
...π»πππππππ πππππ πππππ πππππππ πππ ππ πππππππ πππ ππππ-ππππ ππππ. π¨ππ πππππ, πππ ππππ ππππππππππππ πππππππ ππππ ππππππππππ πππππ. π΅ππππ ππππππ πππππ. π·πππππππ πππ πππ ππ ππππππ ππππ πππππ π ππππππ ππππ πππππ. π«ππ πππππ ππππππ π πππππππππππ. π«ππ πππππ ππππππ π ππππ πππππππ....
...πΌππππππ ππππ πππππππ ππππ, πππ πππππππππππ....
Gadis itu menutup laptop, dan melepaskan kaca mata baca. Menyandarkan punggungnya pada kursi putar itu. Setelah sekian purnama menulis kisah itu, sore ini dia bisa menghirup nafas bahagia.
Senja di kota Bandung mulai menampakkan kecantikannya. Trinity Company sudah sepi. Para karyawan dan staff sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Sebuah kisah yang belum sempat dimulai itu sudah selesai empat tahun silam. Tentang kabar si tokoh utama dalam ceritanya, tak pernah ia dengar lagi. Ingatan Starla kembali pada masa itu, saat dimana ia disakiti oleh lelaki yang sudah membuatnya jatuh hati.
Disini gadis itu sekarang. Bandung, kota kelahirannya.
βStarlaβ¦,β
Suara bariton dari ambang pintu besar itu mengalihkankan atensinya. Starla bangkit dari kursi dan menghampiri pria yang usianya hampir kepala tiga.
βBelum pulang, Pak?β
βSaya tidak akan membiarkan aset berharga saya sendirian di kantor,β jawab pria itu.
Starla menunduk malu. βSaya sudah selesai. Laporannya juga akan saya simpan diatas meja Bapak besok.β
βHm, bagus.β
Starla Meisya. Sekretaris CEO Trinity Company yang kehadirannya membawa hoki untuk perusahaan itu. Selain cantik dan berwibawa, gadis lulusan Sastra Indonesia ini cerdas dalam mengambil hati para klien perusahaan yang akan menginvestasi. Publik speakingnya sangat luar biasa. Berkat kerja kerasnya itulah yang membuat Starla diberikan beasiswa S2.
Carlos Diego menjadi CEO paling beruntung menurut kolega-koleganya.
βOh ya, Starla. Weekend nanti saya akan ke Jakarta. Kamu mau ikut?β
βDengan klien baru itu?β tanya Starla.
βBukan soal kerjaan. Saya hanya mau bertemu teman lama saya. Kami mengambil studi S2 di San Fransisco bersama,β ujar Charlos.
Starla mengangguk. βSepertinya saya tidak bisa, Pak.β
βSaya memaklumi. Tapi, saya mau menyarankan kepada kamu, untuk mencari asisten untuk Ibumu. Kita akan lebih sering keluar kota bahkan negara,β sahut Charlos.
Kehidupan Starla dan Devita menjadi lebih baik semenjak Starla bekerja di Perusahaan yang bergerak di bidang properti ini. Starla tidak perlu bekerja di dua tempat lagi seperti dulu. Gajinya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan Devita.
βKalau begitu kamu bersiap-siap, pulang bersama saya,β cetus Charlos.
****
βMami dan Papi pernah berantem besar waktu Devan masih kecil?β
βPernah. Mami pernah ninggalin Papi waktu hamil kamu,β jawab Helsa.
βLalu?β
βPapi jemput Mami lagi. Kalau Papi nggak datang, Cemara nggak akan ada.β
Devandra duduk bersimpuh dibawah kaki Helsa. βMi, Starla pergi. Devan nggak sehebat Papi yang bisa bawa pulang Mami. Devan nggak bisa cegah dia, Mi.β
Helsa tertegun. Ia DΓ©jΓ vu dengan melihat wajah Devan yang menangis sekarang. βDev, Mami sudah melewati banyak perpisahan. Datang dan pergi pasti ada masanya.β
βSayang, where are you?β seru Adryan dari pintu utama yang membuyarkan pikiran istrinya tentang kejadian empat tahun silam.
__ADS_1
βIβm here,β balas Helsa.
Seperti malam-malam sebelumnya, Adryan dan Helsa selalu melewati malam tanpa anak-anak mereka. Cemara yang mengambil jurusan kedokteran di Jogja dan Devandra yang selalu pulang larut malam ketika mereka sudah tertidur.
βDevan belum pulang?β tanya pria itu.
βSeperti biasa,β jawab Helsa, yang mana Adryan tahu dari nada bicaranya Helsa sangat sedih.
Wanita itu sangat kesepian di rumah. Dia memang menjabat sebagai Direktur Utama, namun lebih banyak bekerja dari rumah.
βJangan sedih, ya? Mas janji Cemara akan mengambil spesialis di Jakarta, dan Mas janji bakal balikin Devandra kecil kita,β ujar Adryan menghibur istrinya.
Helsa tampak lesu. βSudah empat tahun selalu ngomongnya gitu.β
βSusah itu mendiagnosis orang patah hati, istriku. Karena semua keluhan ada. Insomnia, dysphagia, obess, β jawab Adryan.
βIya, nggak usah dijelasin juga Mas dokter. By the way, Mas, Helsa mau ngajak Kanaya ke Jogja minggu depan. Kanaya udah minta cuti sama Mas Jefry,β ujar Helsa.
