Ibu Edward.
“Selamat malam. Saya baru melihat anda, kolega baru?”
Devandra tersenyum padanya. “Oh, tidak. Saya datang untuk memberitahu perihal putri kandung anda,” ucap Devandra.
“Kamu—” Edward tertegun.
“Kamu mengenal Starla?” imbuh Meisya.
Devan cukup terkejut saat wanita di kursi roda itu menyebut nama calon istrinya.
“Starla calon istri saya," ungkap Devandra.
...****************...
Pagi itu Starla dan Devandra kembali dari hotel setelah semalam menginap disana. Sejak gadis itu mendengar suara Ayahnya dari sebuah rekaman yang diberikan Devandra, ia lebih banyak diam.
Yang ingin Starla lakukan sekarang adalah bertanya pada Ibunya. Sudah saatnya ia tahu tentang pria yang bernama Edward Kale Atmaja.
"Jangan terlalu desak Ibu, ya, La," peringat Devandra.
Gadis itu menoleh pada kekasihnya. Oh, ralat, tunangannya.
Mereka sudah bertunangan dua minggu setelah Devandra melamarnya. Walaupun ada sedikit drama dari Cemara yang menangis karena kakaknya akan menikah, akhirnya gadis itu mau mengikhlaskan kakaknya untuk Starla.
"Kalau dia Ayahku, kenapa baru sekarang dia datang?"
__ADS_1
"Karena ada banyak kemungkinan yang terjadi pada kamu dan Ibu kalau sampai kalian ditemukan dia," jawab Devandra.
"Jangan salahin siapapun disini, Starla. Baik Ibu dan juga Ayah kamu sama-sama korban," imbuh Devandra.
Starla tertegun. Kemudian ia memegang tangan Devandra, lalu meminta cowok itu berhenti sebentar. Devandra menuruti kemauannya, meminggirkan mobil ke tepi jalan.
"Kenapa? Mau sesuatu?" tanya Devandra.
"Aku ingat sekarang, Dev," seru Starla.
"Ingat apa?"
"Kamu ingat malam setelah kita berantem di parkiran kampus. Setelah dari sana, aku kembali ke rumah sakit, malam itu Ibu menangis histeris," terang Starla.
"Ibu minta kami keluar dari Jakarta. Ibu sempat ngomong Starla cuma milik Ibu."
Tepat seperti cerita Edward pada Devandra. Ibu dan Ayah Starla pernah bertemu empat tahun silam. Jadi, alasan kuat Starla pergi hari itu bukan perkara orderan makanan atas nama Devandra, tapi Devita yang meminta mereka pergi ke Bandung.
"Jadi,kita jemput Ibu ke Cimahi sekarang?" tanya Devandra.
"Aku mau. Ayo kita jemput Ibu."
...****************...
"Kamu yakin hari ini, Le?" tanya Meisya.
Edward Kale Atmaja. Pria itu sudah rapi dengan kemeja abu-abu, dengan celana jeans panjang yang terlihat sangat keren.
"Ma, Papa udah nggak ada. Novita pun sudah bahagia dengan pria yang dia cintai. Kale masih punya Starla dan Rani," sahut Edward.
"Mama takut. Mama takut Starla salah paham," tutur Meisya. "Dan apa kamu yakin Rani bisa terima kamu? Kamu harus tahu bahwa Papamu itu manipulasi cerita kepada dia dengan pernikahanmu."
Edward menghampiri Mamanya yang duduk pada kursi roda itu. Pria itu berlutut di hadapan Meisya dan mencium punggung tangan Mamanya.
"Ma, Starla akan menikah. Kale mau jadi wali nya, dan itu impian Starla," ujar Edward.
Meisya mengusap surai hitam anaknya, lalu mencium puncak kepala Edward.
Pria itu tersenyum pedih mendengar perkataan Mamanya. Kalau saja Edward tahu Papanya sudah membohonginya, justru dia yang akan balik menghunuskan pedang itu pada Aryanto.
Dua minggu setelah kematian Aryanto enam tahun silam, Meisya menceritakan semuanya. Tentang Devita yang pergi karena ancaman suaminya, dan juga kebohongan besar Aryanto pada Edward bahwa Devita memilih uang dan pergi meninggalkannya.
...****************...
"Devan jorok," pekik Starla.
"Bodoh!" balas Devandra diikuti tawa dibelakangnya.
Starla menatap kesal pria itu, untuk kesekian kalinya Devandra merampas makanan langsung dari mulut Starla. Iyuh banget.
"Ada apa sih, ribut-ribut? Starla emosian aja Ibu perhatikan," tanya Devita.
"Tanya sama yang katanya calon menantu Ibu," sindir Starla kesal.
"Udah menantu, nggak pakai calon lagi," koreksi Devandra.
Starla mencibir pria itu dengan gerakan bibirnya yang mengikuti kata-kata itu.
"Ibu dulu hamil Starla ngidam apa sih, Bu? Anaknya galak banget."