βYa, bagus. Akhirnya dikasih cuti juga anaknya,β celetuk Adryan.
βMas.β
βIya, Sayang.β
βDevan selalu bilang dia mau menunggu Starla. Kalau Starla nggak pernah datang, apa kita jodohkan aja dia?β
Adryan mendelik. βNggak ada perjodohan!β
βHelsa pengen gendong bayi. Devan lama banget nikah, Helsa pengen punya teman di rumah.β
Adryan tergelak lalu memeluk gemas istrinya. Sejak Devan dan Cemara beranjak dewasa, Helsa selalu membicarakan bayi-bayi yang ia lihat di sosial media.
Helsa mungkin sudah masuk usia kepala empat, namun yang selalu Adryan lihat adalah gadis 17 tahun yang ia nikahi saat itu.
***
Seorang perempuan muda berjalan lenggak-lenggok dengan nampan hitam dan secangkir kopi diatasnya. Ketika ia membuka pintu besar berbahan jati itu, bunyi heelsnya seketika mengundang perhatian Sang Bos.
βMasuk!β perintah laki-laki itu dari dalam sana.
Melihat sekretarisnya yang membawakan secangkir kopi untuknya, dia hanya melengos kembali pada laptopnya.
βBelum pulang kamu?β
Namanya Ami. Memiliki tubuh bahenol membuat gadis 25 tahun itu selalu percaya diri bahwa Bos tampan dan seksinya itu pasti menyukainya.
Ami kemudian meletakkan secangkir kopi pada meja besar itu. βSaya nggak mungkin pulang duluan, sedangkan Bos saya masih disini.β
βNgeles aja terus,β sindir pria itu.
βPak Devan!β
βHm.β
Azlan Devandra.
__ADS_1
Nama ini tidak asing di dunia Bisnis. Direkrut menjadi CEO di perusahaan milik almarhum Opanya dua tahun silam, setelah menyelesaikan studi S2 di Kanada. Pria dua puluh tujuh tahun yang identik dengan tato ini adalah anak dari Direktur Utama Andrean Corp.
βBapak lagi ngapain sih?β tanya Ami.
βMenurut kamu, saya sedang apa?β
Ami mengulum senyum, merapatkan nampan pada dadanya. βLagi mikirin saya, ya, Pak?β
Devandra tertawa. βIya, sedang memikirkan bagaimana cara saya menurunkan jabatan kamu. Mau kamu saya pindahkan ke Marketing?β
Ami terperanjat. βYa Allah, jangan gitu dong, Pak. Saya sudah nyaman sama Bapak. Saya juga nggak pernah mengecewakan Bapak selama setahun ini.β
βHm.β
βHm terus ih. Bapak lagi cosplay jadi Limbat, ya?β tanya Ami bergurau.
Devandra mendesis. βAmi.β
βPak, saya penasaran kenapa Bapak selalu pulang larut malam. Dan pagi harinya, Bapak sudah disini sebelum saya. Kadang juga Bapak tidur di Private room.β
βBukan urusan kamu, Ami. Mending pulang. Ingat, satu minggu lagi. Tender besar itu harus jatuh ke tangan kita. Kita bakal dihadapkan dengan beberapa perusahaan dan ketemu Trinity. Saya dengar, sekretarisnya cerdas mengambil hati klien-klien penting.β
Devandra menatap lurus ke depan. βTender ini untuk kado ulang tahun pernikahan Papi dan Mami saya.β
Ami masih berdiri di tempatnya. Ada sesuatu yang mau ditanyakan. Mungkin ini terlalu privasi untuk seorang Devandra. Tapi, Ami sudah sangat ingin tahu.
βPakβ¦,β
βApa lagi, sih? Kamu mau tidur di Kantor?β
βBoleh kalau sama Bapak,β jawab Ami.
βAmi,β tegur Devandra.
βPak, saya pernah masuk ke private room Bapak beberapa bulan yang lalu saat mengantar room service ke sana. Dan saya nggak sengaja lihat foto beberapa lembar foto perempuan di laci nakas.β
ββ¦ perempuan itu siapa, Pak?β
Devandra berdiri dengan wajah sangar. βSiapa yang suruh kamu masuk kesana dan melihat-lihat isinya?β
βMa-af. Pak.β
βAmi, itu terakhir kali kamu masuk kesana,β tekan Devandra.
Terdengar notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Devandra segera meraih ponsel itu dan membuka room chat. Itu pesan masuk dari Yehezkiel.
YEHEZKIEL : Dev, gue sangat berharap minggu besok lo hadir meeting tender tanpa mengutus Ami sendiri. Ada yang harus lo lihat.
Yehezkiel tidak pernah seserius ini. Cowok itu bahkan terakhir kali mengirim pesan dua bulan yang lalu. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Darren mengelola beberapa hotel milik almarhum Mamanya, sedangkan Juna yang setiap hati bersama Devandra karena ia memilih untuk menjadi asisten pribadi Devan.
βPakβ¦β panggil Ami.
βSaya akan pulang, kamu mau ikut? Tapi cukup di halte Tj aja saya turunin,β tawar Devandra.
Ami mencebikkan bibirnya. βNggak usah, Pak. Saya naik taksi saja.β
__ADS_1
Devandra mengangguk, kemudian bersiap pulang. Kopi yang sempat Ami bawakan hanya di teguk sekali. Kasihan sekali Ami, niatnya mau caper sama Bosnya tapi nggak pernah di feedback.