Devita menggeleng heran kelakuan sepasang kekasih itu. Starla yang emosian, dan Devandra yang suka memancing emosinya.
"Mami dulu ngidam apa ya, kok isi otak anaknya mesum semua?" balas Starla tak mau kalah.
"Kata Papi, Mami pas hamil aku nggak banyak ngidam," jawab Devandra.
"Pantes kamunya yang banyak mau," celetuk Starla.
"Iya dong. Apalagi yang namanya Starla. Itu harus jadi milik aku," ucap Devandra.
__ADS_1
Devita tersenyum simpul. Perdebatan dua orang yang akan menikah dalam hitungan bulan ini menjadi hiburan tersendiri bagi nya. Setiap weekend, Devandra selalu ke Bandung menghabiskan waktu bersama mereka.
"Udah, udah. Ibu mau ke depan sebentar," seru Devita yang perlahan meninggalkan keduanya.
Devita keluar untuk menyimpan tanaman. Hari sudah sore, matahari sebentar lagi terbenam. Hanya sampai pada pot ketiga, pergerakan tangannya berhenti saat sebuah Pajero hitam memasuki pekarangan rumahnya.
Devita maupun Starla tidak mempunyai kenalan dengan brand mobil tersebut.
Seorang pria dewasa berkacamata hitam keluar dari sana. Wanita itu masih diam memandang kedatangan pria yang belum diketahui siapa.
"Cari siapa, Mas?" tanya Devita.
Pria itu tidak menggubrisnya, kemudian mengambil kursi roda dari bagasi mobil, dan selanjutnya Devita dibuat terkejut dengan wanita paruh baya yang digendong ke kursi roda oleh pria tadi.
"Mama," lirih Devita.
Edward mendorong kursi roda itu dan mendekati Devita. Dia melepaskan kaca matanya, dan menatap dalam Ibu dari anaknya.
"Rani, kamu masih cantik," ucap Meisya.
Devita menahan air matanya agar tidak tumpah sekarang. Setelah puluhan tahun, hari ini dia bertemu kembali dengan Meisya. Satu-satunya orang yang mau menerimanya di kehidupan Edward.
"Pada akhirnya, Starla memang harus mengenal dari mana dia berasal," sebut Devita, kemudian memandang Edward.
"IBU! DEVANDRA JAHIL BANGET" teriak Starla dari dalam rumah.
"DEVANDRA! AKU ADUIN YA SAMA IBU," pekik Starla yang terlihat berlari dari dalam rumah.
Kedatangan Edward dan Meisya tidak disadari keduanya. Starla sibuk memeluk Ibunya untuk bersembunyi dari Devandra, sedangkan Devandra berangsur diam setelah melihat keberadaan dua orang tersebut.
"Bu, Starla nggak mau nikah. Devan otaknya kotor," adu Starla pada Ibunya.
"Emang Devan kenapa?" tanya Edward tersenyum menahan air mata. Jika dulu Edward hanya melihat Starla melalui foto yang diberikan orang suruhannya, sekarang dia bisa melihat gadis itu secara langsung dalam jarak yang dekat.
Tanpa sadar Starla menjawab. "Kata Devan, sama dia harus banyak anak. Starla takut."
"La…," Devita merenggang pelukan itu.
Starla menoleh pada Edward dan Meisya. "Eh, Ibu lagi ada tamu."
"Maaf ya Pak, menantu Ibu ini emang nggak sopan," ketus Starla menunjuk Devandra.
Meisya melempar pandangannya pada Edward yang sejak tadi tidak lepas menatap Starla. Wanita paruhbaya itu juga menilai kesamaan Ayah dan anak yang sudah dipisahkan belasan dua puluh tiga tahun silam.
Starla sangat mirip dengan Edward.
“Selamat sore Tuan Edward,” sapa Devandra.
“Lho, kamu kenal tamunya Ibu juga?” Devandra hanya membalas dengan seulas senyum.
“Hallo, Starla,” sapa Meisya.
Gadis itu tersenyum pada wanita yang duduk di kursi roda. Mata Meisya berkaca-kaca tatkala cucu yang selama ini dirindukan mencium punggung tangannya.
“Nama kita sama,” imbuh Meisya.
“Nama Ibu Starla?” tanyanya penasaran.
“Nama saya⸺Reinha Meisya Atmaja.”
Deg!
Atmaja? Detik itu juga Starla terpaku di pijakannya. Gadis itu bergeming dengan semua ingatannya yang berputar akan cerita-cerita Ibunya beberapa waktu lalu.
“Bu⸺,” lirih Starla, mengalihkan pandangannya dari Meisya dan juga Edward.
Devita paham panggilan itu. “Ini keluarga Starla.”
Devandra menghampiri Starla. Gadisnya terlihat kebingungan. Terlihat dari mata yang bergantian menatap mereka satu persatu.
__ADS_1
“Baby, look at me. He's your father and that woman is your grandmother,” ungkap Devandra.